Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Pencapaian


__ADS_3

“ Ngobrol sama siapa tadi ? “ tanya Julio sambil mengamit pinggang Andhara berjalan keluar dari rumah sakit.


“ Siapa ? “ tanya Andhara mengernyit. Mencoba mengingat, bertemu dan berbicara dengan siapa saja dirinya tadi selama tidak bersama suaminya. “ Oh, yang tadi ? “


Julio mengangguk.


“ Hehehe … Dhara lupa nggak tanya namanya. “ cengir Dhara.


“ Kebiasaan kamu. Suka ngobrol sama siapapun, tapi nggak tanya siapa orang itu. “ omel Julio.


Begitulah Andhara. Pembawaannya yang supel, mudah ngobrol dengan siapun tanpa mengenal genre maupun usia. Tapi satu kelemahannya. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan yang namanya perkenalan.


Menurutnya, pengen ngobrol, ya ngobrol aja. Toh belum tentu besok – besok ketemu lagi kan ? Ngapain menuh – menuhin memory otak buat ngafalin nama orang. Jikalau memang ketemu lagi, ya udah ngobrol lagi aja. Simpel kan ? Itulah pendapat seorang Andhara Nurmalia.


“ Eh, tapi kasihan loh bang nenek tadi. “


“ Kenapa ? “ kini Julio yang mengernyitkan dahinya berlipat.


“ Dia sering kena serangan darah tinggi. Mungkin kebanyakan mikirin anak – anaknya. Masak kata nenek tadi, dia Cuma tinggal dan di rawat sama cucunya. Mana cucunya laki – laki lagi. Kan kasihan. Udah sepuh gitu, tapi apa – apa sendirian. “ keluh Andhara.


“ Terus. Anak – anaknya pada kemana ? “ Tanya Julio sambil memencet tombol key lock mobilnya.


Andhara mengangkat kedua bahunya. “ Nenek Cuma bilang, anak – anak sama menantu – menantunya hidup di luar kota semua. “ jawab Andhara.

__ADS_1


Jebles


Pintu mobil di tutup oleh Julio setelah Andhara masuk dan duduk dengan rapi di bangkunya. Lalu ia berjalan mengitari mobil dan masuk lewat pintu kemudi.


“ Mereka nggak peduli sama nenek. Yang peduli terus yang mau nemenin nenek Cuma cucunya. “ sendu Andhara kala sang suami mulai melajukan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.


“ Dhara jadi kepikiran emak, ayah, sama bunda. “ lanjut Dhara lirih.


“ Kenapa ? “ tanya Julio sambil fokus ke depan. Ia masih berkonsentrasi keluar dari area rumah sakit, karena jalan depan rumah sakit adalah jalan raya besar. Jadi ia harus hati – hati saat keluar, kalau tidak mau di hantam oleh pengendara yang lain.


“ Emak, Cuma punya anak satu. Dhara doang. Ayah, sama bunda juga Cuma punya abang. Nanti kita harus gimana ? Kalau mau tinggal sama emak, nemenin dan ngerawat emak, nanti ayah sama bunda sama siapa ? Kerjaan abang juga gimana ? Kan nggak mungkin selamanya abang dinas di Bojong Burut. “ Dhara bicara dengan nada pelan dan penuh kekhawatiran.


“ Tapi kalau kita tinggal sama ayah, sama bunda, emak gimana ? Emak di kampung juga sendirian. “ lanjutnya.


“ Ada banyak jalan membuat mereka para orang tua kita untuk bahagia, juga merasa tidak di tinggalkan meskipun kita tidak tinggal bersama mereka. Semua tergantung kepada kita, sebagai anak – anaknya. Jika memang kita ingin sellau memperhatikan dan merawat mereka, Allah pasti memberi jalan. Tapi mungkin anak – anak dari nenek yang kamu bicarakan tadi, memang tidak ingin memuliakan orang tuanya. “ ucap Julio sambil menatap ke arah jalanan tapi sesekali melirik ke arah sang istri yang nampak mengangguk – angguk.


“ Misalnya, kita bisa ajak emak tinggal sama kita di Bandung. Kita rawat emak, sama – sama merawat ayah sama bunda. “ lanjut Julio. “ Atau kita bisa ngadon anak yang banyak. Mmmm…. Laki – laki 2, lalu perempuan 2. Nah, kita bisa bagi rata kan ? Buat ngerawat emak 2, buat ngerawat ayah sama bunda 2. “ candanya. Membuat Andhara mengernyit sambil cemberut.


“ Oh lupa, nambah 2 lagi. Buat ngerawat kita. “ lanjut Julio sambil nyengir.


Plak


Andhara memukul lengan kiri Julio membuat si empunya mengaduh.

__ADS_1


“ Yang ini aja belum keluar. Udah mikir nyetak lagi. “ sengak Dhara. “ Mau punya 6 anak ? Emang di kira Dhara tuh kucing. Yang kalau mau ngelahirin tinggal ngeden, brojol deh. Di pinggir jalan juga jadi. “ lanjutnya ketus. Dan tergelaklah Julio.


“ Sayang, mana mungkin abang nyamain kamu sama kucing. Orang cantik, bahenol gini kok. “ goda Julio sambil menoel dagu Andhara yang membuat Andhara mendelikkan matanya kesal.


“ Kamu kan perlu hamil sama ngelahirin 3 kali doang, sayang. “ lanjutnya masih ingin menggoda sang istri.


“ Gimana bisa 3 kali doang ? “ protes Andhara sambil memperlihatkan 3 jarinya. “ Abang kan anak MIPA kan ? Masak matematika dapet nilai 6 doang. “ lanjutnya.


“ Nih ya bang, yang ini kan 2. “ jelasnya sambil menunjuk perutnya yang sedikit buncit. “ Kalau abang ngerencanain punya anak 6, berarti Dhara harus hamil sama ngelahirin 5 kali dong. Gimana ceritanya 3 kali doang. Bisa 3 kali, kalau yang 2 kali, kecebong abang titipin ke perempuan lain ! “ sengaknya.


“ Hush !! Kamu ! Nggak mungkin abang main gila sama perempuan lain. Abang udah cukup gila sama kamu aja. “ sahut Julio. “ Maksud abang kamu hamil 3 kali itu, berarti tiap hamil, kita ngadonnya biar jadi double terus. Jadi cukup hamil 3 kali, dapet 6 anak. “


“ Dhara mesti mbrojolin anak kembar terus, gitu ? Bisa – bisa badan Dhara melar sampe segede toren air isi 3000 liter dong. Kalau baru hamil sekali anak kembar aja, porsi makan Dhara udah sebanyak apa. “ Kembali Julio tergelak.


“ Bang, Dhara jadi kangen sama emak. “ ucap Dhara dan membuat Julio menghentikan tawanya. “ Pengen pulang, bang … “ rengeknya.


“ Emak belum lihat perut buncitnya Dhara. Pasti emak seneng banget deh lihat cucunya udah nangkring di perut Dhara. Mana 2 lagi. “ lanjutnya masih merengek.


“ Dhara juga kangen squadnya Dhara. Dhara pengen pemerin pencapaian Dhara kali ini. Dhara bisa paling terdepan dari mereka berempat. Seorang Andhara Nurmalia yang terkenal paling heboh, paling bar – bar, dan juga paling ngangenin, berhasil nyetak dedek bayi. Double lagi. Hebat, kan ? “ lanjutnya masih dalam mode manja.


“ Iya. Weekend, kita nengokin emak. Sekalian kita bilang ke emak, kalau abang, harus pindah ke rumah sakit terus. Abang udah nggak di tugasin di kampung Bojong Burut lagi. “


“ Hah?? APA ? What the …???? “ pekik Dhara terkejut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2