
“ Kenapa nih anak ayah kok pulang – pulang dari memanjakan diri malah manyun gini ? “ tanya Pak Siswo kala melihat Andhara telah sampai rumah bersama Bu Lestari. “ Udah pakai gaun cantik gini kok bibirnya di kuncir . “ lanjutnya sambil terkekeh.
“ Waow … “ Belum sempat Andhara menjawab pertanyaan ayah mertua, suaminya sudah turun dari lantai dua dan sangat terpesona dengan penampilan Andhara saat ini. “ Bidadari dari mana ini yang bunda bawa ? Istri Lio di gadai’in dimana bund ? Kok pulang – pulang malah bawa bidadari. “ godanya.
Bukannya senang dengan pujian suaminya, Andhara malah memutar bola matanya malas. Ia memang sudah berdandan cantik dengan mengenakan gaun model off shoulder dress. Dengan flare di bagian bawah, dan pola menyilang di bagian dada yang cantik, membuat Andhara terlihat sangat menawan dan terlihat girly.
Tatanan rambut selengannya yang di biarkan tergerai dengan bagian pinggir di buat bergelombang. Ia terlihat makin cantik dan eksotik menurut Julio. Model make up flaw less Korea yang di berikan di wajahnya dengan warna lipstik peach, menambah kesan girly – nya.
Julio mengamati penampilan baru istrinya dari ujung kali ke ujung kepala berulang – ulang kali.
“ Abang maunya Dhara di gadai’in sama bunda ? “ sarkasnya dengan bibir makin manyun.
“ Ya nggak mungkin lah bunda gadai’in anak mantu yang cantik ini. “ sahut bunda yang tidak ingin menantunya makin cemberut.
“ Sayang, abang Cuma bercanda. Masak abang rela istri abang cantik ini di gadai’in terus di tukar tambah sih. “ Julio menghampiri istrinya, lalu meraih pinggangnya hingga kini tubuh mereka bersentuhan.
“ Kamu cantik, sayang. “ bisiknya, lalu mengecup kecil pipi Andhara. Membuat semburat merah di pipi Andhara. Untung saja periasnya tadi memberikan blush on berwarna pink di kedua pipi Andhara. Jadi semburat merah itu seakan tertutupi.
“ Wah, sepertinya anak kaku kita sudah meleleh nih Yah. “ ujar Bu Lestari ke suaminya melihat sikap romantis dan hangat yang di tunjukkan Julio ke istrinya.
“ Bunda benar. Andhara sangat berjasa. “ imbuh Pak Siswo.
“ Iya dong Yah, Bund. Dhara kan kayak mesin las. Baja sama tembaga aja meleleh kok. Apalagi Cuma abang yang kayak es balok. “ sahut Dhara jumawa.
“ Kamu kenapa pulang – pulang cemberut ? Bukannya habis nyalon tuh seger ya. Habis di pijit – pijit. “ tanya Julio sambil memandang istrinya.
“ Dhara malu. “ lirihnya.
Julio menautkan kedua alisnya. Istri bar – barnya malu ? Bisakah ?
“ Malu kenapa ? “ tanya Julio.
“ Masak tadi di suruh buka baju. Mbaknya nggak mau mijit kalau Dhara tetep pakai baju. “ ujar Dhara sambil memainkan kancing baju suaminya.
__ADS_1
Julio semakin mengerutkan dahinya dalam. Ia lalu menoleh ke arah sang bunda. “ Emang kenapa bund, kok Dhara sampai di suruh buka baju ? “ tanyanya.
“ Ya iyalah Yoo… Kan mau di spa. Pijit – pijit, pakai aroma terapi. Masak iya mau di pijit pakai kaos sama celana jeans. “ ujar sang bunda.
Julio kembali memandang sang istri yang masih berada dalam pelukannya. “ Kan mau pijat sayang. Ya memang harus buka baju lah. “
“ Iya. Dhara juga tahu itu. Tapi Dhara malu. “ kekehnya.
“ Malu kenapa ? Bukankah pegawainya juga perempuan . “
“ Dhara malunya karena abang tahu nggak. “ sungut Dhara.
“ Kok ? “ Julio makin tambah tidak mengerti kalau begini ceritanya. Bagaimana bisa ujung – ujungnya dia yang salah.
“ Abang kebanyakan melukis abstraknya. “ ketusnya sambil memanyunkan bibirnya.
“ Dhara kan malu di liatin sama mbak – mbaknya. Mana mereka menahan senyumnya lagi pas lihat tubuh Dhara yang penuh dengan maha karyanya abang. “ entah karena polosnya atau karena memang Dhara yang suka asal nyablak hingga mengatakan hal ini di depan kedua orang tua suaminya.
Bahkan Pak Siswo sudah tidak bisa menahan tawanya melihat sang putra salah tingkah.
“ Mana ? Nggak ada gitu kok. Nggak kelihatan. “ ujar Julio menyahuti curhatan sang istri dengan nada suara yang buat sesantai mungkin untuk menutupi rasa malunya. Ia pun mengedarkan penglihatannya ke tubuh Dhara yang terlihat.
“ ya iyalah nggak kelihatan. Orang bunda minta sama mbaknya buat nutupin totol – totolnya. Tau tadi di kasih apa. Kalau nggak di tutupin sama mbaknya, Dhara yakin 1000 %, Dhara nggak mau nemenin abang ke resepsinya temen abang. Fix itu mah. “
“ Kok gitu ? “
“ Abang milihin gaunnya kebuka kayak gini. Kalau maha karya abang nggak di tutupi, beuh… Udah pasti entar tamu – tamunya temen abang yang cewek pada mupeng. Pengen di buatin maha karya yang sama, sama abang. Dhara nggak bakalan rela ya. “ sungutnya dengan tatapan tajamnya.
“ Abang juga nggak bakalan mau melukis maha karya abang di tubuh perempuan lain. Kuasnya Cuma cocok di tubuh kamu. “ bisiknya di telinga Dhara karena ia tidak ingin orang tuanya meledeknya. Kedua orang tuanya masih setia berada di sana.
“ Oh iya, satu lagi yang buat Dhara kesel. Se kesel – keselnya. “ ucap Dhara menggebu – gebu.
“ Hem ? “ Julio menaikkan kedua alisnya.
__ADS_1
“ Nih, lihat nih bang. “ Dhara mendongak lalu menunjuk alisnya dengan jari telunjuknya. “ Alis Dhara masak di bikin kayak bulan sabit gini. Nih, mbaknya nggak bilang – bilang kalau alis Dhara mau di kerok. Udah kayak bulu keti_ak aja pakai di kerok pakai Gill_ete. “ kesalnya.
“ Bagus gini kok. Cantik malahan. “ puji Julio sambil mengelus alis Dhara.
“ Tapi Dhara nggak suka, abaaang … “ rengeknya. “ Dhara suka alis Dhara yang biasanya. Tebel, lebat, hitam. Kagak kayak gini. “ Cemberutnya. “ Ini mah jadi kayak cewek – cewek genit nggak jelas. “ protesnya.
“ Nanti juga bakalan numbuh lagi. Lagian kalau udah terlanjut di kerok, kan nggak bisa di tempelin lagi. Masak iya mau di tempel lagi pakai lem Fo_x ? “ goda Julio.
“ Emang alis Dhara sepatu ? “ sengaknya.
“ Eh, udah – udah ributnya. Mending buruan berangkat. Nanti keburu dapet tempat parkirnya jauh. “ bunda bersuara.
Julio melirik jam di pergelangan tangannya. Oh, sudah waktunya. Bahkan ia akan terlambat sampai di gedung pernikahan. “ Kita berangkat sekarang yuk. “ Julio mengeratkan kembali pelukannya di pinggang ramping Dhara.
“ Eh, tunggu dulu deh. Dhara jadi lupa. “
“ Apa yang lupa, sayang ? “ tanya Julio.
Dhara tersenyum manis. “ Abang keren ih pakai kayak gini. “ Pujinya.
Julio mengenakan jas semi formal press body berwarna hitam agak kecoklatan, dengan warna coklat susu pada kerah dan garis pada sakunya. Dengan dalaman kemeja press body berwarna putih bergaris – garis senada dengan warna jasnya. Celana bahan berwarna senada dengan model slim cut, dan sepatu sneaker berwarna putih bersol tebal.
“ Emang biasanya abang nggak keren ? “ protesnya pura – pura kesal.
“ Keren dong. Kalau abang nggak keren, nggak mungkin Dhara mau di unboxing. “ jawabnya tanpa malu. “ Cuma abang pakai pakaian kayak gini, Dhara berasa di gandeng sama CEO – CEO yang ada di novel – novel itu. “ Dhara mengeratkan gandengannya di lengan kekar Julio sambil menyandarkan kepalanya di lengan itu.
“ Bisa aja kamu. “ Julio tersenyum sambil menyentil ujung hidung istrinya.
“ Eh, tapi awas kalau entar tebar pesona ke cewek – cewek di sana. “ ancam Dhara sambil menudingkan telunjuknya di depan muka Julio.
“ Percaya deh sama anak bunda, sayang. Julio nggak akan bisa tebar pesona ke cewek. Dia kan kakunya minta ampun. Cuma sama kamu aja dia bisa jadi lebih ekspresif. “ sahut bunda.
Setelah drama kecil itu, Julio dan Andhara berpamitan ke orang tuanya, dan segera pergi ke pesta temannya.
__ADS_1
Bersambung