Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Mau punya cucu lagi


__ADS_3

" Iya. " jawab Julio asal lalu segera menutup pintu kamar mandi.


Julio lalu menghampiri wastafel, membuka tutup botol yang berisi urin Andhara. Lalu ia mengambil sebuah mangkuk bersih yang sudah ia siapkan. Menuang dua sendok makan pasta gigi, dan mencampurnya dengan satu sendok makan urine sang istri. Ia diamkan beberapa saat.


Tak lama, matanya membeliak demi melihat hasil dengan sangat jelas.


Ia lalu mengusap kasar rambutnya hingga penampilannya kini acak-acakan. Pasta gigi yang Julio campur dengan urine Andhara berubah warna menjadi biru dan berbusa. Sudah bisa di pastikan kondisi sang istri sekarang.


" Bagaimana ini? Kenapa bisa seperti ini? " gumamnya sambil memegang pinggiran wastafel erat. Sangat erat hingga memperlihatkan urat urat tangannya.


Kembali ia mengusap rambutnya kasar. " Bagaimana aku menyampaikan hal ini? Andhara pasti sangat kecewa terhadapku. Si kembar masih begitu kecil untuk mempunyai adik. " ucapnya.


" Arrrgghhh!!!! " erangnya tertahan.


" Bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada semuanya? Terutama kepada Andhara. Ia pasti marah. " lanjutnya terus bermonolog. " Ya Tuhan... apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku menyembunyikan kebenaran ini terus menerus. Perut Andhara akan semakin membesar. " lanjutnya kembali.


Ia lalu memutar tubuhnya, lalu memutar keran air hingga air keluar dari shower. Ia melepas pakaiannya satu persatu hingga tak bersisa. Lalu ia berdiri di bawah guyuran air shower. Ia berharap kepalanya akan dingin dan muncullah ide apa yang harus ia lakukan.


" Abang, mandinya kok lama banget. Tumben. Biasanya kalau mandi pagi cepet - cepet. " tanya Andhara saat melihat Julio keluar dari dalam kamar mandi.


Memang cukup lama Julio berada di dalam kamar mandi. Sampai ia membuat keputusan untuk mengatakan hal ini ke bunda juga emak. Ia berharap, mereka bisa mengerti dan membantu memberikan solusi.


Sebelum ia keluar dari dalam kamar mandi, Julio membuang urine sang istri, dan membersihkan semua peralatan yang ia gunakan untuk mengetes urine sang istri.


" Oh, i iya. Lagi pengen berendam aja. " jawabnya beralasan.


" Bisa masuk angin loh bang. Berendam pagi - pagi. " ucap Andhara.


Julio tersenyum, lalu berjalan mendekat ke Andhara yang sedang membereskan tempat tidur. menata kembali sprai dan juga selimut yang berantakan.


Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. " Jangan capek-capek, sayang. Biar Ira saja yang beresin. " ucapnya seraya mengecup leher jenjang sang istri yang terekspos karena Andhara mencepol rambutnya tinggi.


" Tumben, abang bilang gitu? Biasanya Dhara juga beresin tempat tidur sendiri. " Andhara menghentikan aktivitasnya dengan selimut yang masih ia pegang, dan ia menoleh ke belakang ke arah sang suami.


" Yaaa... Nggak papa. Abang cuma nggak mau kamu kecapean. Kamu harus kuliah, jagain si kembar. Pasti capek kan? " ucap Julio.


" Abang kenapa jadi melow gini? Dhara seneng kok bang ngelakuinnya. Dan Dhara nggak pernah merasa capek buat ngerawat si kembar. " jawab Andhara, lalu ia memberikan satu kecupan di bibir sang suami yang sedang menatap ke arahnya.

__ADS_1


" I love you, sayang. " Julio makin mempererat pelukannya di pinggang sang istri dan menaruh dagunya di atas pundak Andhara.


" Abang jangan sok romantis gini deh pagi pagi. Atau Dhara nggak biarin Abang pergi kerja nih. " ancam Andhara.


Julio tersenyum lebar, lalu mengangkat kepalanya, menoleh kembali ke Andhara. " Abang hari ini males kerja. Pengen seharian sama kamu. " jawabnya, lalu mengecup pipi kanan sang istri.


" Yakin nih? Pagi pagi jangan suka bikin baper deh bang. Yang ada entar Dhara jadi mupeng nih. " kelakar Andhara.


" Oh ya ? " Julio tersenyum smirk, melepas selimut yang masih Dhara pegang, lalu memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.


" Jadi beneran pengen buat kamu mupeng. " ucapnya, lalu ia me ***** habis bibir sang istri. Andhara yang memang akhir akhir ini mudah tersugesti, dengan senang hati membalas ciuman panas suaminya. Bahkan kedua tangannya kini sudah melingkar di leher sang suami.


Dan, pagi ini, mereka kembali menghabiskan pagi panas mereka dan membuat Julio kembali mandi keramas.


.


.


.


" Bund, boleh Julio bicara ? " tanya Julio yang saat ini sedang mendatangi rumah orang tuanya setelah tadi ia sempat berolahraga pagi dengan sang istri. Dan Andhara saat ini tengah terlelap karena kecapekan dengan aktivitasnya dan tubuhnya terasa lemas.


" Tapi bunda janji dulu, jangan marah-marah kalau Lio cerita. " pinta Julio dengan suara pelan.


" Ck ! Kamu kenapa sih, aneh banget. Ayah kamu kak. Nggak biasanya sok - sokan kayak gitu. " sahut sang bunda.


" Hah. " Julio menghela nafas berat. " Ini ada kaitannya sama pertanyaan bunda sama enak kemarin. "


Bunda Lestari terlihat mengernyit. Ia menatap dalam wajah putranya yang sepertinya sedang menanggung beban berat.


" Soal istri kamu ? " tanya bunda Lestari dan Julio mengangguk pelan. " Kenapa sama istri kamu Yo ? Dhara baik baik aja, kan? " tanya beliau kembali..


Julio nampak mengusap wajahnya kasar. " Bunda mau punya cucu lagi. " ucapnya lirih.


" Apa? Kamu bilang apa, Yo ? Bunda nggak denger, sumpah. " bunda Lestari meminta Julio mengulangi lagi ucapannya karena ia merasa salah dengar.


" Huft. " Julio menghela nafas panjang. " Andhara hamil lagi bund. Bunda, ayah, sama emak mau punya cucu lagi. " jelas Julio.

__ADS_1


" APA???? " terdengar pekikan yang bukan berasal dari mulut bunda.


" Julio, kamu bicara apa ? Andhara hamil lagi ? Emak mau punya cucu lagi? " emak Komsah yang tidak sengaja mendengar ucapan Julio waktu hendak membawa Orion ke rumah pak Siswo langsung menghampiri bunda dan Julio.


Terkejut, sudah pasti. Begitu dengan bunda Lestari. Beliau bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.


Pug


Sebuah bantal sofa melayang bebas ke wajah Julio. Dan bunda Lestari lah pelakunya.


" Kebangetan, kamu Julio Enggar Prasetya!! " pekik bunda Lestari dan membuat si kecil Arisa yang sedari tadi asik bermain, kini mendongak guna melihat wajah sang nenek.


" Ampun, bund. " ucap Julio sambil menghadang mukanya dengan kedua tangannya dari serangan bantal bunda yang bertubi-tubi.


" Neeeekkkk.... Yah na..... " teriak si kecil ikut memukul- mukul neneknya karena tidak terima sang ayah di pukul oleh nenek.


" Oh, maaf, sayang. Habis ayah kamu nakal. " jawab bunda Lestari sambil mengambil tubuh gempil Arisa dan ia kecup pipinya.


" Bagaimana bisa Dhara hamil lagi ? Si kembar masih pada kecil. Mereka baru berusia 15 bulan. " ucap emak seakan masih tidak percaya.


" Maaf, mak, bund. Sepertinya Lio kebablasan. Lio pikir, Dhara nggak mungkin hamil lagi secepat ini. " ungkap Julio dengan perasaan bersalahnya. Ia menundukkan kepalanya.


" Heh, gimana istrimu nggak cepet hamil lagi, kalau tiap hari kamu kekepin mulu. " sahut Bunda Lestari ketus. " Dasar kamu. Ini nih, kalau kelamaan jadi perjaka tua. Sekalinya punya istri, maunya di kungkung aja. " sarkasnya.


" Nggak gitu juga bund. Dan satu lagi, Lio bukan perjaka tua. Julio menikahi Dhara saat usia Lio masih 28 tahun. " protes Julio.


" Iya. Dan Andhara baru 18 tahun. Usia Dhara sekarang itu sedang ranum - ranumnya kalau ibarat bunga. Dia lagi masa subur - suburnya. Kamu senggol dikit aja bisa langsung hamil. " Cerocos bunda Lestari.


" Emang Dhara tidak KB? " tanya emak.


Julio menggeleng pelan. " Lio pikir kasihan dia kalau ikut KB Mak. Hormonnya bisa terpengaruh. Dia masih muda. Kalau gara - gara KB tubuhnya jadi gemuk, kulitnya jadi rusak, kan kasihan. Jadi waktu Dhara minta Lio nganter dia buat KB, Lio nggak kasih. "


" Terus sekarang gimana? Apa istri kamu sudah tahu? " tanya bunda.


" Belum, bund. Lio bingung gimana harus menyampaikan hal ini ke Dhara. Dulu saja dia seperti itu tanggapannya. Lio... Lio takut, bund. " lirih Julio.


" Ya sudah, semua sudah terjadi. Nanti kita bicara sama istri kamu sama - sama. Kita hadapi apapun reaksi istri kamu bersama. " emak Komsah memberikan solusi.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2