Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 64 Kesakitan Amelia


__ADS_3

Bunga dan Shofi duduk menunggu pemeriksaan dokter. Sendari tadi dokter memang belum keluar membuat Bunga dan Shofi cemas.


Walau Bunga dan Shofi tidak menyukai Amelia. Apalagi Amelia selalu mencari gara-gara dengan Shofi.


Namun, dua gadis itu masih mempunyai hati nurani. Mereka menolong hanya rasa ke manusia saja tidak lebih.


"Bunga, Shofi!"


Panggil Amira seperti biasa akan kembali ceria lagi di hadapan semuanya.


"Ra, kamu gak apa?"


Tanya Bunga dan Shofi barengan sambil berdiri menyambut Amira.


"Aku baik-baik saja, bagaimana ke adaan Amelia?"


"Dokter belum keluar sendari tadi!"


Ketiga gadis itu kembali duduk dengan pikiran berbeda. Entah apa yang tiga gadis itu pikirkan mengetahui apa yang terjadi pada Amelia.


Pantas saja satu Minggu Amelia tak masuk, ternyata Amelia bukan sakit tapi mengurung diri karena keadaannya. Kenapa dia bisa kebablasan seperti itu. Sungguh, kecantikan tak bisa menilai nilai iman seseorang.


Cklek ...


Suara pintu terbuka membuat ke tiga gadis itu berdiri.


Dokter memandang ketiga gadis di depannya dengan tatapan entah. Dokter hanya menghela nafas saja. Terlihat dari raut wajahnya seakan ada sesuatu yang serius.


"Dok, bagaimana keadaan Amelia?"


Tanya Amira cepat, karena kesal melihat dokter hanya diam.


"Dimana kedua orang tuanya dan siapa kalian?"


"Ka-kami temannya!"


"Tolong, jika ada kedua orang tuanya suruh keruangan saya!"


"Tapi, bagaimana keadaannya dok, apa kamu boleh masuk?"


"Pasien mengalami pendarahan, tapi Baby nya selamat. Kalian boleh masuk!"


"Terimakasih dok!"


Sang dokter langsung pergi membuat Amira, Shofi dan Bunga masuk.


Amelia memalingkan wajahnya melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya. Bukan mereka yang Amelia harapkan tapi kedua orang tua dan teman-teman nya saja.


"Apa kalian mau mengejek gue hah, pergi!"


Usir Amelia ketus, seperti biasa dalam keadaan seperti ini Amelia masih saja angkuh.


Amira hanya tersenyum kecut melihat keangkuhan Amelia. Harusnya dia itu berterimakasih bukan malah mengusir.


Begitupun dengan Bunga bibirnya sangat gatal untuk tak memaki Amelia namun Shofi menahan Bunga untuk diam.


"Apa ini cara kau berterimakasih!"


Ketus Amira kesal, amarahnya masih saja menguasai dirinya. Di tambah karena kesal pada Alam juga.


"Kami tidak ada mengejek mu, kami ingin melihat apa kau baik-baik saja atau tidak!"


Cetus Bunga tersulut emosi juga melihat keangkuhan Amelia. Sudah untung mereka tolong.


"Hidup gue sudah hancur, masa depan gue juga hancur!"

__ADS_1


"Hidup dan masa depan loe tidak hancur, jika loe mau merubah masa depan dan kehidupan loe sendiri!"


"Kami mungkin di mata loe hanya musuh, tapi bagi kami loe bukan musuh kami,"


"Walau sejujurnya kami shok dengan apa yang terjadi pada diri loe. Kami lihat, se jahat-jahatnya loe, loe masih mempunyai hati nurani untuk tidak mengugurkan kandungan loe!"


"Namun, loe salah jika harus meminta pertanggung jawaban laki-laki brengsek itu!"


"Lalu gue harus apa, siapa yang mau tanggung jawab! gue gak mungkin membesarkan baby ini sendirian!"


Bentak Amelia emosi kenapa tak ada yang mengerti posisinya semua orang sama saja.


Amelia benci itu, semua orang tak ada yang mengerti perasaan nya.


"Loe bisa pasti bisa, apa loe gak berpikir, bagaimana bisa loe hidup sama orang yang sudah memandang loe hina bahkan tak menginginkan baby loe. Apa loe akan bahagia hah, ayo katakan apa loe akan bahagia!"


Shofi mencengkal lengan Amira yang tersulut emosi juga. Sedang Amelia sendari tadi hanya menangis pilu.


"Besarkan baby loe sendiri. Gue yakin loe bisa, jangan jadikan diri loe seperti kedua orang tua loe sendiri!"


Deg ...


Amelia terkejut mendengar bentakan Amira, Amelia menatap nanar Amira. Kenapa bisa Amira tahu tentang kedua orang tuanya. Bagaimana bisa, padahal Amelia tak pernah sekalipun bercerita. Hanya ketiga sahabatnya nya lah yang tahu. Bagaimana bisa orang yang selalu Amelia benci tahu tentangnya.


"Pertahankan baby loe, dia masih bisa bertahan karena tahu, ibunya kuat!"


Amira langsung pergi meninggalkan ruang rawat Amelia dengan emosi yang menggebu-gebu di ikuti oleh Bunga.


Shofi memandang Amelia dengan tatapan sulit di artikan.


Entahlah, apa karena kasihan atau kesal pada Amelia yang selama ini selalu mengganggunya.


"Apa yang di katakan Amira benar, kamu ibu kuat dan ... hebat!"


Amelia berbalik menatap nanar tas yang Shofi letakan di pangkuannya.


Air mata Amelia terus mengalir deras sangat deras hingga Amelia merasakan sesak yang tiada Tara.


Kenapa!


Kenapa orang yang selalu Amelia musuhi malah orang yang menolong dan peduli padanya.


Kenapa!


Amelia mencengkram erat seprai rumah sakit dengan rahang mengeras.


.


Bunga mengelus punggung Amira yang terlihat masih menahan amarah.


Seperti nya Amira tak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini.


"Shofi bawa pulang Amira hati-hati!"


"Kamu gak ikut kami?"


"Suami aku sebentar lagi tiba!"


Shofi mengangguk mengerti jika Bunga sudah bersuami dan tentu tak mungkin pulang bareng mereka.


Bunga duduk menunggu sang suami menjemput dengan perasaan berkecamuk.


Ada rasa sedih di hari Bunga melihat kondisi Amelia. Bagaimana bisa Aditya orang yang selalu Bunga puji-puji ternyata sekejam itu bahkan sampai menghamili Amelia lebih parahnya Aditya tak mau tanggung jawab dan malah menyuruh Amelia membunuh anaknya sendiri.


Sungguh kenapa ada orang semacam itu di dunia ini.

__ADS_1


"Sayang!"


Bunga mengangkat kepalanya mendengar suara sang suami memanggil.


"Maaf, lama ya menunggu!"


Bunga menggelengkan kepala tampa kata membuat Raja bingung apa yang terjadi kenapa juga sang istri berada di rumah sakit.


"Terus kenapa sayang bisa berada di sini?"


"Mau pulang!"


Bukannya menjawab Bunga malah meminta pulang membuat Raja menurut. Seperti nya sang istri belum mau cerita.


Entah kenapa Bunga jadi pendiam padahal tadi di dalam Bunga tak hentinya ingin nyerocos.


"Apa mas akan tanggung jawab jika aku hamil?"


Citttt ...


Suara gesekan mobil pada aspal begitu nyaring membuat Bunga hampir saja kepalanya terbentur dasboard.


"Mas kamu mau bunuh aku!"


Kesal Bunga karena Raja selalu mengerem dadakan.


"Tadi sayang bilang apa, coba ucapkan sekali lagi!"


Ucap Raja penuh intimidasi membuat Bunga ciut ketika di tatap seperti itu.


"Apa mas akan tanggung jawab jika aku hamil?"


Raja memejamkan kedua matanya menahan emosi yang keluar kenapa tiba-tiba Bunga mempertanyakan itu apa Bunga tak percaya padanya.


"Sayang apa mas laki-laki brengsek yang menelantarkan kamu?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa harus ada pertanyaan semacam itu!"


"Bagaimana bisa mas menelantarkan anak mas sendiri darah daging mas!"


Raja menangkup pipi sang istri seperti ada sesuatu yang menggangu pikiran istrinya.


"Katakan ada apa?"


"Amelia hamil dan Aditya tak mau tanggung jawab bahkan menyuruh Amelia membunuh baby itu!"


Deg ...


Raja langsung memeluk sang istri erat bagaimana bisa sang istri berpikir seperti itu. Bahkan Raja pun terkejut dengan apa yang sang istri katakan tentang Amelia.


Sungguh ini kabar yang sangat mengejutkan.


"Sayang mas bukan Aditya mas ya mas suami kamu. Mana mungkin mas melakukan hal itu tolong buang jauh-jauh dari pikiran kamu mas mohon!"


Ucap Raja tak lekas melepaskan pelukannya, Raja tahu istrinya sedang ketakutan dan Raja takut itu akan membekas di hati Bunga.


"Bunga hanya takut mas membuang Bunga!"


"Jika itu terjadi maka mas sudah siap di gantung ayah!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih.....

__ADS_1


__ADS_2