Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Creambath


__ADS_3

“ Bontoooottt ….. !!! “ suara – suara cempreng nan menggema memenuhi ruangan VVIP rumah sakit XX. Empat anak manusia akhlakless berebut masuk ke dalam ruangan 4 x 5 meter persegi itu.


Semua yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Senyum sumringah terbentuk di sudut bibir Andhara.


“ Ponakan – ponakan gueee …. “ pekik Eka saat melihat dua bayi lucu yang berada di dua buah boks bayi.


Mendengar Eka menyebut ponakan, Lila, Soni juga Putra yang tadinya hendak menghampiri Andhara berputar arah dan menghampiri dua bayi kembar yang baru lahir itu. Membuat si ibu baru memberengut kesal.


“ Mana ponakan gue ? “ ucap Lila.


“ Meni lucu pisan. “ ucap Eka gemas.


“ Awas, loe minggir. Ini tuh ponakan gue. “ sarkas Soni sambil menarik bahu Eka untuk membuat Eka mundur berantakan ke belakang.


“ Heh … heh … heh … rumah sakit ini woy !! Bukan warung remang – remang yang mau di gerebek. Pada ribut ! “ sengak Putra menjewer telinga Lila, Soni, lalu Eka bergantian.


“ Apaan sih loe tuh ! “ protes Lila tak kalah sengak sambil menepis tangan Putra dan sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk mengusap telinganya yang agak terasa panas karena jeweran Putra.


“ Awas, loe minggir. Kasihan si bayinya terkontaminasi sama bau mulut kalian. Penuh dengan dosa !“ kembali Putra menyingkirkan ketiga sahabatnya.


Dan akhirnya ia berhasil membuat ketiga sahabatnya mundur satu langkah ke belakang. Kesempatan itu tak di sia-siakan olehnya. Ia segera menghampiri boks bayi kembar itu.


“ Ra, beneran ini anak loe bukan ? “ tanyanya sambil menoleh sebentar ke arah Andhara. Lalu kembali lagi ke arah bayi kembar itu. “ Kagak ada mirip – miripnya. “ lanjutnya.


Soni yang penasaran dengan ucapan Putra segera kembali mendekat dan melihat bayi kembar itu dengan seksama. “ Iya, euy. Yang mirip Cuma hidung si biru. Mancung ke dalam kayak emaknya. Hahaha....“


“ Mo*yet loe pada ! “ segala jenis hewan meluncur bebas dari mulut Andhara.


“ Itu sih kayaknya pas keluar, agak kegencet. Loe keluarin darimana nih duo bocil bisa cakep – cakep kayak gini ? “ pertanyaan tergi la yang pernah terdengar.


“ Dari perut lah, ege ! “ sarkas Lila.

__ADS_1


“ Gue lepehin tadi dari mulut. Jadi idungnya kegencet bibir gue. “ Andhara menimpali.


“ Nggak nyangka gue, bontot bisa ngelahirin bayi sekaligus 2 kek gini. Bener – bener jago loe. “ puji Eka tanpa melihat ke arah Andhara. Pandangannya sedari tadi masih tetap ke dua bayi kembar itu.


Keempat orang dewasa yang juga berada di sana hanya menyimak keabsurb an lima orang hampir atau setengah dewasa sambil tertawa tertahan.


“ Daripada Cuma di liatin aja, kalian mau gendong, kagak ? “ suara emak membuat empat orang absurb menoleh.


“ Boleh, mak ? “ tanya Lila dengan wajah antusias.


“ Boleh atuh. Kan kalian para onti – onti sama onta – ontanya si kembar. “


“ Mau dong maaak … “ Lila sangat senang diijinkan menggendong si kembar.


“ Bisa loe emangnya ? “ tanya Putra. “ Ini tuh mahluk hidup loh. Bernyawa. Bukan boneka. Kalau sampai loe jatohin, loe bisa di lucknut jadi burung kutilang sama emaknya nih bocah. “


“ Hiss … Ngejek loe ya ? Bisa lah. “ jawab Lila tanpa mengalihkan pandangannya.


“ Kali aja loe bisanya Cuma nentengin tas make up aja. “ ledek Putra.


“ Suara loe tuh yang cempreng. “ Putra tidak terima.


“ Kalian masih berantem aja, pulang dari rumah sakit, gue panggilin penghulu beneran deh. “ ujar Andhara yang membuat Lila dan Putra memutar bola matanya malas.


Lila lalu mengangkat bayi perempuan Andhara. Ia menggendongnya dengan lembut. Benar, ternyata dia bisa menggendong bayi.


“ Lucu banget sih kamu … Pengen gue masukin tas terus gue bawa pulang ke kosan deh. Atau gue kantongin aja kali ya. HiHihi... Mana muat ya? “ ucapnya seraya menoel perlahan pipi gembul bayi perempuan itu. Dan membuat si empunya menggeliat perlahan.


“ Gue mau juga dong, La. Tapi gue kagak berani ngangkatinnya dari boks. “ bisik Eka.


“ Loe mau juga ? “ ujar Lila. “ Nih, loe pegang dia. Entar gue gendong yang atunya. “ lanjutnya sambil memberikan bayi perempuan itu perlahan dan lembut ke Eka.

__ADS_1


Dengan hati – hati, Eka menerima bayi itu. Ia sampai menahan nafas supaya ia tidak melakukan pergerakan yang bisa membuat bayi itu jatuh. Bibirnya terangkat kala si kecil sudah berada di dalam dekapannya.


“ Loe hebat banget, Ra. Lahirin kembar, normal lagi. “ ucap Lila sambil membawa bayi laki – laki ke dekat Andhara.


Andhara mengulas senyum manisnya. Putra mengikuti langkah Lila sambil terus memperhatikan bayi laki – laki yang berada di gendongan Lila.


“ Loe habis kena gempa bumi, atau habis berantem sama siapa Put ? baju loe compang camping kek gitu. “ pertanyaan yang keluar dari mulut Andhara melihat kilatan kesal dari mata Putra.


Lupa, amnesia, atau sengaja lupa ? Siapa yang sudah membuat seorang Putra berpenampilan seperti penge mis seperti ini.


“ Di serang sama orang gi la tadi di luar. “ sengak Putra.


“ Beneran ? Kok bisa ? “ Andhara mengernyitkan dahinya. Tidak ada wajah ingin tertawa di sana.


“ Loe lupa, siapa yang bikin baju koko baru gue jadi sobek kek gini ? “ Putra memandang Andhara malas.


“ Sumpah, Put. Gue nggak tahu. “ sahut Andhara dengan wajah seriusnya.


“ Loe nggak inget, tadi loe di mobil nyerang gue habis – habisan ? “


“ Eh, tapi gue nggak sobek baju loe ya. Kalau bikin rambut loe rontok, iya. “


“ Si*al ! “ umpat Putra. “ Loe tadi tuh narik – narik baju gue. Loe jambakin rambut gue. Padahal gue tuh lagi nyetir. “


“ Ups !! Sorry. Namanya juga orang kesakitan, Put. Itu namanya berbagi kesakitan sama teman. Kita kan sohib. “


“ Sohib sih sohib. Tapi nggak bikin penampilan gue kayak gem bel gini juga kali. “ gerutu Putra.


“ Dih, loe jangan kayak orang susah gitu kenapa e lah. Entar baju loe, biar di ganti sama laki gue. Sekalian loe ke salon juga. Creambath. Kasih tonik penumbuh rambut yang ampuh. Biar rambut loe cepet numbuh. “ ketus Dhara.


“ Bang, entar gantiin bajunya si Putra ya bang. Tuh, dia marah – marah sama Dhara. “ rengeknya ke Julio.

__ADS_1


Julio tersenyum sambil mengangguk. Ia mengusap ujung kepala sang istri lembut. Sungguh, Julio masih di buat terharu dengan perjuangan sang istri melahirkan kedua bayi kembarnya.


Bersambung


__ADS_2