
“ Tunggu … Tunggu … Pak Sofyan. “ pekik Putra.
“ Apaan sih ! Kaget gue ! “ sungut Soni sambil mengusap dadanya.
“ Diem loe ah ! “ sengak Putra balik. “ Pak Sofyan, ulang lagi beberapa menit. “ pintanya ke pak Sofyan.
“ Ngapain pakai di ulang lagi sih ah. Arisa tuh di culik. Kita harus tahu di bawa kemana dia secepetnya. Kalau di ulang lagi nontonnya, bakalan makin lama. Keburu Arisa nya di paketin ke luar negeri. “ cerocos Soni.
“ Diem dulu elah. “ Putra meraup wajah Soni dengan tangan kirinya, sedangkan pandangannya masih terpaku ke layar monitor cctv.
“ Gue minta Pak Sofyan ulang balik rekamannya, soalnya gue curiga sesuatu. “ lanjutnya.
Pak Sofyan kembali mengulang rekaman ke beberapa menit sebelumnya.
“ Tuh, si Arisa keluar dari gerbang. “ Soni mengoceh. “ Terus tuh cewek datang tiba – tiba, terus Arisa di gendong. “ lanjutnya. “ Udah jelas kan, kalau Arisa di culik sama tuh cewek. “ lanjutnya lagi.
“ Pause dulu Pak Sofyan. “ pinta Putra. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa lebih dekat ke monitor. Ia menatap lekat monitor. Ia merasa tidak asing dengan topi yang di kenakan cewek yang mengajak Arisa pergi.
“ Gue kok kayak nggak asing sama topi itu. “ gumamnya.
“ Mana sih ? “ beo Soni. Ia pun ikut mencondongkan tubuhnya mendekati layar monitor. “ Topi kayak gitu mah banyak di toko. Ngapain loe kek kepikiran gitu sih ? “
“ Loe coba perhatiin. Body tuh cewek sepertinya juga nggak asing. “ ucap Putra kembali.
Soni menyipitkan kedua matanya guna memperhatikan gambar di layar monitor lebih seksama. “ Hisss… Tau’ lah. “ jawabnya.
Putra masih tak bergeming. Ia masih mengamati gambar di layar monitor. Ia masih merasa mengenal perempuan yang membawa Arisa. Putra menautkan kedua alisnya. Tas itu. Yah, aku yakin tas itu. Gumam Putra dalam hati.
“ Lila. “ gumam Putra.
“ Lila ? Mana ? “ Soni malah menoleh ke belakang. “ Nggak ada siapa – siapa. “ lanjutnya sambil kembali pandangannya ke depan.
“ Itu Lila. Gue yakin. Yang bawa Arisa pasti Lila. “ ujar Putra mantap.
“ Jangan asal nuduh loe ! “ sarkas Soni. “ Yang bikin loe yakin itu Lila apaan ? “ tanyanya.
“ Topi itu punya gue. Tas itu, gue yang beliin. “ ucap Putra tanpa pikir panjang.
__ADS_1
“ Ha ? “ Soni sontak menoleh ke arah Putra yang masih memandang layar monitor. Putra masih dengan wajah seriusnya, dan Soni dengan wajah cengonya.
“ Loe bilang apa tadi Put ? Loe beliin si kodel Lila tas ? “ tanyanya sambil menarik bahu Putra supaya Putra menoleh ke arahnya.
“ Apa ? Loe tanya apa ? “ Putra bertanya karena ia tidak ngeh dengan pertanyaan Soni.
“ Loe, beliin tas ke Lila ? Yang bener loe ? Aneh tau nggak ? “ tanya Soni.
“ Oh. Itu … “ Putra bingung harus menjawab apa. Ia mengusap tengkuknya. Sedangkan Soni menautkan alisnya dalam sambil menatap Putra yang terlihat kebingungan dalam menjawab.
Mampus gue. Kenapa jadi kelepasan sih ! rutuk Putra dalam hati.
“ Jawab dulu pertanyaan gue ! “ kekeh Soni saat Putra berusaha mengalihkan perhatiannya. “ Gue curiga sama loe. “ ia memicingkan matanya.
“ Nggak. Gue .. “
“ Assalamu’alaikum. “ suara seorang gadis yang di buat mirip suara anak kecil menyapa mereka. Dan tentu saja mengalihkan perhatian Soni. Karena sontak mereka bertiga menoleh ke belakang.
Nampak Arisa sedang memakan es krim dengan bibir yang belepotan di gendongan Lila.
“ Astagfirullah hal adzim !!!! “ geram Soni. Ia mendekat ke arah Lila, lalu menjewer telinga Lila.
“ Loe tuh udah bikin gue sama Putra hampir kena stroke di usia yang masih begitu muda. “ cerocos Soni membuat Lila mengernyit. Lalu memandang Putra seolah meminta jawaban.
“ Kenapa loe bawa Arisa nggak bilang – bilang sama kita ? “ Putra justru terlihat menahan kesal.
“ Lah, gimana gue mau bilang ? Loe berdua tidur udah kayak orang pingsan. Gue panggilin loe berdua nggak ada yang dengar. Ya udah, gue kasihan sama baby Arisa mainan sendiri. Gue ajakin lah dia ke minimarket depan komplek. Gue beliin dia es krim. “ jawab Lila tanpa rasa bersalah.
“ Hah. “ Soni menghela nafas kesal bercampur lega. Lalu ia meninggalkan Lila dan Putra juga Pak Sofyan di depan pos penjaga.
Ia berjalan melangkah ke dalam rumah. Lalu di ikuti Putra. Ia juga masih kesal dengan sikap Lila yang sudah membuatnya kalang kabut.
“ Dih, mereka pada kemana ? Kok gue di tinggalin sih. Gue kan capek habis gendong baby Arisa dari depan komplek. Si Putra lagi tuh. Nggak kasihan apa dia sama gue ? sebenarnya, dia tuh sayang nggak sih sama gue ? “ oceh Lila sambil menggendong baby Arisa dan pandangannya ke dua laki – laki yang sudah meninggalkannya.
“ E kim. Nti, au ? “ celoteh Arisa.
Lila tersenyum lalu menggeleng. “ Arisa makan aja sendiri ya. Onty takut giginya keropos kalau mamam es krim. “ jawabnya.
__ADS_1
“ Mas Putra sama mas Soni pasti kesel tuh neng. Tadi mereka sampai ngelilingi komplek nyari neng kecil. Mereka ngiranya teh si neng kecil di culik. “ jelas Pak Sofyan yang sedari tadi mendengar ocehan Lila.
“ Ha ? Oh, gitu ya pak ? Ya udah deh, Lila masuk dulu. “ pamit Lila dan Pak Sofyan mengangguk sambil tersenyum.
Lila masuk ke dalam rumah, dan dia mendapati Soni dan Putra sedang duduk di sofa sambil menopang dagu mereka.
Ketika sampai di dalam rumah, si kecil Arisa langsung meronta meminta turun.
“ Iya, bentar sayangnya onty. “ ujar Lila sambil menurunkan Arisa. “ Jangan lari – lari Arisaa… Awas jatuh. “ pekiknya kala melihat si kecil Arisa berlari menuju ke halaman belakang di mana Orion sedang bermain dengan Sabil dan Via.
“ Sorry, udah bikin kalian bingung. Kalian pasti ketakutan si Arisa pergi. Iya kan ? “ ujar Lila dengan rasa bersalahnya.
“ Loe tuh ya Lo. Loe nggak tahu gimana paniknya dan cemasnya kita saat kita bangun, Arisa nggak ada di rumah ini. “ ujar Soni.
“ Iya, gue minta maaf. Habisnya tadi gue kasihan sama si kecil. Dia mainan sendiri. Ya udah, gue ajakin beli es krim, dia terus seneng banget. “ jawab Lila. Tapi bukan Soni yang ia tatap. Tapi Putra. Seolah ia hanya menjelaskan hal itu ke Putra dengan wajah sendunya.
Soni yang memang orang yang lumayan sensitif terhadap sesuatu, ia mengernyit, sambil memicingkan matanya menatap kedua sahabat yang sedang saling berhadapan di sampingnya.
“ Kayaknya ada yang aneh deh. “ ujarnya memecah suasana. Putra dan Lila menoleh ke arah Soni bersamaan, lalu saling pandang.
“ Asli sumpah, kalau kalian nggak kasih tahu gue sekarang, gue bakalan marah sama kalian berdua, dan gue nggak mau berteman sama kalian berdua lagi. “ ancam Soni dengan wajah seriusnya.
“ Son, kok loe ngomongnya gitu sih ? “ sahut Putra. Ia yang memang sudah bersahabat lama dengan Soni, tentunya ia paham dengan raut wajah Soni saat ini.
“ Lo, kasih tahu gue sekarang, atau loe jangan pernah dateng ke kost an gue lagi. “ kini Soni menghadap Lila.
“ Loe apaan sih ah. “ Lila berusaha mengelak.
“ Ah, kalian nggak asyik. “ seru Soni. “ Apa susahnya sih kalau kalian ini cinlok. Cinta lokasi. “ lanjutnya kesal.
Ucapan yang mampu Lila dan Putra kicep dan hanya bisa saling pandang sambil menelan salivanya susah payah.
“ Udah, nggak usah pasang tampang sok kaget gitu. Gue bukan orang yang bo doh ya. Gue bisa lihat dari tatapan mata kalian. Terus apa tadi, Putra bilang, beliin loe tas. Kalau kalian nggak ada apa – apa, nggak mungkin Putra beliin loe tas. “ cerocos Soni. “ Sumpah, gue males banget sama kalian. “ lanjutnya, lalu beranjak berdiri meninggalkan sepasang manusia itu.
“ Son …. Soni …. Jangan gitu lah. “ seru Lila memanggil. Tapi Soni tetap melangkah.
Putra berdiri lalu merangkul leher Soni dari belakang. “ Son, jangan ngambek gitu lah. Iya, gue minta maaf, nggak bilang sama loe. “ ucapnya dan hanya di jawabi decakan dari mulut Soni.
__ADS_1
Bersambung