
Sudah beberapa hari berlalu semenjak kejadian malam itu. Meskipun kejadian memalukan itu masih terkenang di memori otak kecil Andhara, tapi ia masih tetap bersikap biasa seperti tidak pernah ia mengalami kejadian itu. Begitupun dengan Julio.
Siang hari itu, sepulang dari sekolah, Dhara menyempatkan diri untuk datang ke puskesmas menyusul sang suami hendak meminta ijin untuk pergi ke markas tim sepakbola putri kabupaten.
Sang pelatih mengatakan jika mereka akan tanding satu minggu lagi. Jadi sang pelatih menyuruh timnya untuk berlatih setiap hari dalam waktu satu minggu ini.
“ Rasanya masih trauma mau ke Puskesmas. “ gumam Andhara seraya turun dari motor maticnya.
Ia melepas helmnya, lalu menaruhnya di atas jok sambil menatap canggung ke arah bangunan tua yang di gunakan untuk pusat kesehatan masyarakat desa Bojong Burut.
“ Tapi mau gimana lagi dong ? Kalau nggak minta ijin sama suami, entar jadi kuwalat! Kayak jambu mete dong. Pala gue di bawah, kaki gue di atas. “ kekehnya.
“ Ya elah, SUAMI ? “ ia terkekeh lucu. “ Gue punya suami? Dan suami gue pak dokter yang gantengnya ngalahin Hyun Bin? Tapi tetep nggak bisa ngalahin Chris Hemsworth lah. Aktor kezeyengan gue. “ senyumnya sambil berjalan masuk ke puskesmas.
“ Body sih sebelas dua belas lah sama doi. So hotzzz. Tapi tetep gue masih demen sama si Crish kesayangan gue. Dosa nggak sih kalau kita suka sama laki – laki selain suami kita ? Ngefans boleh dong ya ? Kalau nggak boleh, ngapain mesti repot – repot bayar mahal – mahal para cowok nan ganteng buat main film. “ mulutnya masih saja komat – kamit sampai akhirnya suara seorang wanita mengagetkannya.
“ Mau ketemu mas dokter ya Dhar ? “ tanya Mbak Muni dengan nada menggoda Dhara, karena ia termasuk salah satu orang yang tahu tentang pernikahan antara Andhara dan Julio.
“ Eh, mbak Muni. Ngagetin aja ih! “ Andhara benar – benar terkejut dengan suara Mbak Muni karena ia masih asyik dengan berkomat – kamit ria.
“ Ngagetin gimana ? Orang mbak dari tadi juga di sini. “
“ Oh ya ? “ beo Dhara. “ Maaf mbak, Dhara masih sibuk sama rumus – rumus trigonometri yang tadi di suruh guru Dhara hafalin. “ elah pakai mengkambing hitamkan rumus.
“ Mau ketemu sama mas suami ya ? “
“ Mas suami apaan ? Lebay deh ih. “ Pipi Dhara terasa memanas dan memerah oleh ucapan Andhara. “ Pak dokter ada kan mbak ? “
“ Ada. Kangen ya ? Sampai – sampai nggak nahan nungguin mas suami pulang ? “ goda mbak Muni.
“ Dih, mbak Muni asal deh. Dhara Cuma mau minta ijin buat pergi latihan ke kabupaten. “
“ Wah, yang jadi atlit kabupaten. Gajinya pasti besar ya Dhar ? “
__ADS_1
“ Alhamdulillah mbak. Mau besar mau kecil, asal di terimanya dengan ikhlas, pasti berkah. “
Dih udah kayak umi – umi ustadzah aja gue. Batin Dhara.
“ Ya udah, Dhara ke ruangan pak dokter dulu. Takut terlambat berangkat ke kabupaten. “ lanjutnya sambil berjalan menjauh dari resepsionis Julio.
“ Selalu aja seperti ini. Kenapa nggak dengerin mbak dulu bilang. Mbak kan baru mau ngasih tahu kalau di dalam ada …. “ monolog mbak Muni sambil menatap punggung Dhara yang sudah berlalu. “ Perempuan yang dulu. “ lirihnya.
Dhara dengan sedikit tergesa melenggang ke ruangan Julio. Tapi sampai dekat pintu, langkah kakinya terhenti. Tubuhnya jadi terasa kaku.
“ Maaf. “ sebuah kata keluar dari mulut bersuara bariton yang beberapa minggu terakhir ini selalu menghiasi hari – hari Andhara.
“ Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama gue, Yo ? Gue sayang sama loe. Gue cinta sama loe, Yo. “ sahut seorang gadis dengan sesenggukan.
“ Kita masih tetap bisa berteman, Ren. “ ucap Julio sambil mengusap pundak Karen untuk menenangkan gadis itu.
“ Kamu cantik. Kamu juga perempuan sukses. Akan banyak laki – laki di luaran sana yang mau sama kamu. Dan bahkan jauh lebih baik dari aku. “ lanjutnya.
Lalu ia memutar tubuhnya dan berbalik meninggalkan dua sejoli yang mungkin sedang menyelesaikan sisa – sisa masa lalu. Secepat kilat Dhara berlari keluar dari puskesmas. Bahkan panggilan mbak Muni juga tidak ia indahkan.
.
.
.
“ Mau sepakbola loe Ra ? “ tanya Soni yang tiba – tiba muncul dari arah belakang saat Dhara hendak menstater motornya di depan rumahnya.
“ Mau ronggengan ! “ ketus Dhara. Ngajakin smack down nih orang. Untung nggak di telan utuh sama Dhara. Nggak tahu apa kalau Dhara tuh lagi BT.
“ Seriusan mbaknya bisa main sepakbola ? “ tanya seseorang yang berada di belakang Soni dan memboncengnya.
Andhara menaikkan pandangannya untuk melihat siapakah gerangan. Ia mengernyit. Belum pernah dirinya melihat pria itu di kampungnya.
__ADS_1
“ Kenalin, sepupu gue. Baru datang dari Jawa Timur tadi pagi. “ ucap Soni.
“ Hai, salam kenal. Saya Cakra. “ laki – laki bernama Cakra itu mengulurkan tangannya.
Andhara mengangguk, tapi masih merasa enggan menerima uluran tangan Cakra. Ia masih ingat kalau sekarang dirinya adalah gadis bersuami.
Tidak sepantasnya bersentuhan dengan laki – laki lain kan ? Mengingat kata suami, Dhara kembali merasa kesal tapi juga merasa bersalah.
Cakra menarik kembali tangannya. “ Boleh nih minta di ajarin main sepakbola ? " ujarnya.
“ Sama si Soni aja tuh. “ jawab Dhara ngasal.
“ Bukannya jadwal loe latihan di kabupaten tiap senin sore ya ? “ tanya Soni.
“ Mau ada pertandingan minggu depan. Jadi tiap hari harus latihan. “ jawab Dhara malas sambil membetulkan letak tas selempangnya.
“ Sorry, gue duluan. Takut terlambat dan dapet skorsing . “ pamitnya.
Ngeng
Motor Dhara melaju begitu saja meninggalkan Soni. “ Di sekolah aja di skorsing malah seneng . “ gumamnya sambil terkekeh.
“ Teman kamu cantik. “ puji Cakra sepupu Soni.
“ Abang jangan macam – macam. Dia bukan jomblo. Udah punya gandengan. ! “ ancam Soni, tapi Cakra malah terkekeh sambil menatap ke arah motor Dhara yang hanya terlihat kecil karena sudah semakin menjauh.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1