
Perjalanan Raja dan Bunga terasa begitu cepat sehingga membuat Raja sudah terbiasa dengan segala tingkah Bunga.
Bunga yang selalu mem berantakan kamarnya, menaruh sepatu di mana pun, membuka kaus kaki seenak jidatnya bahkan selalu membanting tas sesuka sendiri.
Walaupun begitu Raja tak pernah mengeluh sedikitpun dia tetap sabar dengan segala tingkah Bunga yang menggemaskan.
Bahkan Raja tak pernah sekalipun menegur Bunga yang seperti ini seperti itu.
Raja tetap bungkam saja dan membereskan segala barang yang Bunga berantakan.
Walau satu yang Raja heran kecuali di kamar mandi dan di dalam lemari baru Bunga bisa rapi. Bahkan Bunga sendiri yang menata tempat mandi dia dengan begitu rapi begitupun baju-baju Bunga sangat rapi di lemari tapi ketika semua sudah keluar maka semuanya berantakan.
Begitu juga dengan berangkat sekolah sudah biasa pagi-pagi akan di jemput mang Sup dan pulang di pertigaan Bunga harus pindah ke motor Raja walau harus ada perdebatan dulu di antara mereka.
Walau begitu keduanya sangat kompak sekali menyembunyikan status mereka di sekolah.
Seperti biasa pagi ini mereka sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah. Walau kadang Bunga heran kenapa Raja masih mau sekolah padahal dia harusnya melanjutkan s2 nya. Walaupun begitu Bunga enggan sekali untuk bertanya karena gengsi.
"Hari ini pulang sama mang Sup langsung, aku ada sedikit urusan di kantor!"
"Ya!"
Jawab Bunga singkat dengan senyum mengembang di bibirnya akhirnya Bunga bisa bebas dari Raja.
Raja yang melihat Bunga tersenyum bukannya tersinggung Raja hanya menggelengkan kepala saja.
Sudah sarapan mereka langsung bergegas berangkat.
"Hati-hati di jalan!"
Raja selalu saja bicara seperti itu ketika mau berangkat walau Raja tahu tak ada jawaban dari Bunga.
Raja memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi. Entah ada apa sampai Raja membawa motor cepat bahkan mata Raja memerah seolah sedang menahan amarah.
Bukannya menuju sekolah namun Raja membelokan motor menuju suatu tempat.
Entah apa yang akan Raja kerjakan terlihat dari tatapannya sepertinya sedang menahan amarah.
Bunga celingak-celinguk merasa heran kenapa tak ada motor Raja di tempat biasa. Harusnya Raja terlebih dahulu sampai dan anehnya motor-motor geng Fatih pun tak ada.
Bunga mencoba menepis rasa penasaran dengan masa bodo. Apapun yang Raja lakukan Bunga tak peduli yang terpenting hari ini Bunga bebas dari gangguan Fatih ataupun Raja sendiri.
Bunga langsung tersenyum ketika melihat Amira yang melambaikan tangannya. Bunga berlari kecil namun larinya terhenti ketika Aditya mendekati Amira.
Sudah bisa Bunga tebak jika Aditya akan memberikan coklat dan setangkai bunga mawar.
"Cie .. cie ...!"
Goda Bunga sambil mengedipkan sebelah alisnya.
"Nih!"
"Buat aku!"
"Hm!"
__ADS_1
Bunga tersenyum cerah mengambil coklat dari Amira lalu membuang setangkai buket mawar itu ke tong sampah.
Terkadang Bunga merasa heran kenapa Amira selalu memberikan coklat pemberian Aditya kepadanya.
Jika tak suka kenapa di terima bahkan bunga nya selalu terlempar ke tong sampah bahkan sikap Amira sangat cuek sekali.
Padahal Aditya tak kalah populer di sekolah seperti Fatih ke tua OSIS pula.
"Ra, kenapa sih kamu selalu tak mau memakan coklat ini. Padahal ka Aditya baik loh. Udah ganteng, pintar, ke tua OSIS pula!"
"Kamu suka ambil saja!"
"Aisstt mana mau sama aku!"
"Dia tak sebaik yang terlihat!"
"Maksudnya!"
"Sudah ah bawel!"
Kesal Amira karena tak mau membahas Aditya. Bagi Amira Aditya tak lebih dari seorang rubah.
Melihat ekspresi Amira yang seperti itu membuat Bunga diam tak mau membuat mood Amira pagi-pagi sudah hancur.
Tak lama guru masuk mereka berdua mulai fokus pada pelajarannya.
"Eh Ra, ngomong-ngomong Rijal sudah keluar!"
Bisik Bunga membuat Amira seketika menghentikan gerakan tangannya. Amira langsung melihat kearah kursi depan dan benar saja Rijal tak ada di kursinya.
"Fatih jahat banget ya sampai buat Rijal keluar!"
Ujar Bunga lagi mulai kumat seolah Bunga tak bisa jika tak diam.
Bahkan sampai waktu istirahat pun Bunga masih saja tetap membahas masalah Rijal bahkan mengupat nama Fatih.
Andai saja Fatih ada mana berani Bunga seperti itu bahkan di tatap saja Bunga terdiam dan sekarang ketika Fatih tak ada Bunga terus saja nyerocos tak jelas membuat Amira pusing sendiri mendengarnya.
Entahlah bibir Bunga memang seperti itu sangat bawel sekali tapi nyalinya menciut jika sudah berhadapan dengan orangnya.
Menghabiskan hari tanpa ada gangguan Fatih dan Raja membuat Bunga merasa lega namun Bunga merasa ada yang aneh.
Tapi lagi-lagi Bunga menepisnya itu hanya perasaan nya saja.
Bahkan sampai kembali ke apartemen pun Bunga masih belum mendapati Raja. Satu hari ini berarti Raja bolos sekolah bukankah Raja hanya bilang dia akan pulang telat saja karena ada urusan di kantor kenapa sampai tidak sekolah apa masalah di kantor serumit itu.
"Bodo amat!"
Ketus Bunga menggelengkan kepala berusaha mengusir perasaan yang singgah.
Bunga malah tidur seperti biasa setelah pulang sekolah.
Bahkan entah sampai jam berapa Bunga tertidur sampai Bunga terbangun sendiri.
Bunga terkejut jika hari sudah sangat gelap sekali dengan cepat Bunga bergegas masuk kedalam kamar mandi guna menyegarkan tubuhnya.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama Bunga keluar namun seperti ada yang aneh. Bunga menatap kamar yang begitu berantakan biasanya ketika dia sudah selesai mandi kamar dan tempat tidurnya akan kembali rapi.
Huh ...
Bunga menghela nafas kasar lalu Bunga membereskan barang-barangnya dia yang berserakan. Tak lupa merapihkan tempat tidur sampai kembali rapi dan bersih.
Kruk ...
Perut Bunga sudah merasa lapar dengan cepat Bunga memakai baju lalu menggantung kimono di tempat seharusnya.
Entah kenapa hati ini Bunga membereskannya sendiri tak seperti biasanya yang membiarkannya begitu saja.
Bunga menautkan kedua alisnya bingung ternyata ruang keluarga sangat gelap dengan cepat Bunga menghidupkannya.
Suasana begitu hening tak ada suara pisau atau alat masak lain yang sering Bunga dengar ketika Bunga keluar. Bahkan aroma masakan yang setiap hari Bunga hirup kini aroma itu tak ada.
Bunga memegang perutnya yang terasa sangat lapar namun tak ada satupun makanan yang dapat ia makan. Hanya ada roti tawar saja dan susu.
Bunga membuka kulkas bahkan di dalam kulkas pun hanya ada makanan mentah saja tak ada yang harus di hangatkan.
Ingin memasak namun Bunga tak bisa memegang pisaunya untuk meracik bahan-bahan nya.
Karena perut Bunga yang semakin keroncongan Bunga memberanikan diri masak.
Ini kali pertama Bunga menggunakan alat masak lagi setelah beberapa tahun tidak.
Tangan Bunga gemetar ketika mengambil pisau yang sangat tajam bahkan mengkilap. Keringat dingin mulai bercucuran dengan mata memerah.
"Kamu pasti bisa-bisa!"
Gumam Bunga pada dirinya sendiri. Entah apa yang terjadi kenapa Bunga sangat ketakutan sekali memegang pisau. Padahal menyiapkan dan mencuci bahan-bahan yang lain Bunga merasa biasa saja.
Tapi ketika mau meracik bumbu-bumbunya tangan Bunga semakin gemetar bahkan memotong sayurannya saja begitu pelan sangat pelan sehingga butuh waktu dan kekuatan hebat Bunga menyelesaikan memotongnya.
Bukan karena Bunga takut kuku-kuku rusak tapi dari ekspresi nya Bunga terlihat ketakutan lain.
"Kamu bisa!"
Bunga terus saja menyemangati dirinya sendiri walau tubuhnya gemetar tapi rasa lapar membuat Bunga mengalahkan semuanya.
"Sedang apa!"
Akhhh!!!
Tak ...
Jerit Bunga mengangkat tangannya yang mengeluarkan darah segar. Tubuh Bunga semakin gemetar ketakutan.
"Da-dar--"
Bruk ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1