
“ Wiihh …. Ramai bener … “ oceh Andhara saat ia berada di depan gedung. Bgitu banyak tamu yang hadir.
Karena teman Julio itu anak seorang aparat dengan pangkat lumayan tinggi, maka pemeriksaan terhadap tamu cukup ketat. Di depan Andhara dan Julio terlihat antrian pemeriksaan yang lumayan panjang.
“ Kayak mau antri sembako aja. “ Lanjutnya. “ Emang di sini juga di kasih minyak goreng gratis ya bang ? “ tanya sambil mendongak menoleh ke arah suaminya. Tangannya tetap memeluk lengan kiri Julio.
“ Kamu pikir di balai desa yang lagi ada pembagian B_L_T sembako ? “ kekeh Julio mendengar pertanyaan absurb sang istri.
“ Ya kali aja. Kan kata abang yang punya gawe anak jendral. Siapa tahu kita di kasih sembako gratisan. “ oceh Andhara.
“ Terus ngapain kita mesti antri kayak gini coba ? Pintu ballroomnya juga lebar banget. Ya … meskipun masih lebaran daun kelor. “ imbuhnya yang membuat suaminya mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arahnya.
“ Emang daun kelor seberapa lebarnya ? Ya masih lebaran pintunya lah. “ ujar Julio.
“ Ih, abang, pas pelajaran bahasa Indonesia kemana ? Bolos ya ? “ ledek Dhara sambil menoleh ke arah suaminya.
“ Enak aja. Kamu tuh yang suka bolos. “
Dhara mencebik. “ Buktinya, abang nggak tahu peribahasa kalau dunia saja tak selebar daun kelor. Dan pintu itu, ada di dalam dunia. Ya berarti masih lebaran daun kelor lah. “ ocehnya.
Julio tersenyum masam sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
“ Terus kenapa kita di suruh antri kayak gini, coba ? Mangnya, kayak di pengajian gitu, ambil snack sama kardus makan mesti antri ? “ ocehnya kembali.
“ Dih, katanya jendral … Kok punya gawe kayak orang susah. Harusnya mah, makanannya taruh di meja yang gede – gede gitu … Tamunya tinggal pilih. “ lanjutnya sudah seperti gerbong kereta.
Sudah bukan hal yang aneh lagi bagi Julio. Ia sudah hafal bagaimana istri kecilnya itu kalau sudah mengoceh. Sebelas dua belas sama bundanya.
“ Bukan mau antri ambil snack, sayang. Tapi kita lagi ngantri di periksa. Kan anaknya jendral. Ya mesti berhati – hati. “ jelas Julio sambil mengusap tangan Andhara yang mengalung di lengannya.
“ Masak sih ? “ Andhara melongokkan kepalanya keluar barisan.
__ADS_1
“ Banyak bodyguard. Kayak di film – film aja. Segitu khawatirnya. Mang kita dateng bawa bom apa ? “ ocehnya lagi. “ Kalau Dhara bawa bom. Emang mau di selipin dimana ? Di B_H ? Kalau meledak pabrik su_sunya bisa gulung tikar. “
Julio terpaksa menahan tawanya supaya tidak tumpah ruah di sana. Bisa malu dirinya kalau sampai tertawa terbahak – bahak gara – gara ocehan absurb yang keluar dari bibir se_ksi istrinya. Ia harus melipat bibirnya ke dalam sambil memalingkan muka ke kanan.
Setelah menunggu antrian selama beberapa saat, akhirnya mereka bisa masuk ke dalam gedung setelah di screening oleh petugas. “ Kirain mau di swab juga tadi. Sapa tahu tamunya bawa virus yang lagi nge-hits. “ lagi – lagi bibir tipis itu kembali berucap.
“ Wuaahhh …. Keren banget pestanya. Bener – bener anak jendral . “ gumam Andhara sambil memutar bola matanya melihat seluruh isi gedung.
Ia sampai mencondongkan tubuhnya ke depan, melongok ke belakang, demi untuk melihat mewahnya pesta. Julio di buat terkekeh dengan tingkah istrinya. Meskipun begitu, ia tetap mendorong kepala sang istri supaya kembali ke posisi semula.
“ Katanya nggak mau di bilang udik ? “ bisik Julio sambil terkekeh. Andhara sampai mendelikkan matanya dan mencebik mendengar bisikan lelaki tampannya.
Tetapi, ia tetap mendengarkan suaminya. Ia mengembalikan posisinya kembali, menjaga sikapnya, meskipun jiwa keponya meronta – ronta ingin berlari kesana – kemari demi melihat keseluruhan gedung mewah ini.
“ Abang, makanannya banyak. “ bisiknya ke suami sambil mengeratkan pegangan tangannya di lengan sang suami. Julio hanya mengangguk.
“ Boleh di bawa pulang nggak sih ? “ lanjutnya, yang membuat Julio semakin gemas. Mungkin jika tidak di tempat ramai seperti, ia akan melucuti istri gilanya ini dan memberikan stempel di seluruh tubuhnya.
“ Kita kasih ucapan selamat dulu sama pengantinnya. Setelah itu, kamu boleh ambil makanannya. “ ujar Julio sambil mengelus punggung tangan istrinya yang melingkar di lengannya.
Mereka lalu berjalan menuju pelataran dimana sepasang pengantin tengah tersenyum bahagia. Sebelum memberikan ucapan selamat ke kedua mempelai, sebelumnya mereka bersalaman dan menyapa orang tua dari mempelai perempuan. Baru setelahnya, mereka bertemu dengan sang pengantin.
“ Selamat, broohh … “ ucap Julio memberikan selamat ke mempelai laki – laki yang adalah sahabat waktu masih di putih abu – abu.
“ Dokter Julio …. “ sapa balik sang pengantin. Lalu mereka saling berpelukan ala laki – laki. “ Lama nggak ketemu kita. Apa kabar ? “ tanyanya.
“ Alhamdulillah, aku sehat. “ jawab Julio. “ Aku nggak nyangka beneran, kalau hubungan kalian bisa selanggeng sekarang dan bisa kalian bawa ke pelaminan. “ lanjutnya sambil menatap kedua mempelai bergantian.
Yah, ternyata kedua mempelai itu sama – sama teman SMA Julio dan mereka sudah berpacaran semenjak masih di putih abu – abu.
“ Berkat doa semuanya. “ jawab sang mempelai laki – laki. “ Sama siapa kamu datang ? Jangan bilang, kamu masih asyik menjomblo. “ tanyanya.
__ADS_1
Julio tersenyum jumawa. “ Sepertinya kamu yang kalah dari saya, bang aparat. “ ucapnya. “ Nih, kenalin. Istrinya Julio Enggar Prasetya. “ ia merangkul bahu Andhara dan memperkenalkannya pada kedua temannya. Kedua mempelai di buat melongo melihat Andhara.
“ Nggak lagi bercanda kan Yo ? “ kali ini sang mempelai perempuan yang bertanya.
“ Kenapa ? “ tanya Julio mengernyit.
“ Ini beneran istri kamu ? Atau adik sepupu kamu yang kamu suruh pura – pura jadi istri kamu ? “ tanya sang mempelai masih tetap belum percaya.
Julio mengangkat tangan kanan Andhara dan tangan kanannya sendiri, sehingga terlihatlah sepasang cincin kawin melingkar di jari manis keduanya. “ See ? “ ucapnya.
“ Terlalu imut buat laki – laki seumuran kamu. Jangan bilang kamu penganut pedofil. “ ledek mempelai laki – laki.
“ Nggak ada istilah pedofil di dunia percintaan. Jika Tuhan sudah menjodohkan, maka kita tidak bisa memilih dan menolak. Dan ternyata, jodohku adalah gadis seimut dia. Siapa yang bisa menolak, coba ? “ sahut Julio.
“ Pantesan yang, selama ini dia anti mainstreem sama makhluk yang berjuluk perempuan. Ternyata yang di tungguin yang kayak gini. “ ujar sang mempelai perempuan ke suaminya.
“ Halo, cantik. Aku temennya Julio, yang ngakunya suami kamu. “ sapa sang mempelai perempuan yang bernama Angel itu. Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Andhara. Meskipun tadi mereka juga sudah berjabat tangan.
“ Halo, tante. Eh, maaf… Dhara bingung mesti manggil apa. “ ucap Dhara canggung.
“ Jangan tante dong. Jadi berasa tua. Panggil kak Angel aja. “ sahut Angel.
“ Oh, hai kak Angel. Nama saya Andhara. Kakak panggil aja Dhara. Jangan panggil saya cantik. Nanti abang marah. Katanya, yang boleh manggil Dhara cantik, Cuma abang aja. “ kelakar Andhara.
“ Asyik juga istri kamu Yo. “ ucap Angel. “ Jadi beneran, kamu istrinya Julio ? “
Andhara mengangguk pasti. “ 100 %, kak. Udah di bayar lunas dan halal. Stempel kepemilikan juga udah di tempel. Hampir tiap malam. “ Ambyar sudah …. Memerahlah wajah putih Julio. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Angel dan suaminya sudah tertawa terbahak – bahak.
“ Kok kamu mau sih di stempelin sama laki – laki yang udah mau bau tanah kayak dia ? “ kini sang mempelai laki – laki yang bertanya.
Bersambung
__ADS_1