Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 92 Merajuk


__ADS_3

Bulan berganti tahun kini baby Sekar sudah tumbuh menjadi gadis ceria nan imut.


Tingkahnya selalu saja menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya akan terpikat.


Namun tidak dengan Raja yang semakin posesif, semakin tumbuh putrinya semakin posesif pula tingkah Raja membuat Bunga kadang pusing. Apalagi kalau sudah ada Rangga pasti suami dan sahabatnya itu berdebar memperebutkan Sekar membuat Bunga cemburu.


Sekar selalu saja di perebutkan sedang dia tak ada dan perhatian suaminya juga mulai berkurang membuat Bunga kesal setengah mati.


Apalagi sekarang suaminya terus saja menghalangi Rangga masuk sedang Sekar sudah tahu akan suara itu.


Entah kenapa juga putrinya selalu ingin dengan Rangga membuat Bunga harus bagaimana menghadapinya.


"Mas, sudahlah kasihan Sekar biarkan Rangga masuk!"


"Gak sayang, gak boleh!"


Tegas Raja membuat Sekar berkaca-kaca sang ayah selalu saja melarang ia bermain bersama om gantengnya.


"Hiks ,, mama Sekar mau om Selangga!"


Sekar mulai menangis membuat Bunga semakin pusing saja.


Bunga menurunkan Sekar dan menyuruhnya sang ayah membuat Sekar mengangguk polos.


Sekar berjalan mendekati sang ayah yang menahan pintu membuat Raja tersentak ketika kakinya di peluk.


"Ayah!"


Deg ....


Raja tersentak akan semuanya lalu Raja menatap sang istri yang pergi begitu saja dengan kekesalan yang meng-ubun.


Jika terus begini bisa-bisa darah Bunga naik terus untuk itu Bunga lebih baik pergi saja dari pada melihat pertengkaran tak bermakna ini.


"Ayah mau om Selangga!"


Sial!.


Umpat Raja tak bisa menolak apalagi melihat wajah polos putrinya dengan mata berkaca-kaca.


Pada akhirnya Raja menyerah karena tak mungkin membiarkan putrinya terus memohon.


Dengan kesal Raja membuka pintu membuat Rangga tersenyum lebar.


"Hay, little Queen!"


"Om!"


Sekar berlari memeluk Rangga yang berjongkok menyambut pelukan hangat tangan mungil itu.


Entah kenapa Rangga begitu sangat menyayangi Sekar mungkin karena Rangga tak punya adik karena ia anak tunggal.


Raja hanya bisa mendengus kesal melihat keakraban dua manusia berbeda jenis itu. Bukan hanya berbeda jenis namun berbeda usia juga.


Raja lebih baik menyusul sang istri karena pasti merajuk.


"Sayang!"

__ADS_1


Deg ..


Raja terkejut melihat sang istri yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Raja mendekat karena pasti sang istri menangis terlihat dari selimut yang terguncang.


"Sayang maafin mas!"


Ucap Raja berbisik sambil menurunkan selimut yang menutupi tubuh sang istri.


"Sayang!"


"Bunga cape, mas!"


Raja menggeleng kuat tak terima dengan cepat membalikan tubuh sang istri ke hadapannya.


Deg ....


Raja tertegun melihat mata sembab sang istri dengan hidung kembang kempis lucu.


"Maafin mas ya!"


"Bunga lelah, mas selalu saja begitu!"


Lilir Bunga kesal karena sang suami seolah berubah. Semenjak kelahiran baby Sekar Raja semakin kurang perhatian padanya bahkan tingkahnya seperti anak kecil saja.


Kemana Raja yang dewasa, penuh ketenangan dan menyebarkan aura kenyamanan. Kini tak ada Bunga sangat merindukan itu bukan seperti ini setiap hari sang suami banyak waktu dengan putrinya sedang ia terabaikan.


Bunga juga butuh perhatian sebagai seorang istri apalagi Raja selalu saja mengabaikan jika sudah bermain dengan Sekar.


"Mas hanya tak mau Sekar terlalu dekat sayang!"


"Ketakutan mas itu tak beralasan!"


"Mas, tak bisakah membiarkan saja kita tak tahu takdir mereka!"


Isak Bunga karena sungguh tak sanggup lagi. Sang suami terlalu takut jika Rangga menyukai putrinya. Padahal itu wajar bukan setiap orang menyukai anak kecil namun sang suami terlalu berlebihan menurut Bunga.


"Mas hanya takut!"


Tegas Raja selalu takut jika putrinya berjodoh dengan Rangga. Entah kenapa ketakutan itu selalu muncul tanpa alasan Raja juga tidak tahu, membuat Raja pusing sendiri.


"Cukup mas, kalau mas terus begini kurung saja Sekar atau bunuh Rangga, selesai!"


Amarah Bunga sudah tak bisa di tahan lagi, bagi Bunga ketakutan sang suami sangatlah berlebihan padahal masa depan putrinya masih panjang, bukankah kita tak tahu takdir.


Jikapun berjodoh Bunga tak masalah, karena Rangga laki-laki baik dan pengertian.


Raja yang melihat kemarahan sang istri hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat, ia tak mau begini namun ego selalu menekannya.


"Sayang!"


"Kau jahat mas hiks ..,"


"Kau lebih menyayangi Sekar dari pada aku, bahkan kau selalu mengabaikan aku siang dan malam!"


Amarah Bunga sudah ke ubun-ubun membuat Raja merasa bersalah akan hal itu. Rangga sadar jika perhatian dia selalu berkurang. Bahkan ada waktu pun ia selalu menghabiskannya dengan Sekar. Ini salahnya wajar sang istri marah besar.


Harusnya Raja tak seperti ini bukan, raja juga tak tahu ini sikap selalu spontan saja.

__ADS_1


"Maafkan mas, sayang maaf!"


"Selalu aja begitu, aku lelah mas!"


Ya, Bunga sangat lelah menghadapi sikap suami nya yang seperti ini selalu mengabaikan bahkan ini sudah tiga tahun usia Sekar..Harusnya sang suami lebih memerhatikan dia dari pada posesif pada Sekar yang memang masih balita tak mengerti dengan yang Raja lakukan juga.


"Sudahlah!"


Bunga beranjak dari ranjang namun dengan cepat Raja memeluknya dari belakang. Sungguh Raja tak pernah melihat sang istri semarah ini sebelumnya. Apa Raja benar-benar membuat sang istri sampai semarah ini.


Raja terus mengeratkan pelukannya sadar ini salahnya hingga sang istri begini.


"Mas benar-benar minta maaf! Tolong jangan begini ya!"


Pinta Raja berbisik membuat Bunga memejamkan kedua matanya sejenak.


Bunga membalikan badannya lalu membingkai wajah sang suami dengan tangannya.


"Tolong jangan begini, biarkan takdir berjalan semestinya. Bukankah kita tak kuasa akan takdir, jangan jadikan ketakutan itu membuat kita seperti ini!"


"Aku merindukan mas yang dewasa bukan kekanak-kanakan, aku merindukan mas yang perhatian bukan mengabaikan aku rindu semuanya!"


"Sayang!"


Sungguh Raja sudah menyakiti sang istri sedalam sini sampai sang istri mengemis kerinduan padahal setiap hari mereka bersama.


Begitu jahat bukan, jika sang istri juga butuh ia.


"Bunga merindukan mas!"


Lilir Bunga membuat Raja merasa bersalah sungguh suami macam apa dia sudah membuat istrinya begini.


Cup ...


Tanpa kata lagi Raja mengecup bibir sang istri penuh kelembutan membuat Bunga memejamkan kedua matanya dengan bulir bening membasahi pipinya.


Ciuman yang asalnya lembut menjadi menuntut ketika Bunga membalasnya membuat keduanya hanyut dalam suasana emosional ini.


"Mas!"


Lilir Bunga ketika sang suami sudah menurunkan ciumannya ke leher mulus tanpa celah itu.


Nafas mereka memburu menandakan gejolak hasrat yang tinggi.


Bunga menatap sang suami penuh damba begitu pun Raja.


"Maafkan mas, sayang!"


Ucap Raja pelan karena sudah menyakiti hati istrinya. Raja pikir sang istri akan baik-baik saja dengan sikapnya nyatanya Raja salah. Kenapa sekarang jadi Bunga yang terlihat dewasa sedang dia, cih.


Sungguh Raja tak bermaksud mengabaikan sang istri karena terlalu fokus pada putrinya.


"Jangan di ulangi!"


"Akan mas coba!"


Bunga mengangguk faham, dia hanya ingin sang suami mengerti bukan hanya Sekar yang dia perhatikan ia juga ingin.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2