Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Salah satu tugas istri


__ADS_3

“ Beneran nggak mau abang antar saja ke sekolahnya ? “ Julio memulai pembicaraan setelah acara sarapan Bersama dengan orang tua Julio. Sarapan nasi goreng dan telur mata sapi kesukaan Andhara.


“ Pak dokter bercanda ya ? Mau mengatakan ke satu sekolah kalau di antara kita ada apa – apa ? “ ketus Andhara sambil menjinjing tas ranselnya dan ia bawa ke luar dari dalam rumah setelah berpamitan ke kedua orang tua Julio.


“ Emang di antara kita ada apa ? “ jebak Julio sambil menggoda Andhara.


“ Pak dokter pikir, ada apa di antara kita ? “ tanya Dhara balik. “ Lupa apa kemarin yang ngijabin Dhara siapa. “ gumamnya.


Julio tersenyum tipis. “ Nggak mungkin lupa. Masak nikahin cewek cakep gini bisa lupa sih. “ godanya.


“ Dih, nggak usah sok sokan bikin baper deh. “ sahut Andhara dengan nada kesal, tapi pipinya tetap saja blushing. Andhara berjalan mendekati Julio.


“ Ayo naik. Buru mentari makin tinggi. Entar buru murid SMA Sejahtera pada keliweran juga. “ ajak Julio yang sudah berada di atas motornya. Andhara naik ke atas motor Julio dengan posisi menyamping. Karena ia sudah mengenakan bawahan abu – abunya.


Brummm…. Suara motor Julio sudah mulai menjauh dari kediamannya.


“ Nanti pulang sekolah, ke rumah abang, apa ke rumah emak ? “ Julio harus menaikan volume suaranya karena suaranya seakan terbawa angin.


“ Ke rumah emak. Ke rumah pak dokter entar maleman aja. Takutnya ada anak SMA Sejahtera yang mondar mandir di dekat rumah pak dokter. “ Andhara juga sedikit meninggikan volume suaranya untuk menjawab pertanyaan Julio.


“ Nanti habis abang praktek di puskesmas, abang ke rumah. Sekalian jemput kamu. “


“ Nggak usah di jemput. Dhara bawa motor Dhara sendiri aja. Biar paginya nggak ribet. Pak dokter juga nggak usah nganterin Dhara pulang pagi buta gini. “


“ Menjemput bukan berarti harus boncengan kan ? Kamu bisa bawa motor kamu sendiri, dan abang bawa motor abang sendiri. “


“ Serah deh. “ jawab Andhara pada akhirnya.


.


.


.


“ Udah sholat kamu Dhar ? “ tanya emak yang baru muncul dari arah belakang.


“ Bentar mak. Nanggung nih. Si sopo lagi marahin Jarwo. Seru. “


Kriuk…. Kriuk…. Kremes … Kremes… Dhara menjawab si emak sambil memakan keripik singkong kesukaannya. Karena kedua mertuanya sudah kembali ke rumahnya, kini Dhara memilih untuk tinggal di rumah emaknya.

__ADS_1


Dan hari ini, adalah hari pertama ia kembali tinggal di rumah itu setelah tiga hari tinggal di rumah dinas Julio untuk bisa lebih mengenal kedua mertuanya.


“ Sholat itu kalau udah masuk waktunya, harus segera di lakukan. Jangan suka menunda – nunda sholat. Karena kita tidak tahu akan sampai mana umur kita. Jangan sampai saat Allah memanggil kita, kita belum sempat melaksanakan ibadah wajib kita di dunia. “ omongan emak Komsah udah seperti umi – umi di luaran sana.


“ Iya, ibu ustadzah. “ jawab Andhara. “ Emak nyeremin omongannya. Bawa – bawa kematian segala. “ lanjutnya.


Bug. Sebuah bantal yang tadi di bawa Andhara ke ruang tengah untuk menonton televisi, mendarat mulus ke lengan Andhara. “ Kalau di bilangin orang tua sukanya ngebantah. “ kesal emak.


“ Elah mak… Siapa yang ngebantah sih. Orang Dhara juga udah berdiri nih. Mau ambil wudhu. “ jawab Dhara. “ Emak di sini aja dulu. Tolong lihatin tuh si Sopo sama Jarwo. Entar, Dhara di ceritain ya. “ pintanya sambil terkekeh.


Dhara pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah melakukan kewajiban sebagai seorang muslimah, Dhara kembali keluar ke ruang tengah.


“ Suami kamu – “ ucapan emak terpotong.


“ Assalamualaikum… “ sapa seseorang bersuara bariton dari depan pintu.


“ Waalaikum salam. “ sahut emak dan Dhara.


“ Panjang umur kamu nak. Baru aja emak mau tanyakan ke Dhara. “ ujar emak sambil menerima uluran tangan Julio.


“ Alhamdulillah. “


“ Ck. Pak dokter juga baru dari rumah emaaakk! Pasti udah minum lah. “ sahut Andhara kesal karena lagi – lagi acara menonton televisi kesayangannya kembali terganggu.


“ Yang namanya seorang istri wajib merawat suami. Suami baru pulang ya di suguhi minuman. Di masakin juga. Perutnya di manjain, biar nggak cari yang bisa manjain di luaran sana. Mau suami kamu itu dari rumah udah minum atau belum, tetap harus kamu buatin minuman. “ omel si emak lagi dan lebih panjang lebar dari yang tadi.


Hal ini membuat Julio mengulum senyumannya. Bagus emak. Istri unik Julio emang perlu siraman rohani dan kalbu.


“ Iya, iya maak. Dari tadi perasaan ceramah mulu. “ decak Andhara. Tapi tak urung, ia berdiri dan hendak ke dapur. Tapi sebelumnya, ia bertanya sama suaminya, “ Mau Dhara buatin minum apa pak dokter ? Kopi apa teh ? “


“ Kopi aja. “ jawab Julio. Andhara mengangguk, lalu ia segera melesat ke dapur.


“ Nak Julio, kalau mau istirahat, istirahat aja dulu. Udah tahu kamar Dhara kan ? “ tanya si emak dan Julio mengangguk. “ Emak ke kamar dulu. Mau rebahan. Capek seharian tadi panen cabe. “ lanjutnya


“ Iya, mak. Silahkan. “


Julio pergi ke kamar Dhara setelah si emak masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan tas ransel yang ia bawa guna membawa baju – bajunya di atas ranjang.


“ Lah, kok pada nggak ada. “ Dhara celingukan sambil membawa secangkir kopi karena emak dan suaminya sudah tidak ada di ruang tengah lagi.

__ADS_1


“ Sejak kapan emak sama pak dokter kayak ninja Hatori ? “ Dhara berjalan ke arah kamar emak Komsah setelah menaruh secangkir kopi tadi di atas meja.


“ Oh, emak di kamar. “ ucapnya setelah melihat kamar emak tertutup dan terdengar bunyi kipas angin dari dalam kamar. Ia lalu berjalan menuju ke kamarnya karena kini ia yakin jika Julio pasti ada di kamarnya.


Di dalam kamar, Dhara memekik, “ Pak dokter ngapain buka – buka almari Dhara ? “ Ia langsung berlari dan menutup pintu almarinya itu. Malu, tentu saja karena pintu almari yang di buka Julio mempertontonkan jejeran segitiga pengaman dan penutup dua gundukan dengan berbagai macam warna. Meskipun lebih banyak warna gelap daripada warna menyala.


“ Abang mau naruh pakaian abang. “ jawab Juio santai. “ Lagian kenapa mesti malu ? Besok juga abang bakalan lihat ********** juga. “ lanjutnya.


Blush….


“ Pak dokter bisa nggak omongannya di filter ? Di saring kek teh gitu. Dhara kan masih kecil. Jangan terlalu sering di dengerin omongan yang berbau dewasa gitu. “ Omel Dhara. “ Bisa – bisa Dhara dewasa sebelum waktunya. “ gumamnya.


Pfft… Julio menahan tawanya mendengar gumaman Andhara. “ Khilaf juga boleh. Sudah halal juga. “ goda Julio mengingatkan gumamannya ketika pertama kali menginap di rumah dinas Julio.


“ Yang sebelah sini atuh bukanya. “ Dhara segera membuka pintu yang sebelah untuk mengalihkan omongan Julio yang sudah memanas. Terlihatlah tumpukan baju – baju Andhara yang lumayan berantakan.


Julio mengernyitkan dahinya ke dalam. “ Ini, baju – baju kamu udah di setrika belum ? “ tanyanya.


“ Ya jelas udah lah. Masak iya di masukin ke almari tapi belum di setrika. “ sahut Andhara.


“ Tapi kenapa berantakan gini? “ tanya Julio. “ Emang kamu nggak sayang sama tenaga sama waktu yang kamu pakai buat nyetrika ? “


“ Dih, pak dokter nggak usah ngeledek deh. Dhara tahu, kalau baju – baju pak dokter mah selalu rapi. Mulai dari warnanya juga tertata rapi. Sampai – sampai Dhara aja takut. Kalau misalnya Dhara naruh bajunya nggak sesuai urutan lagi gimana? Pak dokter pasti bakalan omelin Dhara. “


“ Abang nggak suka ngomel. Kamu tenang aja. Paling juga abang minta ganti rugi. “


“ Ganti rugi ? “ beo Dhara. “ Nggak salah ? Duit pak dokter kan lebih banyak dari duit Dhara. “


“ Abang kan nggak bilang mau minta duit kamu. “ Julio menjiwir hidung Andhara.


“ Terus ? “ tanya Andhara sambil menepis tangan Julio.


“ Mau tahu maunya abang apa ? Coba aja besok kamu berantakin baju – baju abang. “


“ Wokeh !! “ jawab Dhara penuh semangat, sedangkan Julio sudah tersenyum penuh makna. “ Loh, kok- “ Andhara terkejut kala Julio menaruh setumpuk baju – bajunya di atas tangan Dhara. “ Kenapa di kasih ke Dhara ? “


“ Masukin ke almari kamu lah. Kan ini salah satu tugas istri. “ jawab Julio sambil berjalan keluar dari kamar Andhara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2