Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Makin cinta


__ADS_3

“ Abang…. Mau ikut …. “ rengek Andhara sambil bergelayut di pinggang sang suami, di mana sang suami sedang mengancingkan kemejanya.


“ Abang mau kerja loh ini. Bukan mau jalan – jalan. “ jawab Julio. Semakin hari, ia semakin di buat bingung dan tidak mengerti dengan keinginan sang istri.


“ Tau lah. Masak mau demo. Yang ada entar abang kena razia polisi. “ sahut Andhara sambil mengerucutkan bibirnya.


Jika kemarin – kemarin ia akan mengajak sang suami bermanja – manja ria tiap pagi, yang membuat sang suami selalu datang terlambat di rumah sakit, atau terkadang malah ia tidak jadi berangkat, karena istrinya yang tidak membiarkannya pergi.


Tapi hari ini berbeda. Setelah tadi Andhara menikmati morning sick yang selalu membuat tubuhnya KO, tadi ia menyuruh sang suami untuk segera berangkat kerja. Ia tidak ingin bermanja – manja dulu. Julio tentu bersyukur karena akhirnya ia bisa berangkat kerja tanpa harus terlambat.


Lain rencana, lain kenyataan. Sudah hal yang biasa bukan ? Semenjak ia keluar dari dalam kamar mandi tadi, sang istri langsung bergelayut dan bergelendot manja tanpa mau lepas darinya dan terus merengek ikut ke rumah sakit. Bahkan untuk mengenakan bajunya saja, harus dengan perjuangan.


“ Sayang … “ Julio membalikkan badannya hingga sekarang ia menghadap ke sang istri yang terlihat cemberut. Ia lalu menangkup kedua pipi sang istri yang makin hari terlihat makin chubby.


“ Kamu nanti pasti bakalan BT kalau nungguin abang kerja. Mendingan di rumah, atau kalau nggak, jalan – jalan deh sama bunda. Di rumah sakit bau etanol loh. Kamu kan nggak suka. “ bujuknya.


Andhara menggeleng. “ Dhara mau belajar membau etanol, biar kebiasa. Dhara pengen kuliah di kedokteran. Biar kerjanya bisa sama abang terus. “ ucapnya.


“ Eh, jangan ding. Kuliah kedokteran, biayanya mahal. Dhara mau diii …… mmmm ….. “ ia terlihat sedang berpikir. “ Ah, Dhara mau kuliah di farmasi aja. Mau jadi apoteker. Jadi abang dokternya, Dhara yang ngeracik obatnya. Kita bikin apotik, abang buka praktek sendiri. “ lanjutnya memberikan sebuah ide yang membuat Julio gemas.


“ Boleh juga idenya. Abang suka. Jadi kita bisa kolaborasi. Rejekinya biar nggak kemana. “ kekehnya.


“ Ya nggak boleh gitu dong bang. Kasihan orang lain nanti. Kita juga harus buka lowongan pekerjaan. Biar pengangguran di negara kita nggak makin numpuk kayak tumpukan sam_pah. “ sahut Andhara.


“ Ya udah, terserah kamu. Kalau kamu pengen kuliah kedokteran juga nggak pa – pa. Abang masih sanggup biayain kamu kuliah. “


“ Jangan !! Nanti anak kita nggak kebagian duitnya. Besok anak – anak kita juga harus sekolah. Kalau duitnya Dhara habisin buat kuliah, mereka sekolahnya gimana dong ?? “


Julio terkekeh. Tidak menyangka jika istrinya berpikiran hingga kesitu. Ia merasa makin hari, makin jatuh cinta dengan sang istri. Meskipun usia istrinya masih sangat muda, tapi makin hari, pemikirannya makin dewasa.


“ Oke, terserah kamu. Abang ikut aja. “ jawab Julio. “ Udah siang, abang harus berangkat kerja. Kalau abang telat terus, gaji abang bisa di potong. Nanti biaya sekolah anak – anak kita ikut ke potong juga. “


“ Ikuuuu……t. “ Rengek Andhara.


“ Nanti kamu bosan, sayang. “


“ Abang kenapa sih ?? Nggak pengen banget Dhara ikut ke tempat kerja abang. “ kesal Dhara. Ia pun melepas pelukannya di pinggang Julio. Bibirnya makin mengerucut.

__ADS_1


“ Buk – “


“ Atau jangan – jangan punya cem – ceman di sana. Jadi Dhara nggak boleh ikut, karena takut ketahuan. “ potong Dhara masih dengan nada suara kesalnya.


“ Astaqfirullah, sayang. Otaknya di pakai buat mikirin hal – hal yang lebih penting dan berbobot kenapa ? “ Julio mengusap wajahnya kasar.


“ Makanya, ajakin Dhara ikut ke tempat kerja abang. Biar otak Dhara bisa selalu berpikiran hal – hal yang positif gitu. “ kekeh Dhara.


“ Ya udah, kamu boleh ikut. Tapi ingat, jangan nyesel entar kalau bosen di sana. “ ujar Julio sambil menatap manik mata sang istri.


“ Iya … Iya elah. Khawatiran banget sih. Kalau bosen tinggal jalan – jalan aja. “ sahut Andhara sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


“ Tungguin Dhara. Awas di tinggal !! “ ancam Andhara sambil mengangkat telunjuknya saat ia sudah berada di ambang pintu kamar mandi.


“ Dhara mandi dulu bentaran. Nggak nyampe 5 menit deh. “ lanjutnya seraya menutup pintu kamar mandi.


.


.


.


Perdebatan yang di menangkan oleh Julio tentu saja. Ia tidak akan membahayakan kandungan sang istri dengan menuruti keinginan sang istri untuk memakai motor. Karena jarak rumah ke rumah sakit cukup jauh.


Cukup waktu itu saja mereka berkeliling kota Bandung dengan menaiki motor sport milik Julio. Akhirnya mereka pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.


“ Udah, bibirnya nggak usah di manyunin terus kayak gitu. Mau di ci_pok ? “ goda Julio kala melihat bibir sang istri masih manyun karena kesal tidak jadi naik motor. Andhara meliriknya tajam.


“ Ayo masuk. Tungguin abang di dalam. “ ajak Julio setelah terkekeh mendapatkan lirikan tajam dari sang istri. Ia membukakan pintu tempatnya praktek untuk sang istri.


“ Eh, pagi dok. “ sapa suster yang sepertinya asisten Julio.


“ Pagi, sus. “ sapa Julio balik.


“ Eh, ada nyonya juga. Tumben ikut ? “ sapa suster ke Andhara. Sang suster memang sudah mengenal Andhara ketika Andhara sedang periksa ke dokter kandungan dan kebetulan, mereka saling bertemu.


“ BT sus di rumah. Bosen. Yang di liatin itu – itu aja. “ jawab Andhara enteng. Ia masuk ke dalam ruangan praktek sang suami dan duduk di kursi milik sang suami.

__ADS_1


“ Masih morning sick ? “ tanya suster.


“ Masih sus. Woahhh … Rasanya sesuatu banget. Nano – nano. Tapi masih banyakan asemnya daripada manisnya. “ jawab Andhara sambil memutar – mutar kursi milik sang suami.


Suster tersenyum. “ Memang seperti itu. Hal itu akan hilang setelah tiga bulan usia kehamilanmu. “ jelasnya.


“ Gitu ya sus ? “ sahut Andhara. Lalu ia berdiri.


“ Tapi lihat deh sus. Dhara jadi makin gemukan kan ? Dari pertama waktu ketemu suster. Dhara gampang laper. Mana makan sepiring doang nggak kenyang lagi. “ cemberutnya sambil menunjukkan tubuhnya yang sedikit bengkak di sana – sini ke suster.


Julio yang mendengar hanya geleng – geleng kepala sambil tersenyum. Ia duduk di kursi biasa dan membawanya ke sebelah sang istri. Ia terlihat sibuk mengecek calon pasien yang sudah mendaftar.


“ Udah jalan berapa minggu ini ? “ tanya suster sambil mengelus perut Dhara yang sudah terlihat membuncit.


“ Berapa bang ? “ tanya Andhara sambil menengok ke arah suaminya yang nampak sibuk dengan data beberapa pasien.


“ Sekitar enam mingguan. “ jawab Julio tanpa mengalihkan pandangannya.


Suster mengernyit. “ Baru enam minggu ? Kok udah kelihat buncit gini ya. “ ucapnya sambil kembali mengelus perut Andhara.


“ Emang udah kelihatan buncit ya ? “ gumam Andhara sambil memperhatikan perutnya sendiri. “ Iya nih ternyata. “ lanjutnya ketika mendapati perutnya sudah agak membuncit. “ Emang harusnya seberapa sus, kalau enam minggu ? “


“ Kalau dulu waktu saya hamil, anak pertama maupun yang kedua, ketika masih enam minggu, belum kelihat buncit gini. Masih rata – rata aja. Dan saya juga perhatikan ke ibu – ibu hamil rata – rata memang belum kelihatan buncitnya. Biasanya setelah delapan minggu, baru kelihatan buncitnya. Apa jangan – jangan ….. “


Julio segera mendongak setelah mendengar ucapan suster. “ Masak iya sih sus ? “ tanyanya.


Suster itu mengangguk. “ Dokter kan juga pernah dapet pelajaran ini kan ? Coba dokter Julio perhatikan deh. “


Julio mengangkat tangannya, lalu menangkup perut buncit sang istri. “ Kok sepertinya iya ya ? Tapi kok selama ini aku nggak perhatiin. “


“ Ada apa sih bang ? Jangan main tebak – tebakan deh. Dhara kan otaknya cetek. Dari dulu abang suka main tebak – tebakkan mulu. “ di sini, memang Cuma Dhara yang sepertinya tidak mengerti.


“ Dokter coba cek aja ke dokter Lulu deh. Sepertinya beliau tadi sudah datang. Mumpung pasiennya belum pada datang. Biar jelas. “ usul suster.


“ Iya, kamu bener. “ Julio berdiri, lalu menggandeng tangan sang istri dan di bawanya keluar. Sedangkan Andhara, tatapannya masih bingung dengan apa yang ia dengar tadi dan sekarang suaminya yang menarik dirinya pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2