
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan terasa cepat bagi Bunga.
Rasanya baru kemaren mereka menikah sampai tak terasa jika pernikahan mereka sudah menginjak satu tahun dua bulan.
Dan bulan ini Bunga di sibukkan dengan soal-soal ujian.
Begitupun dengan Amelia sudah bisa masuk sekolah dan mengikuti ujian Nasional. Andai saja semua orang tahu apa yang terjadi pada Amelia mungkin sudah sendari awal Amelia sudah di keluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah.
Karena Bunga, Amira dan Shofi diam hingga Amelia masih bisa mengikuti ujian Nasional. Tak bisa di bayangkan jika satu sekolah tahu keadaan Amelia sebenarnya sudah pasti Amelia di depak dari sekolah.
Dengan tertib semua mengikuti ujian yang sangat menguras otak dan energi.
Huh ...
Bunga menghela nafas lega karena selesai juga mengisi semua lembar demi lembar kertas ujian.
Sudah selesai Bunga dan Shofi keluar karena memang mereka satu ruangan berbeda dengan Amira yang beda ruangan.
Bunga tersenyum melihat Amira sudah keluar dari ruangannya. Mereka bertiga langsung meluncur ke kantin guna mengisi perutnya agar stamina mereka bertambah.
Brak ...
"Kau apa-apa hah,"
Bentak Amira terkejut akan kedatangan Amelia yang tiba-tiba sambil membanting tas hingga minuman mereka tumpah.
"Sudah puas kalian hah, hancurkan hidup gue!"
"Gue pikir kalian baik, ternyata sama saja!"
"Kalian mau balas gue dengan cara ini!"
"Loe apa- an sih, datang marah-marah gak jelas!"
"Kalian kan yang menyebarkan poto-poto ini!"
Deg ...
Bunga, Shofi dan Amira terkejut melihat lembaran Poto yang Amelia lempar ke hadapan mereka.
"Mel, kam--"
Plak ...
Amira dan Bunga membulatkan kedua matanya ketika Amelia akan menampar dirinya namun kalah cepat dengan Shofi.
Amelia memegang pipinya yang panas akibat tamparan yang Shofi layangkan.
"Loe sudah gila hah, kami tak pernah melakukan yang loe tuduhkan. Kami saja terkejut!"
Bentak Shofi menatap tajam Amelia, hingga mereka malah semakin saling tatap tajam penuh kebencian.
"Bohong!!!"
Teriak Amelia prustasi, membuat Shofi terkejut akan amarah Amelia yang tak terkendali, jiwanya terguncang.
"Hanya kalian yang tahu, loe masih dendam kan sama gue dan loe benci juga sama gue hingga kalian menghancurkan gue!"
"Gue benci kalian, kalian harus membayar semuanya, Ahhhkk ...!"
Bruk ...
Amelia tersungkur ketika Fatih tiba-tiba mendorongnya. Fatih menatap tajam Amelia yang akan menyerang Shofi.
Tidak sampai di situ Fatih menyiram wajah Amelia berharap Amelia sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Apa yang loe lakukan, sikap loe yang seperti ini malah membuat orang-orang semakin yakin kalau berita itu benar!"
Amira semakin menangis pilu ketika mendapat bentakan dari Fatih. Amelia lupa kalau Fatih tidak tahu apa-apa. Bagaimana jika Fatih tahu, dia pasti akan membencinya.
Tidak!
Amelia tidak mau itu terjadi.
Namun, tatapan jijik dari semua orang membuat Amelia tak bisa berpikir jernih.
"Katakan pada semuanya, kalau berita itu bohong!"
"Jangan pernah menyalahkan orang lain, apalagi kalau loe sampai menyentuh saudara gue!"
"Amelia loe di panggil kepala sekolah!"
__ADS_1
Deg ...
Amelia terlihat ketakutan ketika mendengar kata kepala sekolah. Ingin rasanya Amelia kabur dari semua kenyataan ini. Namun, rasanya Amelia tak bisa, semuanya sudah terjadi dan Amelia tak bisa menghindar. Apalagi guru BK sudah ada di hadapannya, seakan menjemput Amelia untuk tidak kabur.
Amelia terus menunduk di setiap langkahnya menuju ruang kepala sekolah.
Cacian hinaan, terus terlontar membuat Amelia merasa jijik pada dirinya sendiri. Amelia menjadi ketakutan oleh tatapan jijik anak-anak. Kenapa semuanya terjadi pada dirinya, siapa orang yang sudah tega menyebarkan semuanya.
Kepala sekolah menatap Amelia dengan tatapan dingin. Entah apa yang ada di otak kepala sekolah itu. Yang pasti, Amelia sekarang merasa ketakutan.
"Jawab jujur, apa berita yang tersebar Fakta atau opini?"
Amelia semakin menundukkan kepala, dengan gemetar. Amelia tak bisa menyangkal lagi karena bukti yang tersebar adalah bukti hasil pemeriksaannya dan di sana juga tertera rumah sakit besar yang ada di Jakarta.
"It--itu ..,"
Sungguh Amelia sulit sekali menyangkal jika kenyataannya adalah benar.
"Amelia, jawab!"
"Kamu tahu kan apa konsekuensinya jika berita itu Fakta!"
"Be-berita itu benar, tap-"
Brak ...
Amelia terkejut akan kedatangan kedua orang tuanya.
Sepasang suami istri masuk dengan amarah yang menggebu menatap tajam putri semata wayangnya.
Plak ...
"Anak tidak tahu diri, sialan apa yang kau lakukan hah. Kau membuat ku malu!"
Amelia memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan sang ayah. Rasanya sakit sekali hati Amelia, bahkan dadanya terasa sesak.
"Ayo pulang!"
Tak tahu malu dan tak ada sopan santunnya kedua orang tua Amelia menyeret Amelia begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu apa berita itu Fakta atau opini.
Para guru yang tadinya menatap sinis Amelia berubah iba ketika melihat Amelia mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya sendiri.
Sungguh miris bukan, harusnya kedua orang tua bisa menjadi lindung bagi anaknya. Walau anaknya melakukan kesalahan besar tapi setidaknya jangan pernah marah atau berkata kasar di depan orang lain.
"Biarkan, itu urusan mereka!"
Cegah Fatih ketika Shofi ingin menghampiri Amelia yang di seret paksa oleh kedua orang tuanya.
"Tapi, tak seharusnya mereka memperlakukan Amelia seperti itu!"
Ucap Shofi sendu, Shofi merasa sakit ketika ada orang tua seperti itu.
Mungkin karena Shofi sendari kecil hidupnya penuh kasih sayang dan cinta walau kedua orang tuanya sudah tak ada.
Hingga melihat kerasnya orang tua Amelia membuat Shofi menjadi iba sendiri.
Mata mereka bertemu sesaat, namun Shofi tak bisa berbuat apa-apa ketika Fatih mencengkal lengannya.
"Kau sudah menghancurkan nama baik keluarga, apa yang kau lakukan hah!"
"Semuanya gara-gara kau, kau sebagai ibunya tak bisa mendidik Amelia dengan baik!"
"Mas, kenapa salahkan aku, kamu juga ayahnya. Kamu juga salah, harusnya kamu juga ajarkan Amelia jadi gadis yang baik!"
"Aku sibuk kerja, harus kau sebagai ibu!"
"Mas aku juga kerja, jangan salahkan aku terus dong!"
Akkhhh ....
Amelia menjerit sambil menutup telinganya. Amelia sangat sakit sekali ketika kedua orang tua malah saling menyalahkan tanpa peduli akan perasaannya.
Refleks ayah Amelia langsung menghentikan mobilnya ketika terkejut mendengar jeritan Amelia.
"Kalian selalu saja saling menyalahkan, padahal semuanya karena kalian!!! kalian egois! kalian kejam!!!"
Jerit Amelia sudah frustasi akan semuanya, bahkan Amelia mengacak-acak rambutnya bak orang gila.
Amelia berlari keluar mobil, berharap dia tak bertemu lagi dengan kedua orang tuanya. Kenapa mereka sekejam itu padanya. Dari kecil Amelia seakan terbuang ketika dia di titipkan pada neneknya. Namun, ketika neneknya meninggal tak ada lagi yang bisa mengerti akan dirinya.
Hanya ada pertengkaran yang selalu Amelia dengar, dan hal yang paling menyakitkan bahkan dia seolah tak di anggap. Hingga membuat Amelia membentuk karakter seperti itu.
__ADS_1
"Amelia berhenti!!!"
Teriak ayah Amelia mengejar putrinya. Namun, jalanan begitu ramai membuat ayah Amelia sulit mengejar putrinya.
Hingga Amelia menghentikan sebuah taxi, entah kemana arah taxi itu dia tak tahu. Yang ada di pikiran Amelia hanya ingin pergi dan pergi sejauh mungkin dari dunia ini.
Amelia terus menangis sambil memukul-mukul dadanya kuat membuat supir taxi merasa iba pada Amelia.
Supir taxi menghentikan mobilnya di depan taman dan membiarkan penumpang nya menangis.
Baik sekali supir taxi itu sampai menunggu Amelia berhenti menangis. Bahkan supir taxi keluar membiarkan Amelia menangis sendirian di dalam.
Supir taxi merasa, mungkin Amelia butuh sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Lama Amelia menangis, hingga isak kan nya terhenti ketika Amelia sadar bahwa mobil yang ia tumpangi berhenti.
Amelia menghapus sisa-sisa air matanya sambil melihat dimana dia berada. Ternyata ada di taman kota.
Amelia turun dan menghampiri supir taxi.
"Mau lanjut jalan dek?"
Tanya supir taxi ramah, Amelia hanya menggeleng saja.
"Sampai sini saja pak, terimakasih sudah mengantar saya. Ini ongkosnya!"
Ucap Amelia sambil memberikan uang lima puluh ribu pada supir taxi.
"Tak usah dek, buat adek saja,"
"Ambil saja pak,"
Amelia langsung berjalan ketika sudah membayar ongkosnya. Untung saja di saku bajunya masih ada sisa uang jajannya.
Amelia berjalan Tampa arah, entah harus kemana dia pergi sedang tak ada satupun orang yang mengerti padanya.
Dan, sialnya Amelia meninggalkan ponsel dan tasnya di dalam mobil sang ayah.
Amelia duduk di salah satu kursi yang ada di taman. Air mata Amelia kembali menetes, sungguh miris sekali nasib hidupnya.
Menjadi anak tak di anggap, dan hamil tak di inginkan. Miris bukan!
Sungguh hidup ini begitu kejam.
Amelia sudah tak ada niat lagi meminta pertanggung jawaban pada Aditya. Toh, Amelia juga tak tahu kemana Aditya pergi. Karena dari kejadian di mall itu, Amelia tak mendengar kabar Aditya lagi, walau Amelia sempat mendengar bahwa Aditya di penjara.
"Oh tuhan, kenapa kau sekejam ini. Kenapa hanya aku! kenapa aku bukan orang lain!!"
Teriak Amelia sangat sangat frustasi dengan semuanya.
"Karena kamu kuat!"
Deg ...
Amelia terkejut ketika mendengar suara seseorang yang begitu dingin. Amelia melirik kearah samping. Mata Amelia membulat melihat siapa yang duduk di sebelah nya.
"Jangan melakukan hal bodoh!"
"Pa-pak Anwar!"
Gumam Amelia bergetar melihat guru killer ada di samping dia. Bagaimana bisa pak Anwar ada di sini, sungguh Amelia sekarang sangat malu.
"Hidup saya sudah hancur!"
"Kamu bisa bangkit!"
"Tak semudah itu, bapak tak pernah ada di posisi saya. Di sini sakit sangat sakit!"
Pak Anwar menyunggingkan senyum yang sangat menakutkan. Bahkan senyuman itu bukan terlihat indah namun menyeramkan.
"Kamu mau mengakhiri hidupmu, maka saya akan bantu!"
"Pak!"
Kini Amelia menjadi takut sendiri. Padahal, sudah terlintas di benak Amelia untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, melihat tatapan aneh pak Anwar membuat Amelia jadi ketakutan sendiri bahkan wajah pak Anwar lebih menakutkan dari pada kematian.
"Ayo saya bantu akhiri hidup kamu!"
Deg .....
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...