
“ Abang ih!! “ protes Dhara. “ Dhara mau di bawa kemana sih ? “ tanyanya kesal karena sang suami menariknya entah di bawa kemana. Bahkan sang suami sudah mengenakan jas putih khas dokternya.
“ Bentar lagi kita akan tahu. “ jawab Julio sekenanya.
Tok … Tok … Tok ….
“ Obygyn ? “ Dhara membaca papan nama yang ada di pintu yang di ketuk Julio. “ Dokter kandungan bukan ? “ monolognya. “ Dokter kandungan bang ? “ tanyanya ke suami.
“ Hem. “ jawab Julio.
“ Ngapain kita kesini ? Bukannya jadwal periksa dedek masih 2 minggu lagi ya ? Lagian, ini bukan tempat prakteknya dokter kandungan Dhara kan ya ? Kayaknya tempatnya di sana deh. “ tunjuk Dhara sambil menunjuk ke arah lain dengan tangan kirinya karena tangan kanannya tetap dalam genggaman Julio.
Ceklek
Pintu yang tadi diketuk oleh Julio terbuka dari dalam. Memperlihatkan seorang suster yang sedang tersenyum.
“ Dokter Julio ? Tumben pagi – pagi mampir kesini ? “ sapanya sopan.
“ Dokter Lulu ada ? “ tanya Julio.
“ Ada, dok. Beliau juga baru sampai. Mari silahkan masuk. “ suster itu membuka pintu lebar dan mempersilahkan Julio masuk.
“ Dokter Lulu ? “ gumam Andhara. “ Siapa dokter Lulu bang ? “ tanyanya sambil mendongak menoleh ke arah Julio.
“ Nanti juga tahu. “ jawab Julio sambil menarik kembali tangan Andhara dan di bawa masuk ke dalam ruangan itu.
“ Nanti juga tahu. “ gumam Andhara meniru ucapan sang suami. “ Dari tadi di tanya jawabannya nanti juga tahu. “ lanjutnya. Sampai – sampai sudah berada di dalam ruangan dan di depan seorang dokter yang sudah paruh baya, tapi terlihat masih sangat cantik, ia tidak menyadarinya.
“ Silahkan duduk. “ ucap dokter Lulu mempersilahkan. Suara yang membuat Andhara tersadar. ‘ Loh, ini bukannya dokter yang kemarin ? Jadi, namanya dokter Lulu ? ‘ gumam Dhara dalam hati. ‘ Kenapa gue nggak ngeh sih kemarin. Dasar elo, Ra!! Kebiasaan deh . Tapi... bukan salah gue juga dong kalau nggak tahu. Ruangannya aja beda. ‘ lanjutnya.
__ADS_1
“ Belum waktunya periksa, kok udah kesini ? Apa ada yang di rasakan ? “ tanya dokter Lulu.
“ Tidak dok. Saya hanya ingin mengecek sesuatu. Dan sesuatu itu, hanya bisa terlihat dengan melakukan USG. “ jawab Julio. Andhara menatap suaminya dan dokter Lulu bergantian sambil mengernyit.
“ Dedeknya kenapa, bang ? “ tanyanya sambil memegangi perutnya dan terlihat panik.
“ Nggak ada apa – apa. Dedek baik – baik saja. “ jawab Julio lembut sambil mengusap puncak kepala Andhara.
“ Oke, kita lihat bareng – bareng ada apa ini . Nyonya Julio, bisa naik ke ranjang ? Biar saya USG. “ pinta dokter Lulu, dan sang asisten segera membantu Andhara naik ke atas ranjang, membuka baju bagian perutnya, dan menutup kaki Andhara dengan selimut.
“ baik, dokter Julio. Kita lihat ada apakah gerangan yang membuat anda ingin melakukan USG. “ ucap dokter Lulu sambil tersenyum dan mulai menggerakkan alat USG di atas perut Andhara. Beliau menggerakkan alat itu perlahan, memutar di atas perut Andhara.
Dan Julio juga nampak serius memperhatikan ke layar televisi yang menampilkan isi kandungan sang istri. Sedangkan Andhara mengernyit dalam memperhatikan raut wajah suaminya dan dokter kandungan itu bergantian.
Seketika dokter Lulu tersenyum sambil berucap, “ Apa ini yang dokter Julio ingin lihat ? “ tanyanya sambil menghentikan gerakan alat USG di satu titik.
Dokter Lulu mengangguk. “ Sekali lagi, saya ucapkan selamat untuk dokter Julio dan istri. “ ucapnya sambil meletakkan alat USG kembali ke tempatnya dan memandang Dhara dengan tersenyum.
Kini Dhara melihat raut wajah suaminya berubah menjadi berbinar. Dan itu membuatnya semakin mengernyit.
“ Kenapa dokter kasih selamat ke kami lagi ? “ tanya Andhara yang kini pandangannya terfokus ke dokter Lulu.
Dokter Lulu tersenyum. “ Selamat, karena dedeknya terlihat ada dua. “
“ Ha ?? Apa ? Dua ? Kok bisa ? “ potong Dhara terkejut. “ Perasaan dari pas waktu dokter periksa, Dhara udah lakuin semua apa yang dokter katakan. Dhara nggak pernah tuh di kelonin abang. Kami tidurnya misah. Abang di sofa, Dhara di kasur. Sampai – sampai Dhara aja tidur sampai tengah malem terus karena nahan nggak bisa main – main sama abang. Padahal pengen banget. “ ia menceritakan apa yang ia rasakan selama hampir 2 minggu ini.
Cerita yang membuat Julio langsung menoleh ke arahnya. Bukan Andhara namanya jika berbicara dengan pakai rem. Bahkan dokter Lulu sudah menahan tawanya.
“ Jadi, kalau Dhara sama abang aja nggak pernah enak – enakan dari waktu dulu itu, gimana bisa dedeknya bertambah satu ? “ tanya dengan wajah polosnya. Dan meledaklah tawa dokter Lulu yang sedari tadi beliau tahan.
__ADS_1
“ Maaf … Maaf … “ ucap beliau tidak enak hati karena sudah kelepasan tertawa. Sedangkan Julio masih menatap kecut ke arah sang istri. Inginnya si tertawa mendengar pendapat absurb sang istri. Tapi berusaha ia tahan karena ia tidak ingin malu di depan orang lain.
“ Nyonya, jadi begini. Sebenarnya dari awal, dedeknya memang ada dua. Bukannya tiba – tiba nambah. Cuma, waktu periksa pertama dulu, yang terlihat baru kantung janinnya. Itupun tidak begitu jelas. Dan hari ini, baru terlihat jelas, jika calon babynya ada dua. Mereka twin. “ jelas dokter Lulu.
“ Bagaimana kondisi mereka dok ? “ tanya Julio. Sedangkan Andhara masih dengan wajah cengonya, ia menatap ke layar televisi yang masih menampilkan hasil USG tadi. Di sana memang terlihat ada dua kantung janin, dan dua kacang hijau.
“ Alhamdulillah, janinnya sehat semua. “ jawab dokter Lulu.
“ Wow …. Daebak !!! “ pekik Andhara merasa amazing dengan penyampaiannya. Ia mengelus perutnya yang sudah agak membuncit. Lalu ia menatap perutnya. “ Dedek satu, dedek dua. Hihihi “ kekehnya sambil menunjuk ke dua bagian perutnya berbeda.
“ Berarti pasti gara – gara dedeknya 2, makanya Dhara gampang laper ya dok. Mana makannya harus porsi ganda lagi. “ tanyanya ke dokter Lulu tanpa memindahkan tangannya dari atas perutnya.
“ Bisa jadi. Karena dedeknya ada dua, jadi asupan gizi dan makanan juga harus double. “ jelas sang dokter.
“ Ayo turun. “ ajak Julio sambil membantu Andhara turun dari atas ranjang.
“ Dok, boleh minta fotonya dedek kayak yang kemarin nggak ? Mau Dhara upload ke story. “ pinta Dhara.
“ Iya dong. Duduk dulu, biar saya cetakkan dulu. “ jawab dokter Lulu.
Tak sampai lima menit, dokter Lulu sudah menyerahkan foto USG ke Andhara. Setelah itu, buru – buru Julio mengajak Andhara kembali ke ruang prakteknya karena pasiennya pasti sudah pada nunggu.
“ Abang hebat !! Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Coba dedeknya tiga ya bang. Dapet hat – trick deh abang. Hahaha … “ ucap Andhara sambil menatap hasil USG dan berjalan menuju ke ruangan praktek Julio.
Julio mengusap lembut puncak kepala Andhara. “ Makanya, sekarang Dhara harus lebih perhatian lagi ke dedek. Jangan egois lagi, hem ? “
“ Ohkehhhh!!!! “ jawab Andhara sambil mengacungkan jempolnya.
Bersambung
__ADS_1