Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 54 Hati seorang ayah


__ADS_3

Sesudah makan malam Bunga terus menempel pada sang sang ayah. Entah kenapa Bunga sangat merindukan sang ayah.


Aldi sangat bahagia ketika putrinya tak melupakan dia. Aldi pikir Bunga akan melupakan dia karena ada Raja.


"Sayang, sudah sana jangan nempel ke ayah mulu!"all ini


Tegur Jelita cemberut tak biasanya putrinya menempel terus pada sang suami.


"Mama pelit, Bunga kan kangen!"


"Aisst,"


Kesal Jelita, Jelita memang tak suka jika putrinya terlalu menempel pada sang suami.


Raja hanya jadi penonton saja melihat kelakuan keluarga istrinya. Kini Raja tahu dari mana sikap istrinya ternyata dari mama mertua.


"Ya sudah, mama tidur duluan!"


Pad akhirnya Jelita memilih masuk kamar membuat Aldi melotot.


"Sayang kamu tidur gih, ayah seperti nya sudah ngantuk!"


Alibi Aldi padahal Aldi takut jika istrinya marah. Karena sudah jadi tabiat Jelita jika cemburu pasti memilih pergi tanpa mengungkapkan apa-apa.


"Mama selalu saja pelit,"


Ketus Bunga karena memang Bunga dan Jelita selalu saja berantem jika masalah Aldi.


Entah bagaimana jika nanti Bunga punya anak apa ia akan bersikap seperti itu juga sama seperti Jelita yang cemburu pada anaknya sendiri.


Sungguh aneh tapi nyata, Raja langsung menggendong sang istri membuat Bunga terkejut.


"Mas!"


"Kita juga harus ke kamar!"


Ucap Raja menggendong Bunga membuat Bunga memerah pasalnya para mba-mba melihat adegan itu.


"Mas kenapa pakai gendong segala sih,"


Bisik Bunga sangat malu dengan kelakuan Raja yang menciumnya di hadapan semua orang.


"Biar romantis,"


Raja terus menggendong Bunga menaiki satu persatu anak tangga. Raja merasa ringan sekali menggendong Bunga seolah tak ada beban.


"Sekarang mas minta hadiah tadi?"


"Ih, masih ingat saja. Emang mau hadiah apa?"


Yes!


Raja bersorak ria dalam hati tersenyum menatap istri tercintanya.


"Mas mau kamu!"


Bunga menautkan kedua alisnya bingung tak mengerti dengan apa yang di maksud Raja.


"Mau aku! Bunga kan sudah jadi istri mas!"


Bingung Bunga membuat Raja menepuk jidatnya gemas.


"Maksudnya mas menginginkan ****,"


Seketika Bunga terdiam mendengar apa yang di bisikan sang suami di akhir kalimatnya. Bahkan wajah Bunga sudah memerah bak kepiting rebus.

__ADS_1


"Boleh!"


"Eh, tunggu .. tunggu ...,"


Cegah Bunga menahan dada bidang Raja yang ingin menciumnya.


"Tapi, Bunga sedang datang bulan. Apa boleh melakukan itu emang?!"


"What!"


Pekik Raja terkejut mendengar penuturan polos sang istri. Bagaimana bisa sang istri menjatuhkan ia kembali di saat ia sudah terbang bebas.


Bahkan Raja sampai lemas ambruk keatas ranjang.


Bunga yang melihat tingkah suaminya hanya menatap bingung. Namun, Bunga tak mau ambil pusing ia membaringkan tubuhnya di samping Raja karena kantuk yang mulai menyapanya.


Raja yang melihat Bunga seperti itu menatap tak percaya pasalnya Bunga tak merasa bersalah sama sekali. Raja lupa siapa istrinya dan tentu si polos tak akan pernah peka sama sekali.


"Sayang!"


Rengek Raja mengguncang tubuh sang istri.


"Apaan sih mas, ngantuk tahu!"


"Datang bulannya kapan?"


"Tadi pas waktu mandi!"


"Biasanya selesai berapa hari?"


"Tujuh!"


"Lama banget sayang!"


"Berisik mas, Bunga ngantuk!"


"Tidurnya balik sini dong, masa membelakangi mas!"


Dengan kesal Bunga berbalik dengan mata terpejam membuat Raja tersenyum geli. Raja menarik sang istri ke dalam pelukannya. Berkali-kali Raja mengecup kepala Bunga membuat Bunga diam saja malah semakin merapat kan kedua matanya.


Bunga benar-benar ngantuk apalagi sudah jadi kebiasaan Bunga langsung tidur. Terutama Bunga sangat kangen dengan kasurnya itu.


Cup ...


"Mimpi indah sayang!"


Gumam Raja setelah mengecup bibir Bunga sedang Bunga entah sudah ke alam mimpi mana.


Malam ini benar-benar gagal Raja mendapatkan hadiahnya. Dan begitu polosnya Bunga tak peduli sama sekali dengan apa yang Raja rasakan.


Sungguh bolehkah Raja menelan hidup-hidup istri kecilnya ini. Tapi sayang, Raja sudah tergila-gila dengan segala tingkah Bunga.


Tak lama Raja juga ikut terlelap sambil memeluk Bunga begitu nyaman.


.


Pagi-pagi sekali Raja ataupun Bunga sudah rapih dengan stelan seragam sekolah. Mereka berdua turun membuat Jelita menatap putrinya sambil tersenyum bahagia.


Jelita merasa lega karena Bunga terlihat benar-benar mencintai Raja. Terlihat dari tatapan keduanya.


Akhirnya Jelita tak merasa takut jika suatu hari nanti meninggalkan putrinya karena sudah ada Raja di samping Bunga. Jelita yakin Raja akan menjaga Bunga dengan segenap jiwa nya.


Mereka berempat sarapan dengan khidmah tak ada percakapan di antara mereka. Begitupun Aldi hanya diam saja melihat bagaimana putrinya sangat lengket sekali dengan Raja.


Ketakutan seorang ayah adalah ketika putrinya di sakiti orang lain. Dia akan merasa gagal jadi seorang ayah jika tak bisa melindungi putrinya. Karena kesakitan Bunga adalah kesakitan Aldi.

__ADS_1


Walau terkadang seorang ayah sulit menunjukan perasaan. Padahal hatinya menjerit sakit.


Kini Aldi percaya pada Raja bisa menjaga putrinya memperlakukan Bunga dengan sangat baik.


Andai saja satu tetes mengalir di sudut mata Bunga karena rasa sakit mungkin Aldi akan membumi hanguskan orang tersebut.


Tapi melihat Bunga tersenyum cerah berusaha melayani Raja membuat Aldi merasa lega.


Sang istri benar, Raja adalah laki-laki yang baik. Walau Aldi sempat meragukan itu tapi kini Aldi percaya jika Raja benar-benar laki-laki sejati yang bertanggung jawab dan baik memperlakukan istrinya.


"Ayah makan jangan bengong terus,"


Bisik Jelita karena sendari tadi Aldi terus menatap putrinya.


Aldi tersenyum lembut pada Jelita, istrinya yang sudah menemani dia delapan belas tahun lamanya.


Sungguh waktu ternyata cepat berlalu, bahkan sekarang Bunga sudah berumah tangga.


Pada awalnya Aldi memang takut melepas putri semata wayangnya tapi Jelita selalu meyakinkan nya.


Sudah selesai sarapan Bunga dan Raja berangkat sekolah.


Tes ...


Tak terasa setetes air mata keluar di pelupuk mata Aldi menatap kepergian putrinya.


Rasanya baru kemaren Aldi menggendong Bunga dan mengantarkan Bunga ke sekolah. Kini orang lain yang menggantikan peran itu.


Aldi berharap Raja tak pernah mengecewakan dia.


"Ayah menangis?"


Aldi dengan cepat menghapus air matanya menatap sang istri lembut.


"Ayah bahagia melihat putri kita bahagia!"


"Apa sekarang ayah sudah tenang?"


Aldi mengangguk membuat Jelita tersenyum. Jelita berhambur memeluk sang suami.


Walau usia mereka sudah tidak muda lagi namun keromantisan keduanya tak pernah pudar. Mereka saling menjaga satu sama lain saling mengerti terutama saling menyayangi.


"Aku akan merasa jadi ayah yang gagal jika Bunga tak bahagia!"


"Ah, kenapa mama semakin jatuh cinta pada ayah!"


Goda Jelita, di saat suasana haru jelita malah mengajak Aldi bercanda.


Aldi mencubit ujung hidung Jelita gemas, bisa-bisa nya istrinya menggoda dia di saat dia sedang mode haru.


Cup ...


"Ayah di lihat para mba!"


"Habis mama gemesin, pengen ayah kurung terus di kamar!"


"Kalau gitu mama rela!"


Ha ... ha ...


Mereka tertawa dengan kekonyolan mereka sendiri.


Membuat para mba menjadi malu sendiri dengan keharmonisan majikannya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2