Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 6 Sisi lain Bunga


__ADS_3

Bunga benar-benar merajuk pada Amira bahkan bibirnya maju ke depan. Gara-gara Amira tak mau mengantarnya pergi ke swalayan.


Mang Sup mengerutkan keningnya melihat nona muda wajah imutnya di tekuk seperti itu.


Padahal tadi pagi sangat ceria bahkan senyam-senyum sendiri bak orang gila. Sekarang menggerutu tak jelas dengan wajah masam nya.


Entah apa yang terjadi mang Sup tak mau tahu karena tak mau di buat pusing sama nona muda nya.


Mang Sup memelankan mobilnya ketika lampu merah di depan.


Bunga menghela nafas pelan ketika mendengar suara orang yang mengamen. Bunga menurunkan kaca mobilnya, itulah salah satu yang tak banyak orang tahu kalau Bunga senang sekali jika ada pengamen mendekatinya.


"Dhe sini!"


Teriak Bunga melambaikan tangan mengisyaratkan agar anak-anak yang ngamen mendekat padanya.


Mang Sup tersenyum saja karena sudah tahu kebiasaan nona mudanya. Bunga pasti akan memberikan berapapun uang jajan yang ada di dompetnya.


"Ini panas Dhe, lihat kalian keringetan!"


Bunga merasa kasihan pada tiga anak yang mengamen di perkirakan usianya baru menginjak sepuluh, tujuh dan lima tahun.


Bunga turun dari mobil membuat mang Sup diam saja karena sudah menjadi kebiasaan Bunga seperti itu.


"Ikut kakak yuk, beli minum!"


Ketiga anak yang mengamen itu mengangguk bahagia sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi rapihnya walau sedikit kuning akibat jarang gosok gigi.


Bunga menggandeng tangan anak yang paling kecil menyebrang dimana ada Indomaret berada.


Orang-orang menatap Bunga aneh ada juga yang jijik karena melihat penampilan anak-anak yang ngamen begitu kotor.


Tapi tak ada yang berani menegur ketika Bunga membawa ketiganya masuk ke Indomaret.


Bagaimana mau menegur ketika mereka tahu jika Bunga keluar dari mobil mewah dan ada beberapa orang yang menjaganya.


Bahkan orang yang menjaga Bunga melotot pada orang-orang yang menatap aneh Bunga hingga mereka bungkam.


"Dek, ambil saja apa yang kalian mau nanti kakak yang bayar!"


Ketiga anak pengamen itu bersorak ria membuat Bunga tersenyum bahagia.


Bunga mendorong troli sedang ketiga anak itu yang memilih sendiri apa yang mereka mau.


"Kak, boleh kamu minta lebih untuk teman kamu yang lain?"


Pinta salah satu anak yang berusia tujuh tahun. Namun di pelototi oleh anak yang paling besar karena malu.


Bunga hanya tersenyum saja sambil mengangguk.


"Boleh, berapapun yang kalian ambil!"


"Yey, terimakasih kak cantik!"


Entah kenapa Bunga sangat bahagia sekali melihat anak-anak pengamen itu tersenyum. Padahal wajah Bunga tadi begitu masam tapi lihatlah sekarang Bunga tersenyum bahkan tertawa lepas bersama ketiga anak itu.

__ADS_1


Sudah selesai belanja Bunga langsung membawanya ke kasir.


Begitu banyak makanan, minuman, es krim dan alat mandi yang Bunga beli. Tanpa bicara Bunga mengambil salah satu credit card nya dan menyerahkan pada sang kasir.


Sesudah membayar semuanya Bunga terlihat kesusahan membawa banyak belanjaan anak-anak walau begitu Bunga tetap semangat.


Mang Sup langsung berlari mengambil alih barang belanjaan anak-anak lalu memasukannya kedalam mobil.


"Ayo masuk, kakak antar kalian pulang!"


Ketiga bocah itu masuk kedalam mobil dengan Bunga pindah ke depan.


Tanpa Bunga sadari sendari tadi tingkah dia di lihat oleh sepasang mata tajam namun meneduhkan.


Bibirnya tersenyum melihat bagaimana tingkah Bunga yang sangat menggemaskan. Apalagi senyumannya yang lepas tanpa beban.


"Tuan!"


"Ikuti mobil itu!"


Ucap sang taun tegas membuat sang supir mengangguk lalu mengikuti kemana mang Sup pergi.


Rumah pinggiran Jakarta membuat mang Sup kesulitan membawa mobil untung saja rumah tiga bocah itu tak terlalu dalam.


Bunga keluar di mana langsung di sambut oleh anak-anak yang lain seolah kedatangan Bunga sudah biasa bagi mereka.


"Kakak cantik!"


"Hay, apa kabar kalian!"


"Baik kakak cantik!"


Jawab anak-anak serempak membuat Bunga tersenyum.


Namun sialnya Bunga punya satu kekurangan dimana dia sulit mengenal orang, wajah atau dengan namanya apalagi orang itu jarang ketemu.


Walaupun Bunga sering berbagi namun Bunga suka lupa nama-nama satu persatu anak. Jadi Bunga memilih memanggil adik saja pada semuanya.


Bunga dan mang Sup membawa belanjaan itu ke tengah lapang namun tiba-tiba mang Sup terjatuh akibat menginjak batu kerikil membuat Bunga Juga ikut terjatuh hingga menciptakan gelak tawa dimana anak-anak juga ikut-ikutan terjatuh.


Mereka semua tertawa, mang Sup hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan senyum kakunya karena malu terjatuh.


Namun Bunga menjatuhkan diri agar mang Sup tak malu sendiri.


"Ok .. sudah .. sudah .., nih Kaka bagi jangan pada berebut ya!"


Teriak Bunga membuat anak-anak mengangguk. Bunga membagi rata semua makanan dan minuman tak luput juga dengan es krim bahkan mang Sup juga kebagian es krim.


Bahagia yang sederhana bagaimana kita yang menciptakannya. Hal nya yang Bunga lakukan dia bisa tertawa lepas hanya dengan melihat kebahagiaan anak-anak yang tak punya orang tua di mana mereka menyambung hidup dengan cara mengamen.


Tak cukup di situ Bunga juga memberikan uang yang ada di dompetnya. Sisa uang jajan yang bahkan jarang Bunga jajan kan.


Jepret ...


Jepret ...

__ADS_1


Orang yang sendari tadi mengikuti Bunga tak lepas mengabadikan momen kebersamaan Bunga dan anak-anak. Bahkan ketika Bunga terjatuh pun ada.


Orang itu buru-buru bersembunyi ketika menyadari jika Bunga akan pulang.


"Ok anak-anak kakak pulang dulu ya, ingat jangan berantem tapi kalian harus saling menyayangi satu sama lain, mengerti!"


"Mengerti kakak!!"


Bunga melambaikan tangan pada anak-anak dengan senyum cerahnya. Senyuman manis di hiasi gigi gingsul ya membuat senyuman Bunga semakin meleleh.


"Mang Sup!"


"Iya non,"


"Bagaimana kalau kita buat panti saja untuk tempat tinggal mereka. Bunga tak tega jika melihat mereka tinggal di sana!"


"Mamang setuju saja, tapi bagaimana buat rumahnya non, gajih mamang kan gak cukup belum lagi harus ngirim istri mamang!"


"Iya juga ya,"


Gumam Bunga berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.


Meminta pada sang ayah dan sang mama Bunga takut mereka tak setuju. Tapi, Bunga harus mendapatkan uang dari mana untuk bisa membangun rumah atau setidaknya membeli rumah untuk anak-anak.


Memakai uang tabungan juga rasanya belum cukup seperti nya Bunga harus berpikir keras untuk bisa mendapatkan uang.


"Sudahlah, nanti Bunga pikirkan!"


"Baik non!"


Kaki Bunga menginjak sesuatu membuat Bunga langsung menunduk. Ternyata gitar kecil yang di pakai anak-anak untuk mengamen. Seperti nya tertinggal tadi, Bunga mengambil gitar tersebut yang terlihat ada beberapa bagian senar nya yang sudah patah lalu di sambung.


Tanpa sadar Bunga tersenyum mengingat keceriaan anak-anak tadi.


"Mang, jangan kasih tahu mama dan ayah ya!"


"Siap non,"


Bahkan tanpa bicarapun mereka sudah tahu non!


"Bagus, awas saja kalau ngadu, Bunga potong gajinya!"


Perasaan yang gajih tuan besar non, bukan nona muda!


"Jangan non!"


"Bagus, ingat ini rahasia!"


Mang Sup hanya mengangguk saja sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sungguh nona mudanya sangat polos sekali terkadang menggemaskan terkadang menjengkelkan juga.


Tapi itulah Bunga, si bar-bar, si manja, si sembrono, dan semuanya ada pada Bunga.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2