
Bunga pagi ini sedang melakukan olah raga memperlancar kelahiran di dampingi dokter khusus yang Raja datangkan kerumah karena Raja tak mau hal terjadi pada istrinya di saat dirinya tak ada di samping sang istri.
Apalagi Bunga kekeh tak mau ada pembantu di rumahnya Bunga merasa mampu melakukannya.
Bunga akan bilang jika sudah tak mampu!
Hanya kata itu yang sering Bunga ucapkan ketika Raja menyarankan mendatangkan pembantu 24 jam yang artian menginap di rumah mereka.
Bukan hanya pagi dan sore hari saja mereka datang untuk membersihkan rumah dan taman.
Bunga duduk di atas balon besar khusus sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Sang dokter terus siaga membantu Bunga dengan tim lainnya. Sang dokter salut akan keberanian gadis belia ini yang menginginkan lahiran normal padahal usianya sangat muda.
Dokter sudah berumur itu hanya bisa kagum saja dengan semangat Bunga yang ingin melahirkan normal.
Melihat Bunga membuat sang dokter ingat akan putranya yang sudah lama tak pulang. Bahkan keberadaannya sulit di cari karena selalu saja pulang pergi sesuka hati.
"Dok, Bunga mau pipis!"
Izin Bunga membuat sang dokter terdiam melihat raut wajah Bunga yang nampak berbeda.
"Dok, tak usah ikut malu!"
Cicit Bunga karena tak mungkin ia pipis di hadapan dokter.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa bilang dokter menunggu di sini!"
Tegas sang dokter membuat Bunga pasrah karena ia sudah kebelet. Dengan hati-hati Bunga masuk kedalam kamar mandi.
"Leganya!"
Gumam Bunga enak setelah selesai pipis, ia kembali keluar di mana sang dokter masih setia berada di depan pintu kamar mandi.
"Anda baik-baik nona?"
"Baik dok, emang kenapa?"
Aneh Bunga kembali berjalan menuju ruang latihan mereka namun tiba-tiba Bunga menghentikan langkahnya.
"Dok, kok perut bunga mules!"
Lilir Bunga menggigit bibir bawahnya merasakan sakit yang luar biasa. Lama kelamaan rasa sakit itu semakin terasa membuat Bunga memekik terkejut.
"Non, anda harus tenang. Anda mengalami kontraksi!"
Bunga memegang perutnya yang terasa melilit seperti ada sesuatu yang ingin keluar namun terasa berbeda.
Tim medis langsung siaga membopong Bunga masuk kedalam kamar khusus yang sudah Raja persiapkan untuk sang istri.
Ya, bahkan Raja memilih sang istri melahirkan di rumah sendiri dari pada di rumah sakit walau harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.
Bagi Raja itu tak masalah selagi istri dan calon anaknya selamat.
"Mama hiks ..,"
Panik Bunga ketika rasa sakit itu semakin terasa bahkan selangkanya sudah basah.
"Nona, rileks jangan tegang ya nikmati prosesnya nya!"
"Ta-tapi ini sakit dok!"
__ADS_1
"Nona mau melahirkan proses nya memang seperti ini. Sakit ini akan hilang ketika nona terus berjuang untuk si kecil!"
Deg ...
Bunga tertegun mendengar kalimat itu, apa ini sudah waktunya ia melahirkan tapi kenapa cepat sekali.
Rasanya baru Bunga mengandung buah cintanya dan hari ini baby yang salam ini ia kandung akan segera melihat dunia.
"Su-suami ku di mana hiks..,"
"Tuan sedang berada dalam perjalanan, nona tenang ya. Ini baru pembukaan enam!"
Jelas dokter karena memang terhenyak ketika memeriksa jika ini sudah pembukaan enam.
Melihat ketegaran Bunga lagi-lagi membuat sang dokter salut sungguh sang dokter belum pernah melihat ketenangan pada gadis manapun selain dari pada Bunga.
Entah apa yang di pikirkan Bunga sampai bisa setenang ini walau bulir bening tak bisa di cegah.
"Mama hiks ...,"
Bunga sangat membutuhkan sang suami namun nama yang di panggil hanya sang mama.
Kini Bunga tahu bagaimana perjuangan sang mama melahirkannya, sesakit inikah bahkan tubuh Bunga seakan mau di belah dua.
Sakit namun sulit mengungkapkannya bahkan nafas Bunga tercekat seiring dengan rasa nyeri yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ini kali pertama ia merasakannya ada rasa bahagia yang tak bisa di jabarkan oleh kata. Nyatanya ia benar-benar akan menjadi seorang ibu, impian yang selalu Bunga nantikan.
Mengingat itu membuat Bunga terbayang anak-anak pengamen yang dulu selalu menjadi temannya.
Bagaimana kabar mereka apa mereka tumbuh dengan baik. Sungguh sakit namun Bunga seolah merasa ada kekuatan yang datang ketika melihat suami tercintanya masuk dengan wajah paniknya.
"Mas!"
Lilir Bunga memegang lengan sang suami kuat menetralisir rasa sakit yang ia rasakan.
"Maaf mas baru datang, yang kuat ya mas yakin sayang bisa!"
Cup ..
Raja mengecup kening sang istri dalam menyalurkan rasa nyaman membuat Bunga memejamkan kedua matanya tenang walau wajahnya sudah nampak memerah dengan keringat dingin yang terus bercucuran.
.
Di luar sana Rangga terus mondar mandir membuat Amira dan Moreo nampak jengah.
Siapa suami Bunga sebenarnya kenapa Rangga bertingkah konyol seperti itu.
Bahkan Rangga sangat tegang dan panik sekali mengetahui calon istrinya sebentar lagi akan menatap dunia.
"Mas!"
Pekik Bunga membuat Rangga ingin menerobos namun Moreo langsung menghadangnya.
"Apa yang kau lakukan, bisa tenang tidak!"
"Meo, mertuaku sedang berjuang aku ingin lihat!"
"Sialan, Raja ada di dalam jangan macam-macam!"
"Aisst, kau ini!"
__ADS_1
Ketus Rangga cemas ketika mendengar jeritan Bunga. Entah apa yang terjadi di dalam sampai Bunga histeris seperti tadi.
"Awwssss sayang!"
"Raja kenapa?"
Rangga semakin panik ketika mendengar Geraman Raja entah ada apa, apa di dalam sedang berperang, pikir Rangga buntu.
"Serangga loe bisa diam gak!"
Kesal Moreo lagi-lagi Rangga ingin menerobos masuk. Bisa-bisa Raja langsung ngamuk.
Oekk ...
Deg ...
Rangga mematung mendengar tangisan seorang baby yang begitu nyaring di pendengarannya.
Hati Rangga berdesir hebat merasakan sesuatu yang berbeda sungguh Rangga tak sabar ingin melihat baby itu Rangga berharap baby itu perempuan.
.
Di dalam sana terdengar nafas memburu saling bersahutan satu sama lain dengan kelegaan tiada Tara.
Walau Harus mengorbankan ketampanan Raja yang sudah koyak akibat jambakan, gigitan dan pukulan Bunga.
Sungguh Bunga mengeluarkan rasa sakitnya menggigit lengan sang suami ketika sang baby akan keluar bahkan sampai lengan Raja berdarah.
"Sayang, terimakasih!"
Lilir Raja tak bisa membendung kebahagiaan nya ketika sang istri berhasil melahirkan keturunannya dengan cara normal.
Rasa lelah dan lemas membuat Bunga sulit bicara apalagi bibirnya begitu pucat dengan nafas yang masih memburu.
"Selamat tuan, nyonya baby kalian sangat cantik!"
Deg ...
Raja terpaku menatap baby mungil yang sudah di bersihkan itu di bungkus kain.
Bulir bening keluar begitu saja dari pelupuk mata Raja dengan tangan gemetar mengambil alih semaunya.
"Sayang lihatlah!"
Lilir Raja mendekatkan baby pada Bunga yang seketika gemetar melihat malaikat kecilnya sudah keluar menatap dunia.
"Mas!"
"Dia sangat cantik sama seperti kamu!"
"Tapi dia mirip sama kamu mas!"
Ketus Bunga mengusap air matanya kasar beralih mengelus kulit lembut sang baby.
Sang dokter dan timnya tersenyum haru melihat kebahagiaan pasangan muda ini yang nampak begitu besar cinta di antara mereka.
Masih muda namun pikiran mereka sungguh sangatlah dewasa membuat semua yang ada di sana merasa kagum.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1