Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 63 Tentang Amelia


__ADS_3

Bunga menatap sang suami yang terlelap terlebih dahulu sedang Bunga masih berjaga.


Bunga masih bingung kenapa sang suami tiba-tiba tak mau punya anak perempuan dan kenapa juga tiba-tiba membahas anak. Bunga benar-benar merasa aneh karena baru kali ini Bunga mendengar Raja mengucapkan kata baby.


Karena tak mau ambil pusing Bunga memutuskan tidur saja berharap hari esok akan baik-baik saja.


.


"Pagi sayang!"


Ucap Raja tersenyum cerah ketika Bunga baru membuka kedua matanya. Bunga terdiam melihat wajah sang suami yang nampak baik-baik saja. Bunga bernafas lega ternyata kekesalan sang suami sudah hilang.


Bunga memutuskan mandi ketika Raja sedang memasak. Bunga berharap hari ini Shofi sudah kembali masuk.


Rasanya kurang seru kalau salah satu di antara mereka tidak masuk sekolah.


Seolah mereka sahabat yang tak bisa di pisahkan satu sama lain.


Dan benar saja Shofi ternyata sudah kembali masuk sekolah. Semenjak Shofi sakit sikap Fatih jadi berubah membuat jiwa Bunga selalu meronta-ronta ingin mengupat.


Tapi Bunga tak seberani itu apalagi sang suami melarangnya.


Namun kedekatan mereka semakin kompak bahkan di sisa-sisa waktu kelas XII mereka terlihat akur semua. Kelas XII bukan lagi siswa yang mementingkan main melainkan mereka semakin giat belajar karena mempersiapkan untuk ujian.


Karena kelas XII biasanya waktu akan lebih cepat karena di sibukkan dengan pelajar lebih. Apalagi kalau sudah memasuki semester II. Bunga, Amira dan Shofi semakin giat belajar walau geng Fatih selalu saja ikut belajar bareng.


Halnya sepertinya saat ini mereka semua berkumpul di perpustakaan tentu Amira yang memimpin belajar.


Rangga dan Moreo tak bisa diam terus merebutkan Amira membuat Amira jadi kesal. Amira paling tak suka jika belajarnya di ganggu.


Bunga mengulum senyum melihat Moreo dan Rangga terdiam ketika Amira menatap mereka tajam.


Bunga masih adem ayem bersama Raja sedang Shofi bersama Fatih. Raja mendengarkan apa saja yang Bunga jelaskan padahal pelajaran itu sudah Raja kuasai.


Tak lama tiba-tiba Amira pergi sambil menggebrak meja membuat semuanya terkejut.


Bunga terdiam jika Amira seperti itu berarti Amira sedang kesal dan butuh sendiri. Bunga sudah faham betul bagaimana sikap Amira. Mungkin sebentar lagi Amira akan kembali dengan perasaan berbeda.


Dan benar saja Amira kembali setelah bisa mengendalikan dirinya.


"Ini buat kalian!"


Ucap Amira membawa minum untuk mereka bertujuh. Bunga hanya tersenyum saja melihat wajah Amira kembali ceria padahal Bunga tahu Amira sedang menahan sesuatu.


Sesi belajar pun sudah selesai apalagi besok adal ulangan kimia dan mereka harus giat belajar lagi.


Semuanya langsung pulang tapi Bunga pulang bukan bareng Raja melainkan dengan Amira dan Shofi. Ya, mereka bertiga sudah janjian bahwa Bunga akan mengantar Amira ke mall membeli sesuatu.


Amira yang menyetir, Bunga duduk di depan sedangkan Shofi duduk di belakang.


Jalanan Jakarta seperti biasanya sangat padat oleh kendaraan. Mau itu roda dua atau empat ada juga roda tiga.


Hingga Amira memelankan lajunya karena di depan lampu merah.


"Kita mau ke mana?"


Tanya Bunga pada Amira yang sedang fokus menatap ke depan.


"Ke mall!"


"Mau beli apa?"


"Kado, Aurora dua hari lagi kan ulang tahun. Itu sebabnya Oma Adelia pulang!"


"Oh iya, aku lupa!"


Sesal Bunga kenapa bisa lupa jika dia hari lagi Aurora ulang tahun yang tiga belas tahun.


Amira melajukan mobilnya lagi ketika lampu merah sudah berganti lampu hijau. Kali ini Amira tidak berkunjung ke mall tante Queen namun ke mall yang lain yang agak jauh sedikit.


Amira agak bingung membeli kado apa, apa lagi Aurora tidak menyukai barang-barang perempuan.


Jam tangan, boneka, baju Amira tak memilihnya. Apalagi Aurora tak terlalu menyukai boneka.


"Ra, dari tadi kita muter-muter tapi kamu gak dapat satupun barang!"


Kesal Bunga mulai bosan karena dari tadi terus muter-muter tapi tak ada satupun barang yang di beli.

__ADS_1


Shofi hanya diam saja tak mau berkomentar, walau sejujurnya Shofi juga merasa kesal dan lelah.


"Belikan saja topi yang bagus!"


Celetuk Shofi karena bingung melihat Amira yang pusing sendiri memilih hadiah. Sedang apa yang Amira katakan Aurora tak menyukainya.


Amira langsung menatap Shofi dengan intens lalu berpikir.


"Usul mu bagus juga ya, tapi apa Aurora akan menyukainya?"


"Aku gak tahu, bukankah kamu bilang Aurora sedikit tomboy!"


"Ah, iya juga sih. Coba aku kado ini saja!"


Putus Amira langsung melihat-lihat tapi gaya apa yang cocok untuk Aurora. Tentunya harganya juga tak kalah tinggi karena bahan yang di gunakan berkualitas.


Sesudah memutuskan membeli topi ketiga gadis itu bergegas mencari makan karena perut mereka mulai keroncongan.


Seketika Bunga menghentikan langkahnya ketika ekor matanya melihat seseorang. Hingga membuat Amira dan Shofi juga ikut terhenti.


"Ada apa?"


Tanya Amira heran kenapa Bunga menghentikan langkah mereka.


"Kalian lihat, bukankah itu si ulat bulu!"


Tunjuk Bunga ke arah eskalator, dimana ada Amelia di sana.


"Iya, terus kenapa. Ayo kita makan!"


Ucap Amira malas memerhatikan membuat Bunga menggeleng.


"Isst, lihat siapa yang bersama Amelia, dia kak Aditya. Sepertinya mereka berantem!"


"Apa hubungannya dengan kita, biarkan saja. Katanya mau makan, ayo!"


"Bunga!!!"


Geram Amira melihat Bunga malah menyelonong pergi mengejar Amelia yang seperti sedang tak baik-baik saja. Sikap kepo Bunga mulai kambuh, hingga Bunga tak peduli akan panggilan Amira.


"Ayo kita kejar Bunga,"


Hingga mereka terlibat aksi kejar-kejaran, namun, Amelia sama sekali tak menyadari kalau ada Bunga mengikutinya.


Amelia terus berlari mengejar langkah Aditya yang terus menghindar. Entah ada permasalahan apa di antara mereka. Membuat jiwa kepo Bunga meronta-ronta.


"Dit, berhenti!!!"


Teriak Amelia menahan segara amarah di dadanya. Hingga mereka sampai di lobi mall.


"Aditya berhenti!!"


Geram Amelia dengan raut wajah marah, menyesal dan sedih bercampur jadi satu.


"Ada apa, jangan temui gue lagi!"


"Loe gila hah,"


Bentak Amelia frustasi tak tahu harus bagaimana.


"Loe berani berteriak hah,"


"Ya, semuanya karena loe. Loe harus tanggung jawab!"


"Sampai kapanpun gue gak mau!"


"Loe harus tanggung jawab, gue gak mau nanggung aib ini sendiri!"


"Itu salah loe, kenapa loe menggoda gue!"


Plak ...


Satu tamparan melayang keras di pipi Aditya membuat Bunga yang mengintip langsung membulatkan kedua matanya.


"Dasar baji***n, seenaknya loe bilang gue menggoda loe. Ingat! kita sama-sama suka, dan loe sekarang tak mau tanggung jawab dengan apa yang loe lakukan hah,"


"Diam, gue masih muda, bagaimana dengan masa muda gue nanti. Gue gak mau, sudah gue bilang gugurkan saja baby itu!"

__ADS_1


Deg ...


Rasanya dunia Amelia seakan runtuh menimpa tubuhnya. Amelia tak percaya dengan ucapan Aditya. Bagaimana mungkin Aditya sekejam itu.


"Loe sudah gila hah, walaupun gue gadis gak bener tapi gue bukan pembunuh, apa lagi sampai membunuh baby gue sendiri!"


"Itu serselah loe, karena sampai kapanpun gue gak akan mau tanggung jawab dan gak akan pernah menerima baby itu!"


Bugh ....


Satu tinjuan melayang keras kearah Aditya hingga membuat Aditya tersungkur. Bahkan sudut bibirnya robek.


Aditya menggeram marah, pada orang yang sudah berani memukulnya tiba-tiba.


Deg ...


Aditya terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya. Yang menatap dirinya tajam, bahkan lebih tajam dari penghujung panah.


"Loe memang bajingan, harunya Tuhan tak pernah menciptakan loe di muka bumi ini!"


Bugh ...


Teriak Amira menggebu dengan luapan amarah yang sudah tak bisa di tahan lagi. Bahkan satu kali lagi Amira melayangkan tinju pada Aditya. Hingga lagi-lagi membuat Aditya tersungkur.


"Sitt,"


Umpat Aditya sangat terkejut melihat keberadaan Amira. Bahkan lebih terkejut lagi melihat Amira yang begitu marah dan menatap dirinya tajam. Seolah yang di hadapan Amira bukan lah Amira yang Aditya kenal.


"Loe harus mempertanggung jawabkan perbuatan loe, nikahi Amelia!"


"Cih, ngapain loe ikut campur, itu bukan urusan loe. Harusnya loe yang mengandung anak gue bukan wanita jal**g itu!"


Amira sungguh tak bisa lagi menahan Amarahnya. Amira kembali melayangkan tinju pada Aditya. Namun, kali ini Aditya bisa menghindar. Bahkan kini malah Aditya yang menyudutkan Amira.


Shofi yang sedang menahan tubuh Amelia yang sudah pingsan lalu memberikannya pada Bunga. Shofi tak bisa membiarkan Amira terluka. Shofi bisa melihat, kekuatan Amira tak sekuat kekuatan Aditya.


Bruk ...


Shofi menendang Aditya dari arah samping hingga membuat Aditya terpelanting menubruk mobil.


"Kamu gak apa?"


Tanya Shofi menahan tubuh Amira yang akan terjatuh.


"Tidak apa!"


Ucap Amira dengan nafas tak teratur, Amira masih menahan luapan amarahnya.


"Dia bukan tandingan mu, kamu bawa Amelia ke rumah sakit. Biar aku yang tangani laki-laki pengecut ini!"


"Tapi--"


"Percayalah,"


"Amankan bajingan itu!"


Deg ...


Shofi dan Amira terkejut mendengar suara seseorang. Shofi dan Amira kompak melirik ke arah sumber suara.


"Kamu tidak apa-apa, apa ada yang luka!"


Amira hanya diam saja tak bergeming, melihat wajah Alam yang terlihat mengkewatirkan kannya.


"Tidak!"


Sentak Amira refleks menepis tangan Alam yang akan memegang bibirnya.


"Apanya yang tidak, bibir kamu berdarah!"


Cetus Alam dingin, menatap tajam Amira.


"Dom, amankan bajingan itu. Dan kamu, bawa wanita itu ke rumah sakit!"


Perintah Alam pada asisten nya Bunga dan Shofi. Sedangkan Alam langsung menarik lengan Amira kasar.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2