
"Inilah suami kamu, semua tak ada yang ku tutupi lagi!"
Ucap Raja menceritakan semua tentang dia.
"Baju yang ada di lemari semua milik kamu!"
"Jika ingin bertanya lagi, nanti ya aku mau lanjut masak dulu!"
Dengan santai Raja pergi meninggalkan Bunga yang hanya diam dalam keterkejutannya.
Sungguh Bunga tak menyangka mempunyai suami seperti Raja.
Pantas saja mom Raya bilang kartu kredit card yang sempat ia pakai tak akan habis tujuh turunan karena ternyata Raja seorang pengusaha sukses bahkan ahli waris satu-satunya keluarga Adelio.
Sungguh rasanya Bunga sangat pusing mengetahui semua fakta ini. Dan sialnya kenapa Bunga sekarang tak bisa marah karena pada dasarnya Bunga sendiri yang bodoh tak mencari tahu dulu siapa Raja sebenarnya.
Bahkan yang membuat Bunga semakin terkejut lagi ternyata Raja dan Fatih satu perkuliahan dan artinya Fatih juga ternyata sudah lulus kuliah.
Namun yang membuat Bunga bingung kenapa keduanya malah mau sekolah SMA lagi.
Akhhh ...
Jerit Bunga benar-benar pusing dengan semuanya.
Raja hanya tersenyum saja melihat tingkah istri kecilnya sungguh sangat menggemaskan.
Raja membiarkan Bunga pusing sendiri karena Raja yakin Bunga hanya butuh menerima saja. Raja akan melakukan segala cara agar Bunga menerima kehadiran dirinya.
Raja tersenyum senang melihat stik yang ia buat sudah selesai. Tak lupa Raja meracik buah-buahan untuk di jadikan jus. Sudah selesai semuanya Raja menyajikannya di meja makan.
"Bunga!"
Panggil Raja namun tak ada sahutan sama sekali.
"Bunga,"
Sekali lagi Raja memanggilnya namun tetap saja sama, tak ada sahutan juga.
"Hm,"
Raja berdehem pelan melihat Bunga yang tertidur. Pantas saja Bunga tak menyahut ternyata dia tertidur.
Bagaimana Bunga tak tertidur jika kepalanya sangat pusing bahkan rasanya mau pecah saja mengingat siapa suaminya.
"Bunga bangun ,,,"
Panggil Raja membangunkan Bunga agar makan siang dulu.
"Bunga ,,,"
Dengan malah Bunga membuka kedua matanya bahkan matanya terlihat memerah saking kantuknya atau memang sakit kepala.
"Makan dulu ayo!"
"Nanti saja!"
"Bangun atau aku gendong!"
Bunga langsung melotot membuat Raja terkekeh seperti cara seperti itu cara terampuh agar membuat Bunga menurut.
Dengan sempoyongan Bunga berjalan menuju meja makan lalu duduk di sana. Aroma stik membuat Bunga membuka kedua matanya sempurna seolah memanggil cacing-cacing di perutnya.
"Cuci tangan dulu!"
__ADS_1
Tegur Raja membuat Bunga langsung mencuci tangan yang sudah di siapkan Raja. Bunga menggerutu dalam hati padahal mereka makan menggunakan garpu dan pisau kenapa harus cuci tangan segala.
Raja memotong-motong stik milik dia lalu memberikannya pada Bunga dan milik Bunga yang belum di potong Raja ambil.
"Biar gampang!"
Bunga tak protes karena perutnya sudah keroncongan. Bunga langsung memakan saja dengan rakus membuat Raja hanya diam saja melihat cara Bunga makan.
Bahkan Raja pula yang menyediakan air minum untuk Bunga.
Di perlakukan seperti itu bukannya senang Bunga malah ngedumel menganggap Raja hanya akting.
Ada salad juga untuk makanan penutup mereka.
Sudah merasa kenyang Bunga pergi begitu saja bahkan tak menyimpan piring kotornya di wastafel. Lagi-lagi Raja hanya diam saja tak protes atau apapun.
Raja langsung membersihkan saja lalu menyimpan kembali di tempat semula.
Karena Raja suka kebersihan Raja menyemprot dapur supaya tetap terjaga wanginya.
Raja baru bisa menyusul Bunga ke kamar, tak ada Bunga di sana namun Raja merasakan angin menerpa wajahnya bisa Raja tebak jika Bunga sedang berada di balkon.
"Apa nyaman?"
Bunga mendengus kesal kenapa juga Raja menghampirinya.
"Tak bisakah kita berteman, agar tak ada kecanggungan di antara kita!"
Tawar Raja semoga Bunga mau saja bagaimana bisa Raja mendekati Bunga jika Bunga bersikap ketus mulu padanya.
"Kau pasti sedang merencanakan sesuatu!"
Tuding Bunga membuat Raja menggelengkan kepala menyangkal tuduhan Bunga.
"Apa kamu mau bersikap seperti itu terus sedang kita tinggal satu atap!"
Kali ini Bunga terdiam karena besar kecilnya ucapan Raja sangat benar. Bagaimana bisa Bunga terus ketus pada pemilik rumah bisa-bisa ia di usir dan jika ia di usir ke mana Bunga pulang sedang Bunga tak mau mengecewakan kedua orang tuanya.
"Baiklah kita berteman!"
"Terimakasih!"
Ucap Raja bahagia setidaknya Bunga sudah mau terbuka pada dia.
"Kamu jangan takut walau kita berbagi kamar, aku akan tidur di shopa dan kamu tidur di ranjang ku!"
"Dan aku pastikan di sekolah tak akan ada yang tahu hubungan kita asal kamu juga bisa menjaganya!"
Ucap Raja membuat Bunga diam saja karena malas meladeninya. Bunga hanya bingung saja apa yang harus ia katakan karena setiap apa yang akan Bunga bicarakan Raja sudah menjelaskannya seolah Raja tahu isi kepala dia.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
Ucap Raja lagi berusaha membiarkan Bunga yang bicara sekarang.
Raja memandang ke depan sana karena Bunga tak kunjung bicara. Hanya keheningan yang tercipta.
"Berapa usia kamu?"
Glek ...
Dari sekian lama keheningan Bunga hanya bertanya tentang usinya sungguh membuat Raja hanya bisa menelan ludahnya saja.
"21!"
__ADS_1
Seketika Bunga langsung berbalik menatap Raja intens. Bagaimana mungkin usia Raja dua puluh satu sedang wajahnya saja terlihat masih anak sekolahan.
"Dua satu!"
"Hm, apa kau tak percaya!"
Bunga langsung membuang muka ketika Raja malah mendekatkan wajahnya.
"Kenapa kau menerima perjodohan ini?"
"Karena kau menggemaskan!"
"Jawaban apaan tuh!"
Kesal Bunga karena Raja malah mengajaknya bercanda padahal Bunga sangat serius menanyakan itu semua.
"Memang seperti itu kenyataan nya!"
"Mana ada, kau mau merayuku itu gak akan mempan!"
Sombong Bunga membuat Raja hanya bisa mengulum senyum geli.
"Hey, apa-apa an kau ini. Menyingkir dari pangkuanku!"
Kesal Bunga terkejut karena tiba-tiba Raja tidur di atas pangkuannya.
"Katanya teman, aku ngantuk biarkan seperti ini!"
"Dasar modus, menyingkirkan!"
Deg ...
Bunga terdiam dengan tubuh menegang ketika Raja membalikan tubuhnya membuat wajah Raja menempel di perut Bunga. Bahkan saking terkejutnya Bunga sampai menahan nafas.
Raja hanya tersenyum saja di balik perut Bunga. Wangi tubuh Bunga membuat Raja tenang entah pura-pura atau benar Raja terlelap di pangkuan Bunga.
"Raja!"
Panggil Bunga sambil menusuk-nusuk lengan Raja dengan telunjuknya. Raja tetap diam saja seolah tak merasakan apapun.
Bunga menyandarkan punggungnya kesadaran shopa hingga membuat Bunga bisa melihat wajah tampan Raja di atas pangkuannya.
Apa Raja benar sudah tidur atau belum Bunga tak tahu namun Bunga akui Raja memang tampan bak dewa Yunani bahkan hidungnya seperti Mesut Ozil.
"Dia suamiku apa aku benar-benar bisa menerima nya!"
"Hari ini dia baik apa tulus atau ke pura-pura an!"
"Ya Tuhan apa benar aku ini sudah menikah bahkan umurku baru menginjak enam belas tahun!"
"Takdir macam apa ini!"
Lilir Bunga sambil menatap lurus kedepan melihat langit begitu cerah.
Langit biru yang mulai berganti menjadi jingga pertanda waktu akan segera berganti.
"Ma, ayah apa Bunga bisa menjalani ini semua!"
Gumam Bunga tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
Bunga buru-buru menghapus air matanya ketika Raja bergerak semakin menempelkan wajahnya di perut Bunga.
Siapa yang tak akan sedih jika di usinya yang baru genap enam belas tahun Bunga sudah menikah. Apa dia masih bisa melakukan hal-hal seorang remaja pada umumnya. Apa Bunga juga masih bisa meraih cita-cita nya disaat keadaan sudah mengubah dia.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...