Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 93 Siapa yang paling tampan


__ADS_3

Bunga tersenyum melihat suaminya yang masih tidur.


Dengan hati-hati Bunga beranjak karena takut membangunkan Raja.


Entah bagaimana kabar putrinya yang ia tinggal bersama Rangga. Namun Bunga tak takut karena percaya Rangga tak akan membuat putrinya menangis.


Bunga segera membersihkan diri karena harus mengecek bagaimana putrinya. Apalagi sang putri sudah melewatkan makan siangnya Bunga ketiduran karena lelah.


Hari sudah sore membuat Bunga segera bergegas.


"Nak!"


"Sekar!"


Panggil Bunga namun tak ada sahutan hanya ada keheningan yang tercipta.


Bunga mencari sambil membereskan mainan yang berantakan.


Deg ...


Bunga terdiam melihat dapurnya yang tak terbentuk lagi.


Bisa Bunga tebak ini pasti ulah Rangga dan putri cantiknya. Walau sedikit kesal karena harus membereskan Bunga tak apa yang penting putrinya sudah makan siang tentu Rangga yang membuatkannya karena sudah biasa.


Sudah membereskan dapur Bunga kembali mencari sang putri ke taman karena memang biasanya sore ada di taman.


Namun, di taman juga tak ada membuat Bunga menyerngit kemana perginya Rangga dan Sekar.


"Rangga, Sekar!"


Panggil Bunga berharap di gazebo sana putrinya ada. Bunga segera bergegas ke sana dengan cepat karena takut suaminya ke buru bangun.


Deg ...


Langkah Bunga terhenti melihat pemandangan di depan matanya di mana putrinya sedang tidur memeluk lengan Rangga posesif. Kepala yang bersandar di bahu kokoh Rangga.


Sedang Rangga sendiri terlentang dengan rambut yang acak-acakan sudah di pastikan itu ulah putrinya.


Bunga tersenyum sangat terharu Rangga selalu menjaga putri kecilnya dengan baik walau wajah pria tampan satu ini harus berubah.


"Ga, bangun!"


Ucap Bunga membangunkan Rangga pelan karena takut membuat putrinya bangun.


Perlahan mata Rangga mengerjap merasa terganggu dengan panggilan.


"Jam berapa ini?"


Tanya Rangga serak khas bangun tidur ia bangun hati-hati sambil tersenyum melihat Sekar yang memeluk lengannya posesif.


"Terimakasih sudah menjaganya!"


"Aisstt, kau ini. Tentu aku akan menjaga calon istriku!"


Bunga memutar bola matanya malas karena sudah biasa dengan kata itu. Bunga menganggap ucapan Rangga hanya angin lalu karena tak mungkin Rangga menunggu putrinya tumbuh.


"Biarkan, kamu masak saja perutku lapar!"


Celetuk Rangga membuat Bunga melotot tak percaya. Tapi melihat wajah Rangga yang memelas membuat Bunga tak tega. Sahabatnya sudah menjaga putrinya.


"Ya sudah, bentar lagi kau bangunkan Sekar harus mandi!"


"Siap ibu mertua!"


"Serangga!"


Geram Bunga tertahan namun ia tak berani membentak karena takut putrinya terkejut.


Bunga segera balik ke dapur guna membuat makanan dan tentu untuk suami tercintanya juga karena Bunga yakin dia pasti lapar.


Bunga segera mengeluarkan bahan-bahan yang akan ia masak.


Grep ....


"Mas!"


Pekik Bunga terkejut ketika suaminya memeluk ia tiba-tiba dengan aroma sampo yang menyengat membuat Bunga tenang.


"Kenapa tak membangunkan mas!"


"Mas terlihat pulas!"


"Di mana Sekar!"

__ADS_1


"Papa!"


Teriak Sekar berlari meninggalkan Rangga membuat Rangga hanya tersenyum saja.


Raja langsung berjongkok menyambut kedatangan putri cantiknya.


"Papa tadi kemana, katanya akan nemani Sekar main bersama om Selangga!"


Kesal Sekar membuat Raja meringis lupa akan janji itu karena harus membujuk sang istri agar tak merajuk.


"Papa tadi sama mama!"


"Sudah, sekarang Sekar mandi dulu ya sama papa. Mama mau masak dulu!"


"Ok!"


"Biar aku saja!"


"Kau!"


Kesal Raja menatap tajam Rangga yang malah terkikik geli.


"Suami mu posesif banget!"


"Dia sangat menyayangi Sekar!"


"Apa begitu jadi seorang ayah!"


"Ya, begitulah! Makannya cepat nikah biar kau tahu jadi ayah bagaimana!"


"No, calon istriku masih kecil!"


"Aisst, kau cari yang sudah dewasa!"


"Malas!"


"Kau hanya bercanda!"


"Menurut mu!"


Goda Rangga membuat Bunga menatap tajam Rangga yang sangat suka sekali menggoda pasangan suami istri ini.


"Aku di jodohkan!"


Deg ...


"Serius!"


"Hey, kapan aku bohong!"


"Sama siapa?"


Semangat Bunga karena ini berita bagus untuk suaminya.


"Seorang model!"


"Wow!"


Pekik Bunga takjub sahabatnya akan menikahi seorang model yang pasti aduhai.


Bunga menghentikan kegirangannya melihat wajah Rangga yang nampak tak senang.


"Kau menolaknya?"


"Mana bisa, kau tahu aku tak bisa membantah kakek tua itu!"


"Lalu!"


"Ayolah Bunga, kau tahu aku tak suka seorang model, mereka bukan tipe ku apalagi dunia model sangat bebas!"


"Tak semua Ga!"


"Aku tahu, andai modelnya syar'i aku tak menolak!"


"Lalu!"


"Bukan depan kami akan tunangan!"


"Serius!"


"Apanya sayang!"


Ucap Raja tiba-tiba muncul bersama putri cantiknya yang sudah rapi dan wangi.

__ADS_1


"Rahasia!"


Jawab Rangga dan Bunga barengan membuat Raja mengerucutkan bibirnya kesal.


Bunga kembali melanjutkan masaknya membiarkan suami dan sahabatnya bermain dengan Sekar.


"Sayang, siapa yang paling tampan Om atau papa?"


Jahil Rangga membuat Raja langsung menatap Rangga tajam, pertanyaan macam apa itu ya tentu dia yang paling tampan.


"Om Selangga yang paling tampan!"


"Sayang!"


Rengek Raja membuat Sekar tertawa melihat wajah sang papa yang lucu.


"Mana mungkin, papa yang tampan ayo katakan!"


"No, om Serangga yang paling tampan!"


Kekeh Sekar tak mau di bantah membuat Raja lemas. Sedang Rangga tertawa bahagia membuat Bunga di ujung sana hanya bisa menggeleng kepala.


"Kau curang, nak! Mana ada orang lain lebih tampan di banding papa!"


"Papa juga tampan!"


"Benarkah!"


Girang Raja semangat akan pujian putrinya.


"Papa tampan, tapi om Serangga paling tampan!"


"Sayang!"


Pekik Raja membulatkan kedua matanya menatap sang putri kesal. Bagaimana bisa Rangga lebih tampan dari dirinya.


"Papa ya yang paling tampan!"


"Mama siapa yang paling tampan di antara papa dan om Rangga!"


Teriak Raja meminta bantuan istri nya yang malah tersenyum.


"Tentu papa yang tampan!"


"No mama, om Selangga!"


"Papa!"


"No!"


"Sudah mama dukung pilihan Sekar!"


Deg .. .


Raja langsung menjatuhkan diri di karpet sana anak dan istrinya benar-benar membuat ia jengkel. Bagaimana bisa harga dirinya di injak-injak di hadapan Rangga.


Rangga hanya bisa tertawa puas melihat wajah Raja yang meradang. Sungguh menggoda Raja hobi baru Rangga melepas bebannya.


Apalagi Sekar selalu saja bisa membuat Rangga tenang. Tawanya yang renyah, ucapannya yang polos dan tingkahnya yang menggemaskan membuat Rangga ingin mempunyai anak seperti Sekar.


Rangga berharap pilihan sang Kakek tak salah.


Sungguh siapa saja sangat ingin punya baby seperti Sekar namun Rangga harus menikah dulu jika ingin menyusul.


Hari mulai gelap namun Rangga enggan beranjak dengan alasan ingin makan dulu membuat Raja kesal.


"Ayo makan, sini Sekar sama mama!"


Sekar langsung berpindah dari gendongan Raja ke gendongan Sekar di mana Bunga langsung mendudukkan Sekar di kursinya.


"Putri mama sudah pintar ya!"


Puji Bunga melihat putrinya makan sendiri walau masih ada yang jatuh tapi tak apa.


"Ya banyak makannya, biar Sekar cepat tumbuh!"


"Ok mama!"


Bunga tersenyum melihat pertumbuhan putrinya yang pesat bahkan mudah sekali mengerti akan hal apapun.


Seperti nya kecerdasan Raja menurun pada Sekar karena Sekar sudah terlihat sekali.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2