
Keadaan di sekolah terlihat tegang ketika Shofi dan Fatih tak pernah akur. Apalagi Amelia selalu mengusik Shofi membuat Bunga geram. Tapi sayangnya Bunga tak bisa membantu Shofi karena dia saja takut.
Bunga dan Amira hanya bisa menonton bagaimana Fatih terus mengusik Shofi. Padahal Shofi diam saja tak melawan apapun.
Seperti nya hari ini ada yang aneh juga pada Shofi kenapa Shofi terlihat diam. Bahkan di siram pun oleh Fatih Shofi tetap diam.
"Ra--"
Belum sempat Bunga menyelesaikan ucapannya Shofi pamit pergi ke toilet di ikuti oleh Fatih.
Karena penasaran Bunga dan Amira mengejar Shofi namun di halangi oleh geng Fatih. Bunga hanya bisa diam karena tak berani sedang Amira terus memaksa sampai terlihat Fatih keluar dari toilet sedang Shofi tak ada.
Bunga mengejar Amira yang masuk lebih dulu ke dalam toilet.
Deg ...
"Darah!!!!"
Pekik Bunga terkejut melihat darah berceceran di mana-mana. Seketika Bunga merasa pusing dan mual.
Bruk ...
"Bunga!"
Kepanikan Amira menjadi ketika melihat Bunga malah pingsan. Amira lupa memberi tahu Bunga kalau ada darah. Amira jadi bingung sendiri, hingga membuat Shofi tersadar dari lamunannya ketika Amira menepuk pipi Shofi.
Shofi membelalakkan kedua matanya melihat Bunga tergeletak di lantai. Untung saja Bunga pingsan jauh dari pecahan kaca.
Niat mau menolong Shofi, Amira jadi menolong Bunga.
"Bunga kenapa?"
Tanya Shofi mendekat.
"Aku lupa, Bunga phobia darah!"
Lilir Amira merasa bersalah. Mengangkat kepala Bunga ke atas pangkuannya.
"Sebentar aku akan cari bant--"
Belum sempat Shofi menyelesaikan ucapannya tiba-tiba Raja menerobos masuk dan tanpa kata langsung mengangkat tubuh Bunga.
Shofi terkejut melihat itu semua begitupun dengan Amira. Karena tak mau berasumsi Amira dan Shofi langsung mengejar langkah Raja menuju UkS.
Terlihat jelas wajah panik Raja, seakan takut terjadi apa-apa pada Bunga.
Shofi dan Amira hanya bisa saling pandang satu sama lain. Mereka merasa ada sesuatu di antara mereka berdua.
"Jangan risau, Bunga baik-baik saja. Dia hanya shok saja!"
Ucap dokter yang memeriksa Bunga membuat Raja bernafas lega.
Untung saja mereka belum beranjak dari toilet ketika Amira dan Bunga masuk. Hingga Raja mendengar teriakan Amira memanggil Bunga.
Raja memegang tangan Bunga erat seakan takut Bunga kenapa-kenapa. di sana juga ada Fatih, Rangga dan Moreo.
Shofi dari tadi hanya bisa menunduk dalam tak mau menatap Fatih. Walau mulutnya ingin berkata terimakasih. Karena memang tadi Shofi belum sempat mengucapkannya. Namun tertahan karena gengsi.
__ADS_1
"Emmz ..,"
Raja langsung siaga mendengar Bunga bergumam.
Perlahan mata Bunga terbuka kepalanya begitu berat Bunga belum menyadari kalau ada orang-orang di sampingnya.
"Sayang kamu gak apa-apa?"
Deg ...
Bunga langsung melirik mendengar suara orang yang begitu Bunga hapal siapa orangnya.
Glek ...
Bunga menelan ludahnya kasar melihat Amira dan Shofi melotot ke arahnya. Di sana juga ada Rangga, Moreo dan Fatih. Bunga menatap pada Raja yang menggenggam tangannya.
Seketika Bunga menarik tangannya sambil berusaha duduk membuat Raja tersentak.
"Sayang kamu kenapa! aku panik tahu melihat kamu pingsan."
Bunga menjadi salah tingkah dan bingung harus bersikap apa. Bunga yakin kedua temannya pasti menuntut penjelasan padanya.
Kenapa juga Raja malah memanggilnya sayang di hadapan temannya. Bunga jadi kesal sendiri pada Raja.
Melihat situasi yang tidak kondusif Fatih langsung segera menarik Amira keluar begitupun dengan Shofi yang di tarik oleh Rangga.
Hingga di ruang UKS hanya ada Raja dan Bunga saja. Bunga menatap kesal pada Raja yang tak bisa menjaga ucapannya.
"Maaf!"
Jelas Raja merasa bersalah karena tak bisa mengontrol sikapnya. Bunga menghela nafas berat, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Bunga yakin Amira dan Shofi pasti akan menuntut kejelasan tepatnya Amira yang akan menuntutnya.
"Sayang jangan diam dong, maafkan aku!"
Rengek Raja meraih wajah Bunga yang nampak cemberut.
"Sudah terlanjur kan!"
Kesal Bunga memukul dada bidang Raja, Raja langsung memeluknya dan mencium kening Bunga dengan sayang.
"Kalau sayang takut, biar mas yang bicara pada Amira dan Shofi!"
"Jangan, aku saja."
"Maaf juga karena sudah buat mas takut!"
Lilir Bunga entah harus di jelaskan dari mana dulu hubungan antara dirinya dan Raja. Rasanya Bunga pusing, karena hubungan mereka terlalu rumit pada awalnya.
"Ya sudah, sayang istirahat biar mas panggil Amira dan Shofi,"
Cup ..
Sebelum keluar Raja mengecup bibir Bunga sekilas membuat Bunga melotot dengan apa yang Raja lakukan. Namun, rasanya Bunga tak bisa menolak itu. Bahkan Bunga malah membalasnya membuat ciuman itu menjadi panas.
"Mas keluar!"
Ucap Raja ketika sudah puas menyesap rasa manis bibir Bunga. Dengan cepat Bunga mengelap bibirnya agar tidak mengundang curiga.
__ADS_1
Tak lama Amira dan Shofi masuk. Benar saja, Amira langsung menatap horor pada Bunga. Membuat Bunga sedikit salah tingkah.
"Jelaskan!"
Ucap Amira ketus membuat Bunga benar-benar kaku. Harus dari mana dulu dia menjelaskannya. Bunga jadi merasa bersalah karena sudah menyembunyikan ini dari temannya.
"Bunga!"
Geram Amira membuat Shofi langsung mencengkal Amira supaya tenang.
"Raja suamiku!"
"What!"
Pekik Amira benar-benar terkejut, bahkan rasanya jantung Amira berhenti berdetak saking terkejutnya mendengar pakta itu.
"Dari kapan?"
Bukan Amira yang bertanya melainkan Shofi karena Amira masih diam dengan wajah shok nya.
"Tiga bulan lalu, kami di jodohkan!"
"Maafkan aku Amira, aku tak bermaksud tidak memberi tahu mu."
Sesal Bunga benar-benar merasa bersalah. Bunga memegang tangan Amira berharap Amira tak akan marah padanya. Bahkan Bunga sampai memeluk Amira.
"Apaan sih, lepas. Aku tak marah cuma sedikit kecewa!"
"Kenapa tak cerita, tapi Rangga, Moreo dan Fatih tahu!"
Cemberut Amira karena memang kesal kenapa Bunga tak memberi tahu hal sepenting itu.
"Maaf!"
"Sudahlah, sekarang ceritakan kenapa kamu di jodohkan?"
"Mama sama mommynya Raja itu sahabatan dari orok. Jadi memang mereka sudah merencanakan itu semua!"
"Terus kenapa kamu menerima nya, apa karena kamu mencintai Raja?"
Kini Shofi yang bertanya karena merasa penasaran dengan cerita Bunga yang nikah muda bahkan di jodohkan lagi.
"Awalnya aku menolak apalagi aku masih sekolah. Tapi Amira tahu kan aku paling tak bisa membantah ucapan mama walau aku sempat kabur. Hingga aku terpaksa menerima nya. Tapi entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta pada Raja. Tepatnya karena Raja selalu memperlakukan aku dengan kasih sayang!"
Ucap Bunga tersenyum jika mengingat bagaimana perjalanan kisah mereka.
"Tapi, bagaimana kamu bisa menikah. Usia kamu masih enam belas tahu?!"
"Kami menikah sirih dulu, mungkin ketika sudah lulus dan aku sudah punya KTP kami akan meresmikan pernikahan kami!"
"Ah .., rasanya aku juga ingin nikah muda!"
Celetuk Amira membuat Shofi dan Bunga melongo.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1