Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 59 Curiga


__ADS_3

Sudah tiga hari Amira di rawat di rumah sakit paska kejadian itu. Bunga ingin sekali menemani Amira dua puluh empat jam namun sang suami tak mengijinkan apalagi ini hari Minggu hari bagi mereka berdua.


Bunga hanya di izinkan menengok saja dan tak mengizinkan lama di sana.


Bunga menurut saja apa kata sang suami selagi itu demi kebaikannya. Sepolos apapun Bunga ia tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk Raja.


Apalagi di sana tentu sudah ada Shofi yang menjaga.


Tidak hidup Shofi yang dalam bahaya kini Amira yang mengalami hal buruk. Sungguh Bunga ingin sekali membantu kedua sahabatnya namun apalah daya. Berantem pun tak bisa Bunga hanya jago mengomel saja.


Raja memanfaatkan waktu untuk terapi lagi mengajari sang istri banyak hal walau harus dengan penuh kesabaran menunggu Bunga bisa mengendalikannya.


Raja tersenyum melihat sang istri tidak sekaku pertama kali memegang pisau. Kini Bunga terlihat bisa mengendalikan ketakutan itu. Walau masih pelan-pelan memotong sayuran bak kura-kura berjalan.


Bahkan keringat dingin bercucuran membasahi pelipis Bunga. Dengan kerja keras pada akhirnya Bunga berhasil menyelesaikannya.


"Minum dulu sayang,"


Ucap Fatih sambil memberikan segelas air putih pada sang istri. Dengan cepat Bunga meneguknya sampai habis.


"Tinggal memasak ya!"


Bunga melotot tak percaya pada sang suami. Baru saja dia selesai berperang kenapa sekarang di suruh berperang lagi.


"Mas bantuin!"


Ucap Raja bergidik ngeri melihat sang istri yang melotot padanya.


Bunga menghela nafas memasak sayuran yang sudah ia potong sisanya Raja yang memotong.


Mereka berdua memasak bersama sambil bercanda karena Raja menjahili sang istri hingga membuat Bunga sedikit bisa mengalihkan rasa takutnya.


Lama kelamaan Bunga terlihat biasa tak se-takut itu. Bahkan tangannya sudah tak bergetar lagi sampai mereka selesai masak.


"Mas cicipi ya,"


"Kalau gak enak jangan di paksa mas!"


Raja mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.


Raja mencicipi pertama kali masakan istri tercinta walau dia juga ngebantuin.


Raja terdiam dengan kening mengerut sambil mengunyah.


"Gimana?"


Bunga harap-harap cemas melihat wajah sang suami yang tak meyakinkan.


"Lumayan!"


Jawab Raja singkat membuat Bunga mengerucutkan bibirnya. Bunga pikir skill masaknya masih ia kuasai nyatanya phobia itu membuat skill masak Bunga menurun.


Raja mengulum senyum melihat wajah cemberut sang istri.


Sebenarnya Raja sengaja mengatakan itu agar sang istri terus berusaha agar benar-benar terbiasa hingga Bunga bisa kembali masak.


Rasa masakan Bunga sangat lezat bahkan Raja berusaha memuji sang istri karena tak mau dengan pujiannya sang istri kegirangan sedang sang istri belum sembuh total.


Biarlah seperti ini dulu sampai Bunga benar-benar sembuh.


Bunga mencoba mencicipi masakannya seketika Bunga terdiam.

__ADS_1


Ini enak, kenapa mas Raja bilang lumayan. Apa seleranya tinggi!


Batin Bunga ketika mencicipi masakannya apalagi melihat wajah Raja seperti itu membuat Bunga berasumsi jika suaminya memang memiliki selera tinggi.


Seperti nya aku harus bekerja lebih keras lagi, agar mas Raja menyukai masakan ku!


Batin Bunga sambil menyimpan sendok dan garpu di pinggir piring.


"Kalau mas gak suka jangan di makan ya, kita beli saja!"


"No, sayang. Mas makan ini saja kalau di buang mubajir!"


Ucap Raja mencegah Bunga yang ingin membuang hasil masakannya. Bunga menatap Raja seolah meyakinkan apa benar Raja akan memakan masakannya yang katanya lumayan.


"Ya sudah!"


Pada akhirnya Bunga menyerah, Bunga mengambilkan makan untuk Raja. Ini kali pertama nya Bunga mengambilkan makan untuk Raja. Entah sadar atau tidak Bunga tak tahu Bunga hanya mengikuti insting saja.


Lagi-lagi Raja mengulum senyum melihat sang istri mengambilkan makan untuk dia.


"Tambah lagi sayang,"


"Bukankah mas gak suka terlalu banyak!"


"Buat kita berdua, makan sepiring berdua katanya dapat pahala dan akan terasa nikmat!"


Ucap Raja membuat Bunga mengangguk saja menambahkan nasi dan menunya hingga menjadi banyak.


"Sini,"


Ucap Raja sambil menepuk pahanya mengisyaratkan Bunga duduk di atas pangkuannya. Bunga menurut saja duduk di atas pangkuan Raja.


"Pakai tangan sayang,"


Mereka terlihat benar-benar romantis sungguh membuat jiwa jomblo meronta-ronta.


Ingin sekali seperti itu menciptakan hal-hal romantis walau timbul dari kesederhanaan.


Raja ngemut jari-jari sang istri ketika sudah selesai menyuapinya membuat Bunga merasa geli.


Aww ...


Jerit Bunga ketika Raja malah menggigitnya.


"Ih, mas tega banget!"


"Sedikit sayang,"


"Tau ah,"


Ketus Bunga turun dari pangkuan sang suami lalu membereskan semuanya. Raja hanya diam saja melihat apa yang di lakukan sang istri.


Raja pergi meninggalkan Bunga sendirian di dapur mencuci piring karena ada telepon masuk.


Raja masuk ke dalam kamar guna mengangkat panggilan dari seseorang.


Raja terlihat serius sekali, entah siapa yang menelepon Raja.


"Mas!"


Panggil Bunga membuat Raja buru-buru memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Iya sayang!"


"Telepon dari siapa?"


"Asisten mas,"


"Oh!"


Raja menghela nafas lega ketika Bunga tak bertanya lagi seperti nya Bunga tak mendengar ucapannya.


Jika Bunga sampai tahu busa gawat darurat.


"Sudah selesai cuci piringnya?"


"Heem!"


"Mau kemana?"


"Mandi!"


"Jangan dulu sayang, kita baru selesai makan tunggu satu jam dulu supaya makanan nya turun!"


Bunga mengangguk saja menurut apa kata suami.


Seperti nya Bunga malas berdebat apalagi melihat sikap Raja yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Padahal Bunga sempat mendengar Raja mengatakan jika ia tak boleh tahu. Entah apa yang sedang suaminya sembunyikan.


Walau penasaran namun Bunga memilih pura-pura tak tahu saja. Padahal Bunga tipikal orang yang kepo tapi pada Raja Bunga seakan segan mengetahuinya.


Bunga percaya Raja akan selalu jujur padanya. Mungkin memang ada urusan kantor atau apa sampai dirinya tak boleh tahu. Bisa jadi itu baik untuk Bunga tak tahu apa-apa dari pada tahu namun hal yang menyakitkan.


Bunga memilih menyibukkan dirinya dengan membereskan tempat tidur agar ketika tidur merasa nyaman.


Sedang Raja masuk kedalam kamar mandi guna menyiapkan terapi untuk sang istri.


Bunga melirik ponsel milik suaminya, jika kepo Bunga meronta namun akal sehat Bunga masih utuh hingga Bunga hanya bisa menahannya.


"Apa sih yang mas Raja sembunyikan!"


Gumam Bunga menatap nanar ponsel Raja yang tergeletak.


Walau hubungan mereka nampak baik tapi sampai sekarang Bunga tak berani mengecek-ngecek ponsel suaminya sendiri.


"Awas saja kalau selingkuh, ku potong burungnya biar tahu rasa!"


Kelas Bunga berkaca-kaca kenapa sekarang Bunga ingin menangis melihat sikap suaminya yang nampak berbeda dari biasanya.


"Sayang,"


Bunga pura-pura fokus membaca artikel membuat Raja tersenyum ternyata istrinya sedang membaca.


"Mas sudah siapkan terapinya, kita coba lagi ya!"


"Bagaimana kalau Bunga pingsan lagi mas!"


"Tak apa mas yakin sayang pasti bisa!"


Ucap Raja menyemangati sang istri agar mau terapi lagi.


Sikapnya masih manis dan lembut

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2