Si Bar-bar Bunga

Si Bar-bar Bunga
Bab 22 Menerima


__ADS_3

"Bunga menerima nya!"


Deg ....


Jawaban Bunga sungguh benar-benar sangat mengejutkan. Pasalnya mereka tahu Bunga sampai menentangnya bahkan berusaha kabur.


Entah apa yang membuat Bunga menerima perjodohan itu. Apa karena calonnya Raja atau ada hal lain yang mampu mengubah pikiran Bunga.


Bahkan Jelita dan Aldi pun terkejut dengan jawaban Bunga.


"Sayang!"


Lilir Jelita terkejut, Jelita tak mau mengorbankan putri semata wayangnya. Jelita tak mau putrinya menderita karena keegoisan dia.


"Nak, kami tak mau memaksa kamu jika kamu tak bahagia!"


"Siapa bilang!"


Lagi-lagi semua orang di buat terkejut dengan jawaban Bunga. Ada apa dengan Bunga kenapa jadi berubah pikiran.


Raja hanya diam saja melihat bagaimana sikap Bunga. Entah apa yang sedang Bunga rencanakan Raja tak tahu yang pasti Raja mencium bau-bau tidak beres di dalam keputusan Bunga. Namun Raja akan mengikuti alur yang Bunga buat.


"Nak, ada apa. Jangan khawatir akan sesuatu Tante Raya, Raja dan om Rijal pun sudah menerima keputusan dari kami!"


"Bunga tahu tapi tidak dengan hati kalian!"


Glek ...


Semua orang menelan ludahnya kasar karena memang benar. Terutama Raya dan Rijal yang berharap perjodohan ini tak batal.


Entah kenapa semua orang melihat Bunga nampak berbeda. Terlihat Bunga seperti Bunga yang tak biasanya.


"Dari awal ayah dan mama yakin jika pilihan mama adalah yang terbaik. Maka sekarang Bunga akan meyakinkan hati Bunga jika memang Raja yang terbaik!"


"Bunga tak kenal Raja tapi Raja selalu mengklaim Bunga calon istrinya!"


"Ma, ayah Bunga tahu kalian sangat menyayangi Bunga, memanjakan Bunga dengan segala yang kalian miliki. Jika kalian percaya pada Raja maka Bunga akan berusaha percaya jika memang Raja laki-laki terbaik yang kalian pilih!"


"Jangan patahkan keyakinan Bunga dengan rubahnya keputusan kalian!"


Jelita dan Aldi tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar segala penuturan putrinya.


Sejak kapan putri mereka bisa bicara sebijak itu. Mimpilah mereka jika iya tolong jangan bangunkan mereka biarkan Aldi dan Jelita melihat putrinya tumbuh dengan dewasa.


Bahkan tak ada Bunga manja dan menjengkelkan kali ini Bunga yang mereka lihat Bunga yang berbeda seolah mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Bunga hanya punya satu syarat!"


"Apa!"


Bukan Aldi ataupun Jelita yang menjawab melainkan Raja.


Raja menatap lekat Bunga seolah Bunga memang gadis satu-satunya yang sulit Raja baca dan fahami. Terlalu beresiko memahami segala tingkah Bunga.


"Jangan paksa Bunga untuk jatuh cinta, biarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Yang pada akhirnya hati Bunga sendiri yang memilih berlabuh pada siapa. Karena sekarang Bunga sangat membenci kamu!"

__ADS_1


Raja terkesiap mendengar syarat dari Bunga Raja pikir Bunga menginginkan berlian, mobil, kapal atau rumah. Nyatanya Bunga sedang membentengi hatinya dengan sebuah keputusan besar. Sungguh Bunga memang gadis ajaib yang baru Raja temui.


Sikapnya selalu berubah-ubah di setiap waktu dan kali ini bukan kecerobohan, sembrono ataupun kekanakan yang Raja lihat. Tapi, kali ini Raja melihat Bunga yang dewasa penuh ketegasan dan keanggunan.


"Bunga sayang mama sama ayah!"


"Jangan di kejar!"


Cegah Aldi membuat Raja terdiam, Aldi menatap kepergian putrinya dengan rasa kagum.


Begitupun dengan Jelita sangat faham setiap makna yang Bunga ucapkan.


Jelita sungguh tak menyangka putrinya yang setiap hari membuat kesal dan pusing tujuh keliling hari ini Putrinya membuat ia bangga sebagai orang tua.


Ada sisi lain yang tak mereka ketahui dari setiap tingkah kekanakan Bunga ternyata Bunga memiliki jiwa dan hati besar.


"Baiklah, jika putriku sudah memutuskan seperti itu!"


"Raja, kau harus ingat perjanjian itu!"


"Baik, Om!"


"Dan ingat! jangan kau jatuhkan setetes air matanya kerena kesakitan. Jika itu terjadi jangan harap kau bisa melihat putriku lagi!"


Glek ....


Raja menelan ludahnya kasar mendengar ancaman calon mertuanya sungguh sangat menakutkan.


"Kalian ngapain masih di sini!"


Ketus Jelita pada Raya dan Rijal membuat kedua orang itu menoleh.


Cetus Jelita membuat Raya dan Rijal tersenyum.


"Kau jangan khawatir semuanya beres jika Raja yang mengerjakannya!"


"Kok jadi aku sih dad!"


Protes Raja kenapa dia yang di bawa-bawa padahal Raja ingin sekali menyusul Bunga.


"Kau kan yang mau menikah, maka persiapkan sekarang!"


Ketus Raya pada putranya sambil menarik lengan Raja keluar dari ruangan Jelita.


Sungguh kedua keluarga itu benar-benar sangat aneh bin ajaib. Tingkah mereka sangat-sangat absurd.


Jelita dan Aldi hanya terkekeh saja melihat Raja di tarik oleh Raya keluar.


"Apa kau bahagia mah?"


"Sangat sangat sangat!"


"Benarkah!"


"Ya, ternyata putriku sudah dewasa!"

__ADS_1


"Terimakasih sudah memberiku putri yang manis!"


"Terimakasih juga karena sudah melahirkannya, kau ibu yang hebat dan istri yang istimewa!"


"Mama mau pulang!"


"Jangan sekarang mah!"


"Mama sudah tak nyaman di sini!"


"Nanti Bunga curiga!"


"Oh iya mama lupa!"


Kekeh Jelita sambil menepuk jidatnya sendiri membuat Aldi gemas.


.


Bunga duduk di taman rumah sakit sendirian dengan tatapan lurus kedepan.


Bunga tak tahu apa keputusannya sudah benar atau tidak. Bunga hanya tak mau menyakiti hati kedua orang tuanya terutama sang mama.


Bunga akan melakukan apa saja agar sang mama dan sang ayah bahagia.


Jika kebahagiaan mereka melihat dirinya menikah apa boleh buat. Bunga tak mau membuat sang mama berada di rumah sakit karena dirinya.


Bunga akan menikah walau Bunga tak tahu seperti apa pernikahannya nanti.


Di usinya yang baru menginjak enam belas tahun Bunga akan melepas masa remajanya. Sungguh menggelikan sekali, apa bisa Bunga menjalani pernikahan dini ini.


Rasanya ini seperti mimpi namun Bunga melihat dunia jika ini memang bukan mimpi ini nyata sangat jelas sekali.


Tatapan Bunga teralihkan ketika melihat sepasang suami istri dimana suaminya sedang mengajak istrinya yang hamil besar jalan-jalan. Terlihat sangat romantis sekali apalagi suaminya begitu telaten menjaganya.


Tak terasa Bunga tersenyum melihat semua itu. Apa Bunga juga akan seperti pasangan di sana terlihat saling mencintai satu sama lain.


Apa Raja akan memperlakukannya dengan baik atau tidak. Sedang Bunga tahu Raja sosok pemaksa sekali dan selalu membentak dia. Apa Bunga nanti bisa bertahan tinggal dengan sosok itu.


Sungguh Bunga tak bisa membayangkan jika Raja kasar seperti yang Raja lakukan pada dirinya di sekolah. Ingin sekali Bunga menarik ucapannya namun nyatanya nasi sudah menjadi bubur.


Bunga hanya bisa menelannya dengan paksa walau itu terasa pahit. Bunga hanya berharap Raja tak seperti itu. Bunga berharap Raja seperti laki-laki yang Bunga lihat di depan sana yang sedang bercanda dengan istrinya.


"Lihat saja kalau Raja berani membentak ku, akan ku adu pada ayah!"


Gumam Bunga merasa tak takut karena ada sang ayah yang selalu melindungi dia.


Tiba-tiba Bunga tersenyum seringai entah apa yang Bunga pikirkan dari cara senyum nya terlihat seperti Bunga sedang merencanakan sesuatu yang buruk.


Bunga memang selalu punya kejutan di setiap tingkahnya. Entah siapa yang akan memenangkan dalam pernikahan ini, Bunga atau Raja.


"Ok Bunga, jangan biarkan laki-laki sinting itu menang!"


"Kamu putri ayah dan mama, bahkan kamu selalu membuat mereka kesal jadi apa bisa kamu membuat Raja kesal juga!"


Monolog Bunga pada dirinya sendiri seolah Bunga sedang merencanakan sesuatu yang benar-benar buruk.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2