
Bunga dan Raja saling berhadapan satu sama lain. Namun tak ada percakapan di antara mereka. Dua-duanya terdiam dengan pikirannya masing-masing entah apa yang akan keduanya sampaikan.
"Bunga!"
Pada akhirnya Raja yang mengalah, dia terlebih dahulu memulai percakapan agar memecah kecanggungan di antara mereka.
"Kamu istri ku!"
"Aku tahu!"
"Aku suami kamu Sekang!"
"Aku tahu!"
Raja menghela nafas pelan seperti Raja memang harus sabar menghadapi sipat Bunga yang mulai tak bersahabat.
"Aku tak akan pernah melarang apapun yang kamu lakukan, aku cuma minta kamu izin kemanapun kamu pergi!"
"Bisakah melakukan itu!"
"Akan ku coba!"
"Terimakasih!"
Deg ...
Bunga terdiam ketika Raja menyentuh keningnya dengan telunjuk dia sambil tersenyum tipis.
"Tidurlah, aku akan tidur di shopa!"
Ucap Raja lagi sambil berlalu di hadapan Bunga.
Raja merebahkan tubuh jangkungnya di atas shopa walau shopa di kamar Bunga sangat sempit tak muat bagi tubuhnya.
Raja memejamkan kedua matanya berharap besok adalah hari yang baik untuk dirinya dan Bunga.
Bunga hanya terdiam saja melihat Raja yang sudah tertidur. Benarkah itu Raja, suaminya yang sedang tertidur.
Bagaimana bisa sikapnya selembut tadi berbeda dengan Raja yang Bunga kenal di sekolah yang suka memaksa.
Bunga mengelus keningnya yang Raja sentuh entah kenapa hati Bunga menghangat.
Bunga pikir Raja akan menjadi sosok yang di film-film baru pertama menikah memaksa dia untuk malam pertama bagaimana caranya.
Tapi Raja malah menyuruhnya tidur dan bahkan Raja tak menuntut untuk tidur satu ranjang dengan dia. Raja malah memilih tidur di shopa walau tak cukup bagi tubuhnya.
Bunga beranjak menuju almari guna mengambil selimut. Dengan pelan Bunga menyelimuti Raja karena takut menggangu tidur Raja.
Entah ada ketulusan dari mana menggerakkan Bunga menyelimuti Raja.
Bunga segera naik keatas ranjangnya lalu Bunga pun tertidur.
Tiba-tiba Raja membuka matanya lalu melirik kearah Bunga yang tertidur. Raja tersenyum ketika melihat ada selimut yang menutupi tubuhnya.
Kemudian Raja memilih tidur kembali menjemput mimpi indahnya yang sempat tertunda.
.
Perlahan Bunga membuka kedua matanya lalu bangkit sambil mengucek-ngucek kedua matanya.
"Kemana Raja!"
Gumam Bunga ketika tak mendapati Raja ada di shopa hanya ada selimut yang sudah di lipat rapi di sana.
Karena tak mau ambil pusing Bunga segera membersihkan dirinya karena merasa tak enak.
Sudah selesai mandi Bunga masih tak mendapati Raja di kamarnya.
Bunga memutuskan turun ke bawah mungkin Raja sudah ke bawah terlebih dahulu, pikir Bunga.
Dan benar saja Raja sudah ada di bawah sedang berbincang dengan sang ayah. Entah apa yang mereka obrolkan Bunga tak mau tahu.
"Pagi ma!"
__ADS_1
Sapa Bunga pada sang mama yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
Plak ...
Jelita memukul lengan putrinya yang mau mencomot sandwich.
"Gak sopan, tunggu ayah sama suami kamu!"
"Pelit!"
"Panggil sana!"
Dengan malas Bunga beranjak dari duduknya menuju ruang keluarga.
"Ayah, Raja kata mama sarapan dulu!"
Bunga melengos begitu saja ketika sudah bicara. Membuat Aldi hanya bisa menggeleng kepala.
"Yang sabar ya!"
Raja hanya tersenyum saja menanggapi ucapan ayah mertua.
Aldi dan Raja beranjak menuju meja makan untuk sarapan.
Mereka berempat memulai sarapan paginya bersama. Sarapan pagi ini nampak berbeda karena ada Raja.
Jelita menuangkan jus pada gelas suaminya membuat Bunga mendengus kesal karena gelas dirinya tak di isi biasanya sang mama selalu mengisinya.
Raja bertindak, ia yang mengisi gelas milik Bunga.
"Sudah!"
Cegah Bunga membuat Raja berhenti padahal gelas Bunga belum terisi penuh.
Entah kenapa Bunga menghentikannya, rasanya Bunga sangat malu Raja yang melayani dia sedang Bunga melihat sang mama yang selalu melayani sang ayah.
Perlakuan hal kecil itu seolah-olah menjadi tamparan keras bagi Bunga.
Walau Jelita dan Aldi tak bicara apa-apa tapi Bunga entah kenapa malu sendiri.
Tanya Jelita membuat Bunga mengerutkan kening.
"Beres-beres apa mah!"
Bingung Bunga kenapa juga dia harus beres-beres.
"Loh, hari ini kan kamu akan ikut suami kamu. Kalian tinggal bersama di rumah kalian!"
"What!"
Pekik Bunga terkejut bahkan matanya langsung mem-bola kenapa Raja tak bilang pada dia.
"Kamu lupa, itu kan sudah menjadi kesepakatan kemaren kamu sudah setuju!"
Brak ...
Bunga menggebrak meja lalu pergi begitu saja ke lantai atas membuat Jelita dan Aldi terkejut akan reaksi putrinya.
"Ma, Ayah biar Raja saja!"
Cegah Raja ketika kedua mertuanya akan menyusul.
Aldi dan Jelita kembali duduk dan membiarkan Raja mengatasi kelakuan putrinya. Jelita berharap Raja akan selalu sabar menghadapi sikap buruk Bunga.
Terdengar Isak tangis Bunga membuat Raja menghela nafas berat.
Ternyata tak mudah meluluhkan hati Bunga benar kata Aldi seperti Raja harus banyak-banyak bersabar.
"Aku tahu kamu belum siap untuk semuanya!"
"Pernikahan ini, tinggal bersama dan menerima ku sebagai suami kamu. Aku pun sama, tapi aku mencoba untuk menerima kamu di hidupku karena itu sudah keputusan ku!"
"Jika kamu tak mau pindah aku tak masalah tapi apa kamu tega harus melihat mama dan ayah bersedih!"
__ADS_1
"Sekarang keputusan ada di tangan kamu!"
Raja menghentikan ucapannya lalu pergi meninggalkan Bunga. Raja tahu mungkin Bunga sedang butuh sendiri.
"Wait!"
Raja menghentikan langkahnya ketika Bunga menahannya.
Bunga menyeka air matanya sambil menghela nafas mencoba mengatur segala gejolak perasaan nya.
"Aku tak tahu siapa kamu, apa kamu baik atau tidak tapi kenapa mama sangat percaya sekali pada kamu!"
"Aku akan ikut karena aku tak mau mengecewakan mama!"
Raja tersenyum mendengar jawaban Bunga walau alasannya karena Jelita.
Raja berjalan mendekat membuat Bunga refleks mundur.
Tak ...
Raja mengetuk kening Bunga dengan telunjuknya sambil tersenyum.
"Ku pastikan suatu hari nanti aku yang jadi alasannya bukan mama atau ayah!"
"Bersiaplah aku menunggu di bawah dan jangan terlalu banyak bawa baju!"
Raja melengos begitu saja meninggalkan Bunga dengan kegugupannya. Kenapa Raja selalu saja membuat ia salah tingkah jika Raja mendekat.
Huh ...
Bunga menghela nafas berat lalu berjalan lunglai menuju lemari.
.
Jelita dan Aldi langsung menoleh ketika melihat Raja menuruni anak tangga.
"Bagaimana nak?"
Tanya Jelita karena takut putrinya hilang kendali.
"Bunga mau ikut!"
Jelita menghela nafas lega ternyata ketakutannya salah. Sedang Aldi hanya diam saja sambil menatap Raja.
Aldi bisa melihat ada sesuatu di dalam diri pemuda di hadapannya. Bawaannya selalu terlihat tenang walau di hadapannya bahkan selalu bisa menjawab segala ucapannya dan selalu iya jika di perintah.
"Ada apa yang?"
Tanya Raja ketika Aldi terus menatapnya lama-lama membuat Raja tak nyaman juga.
"Apa saya harus percaya?"
"Bukankah laki-laki sejati bisa di lihat dari segala perbuatannya. Raja yakin Ayah lebih faham!"
Tak ..
Tak ...
Semua orang langsung menoleh ketika menyadari Bunga sedang menuruni anak tangga.
Raja tersenyum melihat Bunga membawa tas saja. Ternyata Bunga menurut untuk tak membawa baju banyak.
Jelita tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat putrinya.
Sungguh Jelita rasanya ingin menahan sang putri tapi ini demi kebaikan Bunga sendiri agar Bunga belajar menjadi istri yang baik dan mereka belajar sama-sama menerima.
"Apa mama sama ayah benar-benar mengusir Bunga hiks ,,,"
Jelita dan Aldi menarik putri semata wayangnya mereka kedalam pelukannya membuat Bunga semakin terisak.
Kamu akan bahagia bersama ku!
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....