
“ Kenapa nggak nginep di sini aja sih. “ gerutu Andhara.
“ Loe kan udah nikah, Ra. Wajar lah kalau suami loe ngajakin loe tinggal di rumahnya. “ bisik Lila takutnya Julio mendengar.
Percuma… Julio mendengar gerutuan Andhara dan bisikan Lila. “ Kalau kamu mau di sini, nggak pa – pa. Besok saja abang jemput kamu buat tinggal di rumah dinas abang. “ ujar Julio sambil tersenyum.
Entah kesambet jin darimana, semenjak resmi menyandang status suami Andhara, laki – laki yang biasanya mahal senyum sekarang jadi lebih sering tersenyum.
“ Jangan, nak. Biar Dhara ikut kamu. “ sahut si emak dengan cepat. “ Dhara.. “ emak berbalik berbicara dengan Andhara.
“ Dhara harus ikut pak dokter. Karena kewajiban seorang istri, selain merawat suami, menyiapkan semua kebutuhannya, salah satunya ya ikut kemanapun suami tinggal. Jangan pernah menjadi istri yang durhaka, nak. “ emak memberi pengertian ke Andhara sambil mengusap puncak kepalanya.
“ Orang tua nak Julio mumpung masih ada di sini. Mereka juga pastinya ingin ngobrol sama mantu barunya. Mereka pasti ingin mengenal kamu lebih banyak. “ lanjutnya.
Lalu emak mendekatkan sedikit tubuhnya ke Andhara dan membisikkan sesuatu. “ Tidak enak sama mertua kamu kalau kamu nginep di sini, nak. “ bisiknya lembut. Akhirnya Andhara mengangguk mengiyakan meskipun hatinya terasa berat dan setengah tidak ikhlas.
“ Emak di rumah sendirian dong. “ ucapnya sambil dengan wajah sendunya.
“ Emak sudah biasa di rumah sendirian. Kalau kamu nginep di mess kan emak juga sendirian di rumah. Lagian sudah jadi resikonya emak punya anak perempuan. Kalau udah nikah ya pasti di bawa suaminya pergi. “ kelakar si emak.
“ Udah sana, ganti baju kamu, sekalian beres – beres bawa baju juga. “ suruh emak. Andhara mengangguk, tapi dengan bibir manyun beberapa senti membuat Julio mengulum senyumnya kala memperhatikan raut wajah terpaksa istri barunya.
“ Yang ikhlas nak, kalau mau memenuhi kewajiban sebagai istri. Biar dapet pahalanya. “ teriak si emak sambil terkekeh karena Andhara sudah otw ke kamar.
“ IYA. “ jawab Andhara dengan teriak juga.
__ADS_1
“ Yang sabar ya nak, ngadepin si Dhara. “ pinta si emak ke Julio. “ Dia memang masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri. Jadi belum mengerti bagaimana jadi istri yang baik. “ tambahnya.
“ Iya mak. Julio ngerti. Dan itu akan jadi tugas Julio untuk membimbing Dhara untuk bisa menjadi istri yang baik. “ jawab Julio.
Cukup lama Andhara berada di dalam kamarnya. Keluar dari kamar setelah satu jam lamanya, ia membawa tas ranselnya yang entah apa isinya. Untung saja Julio sudah biasa dengan hal menunggu seperti ini. Jika tidak, mungkin ia sudah memilih pulang terlebih dahulu dan menyuruh Andhara menyusulnya sendiri.
“ Lama banget Dhar? Kasihan nih suamimu nungguin sampai satu jam. Untung nggak nyampe tumbuh lumut. “ ujar si emak. Mendengar ucapan emak, Julio mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah pintu kamar Andhara yang sudah terbuka dan menampilkan sosok istrinya.
“ Mandi dulu mak. Bersih – bersih juga. Wajah Dhara udah kayak mau ngelenong aja. “ jawab Andhara.
“ Ya udah, sana. Kasihan sama suami kamu. “ ujar si emak.
Julio bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Andhara dan mengambil tas ransel Dhara dari tangannya. Dhara memeluk sang emak.
“ Dih, udah kayak mau ninggalin emak bertahun – tahun lamanya aja. Mukanya nggak usah di tekuk gitu. Palingan besok juga udah pulang lagi. “ ledek si emak.
“ Nurut sama suami ya nak. “ pesan si emak saat Dhara menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya. Andhara mengangguk. Lalu bergantian dengan Julio.
“ Kami pergi dulu mak. “ pamit Julio.
“ Titip anak gadis emak ya. “ pesan emak, dan Julio mengangguk sambil tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
“ Astagfirullah !! “ entah karena seringnya Andhara bercanda mesum sama Lila atau seringnya dirinya menonton film box office yang beberapa di antaranya terdapat adegan me_sum, otak Andhara travelling keman – mana saat ini.
Ia sedang berada di kamar Julio sendirian saat ini, karena Julio masih mandi di kamar mandi luar. Rumah dinas yang Julio tempati, tidak mempunyai kamar mandi di dalam kamar. Kamar mandinya berada di dekat dapur belakang.
Andhara berjalan mondar – mandir di dalam kamar sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kadang – kadang ia menempelkan telinganya ke daun pintu kamar yang tertutup. Ia hanya ingin mengecek, adakah suara langkah kaki berat menuju ke kamar itu ?
“ Kok nggak selesai – selesai ya mandinya ? Emang selama itu ya seorang laki – laki kalau mandi ? Perasaan si Sono sama si Putro kagak deh. Atau jangan – jangan pak dokter ngobrol lagi sama bunda sama ayah ? Eh, tapi kan tadi ayah sama bunda udah pamit mau istirahat. “ gumamnya.
“ Gue intipin aja kali ya. “ lanjutnya, lalu membuka daun pintu sedikit dan hendak melongokkan kepalanya keluar, tapi tidak jadi karena ia di suguhi pemandangan yang membuat mata berbinar.
Mata sepet bisa jadi bening jika tiap hari di suguhi pemandangan seperti ini. Wuihh, beda banget sama yang ada di serial bikini bottom yang sering gue lihat. Batin Andhara sambil menelan salivanya dengan susah payah. Ini mah kelewat sempurna. Mana ada tahunya lagi. Lanjut otak Andhara bertravelling.
Rambut basah acak – acakan, dengan tetesan airnya menambah kesan so hot, handuk berwarna biru muda yang melilit di pinggang dengan kulit putih bersihnya membuat iler Andhara hampir menetes karena tidak mampu ia telan dengan baik.
“ Sorry, abang lupa bawa baju ganti tadi. “ ujar Julio saat ia menyadari pandangan aneh dari mata Andhara terhadapnya.
“ Eh, ah, oh… Duh! “ Andhara malah di buat salah tingkah di buatnya. Ia lalu menggaruk tengkuknya untuk mengurangi rasa gugupnya.
“ Kamu mau keluar ? “ tanya Julio kembali. “ Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur. Besok sudah hari Senin. Kamu harus sekolah kan ? “ lanjut Julio.
“ I- iya. Dhara nggak mau kemana – mana kok. “ jawab Dhara.
“ Ya udah. Ayo, masuk lagi ke dalam. Abang juga mau ganti baju. Malam ini udaranya terlalu dingin. “ ucap Julio.
__ADS_1
“ Ah. I – iya. “ jawab Andhara masih dengan kegugupannya. Ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke kembali ke dalam kamar di ikuti Julio dari belakang. Bibir Julio mengulas sedikit senyuman karena ia tahu apa yang di pikirkan oleh istri belianya.
bersambung