
" Abaaaanggg.... Peluk.... " rengek Andhara ke sang suami yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Julio berbalik arah. Ia kembali menghampiri sang istri yang masih terlihat malas malasan di atas kasur empuknya.
" Kan semalem juga udah di peluk. " ucap Julio sambil mengelus pipi sang istri dengan punggung tangannya.
" Pengen di peluk lagi... " rengek manja Andhara.
" Manja banget sih istri abang sekarang. " ujar Julio sambil duduk di sisi Andhara, lalu menariknya dan ia peluk.
" Nggak suka ya di manja manjain sama istri? Pengennya yang manja manja suster - suster di rumah sakit? Iya? " omel Andhara sembari cemberut.
" Ngomong apaan sih istri abang ini? Hem? Kenapa sekarang jadi sensian kek gini? " tanya Julio sambil memencet kecil hidung Andhara.
Lalu ia mengecup kening sang istri lembut. " Abang seneng kok istri abang manja kayak gini. Cuman abang tuh ngerasa aneh aja. Kamu kan biasanya strong woman. Jarang gitu minta manja manja kayak gini. Apalagi setelah si kembar lahir. " ujarnya.
" Nggak tahu. Pengen aja. " sahut Andhara seadanya sambil memainkan kancing piyama Julio.
" Abang, hari ini di rumah aja, yuk. " pinta Andhara.
" Hem ? " Julio sedikit menjauhkan tubuhnya guna menatap wajah sang istri. " Kan bukan hari libur, sayang. Abang harus kerja. Kamu juga harus ngampus kan hari ini? Katanya ada kuis pagi. " lanjutnya.
" Males bang. " rengek Andhara.
" Males? Semalem aja semangat banget belajarnya. Sampai abang minta jatah aja nggak di kasih. " ulas Julio.
" Kan itu semalem. Sekarang, berubah pikiran. Dhara pengen rebahan aja di rumah. Males kemana - mana. " sahut Andhara sambil kini tangannya bermain manja di dada suaminya yang entah kapan, kancing piyama sang suami sudah terbuka beberapa.
" Ya udah, kamu telpon Sabil aja. Minta di ijinin buat nggak kuliah hari ini. Kamu di rumah aja. " ucap Julio memberikan solusi.
" Tapi maunya sama abang di rumah. Di temenin abang seharian rebahan di kasurnya. " Dhara sedikit menegakkan tubuhnya untuk menatap sang suami manja.
" Tapi abang harus kerja, sayang. Abang belum ajuin cuti. " jawab Julio.
" Minta ijin dadakan aja bang. Dhara aja bisa kok ijin dadakan. Abang bilang aja kalau istri abang yang cantiknya ngalahin Song Hye Kyo lagi sakit, nggak mau di tinggal. " cerocos Andhara.
" Mana bisa gitu sayang? Masak abang pakai alasan kamunya sakit? Entar kalau sakit beneran gimana? " sahut Julio sambil menyingkirkan beberapa anak rambut Andhara yang menutupi wajahnya.
" Kan Dhara emang lagi sakit bang. Badan Dhara rasanya lemes, terus males, bawaannya pengen rebahan mulu. Kalau Dhara lagi sehat kan Dhara pasti semangat buat aktivitas. " jawab Andhara dengan suara lesunya.
" Nggak boleh gitu dong sayang. " kekeh Julio.
__ADS_1
" Mmm... Dhara ganti deh jatah abang yang semalam. Gantinya sekarang. Mau nggak? " rayu Andhara.
" Sayang... Tangannya. " protes Julio kala tangan lentik Andhara masuk ke dalam kemeja piyamanya dan mengelus da danya. Ia berusaha memegang tangan istrinya supaya sang istri tidak melanjutkan aktivitasnya.
Karena sudah bisa di pastikan, jika sang istri terus berlanjut, maka dirinya yang tidak akan bisa menolak. Bahkan sekarang saja, ia harus menahan sesuatu dalam dirinya supaya tidak kebablasan.
" Sebentar aja. " bukannya berhenti, Andhara malah makin aktif. Ia mengecup rahang tegas suaminya, lalu beranjak ke bawah menelusuri leher sang suami.
" Satu ronde. Habis itu, abang boleh berangkat kerja. " bisiknya sambil mengecup ringan daun telinga sang suami hingga terdengar erangan dari mulut Julio.
Andhara tersenyum tipis mendengar suaminya menahan suara erangannya yang tetap terdengar merdu meskipun sudah sekuat tenaga di tahan.
" Sayang... " belum juga Julio menghabiskan kata-katanya, Andhara sudah menyerang bibirnya. Bahkan entah sejak kapan, kini Andhara berada di pangkuan sang suami.
Tak bisa lagi menahan hasratnya, Julio menarik tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Ia sudah lupa jika ia harus segera bersiap untuk berangkat bekerja.
Sungguh pesona sang istri tidak bisa ia kesampingkan sama sekali.
Pagi itu kegiatan panas mereka lebih di dominasi oleh Andhara. Julio lebih banyak hanya menerima karena Andhara tidak membiarkannya memimpin permainan sama sekali.
.
.
.
Di dalam bathtub, Andhara kembali menyerang sang suami tanpa ampun. Dan akhirnya kini mereka keluar dari kamar untuk sarapan saat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Andhara bergelayut manja di lengan Julio saat mereka berjalan keluar kamar hingga kini sampai di meja makan. Bahkan sampai di meja makan pun, Dhara enggan melepas lengan suaminya.
" Sayang, makan dulu. " ucap Julio. Semakin kesini, Julio semakin merasa aneh dengan sikap sang istri. Tapi hal itu, hanya ia simpan dalam benaknya. Jika ia ungkapkan ke sang istri, bisa - bisa bom Nagasaki jatuh di rumahnya.
" Pengen di suapin abang. " rengek manja Andhara. Ia menaruh dagunya di tangan Julio yang berada di atas meja.
" Oke. Tapi lepasin dulu tangan Abang. Abang ambil dulu nasi sama lauk nya. " pinta Julio tapi langsung di jawabi gelengan kepala oleh Andhara .
" Mau gini aja. Abang ambil nasinya pakai tangan kanan kan bisa. " sahut Andhara masih dalam posisinya tadi
Julio hanya mampu menghela nafas panjang sambil mengambil nasi beserta lauknya ia masukkan ke dalam piring yang berada di depannya.
Aksi suap menyuap pun memenuhi ruangan makan itu pagi ini. sarapan kesiangan. Itulah yang sedang mereka lakukan saat ini. Dan bahkan Andhara tidak mencari keberadaan si kembar saat ini. Fokusnya hanyalah sang suami.
__ADS_1
" Abang nggak usah kerja aja .. Ya??? " rengek Andhara kala mereka usai makan dan Julio tengah mengambil jas putihnya yang tadi ia sampirkan di sofa. Bahkan Andhara masih saja nemplok di tubuh Julio layaknya seekor cicak.
" Kan tadi kamu bilang.. Kalau satu ronde, abang boleh berangkat kerja. Tadi malah nggak cuma satu ronde. Dua loh. " ujar Julio sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
" Ini malah abang udah terlambat loh. " Julio melirik jam yang melingkar di tangan kanannya.
" Ihhhh...!!! Abang perhitungan banget sama istri. " cemberut Andhara.
" Loh, kok masih pada di rumah? " syara bunda Lestari membuat Andhara dan Julio menoleh.
" Bunda... " sapa Julio dan Andhara bersamaan.
" Kok Dhara belum siap siap? Katanya ada kuliah pagi ? " tanya bunda kembali.
" Dhara males bund. Nggak jadi berangkat kuliah aja. Kuliah nya di pending dulu. " jawab Andhara.
" Kamu lagi nggak sehat? Wajah kamu agak pucat, sayang. " Bunda Lestari mengelus pipi Andhara.
" Nggak tahu bund. Pokoknya badan Dhara rasanya lemes males ngapa-ngapain. " keluh Dhara
Lemes? Males ? Tapi kenapa tadi beringas banget. batin Julio.
" Istirahat aja kalau gitu. " ucap bunda dan Andhara mengangguk.
" Tapi pengen di temenin abang bund. " rengek nya.
" Sayang, abang kan harus kerja. Abang janji, nanti abang pulangnya lebih awal. Habis itu, abang akan nemenin kamu terus. " bujuk Julio yang memang ia harus segera berangkat bekerja.
" Ck! " Dhara berdecak. " Ayo sayang. Dedek Ori aja yang nemenin ibu di kamar yuk. Kamu juga sama gantengnya sama ayah kamu. " cerocos Andhara sambil mengambil si kecil Ori yang berada di gendongan bunda.
" Ayah nggak sayang sama bunda. " ketus Andhara sambil berlalu dari hadapan bunda dan Julio tanpa pamitan. Ia menaiki tangga menuju ke kamarnya.
" Sayang... " panggil Julio, tapi tidak di indahkan oleh Andhara.
" Ada apa sama istri kamu? Kalian bertengkar? " tanya bunda Lestari.
" Nggak kok bund. Cuma emang Dhara agak aneh belakangan ini. Pengennya manja terus sama Lio. " jawab Julio.
" Ah, bund. Udah siang. Lio berangkat sekarang. Udah telat banget. " pamit Julio.
bersambung
__ADS_1