
"Mba Kus, tolong panggil Bunga untuk sarapan!"
"Maaf tuan, nona muda sudah berangkat dari pagi katanya ada tugas yang lupa di selesaikan!"
Aldi menghela nafas pelan sambil menatap sang istri.
"Sudah biarkan saja dulu mah!"
Jelita hanya mengangguk saja menurut apa saran sang suami.
Jelita berharap sang putri tak melakukan hal-hal yang tak di inginkan mengingat bagaimana kelakuan putri ya yang akan nekad jika sedang marah.
.
Pagi-pagi sekali Bunga sudah ada di kelas bahkan penjaga gerbang sekolah pun terkaget melihat Bunga sudah datang di pagi buta ini.
Mau bertanya namun urung apalagi melihat wajah Bunga yang di tekuk dengan bibir mengerucut lucu.
Bunga berjalan gontai masuk kedalam kelasnya lalu duduk di kursinya.
Permintaan kedua orang tuanya terus terngiang di kepala Bunga bahkan sampai Bunga semalaman tak bisa tidur.
Terlihat jelas matanya yang memerah dan bengkak karena menangis.
Bunga masih belum bisa percaya dengan semua ini bahkan untuk tidur pun Bunga tak berani Bunga hanya takut itu mimpi buruk.
"Bagaimana jika calon yang mama dan ayah pilih sangat jelek, buluk gendut!"
"Oh tidak .. tidak!!"
"Mama dan ayah jahat, Bunga kan gak mau menikah dengan orang seperti itu!"
Membayangkan calonnya jelek saja membuat Bunga bergidik ngeri bahkan rasanya tak sanggup.
"Jerawatan, pesek suka ngomel ah akan bagaimana hidupku nanti. Mama kok tega sih hiks ...,"
"Tidak, pokonya tidak!!!"
Jerit Bunga mengigau membuat Amira berusaha membangunkan Bunga yang tertidur di dalam kelas.
"Bunga bangun hey, Bunga!!"
Ucap Amira menggoyangkan tubuh Bunga agar bangun karena mengigau Bunga menjadi bahan tontonan.
"Tidak mah, tidak!!!"
Teriak Bunga terbangun dari tidurnya membuat satu kelas terdiam Begitupun dengan sang guru.
Nafas Bunga memburu dengan pundak naik turun. Terlihat jelas ketakutan di mata Bunga membuat Amira langsung memegang lengan Bunga.
"Kamu kenapa?"
Tanya Amira membuat Bunga melirik menatap Amira dengan mata berkaca-kaca.
Deg ...
Bunga terkejut ketika menyadari ada sesuatu yang aneh. Dengan ragu Bunga melirik ke kanan dan kiri melihat teman-teman menatap dirinya tajam begitupun dengan sang guru.
"Pak seperti Bunga sedang kurang enak badan!"
Ucap Amira lantang langsung membawa Bunga keluar kelas menuju UKS.
Wajah Bunga sudah memerah bak kepiting rebus sungguh ini sangat memalukan.
"Minum!"
Ucap Amira memberikan Bunga minum agar tenang. Amira merasa ada yang tak beres dengan tidur Bunga.
__ADS_1
"Mimpi buruk!"
Bunga hanya mengangguk kaku membuat Amira menghela nafas pelan.
"Hantu!"
"Lebih menyeramkan dari itu!"
Ucap Bunga spontan sambil menggelengkan kepala mengingat mimpinya jika laki-laki yang akan di jodohkan dengannya gigi depannya tak ada dua.
Mana bulat, jorok, makan rakus bahkan perutnya begitu buncit sampai Bunga sesak nafas.
"Sudah minum lagi supaya tenang!"
"Makannya nanti jangan nonton horor mulu jadi gini kan!"
Omel Amira karena tahu Bunga suka sekali film horor. Tapi, jika sedang mimpi ketakutannya minta ampun.
Padahal Bunga bermimpi lebih menyeramkan dari pada itu.
Tidak .. tidak ...
Jerit batin Bunga karena mimpi sialan itu terasa nyata.
Bahkan sampai membuat Bunga ketakutan seperti itu. Bunga berkali-kali menghela nafas guna menormalkan detak jantungnya.
"Sudah tenang!"
"Iya, terimakasih!"
"Hm, lebih baik kamu istirahat saja dulu di sini!"
"Temenin,"
"Iya!"
Bunga membaringkan tubuhnya di atas brankar setidaknya Bunga bisa tidur dengan tenang jika ada Amira yang menjaganya.
"Nyimpan gelas!"
Amira menghela nafas melihat tingkah manja Bunga keluar.
Amira kembali duduk membuat Bunga tersenyum lega. Bunga menarik tangan Amira lalu memeluknya seolah sedang ketakutan padahal yang Bunga takutkan bukan sekedar hantu yang sering Bunga lihat di film. Hantu ini lebih menakutkan dari pada itu.
Tak lama Bunga kembali terlelap karena memang sangat ngantuk.
Amira hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat Bunga kembali tidur dengan nyenyak sambil memeluk tangannya erat.
Sedang di halaman parkir sekolah mang Sup sendari tadi tak bisa diam. Terlihat sekali wajahnya yang di tekuk dengan kekesalannya.
Bagaimana tidak kesal jika nona mudanya jam setengah enam pagi sudah berangkat ke sekolah dan harus menunggu pula sampai pulang sekolah.
Belum lagi nyonya dan tuan besar terus menanyakan bagaimana keadaan Bunga dan menyuruh mang Sup menjaga Bunga jangan sampai putrinya melakukan hal-hal yang tak di inginkan.
"Emmz,"
Bunga menggeliat dari tidurnya tak lama kedua mata terbuka.
Bunga tersenyum ketika melihat Amira benar-benar menjaga dia bahkan sampai ikut ketiduran pula.
Bunga duduk lalu melihat jam pergelangan tangannya. Sudah jam tiga sore berarti sudah satu jam dari waktu pulang.
"Ra ,,, Ra bangun!"
Ucap Bunga membangunkan Amira membuat Amira langsung bangun.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini sudah sore, anak-anak pasti sudah pulang!"
Amira langsung bangun begitupun dengan Bunga turun dari atas brankar. Benar saja sekolah begitu sepi ketika Bunga dan Amira keluar dari ruang UKS.
Hanya ada beberapa guru yang belum pulang yang berpapasan dengan Amira dan Bunga.
"Mau di antar pulang gak?"
Tawar Amira karena melihat Bunga celingak-celinguk mencari mobil mang Sup yang sudah tidak ada di parkiran.
Bahkan berkali-kali Bunga menelepon nomor mang Sup selalu di luar jangkauan.
"Aku balik sendiri saja!"
"Yakin!"
"Iya, kamu duluan saja!"
Amira hanya mengangguk saja lalu pulang terlebih dahulu. Tinggal Bunga yang sedang sibuk dengan ponselnya memesan gojek.
Tak lama gojek yang Bunga pesan sudah datang.
"Nenk Bunga ya!"
"Iya pak!"
Abang gojek langsung menyerahkan helm pada Bunga.
"Bang bisa berhenti dulu gak di warung makan atau apa Bunga lapar!"
Teriak Bunga karena takut Abang gojek nya tak mendengar.
"Baik nenk!"
Ucap Abang gojek langsung menghentikan motornya di rumah masakan Padang.
"Ayo bang makan dulu, tenang Bunga yang ganti ongkos berhentinya!"
Ucap Bunga menarik tangan Abang gojek yang terlihat sudah cukup umur.
Dengan santai Bunga makan dengan lahap bersama Abang gojek seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan dari tadi telepon dari kedua orang tuanya Bunga tak mendengarnya. Bagaimana tidak mendengar jika di rumah makan itu begitu ramai pengunjung.
"Bang mau nambah lagi!"
"Tidak nenk, terimakasih!"
Ucap Abang gojek sopan karena sudah di terakhir saja sudah Alhamdulillah. Bunga hanya tersenyum saja kembali melanjutkan makannya dengan lahap seolah satu Minggu tak makan.
Bagaimana tidak lahap jika sendari pagi Bunga tak sarapan dan melewatkan makan siangnya juga. Itulah alasan kenapa Bunga tak mau di antar Amira karena Bunga kelaparan. Jika di antar Amira Bunga tak enak pasti Amira akan pulang telat karena Bunga memang berniat mampir dulu ke rumah makan.
Sudah makan mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan santai bahkan Bunga juga menikmati perjalanan itu.
Andai sang ayah tahu dia naik motor pasti akan di marahi karena memakai rok. Untuk itu Bunga meminta Abang gojek nya berhenti di depan gerbang saja.
Abang ojol hanya bisa bengong melihat istana di depannya. Abang ojol pikir Bunga hanya gadis biasa nyatanya luar biasa bahkan rumahnya sangat gede.
"Ini nasi buat Abang, ini ongkosnya!"
Ucap Bunga sambil memberikan beberapa uang lembar biru kepada Abang gojek.
"Nenk ini kebanyakan, apa lagi di kasih nasi Padang juga!"
"Gak apa, Rezki Abang dan itu anggap uang ganti berhenti saja karena sudah menemani Bunga makan!"
"Sudah ya, Bunga masuk!"
Ucap Bunga terburu-buru berlari masuk bak anak kecil membuat Abang gojek hanya bisa tersenyum gemas dengan tatapan harunya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen,, dan Vote Terimakasih ...