Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 13 Ketakutan seorang Ayah


__ADS_3

Di sepanjang jalan pulang Bunga terus saja ngedumel dengan apa yang terjadi tadi di sekolah.


Bunga sudah bahagia dengan keberadaan dewa Yunani nya membuat Bunga tak harus mencari terus di swalayan.


Tapi, mengingat kelakuan Raja membuat Bunga menjadi kesal sangat kesal sekali.


Ingin sekali membejek-bejek wajah gantengnya. Hari ini benar-benar sial bagi Bunga.


Mang Sup yang menyetir hanya bisa diam saja mendengar semua ocehan nona muda tanpa berani menyahut karena yakin ujung nya ia yang di salahkan.


"Apa dia sinting, kenapa bilang aku calon istrinya!"


"Sungguh aneh, mana ada aku miliknya kan aku anak mama dan ayah!"


"Ah, kesel kesel kesel!!"


Bunga terus saja menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepala mengingat tampang datarnya Raja. Anak baru itu cari gara-gara dengan dia.


"Non,"


"Apa!"


Bentak Bunga refleks dengan keadaannya yang kesal.


"Jangan ganggu, mang Sup diam!"


"Kita sudah sampai!"


"Kenapa gak bilang dari tadi sih,"


Ketus Bunga membuka pintu mobil dengan kasar.


Bruk ...


Bunga menutup pintu kencang membuat mang Sup terperanjat kaget.


"Ya ampun gadis itu!"


Mang Sup hanya bisa mengelus dadanya saja berusaha tetap sabar karena sudah biasa dengan kelakuan Bunga yang seperti itu.


"Nak sudah pulang!"


Bunga menahan nafas ketika akan protes karena yang menyapanya bukan sang mama melainkan orang lain.


Wajah yang tadinya merah padam kini kembali normal ketika tante Raya memeluk dia membuat Bunga hanya bisa diam.


Bunga masih bisa mengenali wajah ini wajah yang dulu selalu membawa ia jalan-jalan dan memberikan apapun yang ia mau.


"Apa kabar sayang, Tante kangen!"


Ucap tante Raya membuat Bunga tersenyum kaku karena bingung harus bereaksi apa. Mereka sudah lama tak bertemu mungkin sekitar enam tahun.


"Kenapa diam apa gak kangen Tante?"


Ucap tante Raya memasang wajah sedihnya membuat Bunga gelagapan.


"Tidak Tan, Bunga hanya kaget saja ternyata Tante banyak berubah!"


"Oh ya, berubah apanya?"


"Makin cantik!"


Raya tersipu oleh pujian Bunga membuat Jelita yang mendengarnya hanya bisa mual.


Bunga pasrah ketika lengannya di tarik menuju ruang keluarga.


"Lihatlah dad, calon mantu kita sudah tumbuh dewasa, cantik dan imut!"


Ucap Raya membuat Rijal langsung menoleh lalu tersenyum melihat Bunga yang hanya diam saja.


Sungguh Bunga tak suka dengan ucapan Tante Raya yang menyebutnya calon mantu. Siapa juga yang mau menikahi anaknya belum lagi kedua orang tuanya juga menjodohkan dia.


Bunga belum tahu jika orang yang akan di jodohkan dengannya putra dari Tante Raya dan om Rijal.

__ADS_1


"Ya, dia cantik sama seperti Jelita waktu muda!"


Deg ...


Aldi langsung menatap tajam Rijal yang sudah berani memuji istrinya. Begitupun dengan Raya melotot dengan apa yang sang suami ucapkan.


Rijal terdiam seolah apa yang ia katakan salah, kenapa juga mulutnya tak bisa di rem.


"Dad, kau!"


"Sudah sudah mom, bawa mantu Daddy kesini!"


Raya menghela nafas lalu berusaha tersenyum pada Bunga yang membalasnya dengan senyuman tipis karena kesal dengan tingkah para orang tuanya.


"Bagaimana sekolah kamu nak?"


Tanya Rijal basa basi karena tahu Bunga tidak enak dalam situasi seperti ini.


"Buruk!"


"Kok gitu, emang kenapa?"


"Ayah!"


Rengek Bunga beralih duduk di samping Aldi dan Jelita.


"Kenapa sayang, apa ada yang gangguin kamu di sekolah?"


Tanya Aldi memeluk sang putri membuat Rijal dan Raya bukannya ilfil tapi malah di buat gemas dengan tingkah Bunga.


"Ada murid baru di sekolah, masa dia bilang Bunga calon istrinya hiks .. mana mempermalukan Bunga di depan anak-anak!"


"Bunga malu, Bunga kesel!!"


"Sudah-sudah nanti ayah kasih pelajaran anak itu!"


Rijal dan Raya meneguk ludahnya kasar.


Rijal dan Raya melotot dengan apa yang Aldi ucapkan membuat Jelita tersenyum puas.


"Beneran yah!"


"Hm,"


"Terimakasih ayah, kalau begitu Bunga ke kamar dulu. Kalian lanjut saja ngobrol!"


Cetus Bunga santai dengan tampang polosnya.


"Ehhh, mau kemana diam dulu di sini!"


Cegah Jelita menarik lengan Bunga agar Bunga duduk kembali.


"Ma, Bunga mau ganti baju dulu!"


Aldi menahan sang istri agar membiarkan Bunga pergi. Jelita langsung melepaskan putrinya membuat Bunga tersenyum bahagia langsung berlari kecil sambil bersenandung ria.


"Apa kalian yakin ingin menjadikan putriku menantu, lihatlah tingkahnya saja seperti boca!"


Ucap Aldi dingin karena masih ragu dengan keputusan sang istri. Aldi hanya takut putrinya tak bahagia dan di perlakukan tidak baik.


"Tapi dia menggemaskan!"


"Kami tak masalah itu!"


Ucap Raya dan Rijal membuat Aldi menghela nafas bingung. Putrinya masih kecil, masih sekolah dan tingkahnya saja membuat orang jengkel.


"Aku percaya putraku akan menerima Bunga apa adanya!"


Yakin Raya dengan tatapan penuh harap jika putranya akan menerima Bunga sebagai istrinya.


"Tapi Raja sudah membuat putriku kesal!"


"Aku yakin, Raja sedang berusaha mendekatkan dirinya saja!"

__ADS_1


Bela Rijal karena paham bagaimana karakter putra semata wayangnya.


"Beri putra ku waktu mendekati Bunga, jika Raja sudah memutuskan baru kita adakan pertemuan!"


"Raja hanya sedang berusaha mengabulkan permintaanku bahkan ia rela sekolah lagi hanya demi ingin dekat dengan Bunga!"


Ucap Raya menambahkan membuat Aldi terdiam.


"Baiklah, jika Raja menerima maka kita adakan pertemuan supaya Bunga tahu. Jika Raja menolak maka perjodohan ini batal!"


Bukan Aldi yang menjawab melainkan Jelita karena Jelita yakin Jika Raja menerima Bunga itu akan mudah bagi Bunga membuka hati jika Raja terpaksa maka itu akan sulit putrinya jalani.


"Ma, apa mama yakin dengan keputusan mama!"


"Kita lihat saja kedepannya bagaimana!"


"Baiklah, aku beri kesempatan Raja untuk mendekati putriku!"


"Dengan caranya sendiri!"


"Ya!"


Pasrah Aldi karena tak mungkin satu lawan tiga orang ya tentu ia akan kalah.


"Tapi ingat! ucapanku yang tadi itu benar. Jadi ingatkan putra kalian jangan macam-macam dengan putriku!"


Ancam Aldi langsung pergi ke kamar membuat Rijal dan Raya menelan ludahnya kasar.


Dari dulu Aldi memang seperti itu dan itulah kenapa membuat Raya berpaling karena ketakutan dengan sikap Aldi yang keras.


"Aku percaya Raja tak seperti Daddy nya!"


Cetus Jelita membuat Rijal menelan ludahnya kasar.


Entah bagaimana hubungan mereka semuanya sangat aneh.


"Aku pastikan Bunga akan aman di tangan Raja!"


Jelita mengangguk saja karena berharap seperti itu. Raja bisa mengubah pola pikir dan kehidupan putrinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.


Karena tak ada yang di bicarakan lagi Rijal dan Raya memilih pamit pulang saja toh mereka masih ada waktu dekat dengan Bunga.


Jelita langsung menyusul sang suami ketika Rijal dan Raya sudah pulang.


"Ayah!"


Ucap Jelita pelan sambil memeluk sang suami dari belakang.


"Apa ayah tak percaya mama!"


"Ayah hanya takut ma!"


Lilir Aldi merasa takut jika keputusan mereka salah dan malah menyakiti hati putrinya.


"Mama yakin Raja orang yang tepat untuk putri kita!"


Aldi diam saja karena bingung harus berkata apa. Hatinya sangat cemas yang tak bisa Aldi jabarkan. Bukan hanya mencemaskan Bunga saja namun Aldi juga cemas akan Raja yang akan di buat kewalahan menghadapi sikap Bunga nantinya.


.


Sedangkan di kamar Bunga sedang menatap pantulannya di cermin.


"Apa orang yang mau mama jodohkan adalah anak Tante Raya dan om Rijal!"


"Jika benar, maka aku harus membuat mereka tak suka padaku agar perjodohan ini batal!"


Gumam Bunga tersenyum seringai, entah ide gila apa yang sedang Bunga rencanakan.


"Tunggu, tapi siapa anak Tante Raya dan om Rijal!"


Bersambung ..


jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2