Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Manggung


__ADS_3

Andhara di sambut hangat oleh teman – teman band ALA KADARNYA di café. Ia tak menyangka jika pengunjung di cafe itu sangatlah banyak.


Bahkan tidak ada bangku kosong yang tersendia. Dan bisa kalian tebak, jika pengunjung malam itu mayoritas berjenis kelamin laki – laki.


“ Ramai banget, kak. “ ujar Andhara sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ia menghenyakkan pan tatnya di atas kursi di sebelah Aldi.


“ Iya. Malam ini pengunjung café ramai karena tahu kalau kamu akan hadir di sini. Kamu tahu kan, setelah acara dadakan waktu ospek dulu, kamu jadi idola baru. “ bukan Aldi yang menjawab, melainkan Vano.


“ Iyakah ? Perasaan aku biasa aja deh kak. Dan aku juga nggak suka jadi idola. Ribet. “ sahut Andhara. “ Kita manggung jam berapa nih kak ? Soalnya aku nggak bisa pulang malem – malem. “ lanjutnya.


“ Seperempat jam lagi. Minum dulu minuman kamu. “ jawab Aldi sambil menyodorkan minuman untuk Andhara.


“ Makasih, kak. “ jawab Andhara lalu ia menyeruput juice yang telah tersedia untuknya.


Aldi mengangguk sambil tersenyum dan terus mengamati Andhara. Membuat Andhara salah tingkah dan tidak nyaman pastinya.


” Seperti yang telah pihak café sampaikan di pamflet ya. Malam ini, spesial kita datangkan idola baru yang lagi viral. Yuk, kita sambut … siapa lagi kalau bukan Andhara Nurmalia dan ALA KADARNYA band… “ teriak MC mengumumkan.


Para personil band, mulai pada berdiri. “ Ayo. “ ajak Vano ke Andhara.


“ Sekarang, kak ? “ tanya Andhara. “ Kok Dhara jadi tremor gini ya. “ keluhnya. “ Mana yang nontonin banyak lagi. “


Vano tersenyum, lalu ia meraih bahu Andhara dan di gandengnya menuju ke atas panggung. Melihat hal itu, Aldi merasa terbakar. Ia tahu, jika Vano juga mengincar Andhara. Jika sudah begini, ia harus gercep. Batinnya.


Sedangkan Andhara, ia berusaha menepis tangan Vano yang berada di bahunya. “ Maaf, kak. Jangan seperti gini. Nggak enak di lihat orang banyak. Bukan muhrim. “ ujar Andhara.


Vano mengangkat tangannya lalu menggosok tengkuknya merasa tidak enak. Baru kali ini Vano di buat jiper sama cewek.


Andhara naik ke atas panggung paling belakang. Lalu ia berdiri di sebelah Vano yang sudah memegang gitar.


“ Kamu nyanyi sendiri dulu, baru nanti kita duet. “ ucap Vano.


“ Duh, Dhara bingung mau nyanyi apaan. “ tiba – tiba otak jenius bak einstein hilang entah kemana.


“ Coba search di You tube dulu deh. Kamu mau lagu apa. “ usul Vano. Andhara mengangguk, lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Tak lama, ia tersenyum, sambil menunjukkan lagu yang ia pilih ke anggota band yang lain.


“ Halo, selamat malam semuanya. “ sapa Vano ke para pengunjung.


“ Malaaammm !!! “ teriak seluruh pengunjung.

__ADS_1


“ Setelah menunggu sekian purnama, akhirnya kita bisa bertemu dengan idola baru kalian secara live. Mendengarkan suara indahnya yang bisa menghipnotis kita semua. “ lanjut Vano sambil menoleh dan tersenyum ke arah Andhara.


Andhara ikut tersenyum, lalu ia meraih stand mic yang ada di depannya.


“ Halo, selamat malam semuanya…. “ sapa Dhara.


“ Malam…….!!!! “ sapaan balik terdengar lebih ramai dari ketika Vano yang menyapa.


“ E hem. “ Dhara berdehem. “ Agak tremor. Jadi amnesia mau bilang apa. “ candanya dan di sambut tawa dari pengunjung.


“ Gue mau ucapin sorry banget, kalau gue baru bisa ada di hadapan kalian malam ini. “ ucap Andhara. “ Bukannya apa – apa, tapi gue beneran tremor kalau berdiri di hadapan orang banyak kek gini. Berasa lagi ngadepin pasukan densus 88 yang lagi mau nyergap *******. Hehehe …. “ kembali café di buta ramai oleh tawa pengunjung.


“ Oke. Karena di sini gue bukan mau lomba pidato, atau mau mauidloh hasanah, jadi mending kalian dengerin suara gue yang kalian bilang indah itu. “ lanjut Andhara sambil mengerlingkan matanya.


Dan terdengarlah riuh tepuk tangan membahana di seluruh penjuru café. “ Meskipun sebenarnya, suara gue nggak seindah yang kalian bayangin. “ imbuhnya. Dan kembali terdengar riuh pengunjung.


Ia lalu menoleh ke belakang untuk memberikan aba – aba ke anggota band, jika dirinya sudah siap. Terdengar petikan gitar Aldi mulai terdengar.


Berdiri


Ku memutar waktu


Terlihat para pengunjung sedang meresapi lagu yang di bawakan oleh Andhara. Ada yang merekam Andhara, memvideo, atau bahkan menyiarkannya secara live di sosmed.


Teringat


Kamu yang dulu


Ada di sampingku setiap hari


Jadi sandaran ternyaman


Saat ku lemah saat ku lelah


Tersadar


Ku tinggal sendiri


Merenungi

__ADS_1


Semua yang tak mungkin


Lagu Tak ingin Usai, Keisya Levronka


Riuh tepuk tangan para pengunjung kembali membahana setelah lagu itu selesai di bawakan oleh Andhara.


“ Woooooo !!!! “ pekik para pengunjung.


“ LAGIIIII !!!! “ pekik mereka kembali.


“ Lagi ? “ tanya Andhara. Dan di sambut kata iya dari pengunjung. “ Gimana kalau gue duet dulu sama kak Vano ? “ tanyanya lagi dan kembali di iyakan oleh pengunjung.


Sedangkan di tempat lain, juga terjadi kehebohan.


“ Wesss …. Lihat nih, istri dokter Julio. Cantik banget. “ ucap salah satu dokter jaga di UGD. Beberapa suster dan mantri mendekat ke dokter itu, untuk melihat apa yang rekannya itu lihat.


“ Wah, suaranya bagus banget ya. “ ujar salah satunya lagi.


“ Dok, udah lihat siaran live belum ? “ tanya seorang suster ke Julio yang sedang melewatinya.


Julio mengernyit. “ Siaran apa ? “ tanyanya.


“ live streaming mbak Dhara yang lagi manggung. “ jawab suster itu yang ternyata sudah mengenal Dhara. Siapa coba yang tidak mengenal Dhara di rumah sakit itu. Istri dokter Julio yang terkenal ramah, lucu, rusuh, juga absurb.


“ Live streaming ? “ gumamnya sambil menghampiri gerombolan orang di sana.


Kepalanya ikut melongo melihat apa yang membuat dokter dan suster bergerombol. Sontak matanya melotot melihat siaran live itu. Ia segera merebut ponsel milik dokter Gibran.


“ Eh, eh, kalem bro… “ ujar dokter Gibran.


“ Loh, kok ramai banget gini ? Pengunjungnya mana laki – laki semua lagi. “ gerutu Julio tak mngindahkan protes dari dokter Gibran. “ Tadi bilangnya nggak ada ramai – ramai. “ keluhnya.


“ ****!! “ umpatnya.


“ Santai, bro…. “ ucap dokter Gibran sambil mengambil ponselnya kembali. Dan Julio mengusap wajahnya kasar. “ Resiko punya istri cakep. Mana suaranya bagus lagi. “ kekehnya menggoda Julio yang terlihat sedang kesal.


“ Tadi, mbak Dhara ijin dulu nggak mau manggung ? “ tanya suster senior. Dan Julio mengangguk.


“ Ya sudah, berarti mbak Dhara nggak salah dong dok. Kan udah atas ijin suami juga. Lagian, sekali – sekali lah, biar istri dokter Julio mengeksplor diri. Punya bakat nggak Cuma di pendam aja. “ ucapnya sambil menepuk pundak Julio yang masih terlihat gusar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2