Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 61 Kita berteman


__ADS_3

Mentari mengintip malu-malu aktivitas para manusia yang berbagai ragam.


Bagaimana mana mereka menjalani hari nya. Ada yang berceloteh ria, tertawa ada juga yang diam. Terlihat juga ada yang marah-marah dan cemberut.


Begitu unik bukan setiap sifat dan sikap manusia. Bahkan sampai mentari lekas tersenyum semakin muncul ke permukaan menebarkan pesonanya.


Seakan mentari berpesan pada lambaian daun yang angin sentuh untuk menyampaikan pada setiap manusia untuk selalu ceria sepertinya.


Kala hujan atau sekedar mendung mentari tetap akan tersenyum ketika muncul. Menyapa jiwa-jiwa yang beragam rasa.


Seperti yang sekarang Bunga jalani. Bunga nampak kesal melihat Fatih terus menggangu Shofi. Untung saja Shofi terus menghindarinya. Bahkan terkesan tak mau menatap Fatih membuat Bunga sangat senang.


Jika Bunga jadi Shofi mungkin Bunga juga akan seperti itu. Karena gara-gara masalah kemaren Shofi sampai di hukum.


Bahkan setiap kali Fatih mendekat Shofi akan pergi dengan berbagai macam alasan dan tentu Amira akan selalu membantu Shofi.


Namun, bukan Fatih namanya jika ia tak bisa mendapatkan yang ia mau. Fatih bak kucing yang selalu menguntit kemanapun Shofi melangkah. Bahkan ke toilet pun Fatih mengikutinya dan akan menunggu di pintu masuk.


Kelakuan Fatih lagi-lagi membuat Rangga, Raja dan Moreo menggeleng-gelengkan kepala. Tak pernah sekalipun mereka bersahabat melihat Fatih bertingkah se konyol itu. Dan, lebih parahnya yang membuat Fatih seperti itu adalah Shofi sendiri orang yang selalu Fatih buli.


Shofi menjadi kesal sendiri akan kelakuan Fatih. Bahkan Shofi berkali-kali harus menghela nafas kasar.


Bagaimana tidak kesal, Shofi jadi pusing dengan tingkah Fatih yang selalu menguntit kemana ia melangkah. Bahkan sekarang Shofi tak mau keluar dari toilet karena Fatih ada di depan pintu masuk.


Tak terbayang bagaimana kesalnya Shofi, bahkan wajah Shofi sudah merah padam menahan kekesalan.


"Ra, itu sepupu kamu gila ya?"


Ucap Bunga ikut kesal sendiri dengan kelakukan Fatih. Amira melotot menatap tajam Bunga yang mengatai sepupu nya gila. Walau Amira juga kesal tapi Amira tak suka jika ada orang yang menjelekan Fatih.


"Sorry!"


"Fatih bukan gila lagi tapi dia kerasukan!"


Ketus Amira ikut kesal juga namun ucapan Amira malah lebih parah membuat Shofi yang tadi kesal sedikit tersenyum.


Amira memang tidak menyukai jika Fatih di hina, karena boleh dia seorang yang mengatai Fatih. Namun, anehnya Amira tak masalah ketika Shofi memanggil Fatih manusia purba.


Entah karena aura Shofi yang berbeda sejak awal atau apalah, hanya Amira yang tahu.


Tiga gadis itu terjebak di dalam toilet, mereka tak bisa keluar karena Fatih masih tetap di sana. Bahkan Fatih melarang siapa saja masuk kedalam toilet yang ada Shofi, Amira dan Bunga. Fatih akan menyuruh anak-anak masuk kedalam toilet lain.


"Ra, suruh sepupu mu pergi, ngapain jadi penguntit sih!"


"Sepupu mu memang aneh, dulu dia mem buli Shofi lalu sedikit baik dan sekarang menjadi penguntit, benar-benar aneh!


Cerocos Bunga dari tadi mulutnya tak bisa diam. Bibir Bunga sangat gatal sekali jika tak memakai Fatih.


"Ada apa sih sebenarnya?"


Tanya Bunga menatap Shofi yang hanya diam dari tadi.


Bunga mendekati Shofi dengan mata memicing seolah sedang menangkap gelagat aneh dari Shofi.


"Kamu kenapa?"


Tanya Shofi bingung dengan tingkah Bunga yang menatap dia aneh.


"Emmz ... apa jangan-jangan!"


"Jangan-jangan apa!"


Potong Amira menatap Bunga dengan kening mengerut.


"Apa jangan-jangan Shofi memelet Fatih!"

__ADS_1


Tak ...


"Awws ... sakit tahu!"


Kesal Bunga yang mendapat jitak kan dari Amira. Sedang Shofi melotot tajam pada Bunga.


Pelet apaan, mengerti juga tidak hal-hal begituan.


"Habis sembarangan kalau ngomong!"


"Habis, Shofi gak bilang juga kenapa Fatih menguntit!"


"Fatih meminta berteman!"


"What!!"


Pekik Bunga membulatkan kedua matanya tak percaya dengan ucapan Shofi. Bagaimana mungkin seorang Fatih meminta pertemanan, sungguh ini berita paling ajaib yang Bunga dengar.


"Huh ... Ra, sepupu mu memang sudah kesurupan ini mah!"


Cetus Bunga benar-benar terkejut bahkan Bunga sungguh merasa mimpi mendengarnya.


Bagaimana mungkin Fatih merendahkan dirinya meminta pertemanan. Sepertinya itu memang bukan jiwa Fatih. Fatih bukan orang yang seperti itu, bahkan satu sekolah pun tahu itu.


"Terima saja pertemanan nya, Shofi. Aku gak kuat mau keluar!"


Kini Bunga malah merengek karena sangat pegal dari tadi berdiri.


Tak ...


Lagi-lagi Amira menjitak kening Bunga membuat Bunga cemberut.


"Jika aku menerima nya yang ada satu sekolah malah gempar. Manusia purba itu aneh-aneh sih!"


Kesal Shofi benar-benar kesal dengan kelakukan Fatih. Tidak mem buli tapi saja membuat onar bahkan Fatih melarang siapa saja ke toilet.


Cetus Bunga sungguh sangat pusing, Shofi yang berurusan kenapa dia yang malah ikut jengkel juga.


Shofi terdiam, benar juga apa yang di katakan Bunga. Fatih orang yang selalu berambisi nama mungkin akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau.


Sepertinya Shofi yang harus mengatasinya sendiri. Shofi tak mau melibatkan temannya apalagi kasihan Bunga yang dari tadi ingin segera keluar.


"Baiklah kita keluar!"


"Kamu yakin?"


Tanya Amira memastikan, Amira tahu. Pasti berat bagi Shofi.


"Mau bagaimana lagi, manusia purba tak akan pernah bosan menggangguku!"


Huh ...


Amira menghela nafas kasar, sungguh sepupu nya sangat keras kepala.


Mereka bertiga keluar dengan wajah datar, Fatih langsung menegakan tubuhnya melihat Shofi menyerah juga bersembunyi.


Fatih berdiri menghalangi jalan Shofi dengan wajah datarnya. Shofi hanya mengangguk saja pada ke dua temannya kalau dia baik-baik saja.


Amira dan Bunga menyingkir memberikan ruang untuk Shofi dan Fatih bicara.


"Kenapa menghindar?"


Ucap Fatih langsung tanpa basa basi. Fatih orang yang tak suka ber basa basi.


"Mau kamu apa sih sebenarnya!"

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan Shofi malah balik bertanya dengan nada ketus.


"Semalam kan gue bilang mau berteman, berdamai dengan loe!"


"Ok aku terima, sudah, aku harus pergi!"


Tapi dengan cepat Fatih malah menghalanginya lagi membuat Shofi menghela nafas dalam.


"Mau kamu itu apa sih sebenarnya, kamu buli aku terima, jadi budak tak masalah sekarang berteman sudah. Lalu apa lagi?"


"Melihat loe kesal!"


Dengan santainya Fatih bicara membuat Shofi memejamkan kedua matanya lalu perlahan kembali di buka beriringan dengan helaan nafas kasar.


"Bisa gak, bikin aku tenang sehari saja!"


"Gak!"


"Lalu apa gunanya pertemanan!"


"Gue hanya sedang memastikan sesuatu!"


"Apa!"


"Rahasia!"


"Ya sudah!"


"Mau kemana?"


"Kelas!"


"Tunggu!"


Fatih mencengkal lengan kiri Shofi membuat Shofi menghentikan langkahnya. Shofi tetap membelakangi Fatih, Shofi enggan berbalik.


"Maaf, atas sikap gue selama ini!"


"Udah aku maafin,"


"Kita berteman?"


"Iya!"


"Sudah kan tak ada lagi, aku harus pergi!"


Kini Fatih melepaskan genggamannya. Membiarkan Shofi pergi menuju kelas.


Kenapa Fatih tak menyukai sikap dingin Shofi, kenapa juga Shofi jadi dingin di saat Fatih mulai tak mem bulinya.


"Loe sudah menemukan jawabannya?"


Tanya Rangga tiba-tiba menghampiri Fatih yang hanya mematung.


"Belum, namun sedikit aneh!"


Ucap Fatih tanpa mengalihkan tatapannya dari punggung Shofi yang menghilang dari pandangannya.


"Apa loe merasakan sakit hati?"


"Tidak!"


Cih,


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2