Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 94 Kebahagiaan Raja dan kesakitan Moreo


__ADS_3

"Mas!"


Panggil Bunga membangunkan sang suami untuk pindah ke kamar mereka karena Sekar sudah tidur.


"Awas, hati-hati!"


Ucap Bunga pelan membuat Raja mengangguk.


Raja membenarkan letak tidur putrinya, menarik selimut lalu mengecup puncak kepala Sekar.


"Mimpi indah sayang!"


Gumam Raja setelah mengecup puncak kepala Sekar.


Bunga dan Raja pindah ke kamarnya karena memang semenjak usai dua tahun mereka sudah pisah ranjang.Bunga tak takut jika Sekar terbangun atau jatuh karena Bunga sudah tahu bagaimana putrinya tidur.


"Mas!"


Pekik Bunga terkejut ketika suaminya menggendong dia.


"Kamu sudah lelah mengurus kami!"


Ucap Raja membuat Bunga tersentuh, Raja memang paling bisa membuat dia jatuh cinta di setiap harinya.


"I Love You, mas!"


"i love you too forever!"


Balas Raja berjalan menuju ranjang mereka. Dengan hati-hati Raja membaringkan sang istri.


Lalu Raja merangkak naik juga menarik sang istri kedalam pelukannya.


"Mas!"


"Hm!"


"Rangga akan tunangan!"


Deg ...


Raja langsung membuka kedua matanya terkejut akan ucapan sang istri.


"Dia di jodohkan!"


"Benarkah!"


Girang Raja membuat Bunga mendengus sebal karena sudah tahu bagaimana reaksi sang suami.


"Bersama model!"


"Wow, akhirnya!"


"Mas kau jahat sekali!"

__ADS_1


"Setidaknya masa depan putri kita akan cerah!"


Tega Raja membuat Bunga menatap sang suami jengah. Entah kenapa Bunga sangat bingung sekali dengan ketakutan sang suami yang menurutnya tak masuk akal.


"Kenapa mas begini sih!"


"Mas gak tahu, cuma senang saja!"


"Sudah ah, kita tidur!"


"Jangan dulu sayang!'


"Kenapa?"


"Kita belum dinas!"


Bluss ...


Wajah Bunga memerah padam mendengarnya. Sungguh suaminya benar-benar.


"Tadi kan sudah mas!"


"Beda lagi sayang, boleh ya!"


Kalau sudah begini siapa yang mau menolak karena memang Bunga menginginkannya juga.


Raja yang sangat cuek membuat ia kesal karena jarang memperhatikannya dan di saat begini mana mungkin Bunga melewatkannya.


Pada akhirnya mereka kembali mengulang yang sempat mereka lakukan tadi siang.


Jika mereka sedang memadu kasih dengan penuh cinta dan kasih sayang berbeda dengan apa yang sedang Amira rasakan.


Amira terus berjalan menjauh walau Moreo terus mengikutinya bahkan terus memanggil-manggil namanya.


"Ra, tunggu!"


"Meo, please!"


Mohon Amira tak mau begini terus, entah apa yang mereka alami kenapa Amira seperti itu.


Amira sudah mencoba namun tak bisa Amira tak mau terus di paksa oleh keadaan dan rasa kasihan. Jahat jika Amira begitu sedang ia tak mau menyakiti sahabatnya terus.


Cinta!


Bukankah tak bisa di paksa!


Lalu apa yang harus Moreo lakukan dan apa yang harus Amira pertahankan.


Ya, Amira mencoba menerima Moreo karena sang mama dan juga Bunga yang terus-menerus mendesaknya.


Tapi, ketika di jalani Amira merasa jika ia begitu jahat.


Dan sekarang Amira meminta selesai namun Moreo tak mau.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk mengubah hatimu!"


"Cukup Meo, aku tak sanggup. Rasanya di sini sakit dan aku tak mau terus menyakitimu dengan sebuah harapan semu!"


"Aku akan terus menunggu!"


Amira menggeleng kuat karena percuma, di paksa bagaimana pun ia tak bisa. Hatinya sudah terkunci oleh orang lain dan Amira tak bisa membukanya lagi untuk orang yang berbeda.


"Ku mohon mengertilah, kita sudah mencoba!"


"Biarkan aku yang bekerja!"


"Tidak!"


Amira menatap Moreo sendu kenapa bisa Moreo se-cinta itu padanya sedang Amira tak bisa memberikan sedikit pun cinta itu.


Andai hatinya gak terbelenggu oleh rasa yang menyakitkan mungkin Amira bisa saja membuka untuk Moreo sahabatnya yang selalu mengerti dirinya. Namun, nyatanya Amira salah, semakin ia mencoba melupakan dan berusaha mencintai Moreo rasa itu semakin kuat seolah membelenggu hati Amira.


Entah apa yang omnya lakukan sampai Amira seperti ini. Ya, cinta Amira hanya untuk om nya seorang, gila bukan.


"Meo, kau tahu aku sangat menyayangi mu tolong jangan biarkan aku menyakiti hati kamu lebih dalam lagi!"


"Aku akan tahan!"


"Cukup!"


Bentak Amira tak kuat kenapa Moreo tak mengerti jika dia tak mau menyakiti hatinya.


"Hubungan kita selesai, itu kesepakatannya!"


Tegas Aurora menyeka air mata yang terus keluar itu. Moreo menggeleng kuat ia tak mau mengakhiri semuanya.


Moreo akan berusaha kuat dan tahan akan rasa sakit itu karena Moreo yakin ia bisa meluluhkan hati Amira.


Namun nyatanya Moreo salah, hati Amira terlalu keras untuk sekedar di kukuhkan.


Perbedaan mereka terlalu jauh, dan Amira ingin semuanya kembali seperti semula di mana mereka hanya dua orang sahabat bulan seorang ke kasih.


"Apa sekeras itu, Ra!"


Lilir Moreo menatap sendu kepergian Amira. Ia tak bisa lagi mengejar karena Amira sudah melarang ya.


Satu tahun ia berusaha meyakinkan dan meluluhkan hati Amira nyatanya masih belum cukup. Bahkan sedikit menyentuh ke hati Amira pun sulit.


Entah apa lagi yang harus Moreo lakukan agar Amira benar-benar menerima dengan rasa cintanya bukan hanya sekedar kasihan dan kesepakatan.


Sungguh miris bukan, sendari dulu mengemis cinta Amira namun nyatanya sampai sekarang tak bisa.


Kenapa cinta sesakit ini!


Batin Moreo meremas dadanya kuat, ia ingin menjerit sekencang-kencangnya mengeluarkan luapan kesakitan dan kesesakan namun lagi-lagi Moreo hanya bisa menahan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2