Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 18 Kenapa wajahku di lipat!


__ADS_3

Sepulang dari sekolah seperti biasa Bunga akan tertidur dengan keadaan masih memakai seragam. Bahkan kaus kakinya masih di pakai dengan tas tergeletak di mana saja.


Bunga memang benar-benar tak berubah sama sekali. Bahkan harus Jelita yang membereskan kamar Bunga.


"Sayang bangu!"


Jelita membangunkan Bunga agar segera mandi tapi Bunga hanya menggeliat saja.


"Bentar lagi ma!"


"Ayo bangun,"


"Bentar ma!"


"Keluarga Tante Raya mau ke sini!"


"Apa!"


Bunga langsung bangun kerena terkejut dengan ucapan sang mama. Jelita hanya tersenyum saja melihat kelakuan putri ya.


"Ayo mandi, kamu kebiasaan bagaimana kalau sudah menikah!"


"No ma,"


Kesal Bunga terpaksa bangun dengan kepala yang masih pusing. Bunga berjalan gontai masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.


Jelita langsung membereskan kamar putrinya. Menyimpan barang-barang di tempat semula.


Bunga keluar dengan wajah segarnya dimana sang mama sudah tak ada lagi di kamar.


"Tunggu, apa benar yang mama katakan!"


Gumam Bunga masih mengingat sang mama memberi tahu jika Tante Raya akan ke sini.


"Mama pasti bohong!"


Monolog Bunga lagi sambil memakai baju tidur.


Tok ..


Tok ...


Ketukan pintu membuat Bunga terkejut bahkan sampai menjatuhkan sisir yang ia pegang.


"Non, di tunggu nyonya sama tuan buat makan!"


Bunga langsung berlari membuka pintu membuat mba Kus terkejut.


"Mba apa ada keluarga Tante Raya di bawah!"


"Tidak ada non, tadi sih ada tapi sudah pulang!"


Bunga menghela nafas lega ternyata mama tak bohong tapi untung saja sudah pulang membuat Bunga tak usah khawatir.


Bunga turun bersama mba Kus untuk makan malam.


Bunga langsung makan tanpa banyak bicara begitupun dengan Aldi dan Jelita.


"Sayang,"


"Iya ma!"


"Lusa Tante Raya akan ke sini bersama putranya!"


Uhuk ...


Bunga tersedak oleh minumannya mendengar ucapan sang mama.


"Ma, bukankah sudah Bunga bilang kalau Bunga tak mau menikah muda!"

__ADS_1


"Ini sudah jadi keputusan, setidaknya kamu bertemu dulu dengan calon kamu sesudah itu boleh kamu putuskan!"


"Tapi mama maksa Bunga!"


"Nak, ayah yakin kamu menyukainya!"


Bunga terdiam ketika sang ayah yang sudah berbicara.


"Setidaknya kalian bertemu dulu baru kamu putuskan!"


Jika sang ayah yang bicara Bunga benar-benar akan bungkam. Karena merasa sudah selesai Bunga memilih pergi ke kamar saja dari pada harus membahas masalah perjodohan itu lagi.


Andai saja usia Bunga tidak semuda itu tentu Bunga akan menyetujui nya. Tapi, Bunga masih sekolah bahkan KTP pun belum punya.


Pernikahan apa yang akan mereka jalani, walau Bunga tahu dalam undang-undang pada pasal 7 UU nomor 1 Tahun 2014. Dalam pasal itu disebutkan, perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.


Walau usia Bunga sudah di perbolehkan tetap saja bagi Bunga ia masih kecil dan belum siap untuk menikah. Bahkan Bunga juga tidak tahu berapa usia calon suaminya apa sudah memenuhi standar atau belum.


Huh ...


Bunga menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa ayah sama mama maksa banget!"


Bingung Bunga atas apa yang kedua orang tuanya lakukan. Tak bisanya kedua orang tuanya memaksa ia melakukan suatu hal yang tak Bunga sukai.


Bunga tiba-tiba teringat akan hasil lukisan yang Raja buat. Refleks Bunga langsung bangun dari pembaringannya.


Bunga mengambil tas dimana lukisan itu ia simpan di sana.


"Ini dia!"


Gumam Bunga mengeluarkan gulungan kertas kampas. Perlahan Bunga membuka talinya dengan perasaan was-was takut apa yang Raja lukis membuat mukanya buruk rupa.


Namun nyatanya Bunga salah mengira


Deg ...


Harusnya di sana dirinya saja kenapa Raja harus menempatkan dirinya juga.


Lukisan itu benar-benar sangat indah Bunga tak menyangka jika karya Raja akan sebagus itu.


Bunga pikir Raja melukis wajah dirinya menjadi jelek nyatanya sangat keren.


Bunga melihat ada tanda tangan juga di sana dengan sebuah kalimat.


Kamu akan hidup dengan ku, di sampingku!


Bunga menautkan kedua alisnya membaca kalimat yang Raja tulis.


"Oh ya ampun laki-laki itu benar-benar tak waras. Bagaimana bisa terus mengklaim diriku calon istrinya!"


Kesal Bunga ingin membuang lukisan itu namun urung. Entah kenapa Bunga tak mau membuangnya. Bunga melipatnya hingga menjadi dua bagian di mana tinggal terdapat lukisan diri Bunga saja dengan pundak kokoh.


"Siapa sebenarnya Raja, kenapa dia terus mengincar ku!"


"Apa ia musuh ayah, dan mendekatiku karena ingin menjebak ayah!"


Monolog Bunga kejauhan bahkan Bunga tak sadar dengan apa yang ia ucapkan.


Walau otak Bunga cerdas namun dalam perasaan Bunga sangat tabu. Dan sulit berpikir jernih tentang suatu hal yang membuat otaknya pusing.


"Begini cantik!"


Gumam Bunga ketika memasang lukisan itu di salah satu bingkai photo.


Karena tak mau ambil pusing Bunga memutuskan untuk tidur saja guna menyambut hari baru. Bunga berharap esok hari yang tenang dan damai.


"Kenapa wajahku di lipat!"

__ADS_1


Akhhh ...


Jerit Bunga terkejut ketika Raja marah pada ia karena lukisannya wajah Raja di lipat.


Huh .. huh ...


Nafas Bunga memburu dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. Kenapa mimpi itu terasa nyata dan itu sangat menakutkan.


Kenapa Raja masuk kedalam mimpinya dan kenapa bisa tahu jika ia melipat wajah Raja.


Apa Raja seorang mata-mata hingga tahu apa yang ia lakukan.


Karena ketakutan tanpa sadar Bunga membenarkan letak lukisan itu di mana wajah Raja terlihat jelas.


Lukisan itu sangatlah indah, namun Bunga belum menyadari itu karena ketakutan. Sudah membenarkan lukisan itu Bunga segera masuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.


Tak membutuhkan waktu lama, Bunga sudah selesai dengan ritual mandinya terlihat sekarang wajah Bunga nampak segar.


Bunga segera memakai baju seragamnya guna bersiap sekolah.


Sesudah siap semuanya Bunga keluar dari kamarnya tanpa menoleh lagi pada lukisan yang sudah terpasang indah.


"Pagi sayang!"


"Pagi yah, mama mana?"


"Ke kamar mandi, kamu sarapan duluan saja!"


Tanpa bertanya lagi Bunga langsung sarapan di temani segelas susu hangat.


Sudah selesai sarapan sang mama masih belum juga kelihatan namun Bunga tak mempedulikan itu karena harus segera berangkat.


"Berangkat saja, mungkin mama masih di kamar mandi!"


Bunga menurut saja pamit pada sang ayah. Sesudah memastikan Bunga berangkat Aldi bergegas ke kamar di mana sang istri sedang berbaring lemah.


"Ma, apa tak sebaiknya kita ke dokter saja!"


"Tak usah yah, mama hanya pusing saja dan lemas!"


"Salah ayah sih tak membiarkan mama istirahat semalam!"


Ketus Jelita kesal pada sang suami yang semalaman mengajak ia dinas.


"Maaf-maaf habis mama bikin ayah candu sih!"


"Tau ah, sana pergi!"


"Beneran gak mau ke dokter siapa tahu ada adik Bunga!"


"Ayah!"


Bruk ...


Geram Bunga sambil membanting sang suami dengan bantal. Aldi bukannya marah dia malah terkekeh melihat kekesalan sang istri yang di mata Aldi begitu menggemaskan.


"Ke kantor!"


"Ya .. ya .. ayah berangkat ke kantor!"


Cup ...


Sebelum benar-benar berangkat Aldi mengecup puncak kepala sang istri terlebih dahulu dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Ayah berangkat!"


"Hm, hati-hati!"


Gumam Jelita lemas sang suami benar-benar menyiksanya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2