
"Sayang sudah makan ada yang ingin ayah bicarakan!"
Deg ...
Bunga terdiam dengan jantung terpacu hebat, Bunga terlihat ketakutan sekali.
Apa mang Sup melanggar perjanjian. Awas saja mang Sup jika ngadu sama ayah.
Kesal Bunga terus menggerutu dalam hati karena tak biasanya sang ayah memanggil dia. Pasti ini gara-gara tadi karena pulang telat dan tak memberi tahu sang ayah terlebih dahulu.
Aldi dan Jelita memang selalu men-sidang Bunga jika Bunga pulang telat tapi tak minta izin terlebih dahulu. Tapi, Aldi tidak mempermasalahkan apapun jika Bunga pergi tapi meminta izin terlebih dahulu.
Yang tadinya makan enak kini makanan itu teras kesat di tenggorokan Bunga bahkan Bunga sangat kesulitan untuk menelan makanan itu.
"Sayang makannya yang benar masa begitu!"
Tegur Jelita merasa heran dengan sikap anaknya yang selalu berubah-ubah di sekian detiknya.
Di mana Bunga hanya mengaduk-aduk makanan nya padahal itu makanan yang Bunga suka.
"Iya mah!"
Ucap Bunga pelan berusaha makan dengan tenang dan nyaman.
Tumben mama sama ayah makanya cepat, apa mereka benar-benar marah padaku gara-gara tak izin. Aisstt, mang Sup awas ya!
Bunga terus saja ngedumel melihat kedua orang tuanya sudah selesai makan sedang ia belum selesai-selesai. Bunga merasa orang tuanya benar-benar akan marah padanya dengan apa yang sore tadi ia lakukan.
Mang Sup memang benar-benar tak bisa di ajak kerja sama.
Gerutu Bunga lagi sambil menyelesaikan makannya.
Jelita meminta tolong pada mba Kus untuk membereskan meja makan. Sedang Aldi dan Jelita sudah pergi keruang keluarga di mana mereka akan bicara dengan putri semata wayangnya.
Bunga dengan lesu mengikuti kedua orang tuanya namun tiba-tiba.
"Ma, ayah Bunga izin sebentar mau pup!"
Seketika Bunga melesat pergi terbirit-birit menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya.
Aldi dan Jelita hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putri ajaibnya itu.
"Apa ini waktu yang tepat mah?"
"Iya, mama pikir ini waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya!"
"Ya sudah, ayah nurut saja!"
Jelita tersenyum karena suami nya selalu saja mengalah dan menurut padanya.
Semua pelayan langsung menyingkir ketika majikan mereka berada di ruang keluarga berarti ada sesuatu yang harus mereka bahas dan para pelayan tak boleh tahu.
Sambil menunggu Bunga Jelita dan Aldi melihat-lihat profil calon menantu mereka sambil berbincang ringan.
Lama mereka menunggu namun Bunga tak kunjung datang-datang.
Sedang Bunga sendiri di dalam kamar terus mondar-mandir ketakutan takut kedua orang tuanya akan marah.
"Aduh gimana ini, ayah pasti akan marah besar jika tahu anak cantiknya masuk ke tempat kumuh!"
"Semua ini gara-gara mang Sup, akhh ... kesel .. kesel ..,"
Gerutu Bunga sambil menghentak-hentakan kedua kalinya berjalan mondar-mandir bak setrikaan.
Bukannya pup Bunga terus saja mondar-mandir bahkan sampai berkeringat karena ketakutan.
__ADS_1
Tok .. tok ..
Deg ...
Bunga terkejut mendengar pintu kamarnya di ketuk membuat Bunga sampai meloncat ke atas ranjang.
"Non, apa sudah selesai. Di panggil nyonya sama tuan besar!"
Bunga semakin berkeringat dingin karena takut. Bunga memang seperti itu jika ketakutan akan merasa panik akan berkeringat dingin dengan tangan gemetar.
"Non!"
"Iya mba Kus tunggu sebentar!"
Teriak Bunga di dalam sambil berusaha mengatur nafasnya agar tenang. Sudah berusaha mengatur nafasnya Bunga keluar sambil nyengir kuda seolah tak terjadi apa-apa.
"Ayo mba!"
Ucap Bunga enteng menyelonong begitu saja membuat mba Kus hanya menggelengkan kepala.
Bunga bersenandung ria berusaha menutupi ketakutannya.
"Kenapa perutnya, apa masih sakit!"
"Gak mah, sudah baikan kok!"
Ucap Bunga sambil menepuk-nepuk perutnya. Bunga duduk di hadapan kedua orang tuanya dengan tenang.
"Sayang, ka--"
"Tunggu .. tunggu ..,"
Potong Bunga sambil mengangkat tangannya membuat Aldi dan Jelita terdiam.
Bunga mencondongkan wajahnya menatap kedua orang tuanya dengan wajah memelas.
Rengek Bunga membuat Jelita dan Aldi saling pandang lalu mereka menggeleng barengan.
"Ayah sama mama gak marah!"
"Gak!"
"Syukur lah!"
Ucap Bunga lega sambil mengelus dadanya lalu kembali duduk dengan tenang.
"Sayang bukan itu yang mau kamu bahas!"
"Lalu!"
Ucap Bunga santai karena merasa lega dirinya tak di marahi atau di omeli.
"Kami sudah sepakat menjodohkan kamu dengan anak sahabat mama!"
"What!!!"
Bunga membulatkan kedua mata bahkan hampir saja keluar dari kelopaknya. Bahkan yang tadinya duduk santai sampai melompat ke atas shopa.
Aldi dan Jelita menghela nafas berat melihat reaksi putrinya yang sudah bisa mereka tebak.
"He .. he .. jangan becanda ma, yah tak lucu tahu!"
Kekeh Bunga berusaha menormalkan jantungnya semoga apa yang ia dengar itu hanya mimpi buruk.
"Kami tak bercanda sayang!"
__ADS_1
Glek ...
Bunga menelan ludahnya kasar dengan nafas tercekat seolah atmosfer di ruangan itu tak ada.
"Apa kamu masih ingat dengan tante Raya dan putranya. Mama sama ayah yakin kalian cocok jika bersanding!"
"No .. no ... mah, Bunga tak mau!"
"Oh ya ampun apa kata dunia, Bunga masih sekolah KTP juga belum punya masa sudah mau menikah, no!!!"
Jerit Bunga menggelengkan kepala membuat Jelita dan Aldi lagi-lagi menghela nafas berat.
"Sayang, dengarkan mama dulu!"
"Bunga!"
Tegas Aldi membuat Bunga berhenti histeris bahkan Bunga langsung bungkam ketika mendengar suara berat Aldi.
Bunga meremas baju tidurnya kuat sambil menundukkan kepala.
"Sayang, kami melakukan ini demi kebaikan kamu. Mama jamin kamu pasti akan menyukainya. Dia anak baik dan penurut mama yakin kamu akan jatuh cinta padanya!"
"Kami tahu kamu belum punya KTP untuk itu kami sudah sepakat kalian akan menikah secara agama dulu lalu setelah kamu lulus baru kami akan meren--"
"Stop! stop ma!!"
Pekik Bunga dengan nafas naik turun sungguh ini sesuatu yang membuat Bunga tak bisa berpikir dengar jernih.
Entah apa kesalahan dia kenapa sang mama dan sang ayah tega melakukan hal seperti ini pada dia.
Apa karena hukuman tadi tapi kenapa harus menikah juga. Membayangkannya saja di hidup Bunga tak ada.
Sungguh ini benar-benar mimpi buruk bagi Bunga.
"Sayang!"
"Tidak, mama sama ayah gak sayang Bunga lagi. Kalian ingin membuang Bunga karena Bunga nakal kan hiks ...,"
"Bunga janji Bunga gak bakalan nakal lagi, Bunga akan nurut sama kalian tapi jangan usir Bunga hiks .. Bunga gak mau nikah hiks ...,"
"Sayang, kami tak bermaksud seperti itu!"
"Tapi nyatanya kalian memaksa, kalian jahat jahat jahat!!!"
Pekik Bunga sambil berlari menuju kamarnya. Aldi menahan tangan Jelita agar tak mengejar Bunga.
"Biarkan Bunga berpikir dulu, jangan terlalu di tekan!"
Ucap Aldi karena rencananya akan semakin runyam jika terlalu di paksakan.
Jelita hanya mengangguk saja mendengarkan ucapan sang suami karena memang benar apa adanya.
"Aku tak menyangka, reaksi Bunga akan seperti itu!"
"Mungkin Bunga hanya shok saja, ma!"
"Semoga saja anak itu mau mengerti!"
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Bunga yah, apa mama salah!"
"Mama gak salah, putri kita memang yang ajaib tapi ayah yakin dia akan mengerti!"
Jelita terdiam sambil menyandarkan kepalanya di pundak kokoh sang suami. Tempat ternyaman ketika hatinya gelisah dan cemas.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...