Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 23 Saling menjaga


__ADS_3

SAH ....


Kata sah terdengar nyaring di telinga Bunga membuat Bunga langsung tak sadarkan diri.


Jelita begitu terkejut melihat putrinya malah tak sadarkan diri di hari bahagianya.


Bunga memang benar-benar.


Acara yang harusnya haru kini menjadi panik karena Bunga.


Aldi langsung menggendong putrinya kedalam kamar.


Sedang Raya dan Rijal menenangkan pak penghulu dan beberapa kerabat yang di undang.


Sungguh Bunga memang ada-ada saja bagaimana bisa gadis itu pingsan di saat acara sakral ini.


Jelita dan Aldi keluar kamar membiarkan Raja yang mengurus Bunga karena sekarang yang lebih berhak atas Bunga yaitu Raja.


Raja menatap wajah Bunga yang berbaring kaku dengan kebaya yang di kenalannya. Terlihat cantik dan mempesona, bahkan kecantikannya berkali-kali lipat ketika Bunga menutup mata.


"Kamu benar-benar gadis ajaib!"


Gumam Raja menggelengkan kepala karena tak menyangka Bunga akan pingsan setelah ia mengucapkan ijab kobul. Untung saja Bunga pingsannya sudah sah kalau belum bisa berabe.


Raja mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Bunga. Raja berjalan kearah lemari kaca di mana ada beberapa piala dan piagam di sana.


"Ternyata dia pintar juga!"


Gumam Raja melihat kejuaraan piala dari mulai Paud, TK, SD, namun ada yang aneh dari piala SMP dan SMA kenapa Bunga jadi peringkat kedua.


"Seperti nya ada yang lebih pintar dari istriku!"


Monolog Raja ketika melihat piala sekolah SMP dan SMA hanya berada di peringkat kedua.


Entah siapa yang mengalahkan Bunga, ya tentu Amira. Karena yang menduduki peringkat pertama adalah Amira.


Raja tersenyum ketika melihat Poto Bunga waktu kecil sangat imut sekali dengan pipi chubby nya.


Raja mengerutkan kening ketika melihat salah satu bingkai Poto yang terbalik. Perlahan Raja mengangkatnya.


Seketika senyuman Raja semakin melebar ketika melihat bingkai Poto apa. Ternyata lukisan yang di buat Raja tempo hari dan Bunga benar-benar menyimpannya dengan baik walau harus di balik.


Raja menempelkan bingkai lukisan tersebut di tempat yang kosong.


"Perfect!"


Raja langsung berbalik ketika mendengar gumaman dari Bunga.


Perlahan mata Bunga terbuka lalu menatap kesekeliling ternyata dia berada di kamarnya.


Bunga bernafas lega lalu ia duduk sambil memegangi kepalanya.


Akh!


Belum sempat Bunga menjerit Raja terlebih dahulu membekam mulut Bunga dengan satu tangan menahan belakang kepala Bunga agar tidak terbentur sandaran ranjang.


"Jika kamu bertanya kenapa aku di sini jawabannya Aku Suami Kamu!"


Ucap Raja sambil menekan kata terakhirnya. Bunga hanya bisa mengerjap-enjap kedua matanya lucu ketika wajah Raja terlalu dekat dengan Bunga.


Bunga terdiam sambil mengingat apa benar yang di ucapkan Raja jika Raja suaminya.


Seketika mata Bunga melebar ketika mengingat jika ia memang sudah sah menjadi istri Raja.


"Jangan berteriak jika ingin di lepas!"


Bunga hanya mengangguk saja dengan mata yang tetap membulat.


Perlahan Raja menjauhkan tangannya di mulut Bunga.

__ADS_1


Akhhh!!!!


Aldi, Jelita, Raya dan Rijal terkejut mendengar jeritan Bunga membuat mereka berempat langsung berlari kelantai atas di mana kamar Bunga berada.


Brak ...


"Ada apa sayang?"


Tanya Aldi membuka pintu kamar Bunga dengan kasar.


Bunga langsung menunjuk Raja yang tergeletak di lantai.


Seketika keempat orang tersebut membulat sempurna melihat kini Raja yang tak sadarkan diri.


"Sayang, ada apa kenapa Raja bisa pingsan?"


Tanya Jelita lembut duduk di sebelah putrinya.


Aldi dan Rijal mengangkat tubuh Raja dan membaringkannya di ranjang Bunga.


"Bu-bunga tak sengaja menendangnya!"


Raya menghela nafas pelan melihat putranya yang sekarang pingsan. Entah sekencang apa tendangan Bunga sampai Raja terpental jauh bahkan kepalanya sampai membentur kursi.


Untung saja kepala Raja tak luka hanya ada benjolan saja sedikit.


"Apa Raja mati mah, Bunga tak mau jadi janda muda!"


Keempat orang tua yang tadinya bersedih kini malah menahan senyum mendengar ucapan konyol Bunga. Sungguh gadis ini di saat seperti ini malah melawak.


"Raja gak mati nak, dia hanya pingsan!"


"Oh!"


Lagi-lagi keempat orang tua di buat melongo dengan jawaban Bunga. Dengan entengnya hanya bilang 'Oh' sungguh terlalu.


"Kok gitu sih mah!"


"Yang membuat pingsan siap?"


"Bunga!"


"Jadi yang harus tanggung jawab juga?"


"Bunga!"


"Pintar!"


Ucap keempat orang tua serempak membuat Bunga menghela nafas kasar kerena terjebak dengan ucapannya sendiri.


Keempat orang tua kembali meninggalkan sepasang pengantin baru yang saling pingsan bergantian dan saling menjaga bergantian pula.


Bunga melirik Raja yang berbaring di sampingnya lalu menepuk-nepuk pipinya berharap ini cuma mimpi.


Tapi nyatanya ini memang nyata Raja sudah sah jadi suaminya.


Berkali-kali Bunga terus melirik Raja lalu menepuk-nepuk pipinya berharap ini mimpi saja tapi nyatanya pipi Bunga terasa sakit yang mematahkan mimpi Bunga jika ini bukan mimpi tapi sudah bangun.


Namun, kali ini lirikan Bunga terhenti menatap wajah Raja lekat.


Alis tebal dengan hidung mancung, bibir terlihat seksi dengan rahang tegas.


Sungguh ciptaan Tuhan yang mana yang engkau dustakan Bunga. Ini sebuah kenikmatan Tuhan yang harus di syukuri di berikan suami yang ketampanannya bak dewa Yunani.


"Dia suami kamu Bunga, dia suami kamu!"


Gumam Bunga berharap ia akan menerima kenyataan ini.


"Dia memang tampan tapi menjengkelkan!"

__ADS_1


Gumam Bunga lagi rasanya ingin menjerit sekencang-kencangnya agar Raja terbangun.


Karena tak mau menjadi gila Bunga memutuskan mandi saja agar tubuhnya menjadi segar kembali.


Karena takut Raja sudah sadar membuat Bunga buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Untung saja Bunga sudah siap siaga membawa baju ganti ke kamar mandi jadi Bunga akan aman jika tiba-tiba Raja terbangun.


Inikan bukan di sinetron yang Bunga lupa membawa baju ganti lalu Raja akan mengintipnya jika terbangun.


No, Bunga sekarang harus hati-hati karena pasti Raja akan selalu ada di manapun ia berada.


Dan benar saja ketika Bunga keluar Raja sudah sadar dari pingsannya walau terlihat Raja masih linglung.


"Akhh ..,"


Raja meringis memegang kepalanya yang terasa ada benjolan. Raja mengingat-ingat kapan ia mendapatkan luka.


"Sudah sadar!"


Ketus Bunga membuat Raja langsung menoleh. Raja menyipitkan kedua matanya menatap Bunga dari atas sampai bawah.


"Sini!"


Ucap Raja meminta Bunga mendekat namun Bunga hanya menggeleng.


"Sini!"


Lagi-lagi Bunga menggeleng kuat tak mau mendekat membuat Raja menjadi kesal. Raja berusaha bangun sambil menahan pusing di kepalanya.


Bagaimana tidak pusing jika kepala Raja sampai benjol begitu.


Raja berjalan ingin ke kamar mandi tapi kepalanya yang pusing membuat Raja oleng.


Bunga yang melihat Raja jalan seperti orang mabuk langsung menahan tangan Raja yang ingin jatuh.


"Apa kepalanya pusing!"


"Hm,"


Karena tak tega Bunga memapah Raja menuju kamar mandi.


"Terimakasih!"


Bunga terdiam ketika Raja mengucapkan kata terimakasih pada dia.


Ada rasa bersalah di hati Bunga membuat Raja seperti itu. Apa benturannya sangat kencang sekali hingga membuat Raja seperti itu.


"Bunga!"


Teriak Raja dari dalam kamar mandi membuat Bunga terkesiap.


"Iya!"


"Boleh tolong ambilkan handukku di dalam koper aku mau mandi!"


"Wait!"


Bunga segera bergegas mengambil handuk di dalam koper Raja yang memang sudah ada di kamar Bunga.


"Ini!"


Raja mengeluarkan tangannya lalu mengambil handuk di tangan Bunga.


"Terimakasih!"


Lagi-lagi Bunga di buat terdiam mendengar Raja mengucapkan kata terimakasih seolah itu bukan Raja yang Bunga kenal.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2