
Paul tersenyum melihat hubungan Bunga dengan kekasihnya menjauh.
Selama ini yang Paul tahu Bunga berhubungan dengan Rangga karena kedekatan mereka yang tak bisa di pisahkan.
Paul tak tahu jika ia salah sasaran dan Rangga yang harus jadi korban juga pura-pura benar-benar tersakiti.
Paul sangat menyukai Bunga dan ia ingin memilikinya untuk itu Paul membuat semua itu agar ramai di grup.
Trik murahan yang tak akan mempan sama sekali bagi Bunga.
Entah apa yang akan Raja lakukan pada Paul yang sudah berani mengusik istrinya hingga trending di kampus.
Bahkan anak-anak menjodoh-jodohkan Paul dan Bunga karena mereka serasi si imut dan si tampan.
Seperti biasa Bunga menjalankan aktivitas nya tak ada yang berubah dari Bunga karena tak mau ambil pusing dengan semuanya.
Bunga menghampiri teman-teman yang sedang berkumpul di perpustakaan. Rangga yang melihat Bunga menekuk wajahnya karena masih kesal dengan kejadian kemaren bahkan Bunga tak sedikitpun menjelaskan atau membela dia.
"Ga, maafin ya!"
"Cih,"
Amira dan Moreo hanya bisa diam melihat pertengkaran kecil mereka apalagi Amira dan Moreo sangat tahu apa yang terjadi karena Rangga tadi sudah menjelaskannya.
"Ayolah jangan ngambek, Raja juga sudah tak masalah kok!"
"Tapi aku yang kena pukul!"
Bunga nyengir kuda karena memang benar adanya kemaren suaminya hanya panik saja hingga lepas kendali.
"Ayolah, jangan begitu demi baby ya!"
Rayu Bunga bisanya Rangga akan luluh jika masalah anak yang ia kandung.
"Bodo amat, gara-gara dia juga gue yang kena imbasnya!"
Rangga benar-benar merajuk apalagi para cewek-cewek gencar mendekatinya ketika beredar Poto Bunga dan Paul seolah yang mempunyai hubungan dia dan Bunga. Ah, kenapa Rangga jadi kambing hitam dan sialnya ia tak bisa menolak akan permainan ini.
"Apa, Serangga!"
Geram Bunga melotot tak percaya dengan apa yang Rangga katakan. Mana ada baby nya di salahkan yang salah pokoknya Rangga.
"Awas ya, jika baby lahir kau tak boleh melihatnya!"
"Mana ada baby istriku!"
"Dia anak ku!"
"Istriku!"
Moreo dan Amira hanya bisa menghela nafas berat melihat perdebatan tertahan mereka.
"Aku akan bilang pada Raja kau tak boleh melihatnya!"
"Tak bisa begitu, dia istriku!"
__ADS_1
"Dasar pedofil!"
"Kalian bisa diam gak, kata anak kecil saja!"
"Diam Meong!"
Bentak Rangga dan Bunga membuat Moreo tercengang.
"Hey mau kemana?"
Rangga mengejar Bunga yang keluar dari perpustakaan sambil terus berdebat kecil membuat Paul yang melihat itu semua tersenyum.
Paul pikir hubungan mereka kandas sebentar lagi.
"Trik kau licik juga!"
Ucap seseorang sambil menepuk pundak Paul.
"Mereka harus putus!"
"Dengan alasan yang sama?"
Paul terdiam karena itu benar adanya ia melakukan itu semua bukan untuk dirinya sendiri.
"Sampai kapan kau terus menjadi orang bodoh!"
"Asal Ale bahagia!"
"Dengan menyakiti dirimu sendiri!"
Paul mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras. Cintanya tak sesederhana yang terlihat.
Hubungan mereka terlalu rumit untuk di jabarkan dan ia tak mampu untuk berbuat lebih selain dari pada menuruti apa yang Alea minta.
"Paul gue tahu loe sangat mencintai Alea tapi loe jangan bodoh juga. Stop menjadi bayang-bayang Ale loe berhak bahagia!"
Kesal Maxim bercampur kasihan melihat sahabatnya yang selalu menjadi batu loncatan kandasnya hubungan orang lain dan sekarang mangsanya adalah Rangga.
Ya, Alea seorang gadis remaja yang begitu manja dan egois sangat menyukai Rangga namun ia tak bisa mendekati karena Rangga selalu saja menolak dengan alasan ia punya pacar dan Alea meyakini jika pacar yang Rangga maksud adalah Bunga karena Bunga satu-satunya gadis yang sangat intim dengan Raja bahkan kemanapun mereka bersama.
Gadis labil tanpa peduli kesakitan orang lain bagi ia dia harus memiliki apa yang ia mau. Sebuah keegoisan yang selalu menggores hati yang tulus.
Terlalu bodoh untuk sekedar mencintai gadis seperti Alea namun itu adanya dan Paul sulit menampik itu.
"Kebahagiaan gue hanya pada Ale!"
Titik Paul pergi dengan kemarahan dan kesakitan yang tergambar jelas di matanya.
Maxim hanya bisa menghela nafas berat sangat kasihan melihat sahabatnya itu yang selalu begitu.
Cinta!
Kenapa selalu membutakan orang normal membuat Maxim benci akan kata itu. Bagi Maxim semuanya bulsit tak ada yang tulus.
"Cih,"
__ADS_1
Malas Maxim ketika melihat Alea memeluk Paul dengan senyum sialannya. Andai saja Alea bukan orang yang di cintai Paul sudah sejak dulu Maxim membumi hanguskan gadis egois itu.
Dunia tak akan rugi kehilangan satu penghuninya apalagi penghuninya model begitu.
"Terimakasih kak, kau yang terbaik!"
"Hm,"
Balas Paul mencoba baik-baik saja dengan semuanya.
"Ale yakin mereka sebentar lagi akan putus dan Ale bisa mendapatkan Rangga!"
Deg ...
Ucapan yang penuh kejahatan dengan keegoisan yang nyata membuat Paul hanya diam saja.
Aku di sini selalu ada di hadapan mu tapi tak sedikitpun kau lirik. Apa aku selalu kurang di mata mu apa aku tak layak mendapat cintaku kenapa harus orang lain!
Batin Paul sakit yang teramat namun dengan bodohnya ia tetap bungkam akan semuanya.
"Malam jadi pulang kan?"
"Lihat saja nanti!"
"Ayolah kak, Daddy dan mommy terus menanyakan kakak!"
"Ya!"
"Hore!"
Girang Alea memeluk Paul erat bahkan tak segan mencium pipi Paul Tampa peduli apa yang ia lakukan membuat Paul berharap lebih.
Hubungan mereka terlalu rumit untuk di jelaskan.
Dulu Paul, Maxim dan Alea dua sahabat yang sangat dekat kemana-mana mereka selalu bersama.
Namun siapa sangka kebersamaan mereka membuat Paul menginginkan lebih dari sahabat. Hingga Maxim menyarankan agar Paul mengungkapkan isi hatinya.
Keinginan besar butuh mental kuat membuat Paul ingin mengungkapkan isi hatinya seperti saran Maxim tepat di malam tahun Baru namun siapa sangka rencana ia iya susun menjadi berantakan tetkala sang mommy bilang bahwa ia akan menikah lagi dan orang yang sang mommy maksud tak lain Daddy dari Alea sendiri.
Bagaimana bisa Paul mengungkapkan isi hatinya jika antara kedua orang tua mereka akan menikah dan mereka akan menjadi saudara.
Paul hanya bisa bungkam dengan semuanya apalagi Paul tak kecil hati menyakiti hati sang mommy jika sang mommy tahu bahwa ia mencintai calon adiknya sendiri.
Semenjak kedua orang tua mereka menikah Paul memutuskan keluar dari rumah karena takut jika satu atap dengan Alea Paul tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Rangga!"
"Kak Ale pergi dulu!"
Alea berlari mengejar Rangga yang kebetulan lewat menuju taman.
Paul hanya diam saja dengan tangan yang mengepal erat menatap punggung Alea yang mengejar cintanya.
Sungguh ini sangat sakit namun tak berdarah dan sulit untuk di perban.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...