Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 87 Maaf!


__ADS_3

"Stop menggangu ku, bahkan aku tak tertarik sedikit pun dengan kau!"


Bentak Rangga menghempaskan tangan Alea yang sendari tadi menggenggam tangannya.


Bukan Ale namanya jika tak memiliki apa yang ia inginkan.


"Aku mencintaimu, tolong terima aku!"


Dengan tak tahu malunya Alea berkata seperti itu membuat mereka jadi tontonan karena keributan mereka. Ada juga yang tak peduli karena sudah sangat hapal betul bagaimana kelakukan gadis satu ini.


"Sampai kapanpun aku tak Sudi!"


"Jangan jadi gadis murahan, berhenti mengikuti ku!"


Deg ...


Dada Ale sangat sakit mendengarnya benarkah ia gadis murahan yang benar saja dia gadis paling terhormat di kampus ini.


Paul mengepalkan kedua tangannya melihat gencarnya Alea mengejar Rangga yang tak peduli.


Paul semakin meradang melihat Alea terjatuh bahkan sampai lututnya berdarah karena Alea menggunakan rok selutut.


"Rangga hiks ..,"


Teriak Alea sakit melihat Rangga benar-benar tak peduli padanya bahkan Alea tak peduli tatapan menjijikan dari semuanya.


Lima belas sudah Alea di tolak oleh laki-laki tampan dan itu menjadi sejarah di kampus karena tak ada cewe yang seperti Alea yang tak tahu malunya mengejar-ngejar laki-laki padahal banyak laki-laki yang mendekatinya namun Ale tak mau.


"Rangga!"


"Berhenti menjadi bodoh!"


Deg ...


Alea terkejut ketika tangannya di tarik oleh Paul dengan sorot mata yang berbeda sorot mata kesakitan dan kekecewaan.


"Lepas kak, aku harus mengejar Rangga!"


"Diam!"


Tegas Paul menyeret Alea walau Alea terus memberontak namun kekuatan tangan Paul sangat kuat. Sungguh Paul sangat sakit melihat Ale terus mengejar orang lain sedang ia ada di sampingnya.


"Kak lepas, apa-apa sih!"


Ketus Alea kesal bukannya menarik Rangga mendekat Paul malah menarik dirinya masuk keruang musik di mana ruangan itu kebetulan kosong.


"Kau harus mengejar Rangga!"


"Stop Ale stop!"


Bentak Paul menyala membuat Ale terkejut akan reaksi Paul yang tak biasanya seperti itu.


"Kak kau membentak ku!"


"Ya, apa yang kau lakukan hah, ini yang terakhir kakak tidak mau tahu!"


"Tidak! sebelum Rangga menjadi milikku!"


"Berhentilah menjadi gadis murahan!"


Plak ...

__ADS_1


Tamparan keras melayang di pipi kiri Paul hingga membuat wajah Paul membuang.


Tangan Alea bergetar dengan mata yang kembali berkaca-kaca tak menyangka kata menyakitkan itu keluar dari mulut orang yang paling ia sayangi.


Dada Ale sangat sakit dan sesak, Alea tak peduli jika orang lain berkata rendah namun ini Paul, kakak nya.


"Ale--"


"Semua ini karena kau sialan!"


Bentak Alea sungguh tak bisa menahan lagi, cukup sudah ia pura-pura tak tahu malu ini sangat menyiksa.


"Kenapa harus seperti ini hah, kenapa?"


"Aku tak mau berada di posisi ini! Ini sangat menyakitkan!"


"Di sini, sakit!"


Teriak Alea tak peduli dengan semuanya, siapa yang tak lelah terus mengejar orang lain demi membuat Paul mengerti namun nyatanya Paul tak mengerti sama sekali membuat Alea muak.


"Ale maaf, ak-aku tak bermaksud--"


"Ya aku memang murahan tapi semua ini gara-gara kau!"


Paul terdiam tak mengerti dengan apa yang Alea maksud kenapa jadi dia yang di salahkan.


"Kau bajingan, brengsek kenapa tak mengerti!"


"Aku benci kau, aku benci kamu hiks ..,"


Isak Alea terus meluapkan kesesakannya yang tak mengerti juga. Bahkan kali ini Alea memukul-mukul dada bidang Paul berharap kesesakannya segera berakhir.


Paul dengan cepat menahan kedua tangan Alea dan menguncinya di depan dada bidangnya.


Cup ...


Alea diam mematung dengan tatapan kosongnya ketika Paul membungkam bibirnya.


Waktu seakan berhenti melihat apa yang Paul lakukan. Paul memberanikan diri menarik dirinya untuk keluar dari lingkar ketakutan.


Lama Paul membungkam bibir Alea perlahan Paul menarik diri guna menatap wajah cantik Alea. Ini gila memang gila namun ini kenyataan nya Paul MENCINTAI ADIK TIRINYA.


"Maaf, aku benci pada diriku sendiri kenapa harus MENCINTAI MU!"


Duarr ...


Alea membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang Paul ucapkan. Bagaimana bisa sedang Paul terlihat biasa saja.


"Aku cemburu tak terima melihat kau terus mengejar laki-laki lain tapi aku bisa apa aku terlalu takut dan pengecut melangkah seperti ini!"


"Kau dengar aku MENCINTAIMU tapi kit--"


Deg ..


Kini giliran Paul yang terdiam kaku ketika Alea menciumnya balik. Paul pikir Alea akan marah dan menamparnya lagi nyatanya bibir Paul yang di tampar.


Mereka berdua hanyut dalam suasana ini seolah itulah perasaan merek sesungguhnya.


"Kenapa tak sendari dulu! Aku lelah begini!"


"Maksudnya!"

__ADS_1


"Kau pikir aku melakukan semuanya untuk siapa hah, aku ingin kau cemburu dan marah tapi nyatanya kau terlalu naif!"


Kesal Alea tak ada embel-embel kakak lagi karena mereka dulu sudah biasa seperti ini.


"Aku mencintaimu Paul kenapa kau tak mengerti itu!"


Paul benar-benar terkejut dan juga bahagia ternyata Alea mempunyai rasa yang sama.


Kebahagiaan yang baru mereka rasakan di setiap kesesakannya terdiam sejenak hanyut dalam tindakan.


Ini salah namun keduanya tak bisa menepis rasa itu apalagi ketika Paul memutuskan keluar dari rumah membuat Alea benar-benar prustasi dan hanya dengan cara itu Ale bisa mendapatkan perhatian Paul lagi walau Ale ingin Paul cemburu dan marah sendari dulu.


"Aku pikir cintaku hanya sendiri apalagi ketika mom dan Daddy kamu menjalin hubungan membuat ku harus menahan semuanya. Kau tahu itu, sangat menyakitkan!"


"Kau pikir kau saja! Bahkan aku jauh lebih shok sendari awal!"


"Ini salah! Tapi aku mencintaimu!"


Paul kembali mencium sahabat yang sudah berganti profesi menjadi adik tirinya.


Sesaat mereka menikmati momen itu seolah lupa status mereka sekarang. Cinta yang menggebu akhir nya bisa menyatu walau perjalanan mereka sangat sulit apalagi posisi mereka saat ini.


"Kak!"


Alea menarik diri dari semuanya karena takut khilaf. Kening mereka menyatu dengan nafas memburu dengan slavina yang masih terhubung.


"Bagaimana dengan Daddy dan mommy?"


Paul terdiam karena memang semuanya rumit. Paul tak mau menyakiti sang mommy jika tahu perasaan nya. Namun Paul juga tak bisa menampik dari rasanya.


"Aku tak mau menyakiti mereka!"


"Sama!"


"Tapi bagaimana dengan cinta ini!"


Mereka berdua kembali terdiam dengan pikiran rumitnya.


Paul menangkup wajah Alea yang selalu cantik dan imut di matanya.


"Kita jalani atau saling melepas!"


"Aku tak mau!"


Alea memeluk Paul erat ia sudah melakukan semuanya bahkan sengaja merendahkan dirinya agar sang Daddy tak mencurigainya.


Sungguh hubungan yang mengambang membuat mereka bimbang untuk melangkah.


"Andai kau bukan anak Daddy!"


Lilir Paul mengeratkan pelukannya sesekali mengecup puncak kepala Alea.


Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, baru saja mereka merasakan kebahagiaan detik berikutnya kebahagiaan itu berganti dengan kebingungan.


"Apa kita kabur ke negara lain, kita bisa menjalani hidup kita berdua!"


"Itu tak mungkin Ale, bagaimana dengan kedua orang tua kita!"


Sungguh pelik sekali, seolah buat apa mereka tahu perasaannya satu sama lain jika mereka tak berani juga melangkah.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2