Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Jendes rasa perawan


__ADS_3

“ Kenapa gue jadi sedih gini ya mau di tinggalin si Anggoro kesayangan gue ??? “ Lila yang sok suka mendramatisir keadaan mulai mengeluarkan air mata buayanya.


“ E lah air mata buaya loe, Lo !! “ protes Soni. “ Kayak Anggoro mau pergi selamanya aja. “


Plak


Sebuah gamparan yang lumayan panas Soni dapatkan dari Andhara. “ Loe doain gue meninggoy !! “


“ Aw. Kagak lah Ro… Mana tega gue. “ sahut Soni.


“ Malah pada berisik. Eh, lagian Anggoro Cuma nginep di mess doang. Tiap hari juga bisa ketemu di sekolah. “ sahut Putra.


“ Ih, beda tau Put. Biasanya sore – sore kan kita nongki – nongki bareng di persimpangan sambil nyambangin bang Didit beli siomay yang rasanya aduh hay itu. “ Lila menunjukkan puppy eyesnya.


“ Dari pada loe pada berisik, mending doain tim gue menang deh. “ pinta Andhara.


“ Udah pamit sama laki loe, Ra ? “ tanya Eka pelan takut satu sekolahan denger.


“ Udah. “ jawab Dhara dengan cuek. Anggap saja dia udah pamitan alias minta ijin sama suaminya. Bukankah semalam ia sudah mengatakannya ? Meskipun semenjak percakapan semalam, Dhara tidak mengeluarkan sepatah katapun ke suaminya.


“ Jadi di anterin si Putro ? “ tanya Soni sambil membereskan buku – bukunya.


“ Jadi dong. “ Bukan Andhara yang menjawab, tapi suara Putra yang terdengar penuh semangat.


Semenjak Dhara menikah, Putra jadi sangat jarang punya kesempatan berduaan dengan sang pemilik hati meskipun diam – diam.


“ Ya udah yuk Ro. Kita capcus. Buru sore. Loe kan mau latihan lagi. Jangan peduliin semut – semut kecil ini. “ lanjutnya sudah dalam posisi berdiri dan memanggul tas sekolahnya.


“ Biarin semut kecil. Yang penting kalau gigit bisa bikin gatel – gatel terus bentol – bentol “ sahut Lila tak terima.


Lalu mereka berlima berjalan bersamaan ke parkiran. “ Motor loe, nggak loe bawa aja ? “ tanya Lila.


“ Nggak. Motor gue taruh di rumah aja. Ribet kalau bawa motor. Katanya orang – orang sekitar sana agak horor sama curanmor. Mana besok gue mesti keluar kota juga kan. “ jawab Dhara dan Lila mengangguk – ngangguk.


“ Ayo Ra !! Buru !! “ teriak Putra yang sudah berada di atas motornya di depan gerbang. Andhara mengangguk.


“ Gue duluan ya Lo, Ko, Son.. “ pamitnya ke teman – temannya yang lain.

__ADS_1


“ Hati – hati ya Ro. Entar kalau ada polisi tidur, suruh Putro berenti, polisinya di bangunin . “ seloroh Lila.


“ Assiapp ! Entar sekalian gue nyuruh si Putro ngajakin tuh polisi ngopi barengan . " Andhara memakai helmnya dan hendak naik ke atas jok motor Putra. Tas bawaan Andhara udah Putra taruh di depannya.


“ Biar abang aja nganterin . “ Tiba – tiba Julio datang dan memegang tangan Andhara.


“ Biar Putra aja. Takutnya banyak yang curiga kalau pak dokter yang nganterin Dhara. “ jawab Dhara.


Julio sedikit melongo ke dalam sekolah. “ Udah sepi. Teman – teman sekolah kamu udah pada pulang. “


“ Iya. Tapi nggak menutup kemungkinan di jalan bisa ketemu. “ jawab Andhara.


“ Lagian teman – teman Dhara di kabupaten, nggak ada yang tahu kalau Dhara udah nikah. Di kontrak yang Dhara udah tanda tangani, ada poin yang mengatakan jika pemain ada yang menikah, maka harus mengundurkan diri. Dan Dhara nggak mau itu. Dhara baru masuk ke sana. “ lanjutnya.


“ Pak dokter tenang aja. Putra bakalan anterin Andhara dengan selamat tanpa kurang satu apapun sampai tujuan. “ sahut Putra yang merasa risih dengan situasi seperti ini.


Julio mengusap wajahnya kasar, lalu melepas genggaman tangannya di tangan Dhara.


“ Hati – hati di sana. Jaga kesehatan. Ponselnya jangan di matikan. Kalau ada apa – apa langsung hubungi abang. Kalau abang telepon, langsung di angkat. Atau kalau kamu udah selesai latihan, jangan lupa langsung telepon abang. “ pesan Julio. Dhara menjawabinya hanya dengan anggukan kepala.


Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, Julio mengecup pipi Dhara yang tidak tertutup helm. Mata Dhara membola mendapatkan kecupan itu. Irama jantung sudah bertalu – talu. Wajah memerah bak tomat, udah pasti. Tapi untung saja tertutup helm.


“ Buat bekal, biar kamu nggak lupa kalau udah punya suami yang selalu nunggu kamu pulang di sini. “ Julio berucap lembut dengan senyum manisnya yang tersungging tipis di kedua sudut bibirnya sambil mengelus pipi Andhara yang tadi ia kecup.


“ Ck ! “ Dhara berdecak kesal, dan Putra sudah menggenggam stang motor dengan erat.


Tapi tak urung Dhara mengulurkan tangan kanannya untuk menyalami suaminya. Kewajiban istri. Itu yang ada di otak Andhara saat ini. Julio menerima uluran tangan itu, lalu Dhara mengecup punggung tangannya. Julio tak langsung melepaskan tangan Andhara. Ia malah mengecup punggung tangan Andhara ganti.


“ Naiklah. “ titahnya sambil menunjuk motor Putra dengan dagunya.


Andhara mengangguk. “ Assalamualaikum. “


“ Waalaikum salam. “ jawab Julio sambil masih dengan senyuman manisnya.


“ Titip istri saya ya Put. “ ucapnya ke Putra sambil menepuk pundaknya. “ Hati – hati di jalan. “ Putra hanya mengangguk menjawab ucapan Julio. Lalu ia segera menjalankan motornya meninggalkan depan sekolah.


Sesekali Andhara melirik kaca spion motor Putra sembunyi – sembunyi. Dari sana, ia bisa melihat jika Julio masih tetap berdiri di tempatnya tadi sambil memperhatikannya.

__ADS_1


Duh, manis banget sihhh !! Suami siapa coba. Gimana nggak makin jatuh cinta gueee……. Batin Andhara lalu sebuah senyum tipis terbit dari sudut bibirnya.


Pemandangan itu tak lekang dari perhatian Putra. “ Kenapa loe nolak di anterin dia ? “ tanyanya.


“ Ha ? “ beo Dhara karena ia tidak fokus.


“ Kenapa loe nggak mau di anter sama pak dokter ? “ tanya Putra kembali.


“ Kan tadi gue udah bilang alasan gue. “


“ Loe ada masalah sama dia ? “ bukannya menanggapi jawaban Dhara, Putra justru memberikan pertanyaan yang lain.


“ Ha ? Ng-nggak kok. “


“ Loe tuh paling nggak bisa bohong sama gue. Mendingan loe cerita ke gue ada masalah apa. Bukannya gue mau ikut campur. Tapi loe butuh konsentrasi buat pertandingan loe, buat ujian yang tinggal satu bulan lagi kita hadapi. “


“ Hah ! “ Andhara menghembuskan nafasnya kasar.


“ Gue habis lihat dia lagi di puskesmas kemarin lusa. Gue berasa kayak pelakor tau nggak Put. Jahat banget gue ya. Udah tahu pak dokter udah punya pacar, tapi gue tetep mau nerima dia nikahin gue. “ jawabnya sendu. Hanya dengan Putra lah Andhara selalu bisa mengeluarkan uneg – unegnya.


“ Kok pelakor ? Yang ada, tante – tante itu tuh yang pelakor. Kan yang jadi istrinya pak Julio loe, bukan dia. “ sarkas Putra.


“ Iya, tapi kan gue kayak perebut kekasihnya gitu . “


“ Udah, jangan mikirin yang macem – macem. Yang penting sekarang, pak dokter udah jadi suami loe. Dan loe juga nggak pernah minta dia buat nikahin loe kan ? Be positive aja lah. Dia yang menginginkan loe jadi pendamping hidupnya. “ Putra berusaha menyemangati Andhara.


“ Lagian kalau sampai pak dokter nyerein loe, gue tetep siap kok nampung loe. Meskipun loe jendes. “ candanya meskipun di hati, ia serius mengatakannya.


Plak


Sebuah geplakan Putra terima. “ Loe nyumpahin gue jadi jendes ? “ sungutnya. “ Tapi nggak pa – pa juga kali jadi jendes. Jendes tapi rasa perawan. Ha …. Ha …. Ha … “ Andhara tertawa terpingkal – pingkal, diikuti oleh Putra.


Senyuman yang tadi sempat terukir di sudut bibir Andhara tiba – tiba menyurut. Ia kembali teringat.


Siapa loe Ra ? Siapa dia Ra ? Tak tau malu banget sih loe ! Pacar orang loe tempelin terus. Apa yang loe harapkan dari pernikahan ini ?? Dosa kali Ra, mencintai laki – laki yang seharusnya nggak loe cintai. Pikiran Andhara kembali bergulat dengan semuanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2