
Ucapan mang Sup terus terngiang-ngiang di ingatan Bunga bahkan sampai Bunga tak fokus belajar.
Jangankan belajar dengan keadaan sekitar pun Bunga tak fokus.
Fokus Bunga kembali ketika Amira menepuk pundaknya. Bunga terkejut melihat suasana kelas nampak hening dan di depan kelas terlihat Shofi, Fatih dan seorang wanita cantik seperti nya itu mama nya Fatih.
Bunga memerhatikan apa yang akan di lakukan Fatih kenapa Shofi ada di dalam juga.
Ha ... ha ...
Seketika tawa Bunga pecah bukan hanya Bunga saja tapi juga anak-anak lain ketika melihat Fatih di jewer sama orang tuanya. Apalagi Fatih terlihat sangat takut sekali.
"Ayo minta maaf pada Shofi!"
Geram Queen meminta putranya minta maaf. Namun Fatih merasa enggan bahkan menatap tajam Shofi.
"Maafkan gue!"
Cetus Fatih tak tulus membuat Queen malu melihat kelakuan putranya.
Pikiran Bunga sedikit teralihkan melihat drama di depannya. Sungguh Bunga tak menyangka jika Fatih juga bisa bersikap se imut itu.
Di luar saja sangat garang tapi di depan ibunya bak kucing betina saja.
Bunga menikmati tontonan gratis apalagi Bunga tak menyangka jika Shofi akan seberani itu. Sudah di pastikan seterusnya mereka akan jadi musuh.
Bunga melirik Raja yang diam di belakang sana. Lalu Bunga membuang muka ketika Raja melirik nya.
Entah apa yang Bunga rasakan kenapa juga melirik Raja untung saja Amira tak mencurigainya.
"Ra, lihatlah Fatih kaya anak kucing!"
Cicit Bunga sambil terkekeh sangat lucu melihat Fatih yang tak bisa berkutik.
"Diam, kau ini selalu saja suka ngomong di belakang!"
"Kalau di depan mana berani, Ra!"
"Ayo lawan Shofi, lawan lawan!"
Gumam Bunga mendukung apa yang Shofi lakukan.
Amira hanya diam saja karena merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Seperti nya Amira harus melapor lagi pada Tante Queen jika Fatih macam-macam.
"Ra, lihatlah wajah Fatih sangat merah mungkin malu he .. he ..,"
"Makannya jangan buli orang, dasar sok kuat!"
"Ayo Tante jewer terus!"
"Diam Bunga!"
Kesal Amira membekam mulut Bunga yang dari tadi terus nyerocos tak jelas.
"Ra, si ulat bulu ngapain mukanya gitu!"
Kepo Bunga melihat Amelia menatap tajam Shofi.
Seperti Shofi anak baru yang berhasil mengusik Amelia tampa di mengusik.
Bunga mulai kepo melihat Amelia menatap sinis pada Shofi. Kenapa bisa begitu apa masalahnya.
Plak ...
Bunga menepuk jidatnya sendiri lupa jika Amelia menyukai Fatih ya tentu Amelia tak menyukai siapapun yang berhasil mencuri perhatian Fatih.
"Seperti akan ada badai lagi, Ra!"
"Si ulat bulu kepanasan tuh!"
"Ha .. ha ... seperti nya Shofi akan jadi saingan nya!"
"Rasain makanan nya jangan kepedean Fatih miliknya!"
__ADS_1
Huh ...
Amira menghela nafas kasar sambil mengorek telinganya karena kesal dari tadi Bunga terus nyerocos mulu. Tak bisakah bibirnya diam untuk sekali saja. Kepo nya sungguh membuat Amira pusing.
"Sudah, aku pulang!"
"Kok gitu sih Ra, jangan di tinggal dong!"
Ucap Bunga berlari mengejar langkah Amira.
"Ra, tungguin!"
Kesal Bunga terus mengejar Amira tanpa memerhatikan langkahnya.
Bruk ...
"Awwsss ..,"
Pekik Bunga terkejut sambil mengelus keningnya yang terasa sakit.
Bagaimana tidak kesakitan jika Bunga menubruk pintu yang baru di buka.
"Hey pintu, jika ingin terbuka kasih tahu dong jangan asal buka saja kening mulus ku jadi korban,"
"Awas loe, sekali lagi halangi jalan gue. Gue bakar loe!"
Buk ...
Dengan kesal Bunga menendang pintu tersebut tanpa melihat sekeliling dulu di mana banyak orang dan ada juga guru.
Mereka semua hanya bisa melongo melihat kelakukan Bunga.
Bahkan sang guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Bunga yang absurd. Harusnya yang Bunga marahi bukan pintu tapi Aditya yang tiba-tiba membuka pintu ruang OSIS.
Bahkan Aditya yang ingin bicara pun hanya bisa menganga tak percaya dengan kelakuan Bunga.
"Ra, tunggu!"
Pekik Bunga baru sadar jika di sekeliling banyak orang. Karena sudah sangat malu Bunga langsung berlari sambil berteriak memanggil Amira bahkan yang sudah entah kemana.
Bunga terus saja menggerutu dengan wajah memerah karena malu.
Kecerobohan nya lagi-lagi membuat Bunga seperti bodoh di hadapan orang.
"Si Amira kemana lagi, tega tinggalin aku!"
Bunga terus saja menggerutu tak jelas dengan bibir manyunnya.
"Mang Sup!"
Rengek Bunga cemberut membuat mang Sup hampir saja menyemburkan minumannya.
"Ada apa non, kenapa kening non merah!"
"Gara-gara pintu sialan,"
"Ayo pulang!"
Mang Sup hanya bisa mengangguk saja melihat nona mudanya merajuk.
Bunga menjadi kesal sendiri sambil menghentak-hentakan kakinya.
Akhhh ...
Jerit Bunga sambil mengacak-acak rambutnya dengan mata berkaca-kaca.
Antara kesal, malu, bercampur jadi satu. Kenapa Bunga bisa se-ceroboh itu sungguh ini sangat memalukan. Semua gara-gara Amira yang meninggalkannya.
"Kenapa?"
Deg ...
Bunga terkejut ketika tiba-tiba Raja sudah ada di dalam mobil.
__ADS_1
Bunga melihat kedepan ternyata mang Sup sudah tak ada. Kapan mang Sup keluar dan kapan Raja masuk, bingung Bunga.
"Kenapa?"
"Keningku sakit!"
Rengek Bunga dengan mata berkaca-kaca menatap Raja sendu bak anak kecil yang meminta pertolongan.
"Sini aku lihat!"
Raja menyibakkan rambut Bunga ke atas terlihat jelas memang kening Bunga yang memerah akibat benturannya yang cukup kencang.
Piuhhh ...
Raja meniup kening Bunga dengan sangat lembut membuat Bunga terdiam.
Tiupan Raja benar-benar sangat nyaman membuat Bunga memejamkan kedua matanya.
"Sudah sembuh!"
"Masih sakit!"
Rengeknya manja sambil memegang tangan Raja.
Bunga bertingkah seperti itu seperti pada sang ayah saja. Bunga memang seperti itu jika sedang sakit. Sangat manja sekali bahkan lebih manja dari anak kecil. Jika Bunga sudah seperti itu berarti Bunga memang benar-benar nyaman dengan orang tersebut.
"Kita pindah dulu ke depan, nanti aku obati!"
Bunga dengan cepat pindah ke depan sambil merangkak. Tingkahnya benar-benar sangat menggemaskan membuat Raja tersenyum.
Raja pun ikut cara Bunga merangkak dari kursi belakang ke kursi kemudi.
Raja memasangkan kupluk pada Bunga agar poni Bunga tak menghalangi kening.
Perlahan Raja mengeluarkan salep yang sempat ia beli di jalan karena memang Raja melihat adegan di mana Bunga menubruk pintu.
Dengan pelan Raja mengoleskan salep tersebut. Terasa dingin menyerap pada pori-pori kening Bunga namun terasa nyaman.
"Sudah, nanti sembuh!"
Ucap Raja sambil mengelus pipi Bunga lembut. Bunga hanya mengangguk saja dengan wajah lucunya.
"Mau ikut ke kantor?"
Tawar Raja membuat Bunga terdiam antara ikut atau tidak karena tak biasanya Raja mengajak ia pergi ke kantor.
"Hm,"
Bunga hanya berdehem sambil mengangguk membuat Raja tersenyum.
Raja segera menjalankan mobilnya menuju ke kantor.
Tiba-tiba Bunga melirik Raja dengan kening mengerut. Sejak kapan Raja sudah berganti pakaian kenapa dari tadi Bunga tak sadar jika yang Raja pakai bukan seragam sekolah melainkan stail kantor.
"Ganti baju tadi di jalan!"
Ucap Raja seolah mengerti dengan kebingungan sang istri. Bunga diam saja tak tahu harus bicara apa.
Bunga berusaha berpikir keras apa yang akan terjadi di kantor jika ia ikut.
Tapi Bunga penasaran bagaimana kantor sang suami.
Bunga berharap dia akan merasa nyaman di sana jika tidak Bunga bisa meminta balik.
"Ada apa, apa ada yang di pikirkan?"
Tanya Raja sambil menghentikan mobilnya apalagi wajah Bunga sudah memerah seperti menahan sakit.
"Kebelet pipis!"
Dam ...
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...