
“ Dih, main pergi aja. “ gerutu Andhara tapi tak urung, setelah menaruh baju – baju yang Julio bawa dari rumah tadi ke dalam almari, ia ikut keluar dari kamar.
Terlihat di ruang tengah, Julio sedang menyesap kopinya sambil menonton saluran berita di televisi. “ Lah kok di pindahin chanelnya ? Ketinggalan si jarwo kan jadinya. “ sungut Andhara sambil menghenyakkan pan_tatnya di kursi.
“ Jarwo udah berubah jadi berita gosip yang lagi booming. “ jawab Julio setelah ia selesai menyesap kopi. Andhara melihat ke jam dinding.
“ Oh, iya udah selesai. “ gumamnya. “ Pak dokter kenapa ikutan kesini ? kenapa nggak di rumah dinas aja ? “ tanya Dhara sambil mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan duduk bersila, mengambil toples yang berisi keripik, lalu memangkunya.
“ Karena istri abang ada di sini. Udah tiga hari tidur ada yang nemenin. Kalau harus tidur sendiri lagi, aneh rasanya. “ jawab Julio sambil ikut menyomot keripik singkong dari dalam toples yang di pangku Andhara.
“ Pak dokter, nih keripiknya banyak micinnya loh. “ Lain di mulut, lain di hati memang. Di mulut protes, tapi di hati berbunga – bunga karena merasa di inginkan oleh sang pemilik hati. Yang sekarang juga sudah bertambah gelar menjadi pemilik raga juga.
“ Emang kenapa ? “ Dengan santai, Julio terus memamah biak memakan cemilan yang Dhara bilang banyak mengandung perisai.
“ Kalau di novel – novel yang ceritanya tentang dokter, biasanya anti makan makanan yang banyak penyedap rasanya kayak gini. Katanya nggak sehat lah, bikin penyakit lah. A b c d sampai z ada semua tuh alasannya. “
“ Dokter juga manusia. “ sahut Julio enteng. “ Makanan yang mengandung penyedap rasa memang enak rasanya dan ngangenin. ” lanjutnya.
Kayak kamu, ngangenin. Tapi hanya dalam hati Julio mengatakan itu. “ Asalkan nggak berlebihan aja. Lagian, kalau makanan berperasa kayak gini nggak boleh di makan, kan kasihan pabriknya. Bisa gulung tikar. Jadi kasihan pegawainya pada jadi pengangguran. “ lanjutnya lagi.
“ Pak dokter udah makan malam apa belum ? “ Andhara tidak mau ambil pusing dengan jawaban suaminya.
“ Belum. “
“ Kalau gitu, Dhara ke dapur dulu. “ Andhara meletakkan toples yang di pangkunya tadi ke pangkuan Julio.
“ Kamu mau masak ? “
“ Nggak. “ Andhara menggelengkan kepalanya sambil berdiri dari duduknya. “ Dhara nggak bisa masak. Belum sempat belajar sama emak. Jadi tadi emak yang masak. Dhara ke dapur Cuma mau angetin aja. “ lanjutnya sambil berjalan ke arah dapur.
“ Ngangetinnya yang lamaan. Abang mau mandi dulu. Tadi belum sempat mandi. “ sahut Julio setengah berteriak karena Dhara sudah agak jauhan.
“ Kalau mau mandi, Dhara rebusin air dulu. “ teriak Dhara. Belajar jadi istri yang baik. Di mulai dari urusan mandi dan isi perut. Batin Dhara sambil tersenyum.
“ Nggak usah. Abang mandi air dingin aja. “ jawab Julio.
__ADS_1
Mulai saat nikahin kamu, aku harus belajar mandi air dingin pada malam hari, kan ? Sampai talas bogorku selesai bertapa. Julio bangkit dari duduknya yang sebelumnya ia menyeruput kopinya hingga tandas, dan kembali ke kamar Dhara.
Sambil memanaskan sayur nangka dan ikan pindang yang di masak pedas oleh si emak, Dhara bernyanyi – nyanyi kecil dengan headseat tertancap di lubang telinganya.
“ No se lo que piensas… Me tienes dando vuelta… Te vas y regresas…. “ suara merdu Andhara mendendangkan lagu Enrique Iglesias berjudul Pendejo sambil sedikit meliuk – liukkan tubuhnya mengikuti irama musik yang terdengar dari headset di telinganya.
Julio mamandang pemandangan indah itu dari ambang pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Senyum manis tak pernah lekang dari kedua sudut bibirnya. Gimana nggak mandi air dingin terus tiap hari kalau lihat pemandangan beginian? Sekelebat pertanyaan muncul dalam pikiran Julio.
“ Y por un ratico … Me quito el corazon y te lo dejo … “ Andhara bergoyang mengangkat tangannya dan berbalik badan dan …. Deg…. Gerakan Dhara tertahan. Ia terkejut dan tersipu karena kedapatan sedang ngedance ala amerika latin. Tubuhnya meliuk – liuk sek_si.
“ Pak dokter – “ ucapnya sambil dengan cepat melepas headset dari telinganya. Ia tersenyum canggung.
“ Suara yang bagus. Apalagi tariannya. So Hot. “ goda Julio sambil berjalan mendekat ke arah Andhara.
“ Apa sih. “ elak Andhara sambil membalikkan kembali badannya menghadap ke kompor untuk menutupi semburat di pipinya.
Ceklek. Dhara mematikan kompor karena sayurnya sudah mendidih dan ikan pindang juga sudah panas.
Andhara memindahkan sayur ke dalam mangkuk, dan memindahkan ikan pindang ke atas piring. Lalu membawanya ke meja makan. Julio tidak melepas pandangannya dari semua gerak – gerik Andhara.
“ Pak dokter jangan pandangin Dhara terus kayak gitu. Awas, nanti bisa jatuh cinta ! “ ujarnya sambil mengambil piring untuk makan mereka berdua.
“ Apa pak ? “
“ Nggak. “ jawab Julio cepat. “ Kamu kapan panggil abang dengan panggilan abang ? Bukan pak dokter lagi ? “
“ Besok – besok lah kalau udah kebiasa. “ jawab Andhara sambil mengambilkan nasi untuk Julio. “ Segini, atau nambah lagi ? “ tanyanya.
“ Segitu aja dulu. Nanti kalau kurang, nambah lagi. “
Andhara mengangguk, lalu ia ganti mengambilkan sayur dan ikan untuk Julio. “ Maaf ya pak dokter, lauknya Cuma kayak gitu. Nggak ada daging. “
“ Ini udah lebih dari cukup. Apapun yang emak masak, pasti enak. “
Lalu mereka melakukan makan malam berdua. Bukan candle light dinner ya. Masak candle light dinner lauknya pakai ikan pinggang. Yang ada, kucing – kucing pada ketawa cekakan. Ngiri, bilang bosss!!
__ADS_1
.
.
.
“ Ini, uang jajan kamu selama satu minggu ini. “ Julio menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru ke Dhara. Menafkahi secara lahir ke istri, wajib hukumnya.
“ Eh, tapi Dhara kemarin udah di kasih sama emak. Uangnya juga masih cukup buat jajan besok. “ jawab Dhara agak bingung.
“ Kalau mau beli apa aja, pakai uang itu. Jangan minta lagi sama emak. Uang sekolah juga besok abang yang ngasih. Sekarang kamu tanggung jawab abang. Jadi semua keperluan kamu, urusan abang sekarang. Kalau uang itu habis dan abang belum ngasih lagi, bilang aja sama abang. “
“ Tapi ini kebanyakan pak dokter. Biasanya emak ngasih biru satu lembar, buat Dhara jajan tiga hari loh. Lagian, Dhara juga dapet gaji dari manager tim kabupaten. “
“ Kalau gaji, kamu simpan. Kamu tabung aja. “ Julio menuju ranjang, lalu naik ke atas ranjang. Dhara berdiri dari ranjang, lalu menaruh uang yang di beri oleh Julio ke dalam dompetnya. Setelahnya, ia berjalan menuju pintu.
“ Mau kemana kamu ? “ tanya Julio.
Dengan tatapan polosnya, Dhara menjawab “ Mau ke kamar emak. Tidur sama emak. Kan kasur Dhara di pakai pak dokter buat tidur. “
“ Yakin, emak bolehin kamu tidur di kamarnya ? “ kerling Julio. Dhara mengernyitkan dahinya.
“ Tidur sini sama abang. Temenin abang. Abang tadi udah bilang kan, abang sekarang nggak bisa tidur sendiri tanpa Dhara. Lagian, kewajiban istri itu menemani suaminya tidur loh. Bukannya malah di tinggalin sendirian. “
“ Ck. Pak dokter kenapa jadi manja plus genit sih! “ ketus Andhara, tapi ia tetap keluar dari kamar. Tapi tak berselang lama, ia kembali lagi dengan bibir yang manyun.
“ Awas, Dhara mau tidur. Geser sana! “ ucapnya dengan nada suara kesal.
Julio menggeser duduknya, “ Kenapa nggak jadi tidur bareng emak ? “
“ Nggak di bolehin ! “ jawabnya ketus sambil merebahkan tubuhnya miring memunggungi Julio.
Julio menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Ia juga sengaja menyingkirkan guling perlahan dan menaruhnya di bawah ranjang.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa, ajakin sodara, pacar, tetangga kelean buat ngasih like, subscribe, juga komen di karya othor ini yes....
Insyaallah, besok di akhir cerita, othor yang solehah ini mau bagi² rejeki buat kelean ... kategori kek apa?? tungguin aja besok yes ...