
"Rangga tunggu!"
Teriak Alea membuat Rangga kesal terus mempercepat langkahnya.
"Rangga berhenti!"
Huh ... Huh ...
Napas Alea terputus-putus akibat mengejar langkah lebar Rangga. Alea merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Raja.
"Minggir!"
Kesal Rangga tak suka Alea terus saja mengejarnya. Entah harus dengan cara apa Rangga menyingkirkan gadis di hadapannya ini.
"Rangga kok gitu sih, ini buat Rangga di masak penuh cinta!"
"Gue gak suka, sudah berapa kali gue bilang gue udah punya pacar!"
"Tapi kan pacar Rangga selingkuh, bahkan ramai di grup!"
"Apa masalahnya!"
"Ale cinta Rangga!"
Deg ...
Rangga memejamkan kedua matanya erat dengan rahang mengeras ternyata gadis satu ini tak mau menyerah juga. Sungguh Rangga di buat pusing dengan Alea yang selalu menggangunya bahkan selalu menguntit kemana pun ia pergi.
"Tapi gue gak suka loe!"
Duarr ....
Alea menatap tak percaya pada Rangga entah harus dengan cara apa lagi ia mencuri perhatian Rangga berbagai cara telah ia lakukan namun semuanya sia-sia Rangga tak menganggapnya ada.
"Berhenti usik gue!"
"Gak akan, Ale akan terus usik Rangga sampai Rangga jatuh cinta pada Ale!"
"Terserah!"
Kepala Rangga pergi meninggalkan Alea yang menatap punggung Rangga sendu. Ia sangat mencintai Rangga tapi kenapa sulit sekali mendapatnya membuat Alea benar-benar pusing.
Alea tak akan menyerah ia akan terus mengejar Rangga sampai dapat. Alea menatap sendu kotak makan yang ia buat.
"Buat kakak saja!"
Deg ...
Alea terkejut tiba-tiba Paul mengambil kotak bekal makannya.
"Sudah jangan sedih, biar kakak makan dari pada mubajir!"
Ucap Paul santai walau sejujurnya ia sangat marah dengan keangkuhan Rangga yang tak menghargai usaha Alea.
Selalu saja begini yang ujung-ujungnya Paul yang akan memakan semua masakan Alea. Padahal masakan Alea sangat enak sekali bahkan cocok di lidah Paul karena yang Alea masak semuanya kesukaan Paul.
Alea hanya bingung saja apa yang harus ia masak sedang ia tak tahu makanan kesukaan Rangga hanya makanan kesukaan Paul yang Alea tahu.
Alea menatap rumit Paul yang lahap memakan masakannya setidaknya hatinya sedikit terobati karena Paul memakannya. Andai saja Rangga yang memakannya ia pasti sangat bahagia.
__ADS_1
Sudah lama Alea mengincar Rangga tapi belum ada hasil sampai saat ini membuat Alea benar-benar kesal. Padahal ia sangat cantik, imut dan pintar tapi kenapa Rangga tak bisa meliriknya. Bahkan sebelum-sebelumnya juga sama, setiap laki-laki yang Alea dekati bahkan berusaha ia hancurkan pada ujungnya hanya kesakitan yang ia dapat.
Seolah tak ada kata lelah di diri Alea mengejar orang yang ia cintai dan anehnya Alea pasti menginginkan orang yang sudah punya pacar.
"Masakan kamu tetap yang terbaik!"
Alea berusaha tersenyum tipis menanggapi ucapan Paul.
"Sudah jangan bersedih lagi, toh makannya tak sia-sia semua masuk kedalam perut kakak!"
Canda Paul agar Alea kembali ceria Alea hanya diam saja dengan wajah muramnya.
"Kakak yakin Rangga pasti melirik kamu suatu hari nanti!"
Semangat Paul membuat Alea lagi-lagi bungkam.
Ia sudah lelah mengejar cintanya tapi sampai saat ini tak pernah ia dapatkan.
"Sudah jangan bersedih, Rangga pasti akan jadi milik Ale itu janji kakak!"
Ucap Paul penuh kasih sayang menarik Alea kedalam pelukannya.
Hiks ...
Alea menangis di dalam pelukan Paul karena hatinya lagi-lagi sakit.
Belulang kali cintanya di tolak dan di tolak bahkan Rangga adalah orang yang ke lima belas menjadi mangsa Alea. Jangan sampai yang satu ini gagal juga mau di taruh di mana muka Alea. Gadis cantik seperti nya harus di tolak oleh lima belas laki-laki sungguh sangat memalukan.
Julukan imutnya seperti nya tak cocok lagi bersanding dengannya.
"Sudah jangan menangis!"
Sudah bisa seperti ini Paul akan menjadi sandaran Alea menangis karena lagi-lagi cintanya di tolak untung saja setiap nembak Alea tak pernah di hadapan umum karena Alea masih punya malu.
Alea benar-benar emosional dengan semuanya mungkin di hadapan Rangga Alea tegar namun jika sudah tak ada mana bisa Alea tak meneteskan air mata jika harga dirinya terus saja di abaikan.
Kenapa tak mengerti!
.
Rangga menatap kesal pada Raja yang malah tertawa. Sungguh kesal dia malah di jadikan kekasih bayangan.
Jika bisa lebih baik Rangga merebut Bunga dari Raja tapi sayangnya ia gak bisa. Andai saja Raja tak mengancam ia mungkin Rangga tak akan mau ia bukan artis sinetron yang harus ber-drama.
"Acting mu lumayan juga!"
"Sialan kau!"
Bugh ...
Raja menepis santai bantal shopa yang Rangga lempar.
"Kenapa kamu tak menerimanya saja, Alea cantik kok!"
Seloroh Bunga sambil memakan cemilannya dengan Amira.
"Cantik sih cantik, tapi gadis itu sangat aneh!"
"Maksudnya!"
__ADS_1
Bingung Bunga Rangga hanya menaikan bajunya acuh.
"Terima saja Ga, dari pada jomblo!"
"Benar tuh!"
Ujar Bunga membenarkan ucapan Amira membuat Rangga merasa terpojok.
"Issstt kalian ini, lebih baik Ra kamu terima saja Moreo!"
Deg ...
Raja menatap tajam Rangga yang malah merusak suasana.
Amira menghentikan kunyahannya menatap para sahabatnya. Amira menghela nafas berat kenapa ujung-ujungnya malah dia yang kena.
Bunga memegang tangan Amira takut Amira marah seperti yang sudah-sudah.
"Aku harus balik!"
"Ra!"
"Dasar pengacau!"
Bugh ....
Rangga meringis ketika tak sempat menghindar Raja melemparnya dengan bantal shopa.
Moreo hanya diam saja tak mau angkat bicara walau hatinya berdenyut sakit. Cintanya lagi-lagi di tolak tanpa kata. Melihat ekspresi Amira membuat Moreo sudah paham jika ia tak pernah ada di hati Amira.
"Dasar perusak suasana!"
"Sorry .. Sorry .., aku gak bermaksud ini mulut yang bilang!"
Bunga menatap jengah Rangga yang selalu seperti itu.
Jika Amira sudah seperti itu berarti tak ada yang boleh bicara karena itu akan mematik amarah Amira. Mereka harus diam sampai hati Amira kembali tenang.
Amira sudah biasa seperti itu ia akan diam dan pergi ketika hatinya terusik namun Amira akan berubah hangat kembali ketika sudah bisa mengendalikan amarahnya.
Bagi Amira Moreo sahabatnya ia menyayangi Moreo sama seperti menyayangi Rangga, Raja dan Bunga tak lebih dari itu.
Amira hanya takut ia terus menyakiti hati Moreo dengan berpura-pura menerima lebih baik seperti ini saja.
Amira menatap layar ponselnya di mana hanya ada satu Poto yang menghiasi wallpaper ponselnya, Alam.
Tak ada yang bisa menggantikan nama itu di hati Amira. Alam cintanya, anggaplah Amira bodoh yang mencintai om nya sendiri tapi itulah kenyataannya.
Cinta Amira hanya untuk om dinginnya tak ada yang lain. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa Amira minta.
Amira tahu, Moreo laki-laki baik dan penuh tanggung jawab namun Amira tak mau menyakiti Moreo dengan berpura-pura membalas cintanya. Sudah Amira belajar menerima Moreo tanpa di minta namun nyatanya kebersamaan mereka tak pernah mengubah apapun.
"Maaf Meo aku tak bisa?"
Gumam Amira menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut halus.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1