Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Ngompol


__ADS_3

Maafkeun, jam segini baru update... biasanya pagi udah update kan ya??? Soalnya othor ampir kelupaan.... 😁😁😁🙏🙏


____________________________


“ Jadi kalian mau pada balik sekarang nih ceritanya ? “ tanya Andhara ke keempat temannya.


Jangan heran kenapa para sohib gesrek bin rusuhnya masih stay di sana. Siapa lagi jika bukan calon ibu gesrek pelakunya. Ia sampai mengeluarkan air mata buayanya dan membawa – bawa anak – anaknya yang masih di dalam perutnya untuk merayu sang suaminya supaya mengijinkan mereka menginap di sana.


“ Bentar lagi. Kan loe bilang kemarin, kita – kita suruh bantuin beberes rumah mertua loe. Makanya kita – kita masih di bolehin nginep di sini tuh sama laki loe. “ jawab Putra.


“ Hehehe … Sorry deh ya. Habis laki gue mah suka alot kalau di mintai sesuatu yang berbau laki – laki lain. “ cengenges Dhara.


“ Loe kapan balik ke Arab, Son ? “ tanya Dhara.


“ Loe tuh nanya, apa ngeledek ? “ sengak Soni.


“ Ya kali aja universitas di Arab sono, dosennya amnesia terus setahu dia nilai loe bagus. Kan jadinya loe di panggil deh di minta kuliah di sono ? “ sahut Andhara yang sedang duduk santai di sofa, sedangkan para sohibnya duduk melantai di depannya. Udah bak seorang ratu dan para kurcacinya, bukan ?


Bukan kemauan Andhara kalau untuk yang satu ini. Tapi memang keempat manusia rusuh itu yang mau. Mereka bilang, enak duduk di bawah. Karpetnya empuk layaknya kasur.


“ Lagian Son, kalau loe Cuma mau dapetin ukhti – ukhti, loe meningan mondok aja. Ngapain jauh – jauh ke Arab. Entar yang ada, bukannya dapet ukhti, loe malah dapetnya TKI. “ ledek Lila.


“ Sorry, ye. Bukan level gue. Loe tuh yang ati – ati, entar di ibukota loe dapetnya kuli bangunan. “ balas Soni.


Yah, manusia memang selalu berencana. Tapi Tuhan yang menentukan. Soni yang sedari dulu bercita – cita melanjutkan sekolah di Mesir, kini harus nyangkut di salah satu universitas di ibukota.


Sedangkan Lila, yang berencana melanjutkan sekolah di Bandung biar bisa deket sama Andhara, harus ia urungkan karena penyandang biaya, maunya dia kuliah di ibukota.


“ Emang Cuma si Putro doang nih yang masih setia sama gue. “ ucap Andhara yang membuat sang suami yang sedang lewat, menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Putra.

__ADS_1


Salah nih aku ngijinin tuh orang nginep di sini. Batin Julio.


“ Loe jangan bicara aneh – aneh deh Ro. Tuh, lihat laki loe. Matanya udah kayak mau nelanjangin si Putro. Belum lagi semalam loe tinggalin dia tidur sendirian. Makin asem aja tuh muka. “ bisik Eka ke Andhara.


Sontak Andhara memandang ke arah suaminya yang ternyata benar seklai jika sang suami tengah menatap tajam ke arah Putra.


Cleguk


Andhara menelan salivanya dengan susah payah. Ia lalu berusaha berdiri dengan susah payah untuk menghampiri suaminya.


“ Bang … “ panggil Andhara dan langsung Julio memutus tatapan tajamnya ke Putra dan beralih memandang sang istri yang sedang berjalan perlahan ke arahnya.


Ia segera berinisiatif mendekati sang istri sehingga Andhara tidak perlu bercapek – capek berjalan menuju ke arahnya.


“ Ada apa sayang ? “ tanya Julio sambil meraih pinggang Andhara.


“ Abang kenapa belum bersiap buat kerja ? “ tanya Andhara.


“ Dih, abang. Masih bahas itu aja. Kan semalam Dhara udah jelasin ke abang. Tidur sama abang juga tiap malam. Masak Dhara tidur sama teman – teman Dhara semalam aja abang marah ? “ rayu Dhara sambil menggambar abstrak di dada sang suami.


“ Tangan kamu jangan nakal gini. Ini masih pagi. Temen – temen kamu juga masih pada di sini. “ bisik Julio sambil mencekal tangan nakal Andhara, mengelus perut buncitnya dan membuat Andhara malah tersenyum menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya.


“ Ad … Ssshhh … “ tiba – tiba Dhara mendesis membuat Julio menunduk menatapnya sambil mengernyit.


“ Kenapa ? Kamu kenapa ? “ tanya Julio sedikit panik.


“ Hehehe … Dhara pengen pipis. “ jawab Dhara. “ Abang sih suka ngajakin doble D mainan. Kan kalau mereka gerak – gerak gini terus, Dhara jadi pengen pipis. “ keluhnya.


Julio tersenyum, lalu ia mengecup puncak kepala Andhara. “ Ayo abang antar ke kamar mandi. “ ajaknya. “ Kita ke kamar mandi di kamar tamu aja biar cepet, ya. “ lanjutnya.

__ADS_1


Andhara mengangguk, lalu mereka berjalan berdua dengan Julio mengamit pinggang Andhara dan Andhara menaruh tangan kirinya di bahu suaminya.


“ Bikin ngiri aja mereka euy. “ ucap Lila.


“ Abang temenin di dalem ? “ tawar Julio saat ia sudah membukakan pintu kamar mandi untuk sang istri.


Andhara menggeleng. “ Abang tungguin aja di sini. Dhara bisa sendiri. “


Kali ini, Julio yang menganggukkan kepalanya. Ia lalu menutup pintu kamar mandi kala Andhara sudah masuk ke dalamnya. Tapi baru saja ia hendak duduk di tepian ranjang, Andhara berteriak.


“ ABAANGGG !!!! “ panggil Dhara dari dalam kamar mandi. Julio mendongak dan menoleh ke arah kamar mandi. Lalu ia segera berjalan cepat menuju ke kamar mandi dan membuka pintunya yang tidak terkunci.


“ Sayang, kenapa ? “ tanya Julio.


“ Abang, masak Dhara ngompol ??? “ sendu Andhara. “ Beneran nggak terasa kalau mau keluar loh bang pipisnya. Tapi ini udah main keluar aja. Mana nggak mau berenti. Banyak banget. “ lanjutnya sambil menunduk melihat ke bagian bawahnya, di mana celana hamil yang ia pakai sudah basah kuyub. Tadi, belum sempat ia membuka celananya, yang Andhara bilang pipis itu sudah meluncur saja.


Julio mendekat dengan panik. Berbagai pikiran sudah memenuhi otaknya. Dadanya juga bergemuruh. Sampai di dekat Andhara, ia langsung berjongkok di depannya guna memastikan sesuatu. Ia memang bukan dokter kandungan. Tapi ia tetaplah seorang dokter yang juga pasti tahu gejala wanita hendak melahirkan.


‘ Ya Tuhan. Kandungannya baru 7 bulan. Kenapa si kembar nggak sabaran banget buat lihat dunia luar. ‘ pekik Julio dalam hati.


Ia tidak mungkin mengatakannya di depan sang istri. Dimana ia yakin, jika sang istri tahu pemikirannya saat ini, istrinya pasti langsung histeris.


“ Sayang, apa kamu masih kuat ? “ tanyanya.


“ Masih lah bang. Kan Dhara Cuma pipis doang. Cuma pipisnya aja nih yang nggak mau berhenti. “ jawab Andhara.


Julio berdiri dari jongkoknya. “ Kamu duduk di sini dulu bentar yah. Abang ambilin baju ganti yang bersih. “ titah Julio sambil membantu Andhara duduk di atas toilet yang tertutup. Dan Andhara mengangguk.


Julio segera beranjak, dan dengan langkah lebar ia keluar dari dalam kamar tamu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2