Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 81 Pikiran yang bijak


__ADS_3

Bibir Bunga mengerucut dengan wajah jengah nya menatap malas pada sang mama dan sang mommy.


Bagaimana Bunga tidak kesal sendari tadi sang mama dan sang mommy terus memeluknya erat bahkan bertubi-tubi mengecup pipinya hingga membuat Bunga sulit bergerak.


Sedang Aldi dan Rijal hanya diam saja menatap tajam Raja yang pura-pura tak melihat memasang tampang polosnya.


"Bagaimana sayang, apa kamu menginginkan sesuatu! Katakanlah kami pasti akan memenuhi?"


Ucap Jelita semangat membuat Bunga bertambah cemberut. Pasalnya bukan ia yang mengidam namun suaminya bahkan sampai detik ini Bunga tak menginginkan apapun hanya Raja saja yang selalu merengek meminta ini itu.


Baru satu hari saja mengetahui tentang kehamilannya tinggal Raja membuat Bunga benar-benar kesal bercampur geli dan juga kasihan secara bersamaan.


"Mah, mom Bunga bukan anak kecil lagi jangan begini malu!"


Aldi dan Rijal saling pandang mendengar ucapan menggelikan Bunga. Sejak kapan putriku bertingkah sedewasa ini, batin Aldi.


Jelita dan Raya hanya bisa tersenyum geli melihat perubahan sikap Bunga.


"Bagi kami, kamu masih putri kecil mama!"


"Aisst, Bunga sudah besar sudah punya suami dan sebentar lagi akan jadi ibu! Jangan begini!!"


Kesal Bunga langsung berdiri pindah duduk di samping sang suami. Bunga bergelayut manja pada lengan kekar sang suami.


Bumil satu ini memang benar-benar membuat Jelita, Raya, Rijal dan Aldi melongo.


Sungguh berani sekali membuat semuanya tak habis pikir.


Raja biasa saja dengan hati bersorak gembira melihat sang istri yang tak malu lagi menunjukan kemesraan di hadapan kedua orang tuanya.


Raya dan Jelita tersenyum bahagia melihat anak-anak mereka bisa seruku ini bahkan terlihat jelas pancaran cinta dari keduanya.


Jelita merasa lega melihat perubahan sang putri yang semakin hari semakin dewasa bahkan pemikirannya juga sama.


Tak ada lagi Bunga bar-bar, ceroboh, kekanakan dan tengil. Kini putrinya sudah menjelma menjadi gadis dewasa nan anggun walau kadang sikap kekanakan itu muncul jadi hal wajar karena Bunga masih remaja.


Usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun sudah menikah dan hamil. Tentu sangat di takutkan mempengaruhi pikiran Bunga dan kesehatannya.


Namun, kesiapan di dalam diri Bunga membuat Bunga kuat dan santai menjalani masa kehamilannya.


Bahkan Bunga malah kesal karena harus Raja yang mengidam dia yang mengandung kenapa harus suaminya yang ngidam padahal Bunga ingin sekali merasakan bagaimana rasanya mengidam karena Bunga ingin mengingat ketika ia di kandung mungkin sang mama juga begitu.


Perubahan yang sangat luar biasa sekali dan itu menjadi nilai plus bagi Bunga.


Tentu semuanya tak lepas dari bimbingan Raja yang tak banyak menuntut dan mengeluh akan semuanya.


"Mereka sangat heboh sekali!"


"Hm, biarkan saja sayang maklum cucu pertama!"


"Emang mas mau anak berapa?"

__ADS_1


"Mas terserah sayang saja maunya berapa?"


"Bunga ingin banyak supaya rumah kita ramai, tapi bunga tak tahu apa kuat atau tidak!"


"Sebisa dan sekuat sayang saja, tapi mas ingin anak laki-laki yang pertama!"


"Kenapa gak perempuan?"


"Gak, harus laki-laki!"


Kekeh Raja membuat Bunga bingung melihat raut wajah sang suami yang nampak kesal.


"Kenapa emang, kok mas kesel begitu!"


"Mas hanya takut Si Serangga benar-benar menunggu!"


Ha ... Ha ...


Tawa Bunga pecah mendengar keluhan sang suami yang tak mungkin terjadi. Bagaimana bisa Rangga menunggu anak mereka pasti perbedaan usia mereka sangat jauh.


Ada-ada saja!


"Sayang, mas hanya takut!"


"Kenapa harus takut sih mas, kita tak tahu takdir anak kita seperti apa. Jika pun anak kita nanti berjodoh dengan Rangga ya gak apa Rangga tampan kok!"


"Sayang!"


"Sayang!"


Rengek Raja tak mau itu terjadi mana ada putri cantiknya nanti harus mendapat bandot tua walau Raja tahu Rangga memang yang paling muda di antara dirinya, Fatih dan Moreo.


"Tak apa mas, Bunga malah setuju!"


"Tapi Rangga sudah tua, dan putri kita masih muda tentunya!"


"Tua dan muda tak akan jadi halangan mas jika Tuhan meridhoi, Bunga hanya takut saja jika anak ku nanti menuruni sipat ku!"


Deg ...


Raja tertegun akan hal itu ternyata Bunga berpikir ke sana.


"Hanya kamu mas yang menerima semua sipat kekanakan Bunga, jika orang lain Bunga tak tahu. Bukankah sipat anak akan selalu menurun dari orang tuanya Bunga berharap sipat yang mas miliki yang turun pada mereka!"


Lagi-lagi Raja di buat bungkam dengan penuturan sang istri.


Raja takut dengan kata tua saja namun sang istri berpikir sejauh ini.


Ya, banyak yang Bunga takutkan hingga ia selalu berusaha belajar menjadi istri dan ibu yang baik.


Untuk saat ini memang Bunga sangat percaya pada Rangga. Walau sipat Rangga si paling humoris namun Rangga sama seperti Raja yang penyayang.

__ADS_1


Raja tak menyangka jika pemikiran sang istri begitu bijak.


Bahkan sudah berpikir sejauh ini pemikiran yang tak pernah terlintas di pikiran Raja.


"Mas yakin, sayang pasti akan menjadi ibu yang hebat!"


"Aku tak tahu mas, mudah-mudahan saja!"


"Amin!"


Raja memeluk sang istri erat masih mengobrol ringan menemani tidur mereka.


Sedang para orang tua sudah tertidur sejak tadi karena mereka harus kembali ke Indonesia tak mungkin mereka berlama-lama di London sedang pekerjaan para suami sangat banyak.


Apalagi Raja dan Bunga setiap hari berangkat kuliah.


Rijal dan Aldi ingin ngomong banyak hal namun lagi-lagi gagal karena tak tega jika harus menyakiti Bunga.


Nampaknya mereka bahagia dan tak masalah dengan semuanya.


Para orang tua hanya berharap pernikahan anak-anak baik-baik saja sampai ajal memisahkan mereka.


Pernikahan yang terlihat santai dalam menghadapi segala hal karena Raja yang selalu berusaha bersikap dewasa mencoba sabar mengesampingkan ego.


Dan Bunga yang berusaha belajar menjadi dewasa, istri yang baik dan berpikir ke depan.


Pernikahan bukan hal sederhana, bukan pula di jalani satu atau dua hari namun sepanjang hidup kita.


Pernikahan bisa terus berdiri bagaimana cara orang menjalankannya.


Logika dan perasaan memang tak bisa menyatu sampai kapanpun. Tapi, bagaimana caranya logika belajar pengertian akan hati. Begitupun dengan perasaan bagaimana caranya memahami akan ego.


Dua-duanya memang sangat keras namun akan lunak jika saling mengalah.


Bukankah sekeras apapun batu bisa berlubang oleh setetes air. Bagaimana dengan hati sebuah bentuk yang lunak dan kenyal tak mungkin tak bisa luluh dengan sebuah kenyamanan.


Semuanya balik pada diri masing-masing bagaimana cara mereka menyikapinya.


Yakinlah tak akan ada yang sia-sia dari buah kesabaran.


Bunga bisa berubah karena hati lembut Raja yang membuat Bunga nyaman hingga berpikir bagaimana cara Bunga membalas itu semua.


Di mulai dari membuka hati yang mulai menyelinap menggenggam erat perasaan hingga terkunci ketika cinta itu telah tumbuh.


"Selamat tidur sayang!"


"Selamat tidur juga mas!"


Mereka berdua tidur dengan nyaman saling peluk memberikan kehangatan masing-masing.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2