
Bunga benar-benar merasa bahagia menghabiskan liburan di Kampoeng Awan guna merefresh otak sesudah ujian.
Dan kini acara perpisahan sudah di persiapkan.
Perpisahan yang akan menentukan kemana mereka melanjut pergi dan tentu di antara mereka Shofi yang sudah berencana pergi meninggalkan Indonesia.
Apalagi peluk kehidupan membuat Shofi tak aman berada di Indonesia dan tentu keadaan itu memaksa Shofi menjauh.
Bunga begitu cantik dengan kain songket yang ia kenakan sedikit menambah hiasan membuat Bunga tampil memukau. Bahkan Raja sampai tak berkedip melihat nya apalagi Bunga terlihat dewasa dan anggun dengan pakaian khas Jawa.
Acara perpisahan di laksanakan dengan meriah. Dan, benar saja, Amira kembali menjadi juara umum dari tahun ke tahun. Hingga Amira mendapatkan beasiswa ke London, bersama lima siswa lainnya termasuk Bunga yang berada di peringkat ke dua.
Sungguh prestasi yang begitu membanggakan bagi keluarga Prayoga. Mempunyai cucu yang cerdas.
Kini giliran Amira naik ke atas panggung untuk mengambil penghargaannya. Apalagi Amira setiap tahunnya selalu membanggakan sekolah dengan lomba-lomba yang di ikuti nya.
Bunga memberikan dua jempol tangannya pada Amira yang sudah berada di atas podium.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ... segala puji bagi Allah. Terimakasih pada dewan guru semuanya!"
"Piala ini! penghargaan ini, sebenarnya saya merasa tak layak mendapatkannya. Karena ada seseorang yang jauh lebih berhak mendapatkannya. Terkadang saya merasa lebih pintar dan lebih jago dari yang lain. Namun, saya tak akan bisa mendapatkan ini jika dia tak pergi."
Amira menghentikan ucapannya sambil menatap seseorang yang sedang duduk di kursi paling belakang. Semua orang terdiam menunggu apa yang akan Amira ucapkan lagi begitupun para dewan guru.
"Dia yang berhak mendapatkan piala ini, dan saya dengan sangat bangga menyerahkan piala ini ke pada salah satu Alumni SMAN 10 Jakarta, Rijal Aditama. Dia yang selalu menjadi pesaing saya di setiap akademi, dan siswa yang selama satu tahun enam bulan sudah membanggakan sekolah dengan prestasi yang Rijal miliki. Jika saja bukan karena ulah sepupu saya, mungkin Rijal yang akan berada di sini. Untuk itu saya berharap Rijal bisa naik ke atas podium!"
Prok ... prok ....
Semua orang bertepuk tangan merasa bangga dengan apa yang Amira katakan. terutama kedua orang tua Amira sendiri.
Kini semua mata tertuju pada Rijal yang sedang duduk di kursi belakang. Rijal sangat kaget dengan apa yang Amira sampaikan.
Rijal memang datang atas paksaan Fatih jika tidak maka Fatih akan mengeluarkan Rijal dalam organisasi.
Dengan ragu Rijal berjalan ke depan karena merasa terancam oleh tatapan mengerikan dari Fatih.
Hingga, para akhirnya Rijal sudah ada di hadapan Amira.
"Entah apa yang harus saya katakan, harusnya Amira tak melakukan ini. Karena bagi saya, Amira adalah gadis yang sangat jenius dari pada saya. Thank you, you are a very amazing friend. I feel small, because you are the real winner!"
Semua orang kembali bertepuk tangan pada dua anak muda di depan.
__ADS_1
Inilah aset negara yang harus di pertahankan. Karena orang-orang seperti ini yang bisa membanggakan keluarga, teman dan negaranya sendiri.
Pemenang yang sesungguhnya, bukan ia yang merasa cerdas dari yang lain. Namun, ia yang merasa bahwa dia sadar, ia lebih kecil jika tak ada orang lain.
Bunga berkaca-kaca menatap sahabatnya penuh bangga sungguh Amira tak pernah merasa jika ia paling cerdas di sekolah.
Bunga naik bersama tiga siswa lainnya harusnya di antara salah satu kelima itu ada Amelia di sana mendapatkan penghargaan dan beasiswa ke London namun sayang karena kejadian itu semua beasiswa dan prestasi nya di hapus seolah tak membiarkan jejak sedikitpun untuk Amelia.
Padahal di bidang akademik dan akademis Amelia juga unggul.
Tapi itulah roda kehidupan satu kali kesalahan bisa menghapus ribuan kebaikan karena sebuah keegoisan.
Para orang tua wali murid sangat bangga melihat putra dan putri mereka mendapatkan beasiswa.
Jelita dan Aldi tersenyum bangga melihat putrinya selalu menjadi juara walau hanya duduk di peringkat ke dua.
Beberapa kali Jelita mencium wajah Bunga bahkan sampai membuat Bunga diam tak bisa berkutik. Sungguh sang mama begitu menjengkelkan kenapa di hadapan semua orang memperlakukan dirinya layaknya bocah.
Bunga sudah menikah dan sudah lulus bahkan sudah membuat KTP pula tapi sang mama memperlakukan dirinya seperti anak kecil membuat Raya dan Rijal menatap geli.
Raja hanya diam saja dengan wajah datarnya menahan sesuatu yang sendari tadi tak bisa di kendalikan. Sungguh Raja ingin berlari memeluk sang istri dan memutar-mutar ke atas menunjukan rasa bangganya pada sang istri.
Begitupun Bunga hanya bisa diam saling pandang dengan jarak yang cukup jauh. Mereka tak bisa saling mengungkap karena masih berada di area sekolah jangan sampai karena tak bisa menahan semuanya akan heboh.
Mereka hanya bisa sabar sampai puncak acara resepsi pernikahan mereka. Entah bagaimana reaksi teman sekelas dan gurunya mengetahui jika ia sudah menikah bahkan membuat KTP dengan status langsung sudah menikah.
Sudah acara perpisahan semuanya selesai Raja mengajak Bunga langsung pulang karena tak ada lagi yang harus di lakukan.
Sesi photo dengan semua guru, teman sekelas dan yang lainnya telah usai juga.
Bunga terus tersenyum sambil memeluk piala dan piagam penghargaan di antara Jelita dan Aldi.
Raja dan Bunga memang sengaja beda mobil membiarkan Bunga melepas kebahagiaan dengan kedua orang tuanya.
Raja akan menjemput Bunga malam nanti tak akan membiarkan Bunga tidur di sana karena ini malam sangat berharga baginya.
Entah apa yang sedang Raja persiapan untuk memberikan sebuah kejutan pada sang istri. Entahlah hanya Raja yang tahu bahkan Raja sendiri yang mempersiapkan semuanya sendiri.
"Perpeck!"
Gumam Raja berkaca pinggang menatap karyanya yang sudah selesai. Seulas senyum terbit di bibir Raja dengan binar kepuasan.
__ADS_1
"Sekarang waktunya menjemput istri!"
Gumam Raja sambil melirik jam pergelangan tangannya.
Sedang Bunga sendiri sendari tadi bulak balik bak setrikaan karena kesal Raja belum juga menjemputnya padahal sendari tadi ia sudah dandan rapih. Aldi dan Jelita hanya bisa tersenyum geli melihat putrinya yang uring-uringan seperti itu.
Entah kenapa Bunga seolah tak betah tinggal di rumah dan ingin selalu bersama Raja. Padahal Bunga biasanya tak seperti itu bahkan selalu ingin menempel dengan ke dua orang tuanya.
Tapi, semenjak cinta itu tumbuh Bunga rasanya selalu kangen walau hanya sebentar berjauhan.
Drum ..
Bunga langsung berlari keluar ketika mendengar suara mobil yang sangat Bunga hapal siapa pemiliknya.
"Mas!"
Bunga berlari membuat Raja ingin mencegah namun apa boleh buat jika sang istri malah melompat membuat Raja refleks menahan tubuh sang istri.
"Sayang!"
Tegur Raja jantungan dengan apa yang Bunga lakukan.
"Mas kenapa lama sih, bahkan ini sudah tiga puluh menit telat dari perjanjian!"
Ketus Bunga cemberut membuat Raja menghela nafas.
"Maaf sayang, tadi sedikit macet. Ya sudah mas pamit dulu sama Ayah dan mama!"
"Tak usah!"
Rengek Bunga memeluk Raja masih ber-koala
membuat Raja menautkan kedua alisnya tak biasanya Bunga manja seperti ini.
"Berangkat saja nak, nanti ke malaman!"
Teriak Jelita di ambang pintu membuat Raja tersenyum kaku karena merasa tak enak.
"Mas!"
"Iya .. iya!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ya ....