
Ujian nasional telah usai di laksanakan kini Bunga hanya tinggal menunggu kelulusan nya saja.
Bunga dan Raja juga menghadiri acara ulang tahun Tante Queen di sebuah cafe.
Bunga tak menyangka jika Fatih bisa menyanyi bahkan suaranya pun sangat merdu.
Acara yang di hadiri oleh seluruh keluarga besar.
Raja memilih pergi terlebih dahulu dari acara tersebut karena mereka harus segera berangkat.
"Mas kenapa buru-buru emang kita mau kemana lagi?"
Tanya Bunga di mana sang suami terlihat berbeda.
"Kita harus segera pergi sayang, bukankah kita akan liburan ke Bogor sebelum kelulusan!"
Plak ...
Bunga menepuk jidatnya sendiri kenapa bisa lupa akan hal itu. Berdekatan dengan Raja membuat Bunga seolah lupa akan semuanya. Padahal itu sudah di rencanakan jika mereka akan berlibur.
Bukan hanya Raja dan Bunga, Fatih, Shofi dan yang lainnya juga ikut.
Raja sengaja memakai mobil dan berangkat lebih awal karena takut kemalaman.
Bunga membuka kaca jendela mobilnya perlahan.
Wusssh ...
Semilir angin langsung membelai wajah Bunga sangat sejuk membuat Bunga nyaman di buatnya.
Pepohonan membentang sepanjang perjalanan. Sungguh Bunga sangat bahagia liburan ketempat seperti ini.
Kampoeng Awan adalah tujuan mereka merefresh pikiran mereka.
Ternyata yang lain sudah sampai Bunga terdiam sejenak melihat Amelia ada di antara yang lain. Entah siapa yang membawa Amelia ke sini.
Sebenarnya Bunga merasa iba dengan apa yang terjadi pada Amelia. Bahkan Amelia tak bisa mengikuti perpisahan karena kasus memalukan itu membuat Amelia langsung di keluarkan.
Namun pak Anwar sebisa mungkin membantu Amelia mendapatkan ijazah.
Para laki-laki perlahan menyiapkan tenda sedang para perempuan menyiapkan bahan-bahan masak untuk besok yang memang sengaja mereka bawa.
Walau Bunga dan Raja suami istri namun Bunga memilih tidur bersama teman-teman.
"Berapa bulan?"
Amelia tertegun mendapat pertanyaan dari Bunga. Sungguh Amelia merasa canggung dengan semuanya.
"En-enam Minggu!"
Lilir Amelia mengigit bibir bawahnya dengan tangan mengepal erat.
"Kamu hebat!"
__ADS_1
"Aku tak sebaik itu!"
Cicit Amelia sambil mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap Bunga. Amira sudah tertidur sedang Shofi masih di luar bersama Fatih.
"Apa yang membuat kamu mempertahankannya?"
Sungguh Amelia ingin menangis kenapa dia di perlakukan sebaik itu oleh Bunga padahal Amelia tahu Bunga orang yang paling ketus dan julid di antara Amira dan Shofi.
Bahkan Bunga selalu menatapnya sinis tapi lihatlah sekarang. Mereka seolah teman yang sudah lama akrab. Andai saja kedua orang tuanya seperti ini mungkin Amelia tak sesakit ini.
"Kamu wanita hebat, jarang di dunia ini perempuan mempertahankan semuanya. Kebanyakan orang akan mengugurkan karena malu!"
Bolehkah Amelia menangis kenapa Bunga sebaik ini padanya bahkan kali ini Bunga terlihat berbeda. Kenapa orang yang dulu Amelia benci malah melindunginya sedang sahabatnya sendiri cih, mereka malah mengkhianatinya.
"Apa yang membuat kamu mempertahankannya?"
Ucap Bunga kembali mempertanyakan pertanyaan yang belum sempat Amelia jawab.
"Karena aku tahu sakitnya terbuang!"
Bunga terdiam, Bunga bisa melihat bahwa di sana terlihat ada kesakitan yang mendalam.
"Aku tahu aku hilang arah, tapi aku tak sekejam itu membunuh darah dagingku sendiri. Di alam sanah dia akan membenciku jika aku melakukannya!"
"Kamu beruntung mempunyai orang tua yang sangat menyayangimu, mencintai dan memanjakan mu!"
Tes ...
Bunga dan Amira sangat beruntung mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayanginya sedang dia, cih bahkan kedua orang tuanya tak menginginkan dia hidup.
"Apa itu yang membuat kamu tak menyukai kami!"
Amelia terdiam karena memang itu kebenaran nya.
Bunga menghela nafas pelan baru tahu akan semuanya. Ternyata hidup Amelia tak seberuntung hidupnya. Bunga pikir mempunyai mama super cerewet sangat menjengkelkan nyatanya hidup Amelia sekeras itu.
"Bagaimana perasaan kamu ketika ia hadir?"
Amelia tertegun ketika merasa usapan lembut di perutnya. Bolehkah Amelia menangis sejadinya sungguh kenapa Bunga memperlakukannya seperti ini Amelia sangat malu.
Andai saja usapan itu dari sang mama Amelia mungkin tak akan sehancur ini.
"Kamu pasti bahagia!"
"Tidak!"
Lilir Amelia bergetar sambil menggigit bibir bawahnya kuat.
"Awalnya ku ingin melenyapkannya ketika Aditya tak mau mengakui benihnya sendiri membuatku sakit berkali-kali lipat ucapannya mengingatkanku akan kesakitan lama. Aku merasa hidupku tak ada artinya bagi siapapun. Orang tua, sahabat cih semuanya bulsit tapi--"
"Seseorang datang mengulurkan tangan menunjukan apa arti diriku dan hidupku!"
"Kamu beruntung!"
__ADS_1
Amelia mengangguk benar ia sangat beruntung bertemu pak Anwar yang mau menampungnya membawa ia ke tempat nyaman dan aman.
Andai saja sang ayah seperti itu mungkin Amelia tak serapuh ini.
"Dia begitu tulus, tak pernah aku melihat cinta sebesar itu kecuali dari sorot matanya,"
"Sayang, kamu beruntung punya ibu sehebat ini Aunty yakin kamu juga merasakannya!"
Amelia memejamkan kedua matanya sungguh usapan tangan Bunga membuat ia nyaman. Apalagi Bunga orang pertama yang mengelus perutnya.
Kali ini Amelia bisa melihat sisi lain dari Bunga. Kali ini yang Amelia lihat Bunga dewasa bukan Bunga bar-bar.
Amelia pikir dia tak akan di terima se-lapang ini oleh musuhnya sendiri.
"tidurlah, tak baik buat bumil bergadang. Aku juga ngantuk huahh ,,"
Ucap Bunga sambil menguap membuat Amelia tersenyum tipis sangat tipis. Baru kali ini Amelia melihat tingkah aneh seseorang baru saja Bunga terlihat bijak dan dewasa sekarang tingkahnya kembali lagi ke asal.
Bunga memejamkan kedua matanya sambil mengubah posisinya membelakangi Amelia, memeluk Amira dari belakang.
Amelia mengusap sudut matanya yang menggenang. Sungguh Amelia tak pernah merasakan rasa seperti ini sebelum nya bersama sahabat-sahabatnya.
Kasih sayang Bunga begitu murni dengan ketulusan yang nyata.
Sikapnya yang polos namun membuahkan kata yang bijak di kala waktu tertentu. Siapa saja tak akan menyangka akan hal itu.
Bahkan Raja sebagai suaminya sendiri pun merasa begitu.
Bunga adalah puisi indahnya yang harus Raja rangkai. Terlalu rumit untuk sekedar memecahkan satu kata diksi yang sulit di fahami.
Namun Raja mengerti dengan pengertian bukan sebuah pemahaman. Paham tak akan cukup untuk memecahkan diksi-diksi baru yang keluar.
Cukup diam meresapi semuanya maka diksi itu akan memberi simbol dengan sendirinya.
Karena memecahkan kata bukan sekedar menggunakan logika tapi perasaan kentara yang harus tergambar.
Amelia menatap punggung Bunga yang tak ada gerak seperti nya sudah mulai tidur.
Amelia mendudukkan dirinya membuka sedikit resleting guna melihat keadaan di luar.
Deg ...
Hati Amelia berdenyut sakit namun apalah daya. Daya tarik Shofi begitu kuat hingga mengalahkan aura Amelia sendiri.
Sesakit itukah mencintai seseorang yang mencintai orang lain.
"Semoga kalian bahagia!"
Hanya itu yang mampu Amelia ucapkan dengan hati yang perih. Siapa yang akan mau bersamanya dengan masa lalu yang kelam.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1