
"Pagi sayang!"
Seperti nya hari ini nampak berbeda dari sepasang suami istri itu.
Wajah Raja nampak cerah dari biasanya berbeda dengan Bunga yang masih nampak malu-malu apalagi setelah Raja mengklaim jika Bunga sudah jatuh cinta.
Dan konyolnya Bunga mengangguk saja ketika Raja akan mengajarinya bagaimana berciuman yang benar.
"Sarapan yang banyak!"
Ucap Raja sambil menuangkan jus pada gelas Bunga.
Bunga hanya mengangguk saja karena mulutnya sudah penuh dengan sandwich.
Mereka berdua sarapan dengan suasana nampak berbeda seperti ada aura-aura kebahagiaan yang nampak masih malu-malu.
Sudah selesai seperti biasa Bunga membereskan semuanya lalu mereka berangkat sekolah.
"Hati-hati di jalan ya!"
"Iya!"
Kini Bunga menjawab ucapan Raja walau kaku sambil mencium punggung tangan Raja.
Tubuh Bunga semakin kaku ketika Raja malah mencium keningnya.
Mang Sup tersenyum geli melihat nona mudanya yang terdiam bahkan wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Bunga segera masuk kedalam mobil dengan jantung yang terpacu hebat. Berkali-kali Bunga menepuk pipinya agar tidak memanas sambil memegang dadanya kuat.
Sungguh perasaan apa ini kenapa sangat menyenangkan sekali.
Bunga jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal apa saja yang telah mereka lakukan. Sungguh seperti nya Bunga sudah gila dengan semua ini.
Bagaimana bisa Bunga terjerat oleh Raja bahkan sampai tak bisa berkutik.
Sesampai nya di sekolah Bunga berlari menghampiri Amira lalu mereka berjalan masuk kedalam kelas.
"Hari Sabtu kenapa tak masuk?"
Tanya Amira ketika mereka sudah duduk di kursi masing-masing.
Amira hanya merasa heran saja kenapa Bunga tak masuk sekolah tak biasanya Bunga tak masuk tanpa kabar.
"Jagain mama sakit!"
Jawab asal Bunga karena tak mungkin bagi Bunga menceritakannya pada Amira.
"Oh,"
Amira tak akan kepo bertanya lebih cukup tahu saja maka selesai. Karena Amira bukan Bunga yang akan kepo dengan semuanya.
"Fatih!"
Bunga menahan tawa melihat Fatih ketahuan pak Anwar. Bahkan Bunga merasa puas ketika pak Anwar menghukum Fatih.
Entah kenapa Bunga merasa heran Fatih selalu saja senang di hukum bahkan masuk sekolah pun suka telat.
"Mohon perhatiannya anak-anak, kita kedatangan murid baru pindahan dari Bali. Ayo nak perkenalkan diri?"
Bunga begitu antusias melihat siapa murid baru itu pada akhirnya ada juga murid baru lagi. Namun Bunga merasa was-was melihat tatapan Fatih seperti akan ada mangsa baru bagi Fatih.
"Hallo semuanya, perkenalkan nama saya Filosofi Alin, panggil saja Shofi,"
Ha .. ha ...
__ADS_1
Semua orang tertawa terutama Fatih langsung terbahak mendengar nama yang di sebutkan anak baru itu. Bunga merasa kesal melihatnya kenapa malah tertawa apa ada yang salah dengan namanya. Bagi Bunga nama anak baru itu sangat unik.
"Diam!!!"
Bentak pak Anwar membuat semua orang terdiam begitupun Fatih.
"Silahkan nak Shofi duduk di kursi kosong itu,"
"Terimakasih pak,"
Bunga semakin antusias ketika anak baru itu duduk di samping dia sebuah kursi yang sering Fatih duduki. Setidaknya jika ada yang menempati Bunga tak akan merasa takut lagi pada Fatih.
Pak Anwar kembali melanjutkan sesi belajarnya tanpa peduli Fatih yang sudah dari tadi berkali-kali terjatuh. Hingga waktu istirahat pun tiba.
"Kamu Fatih, ikut saya ke kantor."
"Tapi pak, saya pegal."
"Fatih!!!"
Dengan kesal Fatih mengikuti langkah pak Anwar. Guru paling killer di antara yang lain. Namun, di balik ketegasannya pak Anwar orang yang baik hati.
Bunga tersenyum puas melihat Fatih tak bisa berkutik di depan pak Anwar.
"Hey, aku Amira,"
"Shofi,"
"Hay, aku Bunga,"
"Shofi,"
"Nama kamu unik, aku suka. Filosofi Alin, di ambil dari bahasa Yunani. Philo yang artinya Cinta, Shofi yang artinya ke kebijakan dan Alin artinya pembawa cahaya."
"Kalau kamu butuh apa-apa bilang saja pada kita, iya kan Ra!"
"Ya,"
"Terimakasih kalian mau berteman dengan ku,"
"Tapi, kamu harus hati-hati sama Fatih dia--"
"Bunga!!"
Cegah Amira jangan sampai Bunga bicara yang aneh-aneh.
"Kenapa? Fatih, siapa?"
"Orang yang tadi di hukum, dia tukang buli kamu harus hati-hati,"
Celetuk Bunga membuat Amira hanya menghela nafas berat. Sudah di pastikan Amira tak akan bisa mencegah mulut ember Bunga.
"Dari pada bahas Fatih mending kita ke kantin,"
Potong Amira yang akan bicara lagi. Amira langsung ke luar dari kelas karena memang mereka bertiga yang masih di dalam kelas.
Bunga langsung menarik tangan Shofi untuk mengikuti Amira. Dan sembari menceritakan siapa Fatih dengan mulut embernya. Bahkan sampai di kantin Bunga terus saja berceloteh sambil berbisik pada Shofi karena takut omongannya di dengar Fatih. Karena banyak sekali mata-mata Fatih.
"Jadi ka-- Emm .."
Amira memasukan bakso ke dalam mulut Bunga yang dari tadi tak berhenti-henti mengoceh membuat Bunga melotot. Shofi hanya tersenyum tipis melihat tingkah teman barunya.
Bunga terpaksa mengunyah bakso yang Amira masukan kedalam mulutnya.
"Diam, jangan bicara lagi!"
__ADS_1
"Tapi Ra!"
Glek ...
Bunga terkejut ketika tiba-tiba Fatih datang duduk di samping Shofi. Bunga sudah bisa menebak Shofi akan menjadi mangsa Fatih berikutnya setelah Rijal.
Dan benar saja baru saja Shofi masuk Fatih sudah mem-buli ya membuat Bunga hanya diam saja karena takut.
Bunga tak bisa berbuat apa-apa ketika Fatih mem-buli Shofi. Andai saja Bunga punya keberanian mungkin sudah Fatih hajar dari tadi.
Bunga hanya diam saja melihat Shofi itu di suruh-suruh oleh Fatih. Bunga merasa kasihan sekali namun Bunga tak bisa berbuat apa-apa.
Bunga melirik Raja seolah meminta bantuan agar menghentikan Fatih namun Raja terlihat cuek seolah tak mengerti dengan isyarat Bunga membuat Bunga kesal.
Awas saja!
Geram Bunga melihat Raja hanya diam saja bahkan tak mencegah Fatih sama sekali. Bunga paling tak suka orang kuat tapi tak bisa membantu orang lemah.
Bahkan Bunga sudah berkaca-kaca melihat Shofi di tertawaan oleh anak-anak. Shofi pasti merasa malu sama seperti Bunga dulu ketika masih di buli Fatih.
Diam!!!"
Hening!
Seketika kantin menjadi hening ketika Amira membentak
Kini amarah Amira keluar, siapa yang tidak tahu Amira. Amira di sekolah terkenal pendiam dan tak peduli dengan orang sekitarnya.
Tapi, kini Amira menunjukan taringnya. Memang benar, marahnya orang pendiam begitu menakutkan dari pada orang yang bisa marah.
Bahkan Fatih sendiri sampai terkejut melihat tatapan berbeda dari Amira. Tapi, sedetik kemudian Fatih menyeringai. Saudara sepupunya tak biasanya peduli pada orang lain. Apalagi si cupu itu anak baru, tapi sepertinya ada yang menarik di diri gadis cupu itu membuat Fatih semakin bersemangat untuk mengerjainya.
"Apa yang kalian tertawakan hah, bukannya membantu malah tertawa. Di mana hati kalian dasar pecundang!"
"Dan, kau!"
Amira menunjuk Fatih dengan tatapan membunuh. Kali ini kesabaran Amira tak terkendali lagi. Bagi Amira, Fatih benar-benar keterlaluan.
"Akan ku pastikan kau di hukum!"
Amira langsung menarik Shofi keluar dari kantin. Bunga langsung berlari mengikuti sahabatnya.
Amira membawa Shofi ke ruang ganti, dan mengambil baju baru untuk Shofi karena baju Shofi sudah kotor.
"Pakai lah,"
Bunga tersenyum melihat Amira yang peduli dengan orang lain. Jarang sekali Amira ikut campur urusan Fatih kecuali ketika Fatih mem-buli dirinya maka Amira akan menjadi pelindung Bunga.
"Ku harap kamu bisa memaafkan kelakuan adik sepupu ku!"
Ucap Amira tulus membuat Shofi menyerngit.
"Adik!"
Ulang Shofi tidak mengerti sama sekali.
"Fatih, adik sepupu ku! dia memang orangnya nyebelin, namun dia juga ... ah sudahlah,"
"Sabar Ra, sabar!"
Ucap Bunga mengelus punggung Amira, Bunga tahu Amira pasti sedang marah dengan apa yang Fatih lakukan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1