
Aldi dan Jelita sendari tadi mengupat menantu gak ada akhlaknya yang mematikan sambungan tiba-tiba setelah memberi kabar yang mengejutkan tepatnya kabar bahagia.
Jelita sangat bahagia karena sebentar lagi ia punya cucu. Berbeda dengan Aldi yang berpikir membuat Jelita mencebikkan bibirnya kesal.
"Awas yah, jangan aneh-aneh lagi mama setuju kok Bunga hamil!"
"Aisst,"
Kesal Aldi karena sang istri tahu saja apa yang ia pikirkan.
"Pokonya besok ayah pesan tiket ke London mama ingin merayakan kehamilan putri bar-bar ku!"
"Lusa saja mah, besok aya--"
"Gak ada alasan, pokonya besok kita ke London!"
"Ya .. Ya ...,"
"Makasih ayah muachh ..,"
Girang Jelita sambil mengecup bibir seksi sang suami.
Apa yang Jelita lakukan sama persis dengan Raya yang bergelayut manja pada lengan kekar sang suami. Raya terus membujuk sang suami agar mereka besok pergi ke London.
Raya begitu antusias mendengar kabar jika putranya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Sayang pokonya besok kita harus pergi, titik!"
"Ayolah sayang, besok aku banyak pekerjaan nanti saja ya lusa!"
"No, pekerjaan serahkan saja pada Buron kita pergi!"
Kekeh Raya membuat Rijal kesal jika begini harus saja di turuti.
Kenapa para perempuan selalu tidak bisa menunggu atau memang para lelaki tabiatnya seperti itu seolah mereka tak senang mendengar kabar jika menantunya sedang hamil.
"Tak bisa begitu sayang, besok ada klien dari Singapura!"
"Aku gak mau tahu!"
"Ya sudah biar aku saja yang berangkat sendiri!"
Dam ....
Rijal mengacak rambutnya prustasi apalagi sang istri sudah marah begitu.
Rijal berlari mengejar sang istri yang merajuk bak anak ABG.
"Sayang, buka pintunya!"
Rijal menatap nanar pintu kamar yang di kunci dari dalam oleh sang istri. Jika sudah begini Rijal sendiri yang kelimpungan.
"Ok, kita berangkat besok!"
"Benarkah!"
Deg ...
Rijal terkejut ketika istri nya membuka pintu tiba-tiba.
Sungguh kelakukan para orang tua itu sangat menggemaskan di usianya yang sudah tak lagi muda namun tingkahnya masih saja seperti anak ABG.
Bagaimana Raja dan Bunga tidak bucin jika kedua orang tuanya saja seperti itu. Mereka akan selalu sosweet di setiap ada kesempatan.
Apalagi berita kehamilan Bunga membuat para orang tua sangat antusias. Momen yang di tunggu-tunggu telah tiba di mana mereka akan kehadiran anggota baru di keluarga mereka.
__ADS_1
Jika para orang tua sangat antusias begitu juga dengan Raja dan Bunga.
Bahkan sendari tadi Raja terus memeluknya sambil mengunyel-ngunyel perutnya membuat Bunga geli.
Pasalnya sendari tadi Raja terus muntah hanya dengan memeluk Bunga rasa mual itu hilang seolah Bunga bak magnet yang menarik rasa mual dan pusing itu hingga hilang seketika.
"Mas sudah geli ha .. Ha ..,"
"Mas gak sabar nunggu baby keluar!"
"Baru aja tahu mas,"
"Mas tinggal menunggu tujuh bulan dua puluh hari!"
"Iya .. Iya .., tidur yuk mas!"
Raja langsung mengangguk beringsut naik supaya sejajar dengan sang istri.
Bunga menyandarkan kepalanya di dada bidang Raja dengan Raja membelit erat pinggang Bunga.
Raja menyimpan dagunya tepat di pucuk kepala Bunga.
"Mas!"
"Hm,"
"Bagaimana dengan kuliah!"
Deg ...
Raja menegang baru ngeh akan hal itu seperti nya mereka harus membahas masalah ini serius pasalnya itu menyangkut impian Bunga sendiri.
"Mas terserah sayang saja!"
Bijak Raja tak mau mengekang sang istri biar Bunga sendiri saja yang memutuskan apa ia memilih terus kuliah walau sedang hamil atau memilih home schooling saja.
Bahkan masalah serius ini Raja malah menyerahkannya pada Bunga biar Bunga yang memutuskan karena Raja yakin Bunga pasti memutuskan hal yang terbaik apapun itu.
Perempuan hanya butuh di pahami hatinya makan hati perempuan sendiri yang bergerak memilah dan memilih yang terbaik untuk semuanya.
Karena Raja tahu logikanya tak akan pernah bisa di lawan dengan perasaan namun bagaimana caranya perasaan di lawan oleh kebijakan dan logika di lawan oleh pengertian.
Dua elemen itu pasti akan menyatu karena saling percaya dan mengerti.
"Berapa bulan perut Bunga kelihatan hamil!"
"Mungkin sekitar empat bulan!"
Bunga berpikir sejenak mana jalan yang harus ia ambil. Kehamilan adalah hal yang Bunga inginkan begitu sebuah impian yang Bunga dambakan.
Bunga hanya butuh menurunkan satu egonya saja agar tak ada pertentangan di antara mereka. Bunga percaya sang suami pasti akan selalu melindunginya.
"Apa boleh Bunga tetap kuliah sampai perut Bunga kelihatan. Kalau sudah kelihatan Bunga home schooling saja!"
Raja tersenyum mendengar kebijakan sang istri. Ini nilai plus Raja jatuh cinta pada Bunga terlihat kekanakan namun siapa sangka Bunga selalu mempunyai kebijakan-kebijakan tersendiri bagi kehidupannya.
"Apa tak masalah sayang, bagaimana dengan cita-cita kamu?"
"Itu mimpiku namun menjaga kalian sebuah kehausan!"
"Kenapa kamu selalu membuat mas di buat klepek-klepek sayang!"
"Mana ada!"
"Mas yang mengajarkan Bunga akan hal itu!"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya!"
Sikap dan sifat Raja yang dewasa dan selalu pengertian menjadikan Bunga lebih dewasa dalam mengambil sikap.
Bunga tak mau menyakiti perasaan sang suami hanya demi keegoisan ia. Selama ini Raja selalu mengalah dalam hal apapun bahkan rela vakum kuliah hanya demi melindunginya.
Bolehkah Bunga juga seperti itu toh kuliah bisa di lanjut kapan saja sedang menjaga momen kehamilan seperti ini sangatlah langka apalagi ini kehamilan Bunga yang pertama.
Bukankah suami istri memang harus seperti itu saling pengertian dan percaya apapun keputusannya itu yang terbaik toh walaupun ada yang keliru jangan di marahi tapi ajarkan mereka supaya belajar dari kesalahan.
"Bunga ingin menikmati momen ini walau harus mas yang ngidam, maaf ya!"
"Tak apa sayang, mas tak masalah jika harus mengidam di setiap kamu hamil. Lebih baik mas jangan kamu, kamu cukup mengandungnya saja!"
"Tapi kan Bunga juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengidam!"
"Jangan itu berat, biar mas saja!"
Bunga tersenyum mendengar ucapan manis sang suami sungguh sangat sweet sekali.
Jika suaminya seperti Raja hamil berapa kali pun Bunga sanggup asal dia kuat dan kehamilannya baik-baik saja.
"Sayang!"
"Hm,"
"Bagaimana dengan ayah?"
Bunga menengadahkan kepalanya guna menatap wajah tampan sang suami.
"Apa masih ada perjanjian lagi antara kalian?"
Bunga menatap curiga pada sang suami yang terdiam.
"Tidak!"
"Jangan bohong mas?"
Desak Bunga takut sang ayah menekan Raja lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Sudah mas jangan takut biar Bunga saja yang bicara dengan ayah!"
Raja mengulum senyum geli mendengar ucapan sang istri. Seolah Raja sedang berada dalam masalah besar hingga Bunga harus turun tangan. Mau di taruh di mana muka Raja jika harus bersembunyi di ketiak Bunga.
"Bicara apa sayang, mas suami kamu maka semuanya tanggung jawab mas!"
"Kita lihat saja besok, mereka semua akan ke sini!"
"Hah!"
Bunga terperanjat ketika sang suami bicara seperti itu. Raja hanya diam saja karena keceplosan tadinya Raja ingin membuat kejutan untuk sang istri.
"Beneran mas?"
"Huahh ..., tidur sayang mas sudah ngantuk!"
Ucap Raja sambil menguap membuat Bunga hanya bisa mencebikkan bibirnya.
Ternyata Raja bukan pembohong ulung, bahkan memberi kejutan saja sampai keceplosan begini.
"Tidur mama!"
Deg ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...