
“ Emak udah tidur ? “ Julio bertanya ketika mereka sudah berada di dalam kamar. Julio yang masuk belakangan menutup pintu.
“ Emak kan lagi nggak di rumah . “ Jawab Andhara.
Julio terkejut, “ Kemana ? Kan udah malam ini. “
“ Emak ke Jawa Timur. Iparnya bapak sakit keras. Jadi emak buru – buru kesana buat jenguk. Khawatirnya kalau nggak keburu. “ Andhara mengambil handuk kecil dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh muka.
“ Loh, kok kamu nggak bilang ? Emak berangkat di antar siapa tadi ke terminalnya ? “ Julio harus setengah berteriak karena Andhara sudah berada di dalam kamar mandi.
“ Di anter kang ojek tadi. “ teriak Andhara.
Setelah Andhara selesai dari kamar mandi, gantian Julio yang masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok diri dan berganti pakaian.
Saat Julio keluar dari kamar mandi, terlihat Andhara sedang duduk di kursi yang berada di dalam kamarnya sambil menjejer buku – buku pelajarannya di atas meja.
“ Ada PR ? “ tanyanya.
“ Nggak. “ Dhara menggelengkan kepalanya. “ Iseng aja. Baca – baca nyicil buat menghadapi ujian. Sekalian mau nyiapin buat jadwal besok. “
Julio berjalan ke sudut kamar untuk menggantungkan handuk yang tadi ia pakai mengelap wajahnya. Andhara mendongakkan wajahnya untuk melihat apa yang sedang di lakukan sang suami.
‘ Double sh_it !! ‘ umpatnya tanpa suara. Ia segera kembali menundukkan kepalanya kala tak sengaja ia kembali harus melihat body kekar setengah nak_ed milik suaminya. “ Beneran ngajakin khilaf kalau gini caranya. “ gumamnya sambil meremas buku yang ada di tangannya.
Julio membalikkan badannya dan berjalan menuju ke almari hendak mengambil kaos.
“ Kaosnya udah Dhara siapin di ranjang. “ Andhara bersuara. Julio menoleh. Ia masih tetap melihat Dhara yang tetap membaca bukunya seperti tadi. Ia lalu menoleh ke ranjang dan mendapati sebuah kaos masih terlipat rapi di atas ranjang.
Julio tersenyum tipis dengan pandangan ke arah Andhara sebentar dan tangannya menutup pintu almari kembali.
__ADS_1
Lalu ia berjalan menuju ke ranjang, mengambil kaos itu, dan membukanya dari lipatan.
“ Kalau mau ganti baju, besok – besok bawa kaosnya ke kamar mandi. Jangan suka buat otak Dhara terkontaminasi sama polusi kedewasaan kalau lihat tahu sumedang milik pak dokter. “ ketus Dhara.
Julio menghentikan aktivitasnya kala mendengar Dhara berucap. Ia menoleh ke arah Dhara, tapi Dhara terlihat masih tetap menyibukkan diri dengan buku – bukunya. Julio tersenyum, lalu ia berjakan mendekat ke arah Dhara duduk.
Cethak
Julio menyentil dahi Andhara pelan. “ Auuu… “ Dhara mengusap dahinya dan sontak mendongak ke arah si yang punya tangan jahil. Tapi gerakan tangannya langsung terhenti dan tubuhnya membeku kala melihat Julio berada di sampingnya dengan keadaan sama seperti tadi.
Masih suka memperlihatkan tubuhnya yang di tempeli tahu sumedang. Tapi tahu sumedangnya udah di kasih for_malin ya guyss… Jadi kenyal – kenyal keras gitu …
Mata Dhara membola, dan salivanya tercekat di tenggorokan.
“ Kalau mau khilaf, abang juga siap kok nemenin Dhara khilaf. “ suara berat Julio menyadarkan Andhara dari bengongnya. Ia lalu membuang pandangannya.
“ Emang ada, khilaf berjamaah ? Kayak makmum sholat di masjid. “ gumam Dhara dan membuat Julio tersenyum.
“ Bo_do !! Pak dokter cepetan pakai bajunya ihh !! “ omel Dhara.
Greb . Bukannya melakukan apa yang Dhara minta, tapi ia malah memeluk tubuh Andhara dari belakang dengan body setengah na_kednya.
“ Pak dokter !!! “ pekik Andhara. “ jangan kayak gini…. Geli !!! “ lanjutnya karena selain memeluk tubuhnya erat secara tiba – tiba, kini Julio dengan sengaja meniup – niup ceruk lehernya.
“ Sekali lagi abang denger kamu manggil pak dokter, terlebih jika kita sedang berdua kayak gini, abang pastikan akan melakukan yang lebih dari ini. “ ancam Julio, tapi dengan suara pelan.
“ I – Iya. “ jawab Dhara dengan terbata. “ Abang. “
Di perlakukan seperti itu oleh suaminya, sebenarnya Andhara senang meskipun juga malu dan takut. ‘ Coba saja gue bukan pelakor dalam cerita cinta loe bang. Gue pasti sangat bahagia. ‘ hati Dhara terasa tersayat sembilu kala ia mengingat posisinya di antara Julio dan perempuan itu.
__ADS_1
Perlahan Julio melepas dekapannya sambil tersenyum tipis. Jika jantung Dhara bertabuh bak genderang yang di bunyikan kala mau perang, Julio pun sama. Jantungnya berdetak dag dig dug kayak bedug di masjid yang di pukul saat hendak sholat Jumat.
Julio lalu segera mengenakan kaosnya. Ia tidak mau jika malah dirinya yang khilaf lama – lama. Bisa – bisa sang istri tidak bisa mengikuti ujian jika dirinya yang khilaf.
“ Dhara, abang mau bicara serius sama kamu. Bisa, abang mengganggu waktu belajarmu sebentar ? “ pertanyaan yang membuat suasana canggung yang tiba – tiba hadir di antara mereka menyeruak.
“ Mau bicara apa ba-bang ? “ pertanyaan kembali Dhara lontarkan dengan nada suara bergetar. Ia menutup buku yang sedari tadi terbuka di tangannya, kemudian meletakkannya di atas meja yang ada di sampingnya.
“ Abang mau minta maaf sekalian menjelaskan kesalah pahaman antara kita. “ Julio mulai membuka pembicaraan. Dhara mengernyit. Jangan mengatakan apapun yang bisa membuat hati Dhara makin sakit deh bang. Please !! Ingin sekali kata – kata itu Dhara lontarkan, tapi malah justru hanya keluar di dalam hatinya saja.
“ Maaf, jika selama ini abang buat hatimu sakit. Maaf jika abang sering marah – marah nggak jelas sama kamu. Maaf untuk semuanya. “
Andhara memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam – dalam. Mendengar kata maaf dari mulut Julio, bukannya membuat hatinya tenang, tapi justru membuat hatinya makin kacau.
“ Abang nggak perlu minta maaf sama Dhara. Dhara ngerti kok bang. Dhara juga ngerti posisi Dhara. Abang nggak perlu khawatir. Dhara siap kok jika abang mau nyerai’in Dhara. Dhara juga siap kok menyandang status janda muda. Yang penting kan masih perawan. “ sahut Dhara menggebu – gebu, berusaha untuk melapangkan hatinya menerima kenyataan pahit yang segera hadir dalam hidupnya.
“ Abang akan bikin kamu jadi nggak perawan lagi. “ canda Julio meskipun hatinyapun terasa sakit mendengar ucapan Dhara.
“ Hisss !! Mana boleh seperti itu ? Kalau Dhara jadi janda tapi udah bolong, mana laku. “ sungut Dhara. “ Siapa yang mau nikahin Dhara nanti ? “
“ Janda bolong mahal harganya loh . “ sahut Julio masih berusaha tetap tersenyum. “ Makanya, kalau takut nggak laku kalau jadi janda bolong, jangan pernah minta cerai sama abang. “ ucapnya lembut selembut kapas.
“ Dhara tahu kan, kalau pernikahan itu adalah ikatan yang suci ? Allah memang membolehkan umatnya untuk bercerai. Tapi Allah tidak menyukainya. Dan abang, tidak akan pernah melakukan hal yang tidak di sukai oleh Allah. “
“ Tapi kalau abang ngak nyerai’in Dhara, gimana nanti abang mau nikahin tante itu ? Dhara nggak mau di madu, bang. “ pandangan Andhara sudah mulai berkabut karena air mata yang sudah mulai susah untuk di tahan.
Sebenarnya Andhara bukanlah gadis yang cengeng. Tapi sekuat – kuatnya hati, ternyata tetap saja kalah oleh yang namanya cinta.
Julio terdiam sesaat. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
__ADS_1
Bersambung