Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 75 Gagal


__ADS_3

Di balik kebahagiaan yang Bunga rasakan Bunga merasa sedih juga karena Shofi harus pergi dua hari setelah acara resepsi pernikahan mereka.


Bunga tak bisa membendung air matanya lagi ketika melihat Shofi keluar dari mobil di kawal dengan beberapa bodyguard. Bunga tak tahu bagaimana kehidupan Shofi sampai sampai segitunya karena Shofi orang yang tertutup.


Bunga dan Amira menghampiri Shofi mereka berdua menggandeng tangan Shofi. Di sana sudah ada keluarga Al-biru dan Prayoga.


"Jangan menangis, kalian membuat ku lemah!"


Lilir Shofi mengeratkan pelukannya, begitu pun Bunga dan Amira semakin mengeratkan pelukannya. Mereka pasti akan sangat sangat merindukan momen bertiga. Namun, Bunga dan Amira harus lera melepaskan satu sahabatnya.


"Baiklah, kita tak akan menangis hiks ..,"


Ucap Bunga terisak membuat Amira mentoyor Bunga. Katanya tak menangis tapi malah semakin terisak.


"Katanya tak akan menangis, terus ini apa!"


"Hiks .., maaf ini hanya air mata!"


Shofi malah terkekeh dengan candaan Bunga, walau air matanya masih terus mengalir.


Bunga dan Amira menggandeng Shofi menuju keluarganya berada.


Hari ini sungguh hari yang sangat menyedihkan bagi semuanya di mana Shofi akan pergi meninggalkan semuanya.


Pertemuan mereka walau sesaat tapi tetap melekat. Bunga tak menyangka bahwa pada akhirnya mereka akan mengalami hal ini.


Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya namun awal babak baru menempuh suasana baru.


Bunga terdiam melihat adegan di depannya itu.


Bunga tak menyangka jika kisah Fatih dan Shofi akan strategis ini. Mereka harus berpisah di saat hati saling mengungkap. Belum ada perjalanan cinta mereka walau cinta itu sudah tumbuh di keduanya.


Bunga yakin jika mereka berjodoh mereka pasti akan di pertemukan kembali. Cinta mereka terlalu kuat untuk sekedar di jabarkan.


Bunga bisa melihat benih-benih cinta itu telah tumbuh subur di hati Shofi Bunga bisa melihat dari cara Shofi menatap.


"Kenapa harus seperti ini?"


"Itu takdir mereka sayang, kita bisa apa!"


Ucap Raja menarik sang istri kedalam pelukannya. Raja menatap Fatih diam karena tak bisa berbuat apa-apa untuk sahabat nya itu.


Semuanya sudah Shofi putuskan dan tak bisa di ganggu gugat. Shofi harus pergi entah pergi kemana karena Shofi tak memberi tahu mereka.


Semua orang melangkah mundur membiarkan Shofi dan Fatih mengungkap apa yang mereka pikirkan.


Raja membawa sang istri pulang karena ini bukan waktu mereka untuk mencegah Shofi.


"Mas jangan tinggalkan aku!"


"Gak akan sayang!"


"Soal beasiswa bagaimana?"


"Sayang akan mendapatkan nya!"


"Benarkah!"


"Hm!"


Seketika bibir Bunga merekah menatap Raja penuh cinta.


"Kapan kita berangkat, Bunga harus menyiapkan semuanya?"


"Tak perlu sayang, mas sudah menyiapkannya sayang terima beres saja!"


"Benarkah!"


"Tapi tak gratis!"


"Harus bayar ya!"


"Hm,"


"Berapa?"


"Mas gak butuh uang!"


"Lalu!"

__ADS_1


Raja tersenyum gemas melihat kepolosan sang istri. Tentu Raja menginginkan lebih dari uang untuk membayarnya.


"Berikan mas seorang baby!"


Bluss ...


Wajah Bunga memerah malu dengan apa yang sang suami katakan. Bunga faham betul kemana arah pembicaraan sang suami.


"Siap sayang?"


"Tapi--"


"Tapi apa hm?"


"Itu, itu ... mas,"


Bunga bingung mengucapkannya kerena malu.


"Sayang berubah pikiran, baby di tunda!"


"Bukan begitu!"


"Terus!"


"Bagaimana Bunga bisa hamil jika mas selalu pakai ini!"


Kesal Bunga karena Raja tak faham-faham akan ucapannya. Raja terdiam melihat benda yang ada di tangan sang istri.


Seketika senyum Raja mengembang melihat wajah masam sang istri. Ternyata itu permasalahannya seperti nya sang istri benar-benar sudah siap akan semuanya.


"Sayang,"


"Hm,"


"Apa tak masalah kamu mengandung di usia muda?"


Raja masih memikirkan keadaan sang istri takut ada sesuatu yang terjadi kedepannya. Raja harus memastikan sekarang sebelum semuanya terlambat.


"Emang kenapa, aku sudah siap kok!"


"Mas ragu ya karena Bunga masih kekanak-kanakan?"


Ucap Bunga Lilir menundukkan kepala sambil meremas tasnya.


"Bukan begitu sayang, mas tak ragu mas cuma takut!"


"Apa?"


"Bagaimana dengan ayah dan mama!"


Bunga menatap balik sang suami terlihat jelas ketakutan di sana. Entah kemana Raja takut pada kedua orang tuanya.


"Mas!"


Bunga memegang tangan Raja erat sambil mengunci tatapan Raja.


"Yang menikah itu kita bukan mereka, masalah anak itu urusan kita bukan urusan mereka apa yang harus di takutkan!"


Raja terdiam menatap sang istri dalam, siapa yang ada di depannya ini kenapa berbeda.


Ucapan Bunga sungguh dewasa Raja tak pernah menyangka jika Bunga akan memberikan jawaban sekeren tadi.


Kini Raja percaya jika sang istri benar-benar sudah dewasa.


"Sayang kau benar-benar menggemaskan!"


"Apaan sih mas!"


"Baiklah kita pulang, seperti nya istri mas sudah gak sabar!"


"Mas!"


Rengek Bunga malu kenapa Raja selalu berhasil menggodanya.


Raja terkekeh sambil melajukan mobilnya lagi menuju apartemen nya. Raja sudah gak sabar merengkuh surga dunia dengan sang istri apa lagi kali ini mungkin nampak berbeda.


Raja menggandengkan lengan sang istri ketika mereka sudah sampai.


Akhhh ...

__ADS_1


Jerit Bunga terkejut ketika Raja menggendong tubuhnya refleks Bunga langsung mengalungkan lengannya pada leher kokoh Raja.


Raja tersenyum melihat wajah cantik sang istri.


Cup ...


Raja mengecup bibir sang istri dengan satu kaki menendang pintu agar pintu apartemen tertutup.


Ciuman ini begitu memabukkan membuat Raja dan Bunga terlena. Kaki Raja terus melangkah menuju kamar mereka dengan ciuman yang masih terpaut.


Keduanya terbakar gairah yang sudah tak bisa di bendung lagi.


Srekk ...


Raja merobek baju sang istri tak peduli seberapa mahal baju tersebut toh bisa beli lagi.


"Mas pelan-pelan!"


Ucap Bunga memperingati karena merasa tak bisa mengimbangi sang suami yang seakan kesetanan menerkam dirinya.


Bunga tak mau terburu-buru Bunga ingin mereka melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati hingga momen ini dapat Bunga rekam di ingatannya.


Kali ini Raja tak akan menggunakan pengaman saat menjamah sang istri ini sudah kesepakatan yang menguntungkan Raja pada akhirnya Raja bisa menaburkan benihnya di rahim sang istri.


"Siap sayang!"


"Hm,"


Drettt ....


Drettt ...


"Mas ada yang telpon!"


"Tanggung sayang, mana belum masuk!"


Drett ...


Drettt ....


"Mas!"


"Sial!"


Umpat Raja sangat pusing siapa yang berani menggangu dinasnya. Sungguh kepala Raja berdenyut sakit padahal dia sudah siap bertempur.


Dengan sangat terpaksa Raja mengambil ponsel guna menerima panggilan telepon yang dari tadi berisik sekali. Tak tahukah jika mereka sedang dinas kenapa harus ada pengganggu di waktu yang tak tepat.


"Apa!"


Kesal Raja ketika sudah mengangkat telepon dari Rangga.


Raut wajah kesal bercampur marah tiba-tiba berubah menjadi tegang.


Bunga menautkan kedua alisnya melihat perubahan wajah sang suami.


"Mas!"


"Mas harus pergi sayang, kita lanjut nanti ya!"


Cup ...


Ucap Raja tiba-tiba dengan wajah paniknya. Raja langsung memungut pakaian tadi yang ia kenakan.


Bunga yang melihat kepanikan sang suami hanya bisa melongo bagaimana bisa sang suami meninggalkan ia di saat gairahnya sudah memuncak.


"Mas pergi dulu!"


Cup ...


"Mas!!!"


Teriak Bunga membanting bantal sangat kesal dengan apa yang terjadi. Raja pergi begitu saja meninggalkan ia.


Bahkan Raja tak mengucapkan satu patah kata pun apa yang terjadi.


"Sial!"


Umpat Bunga mengacak-acak rambutnya prustasi. Awas saja jika pulang Bunga tak akan mengizinkan Raja tidur dengannya apalagi menyentuhnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2