Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Jengukin dedek


__ADS_3

“ Bang, Dhara kepikiran emak terus. “ ujar Andhara sembari bersandar di dada bidang suaminya sambil menggambar abstrak di dada bidang itu. Saat ini mereka sudah berada di tempat tidur. Mereka berbaring sambil saling berpelukan.


“ Kamu dengar sendiri kan, emak tadi bilang apa ? Beliau tidak mau ikut sama kita. Kita doakan saja emak selalu sehat di sini. Kita juga bisa jenguk emak saat weekend. “ sahut Julio sambil membelai rambut Andhara.


“ Bang, Dhara pulangnya di undur ya ? “ pinta Andhara.


“ Tapi abang belum dapet cuti. Kemarin abang mengajukan ternyata di tolak. Besok abang harus praktek. “ jawab Julio.


“ Iya Dhara tahu. Abang besok balik aja. Dhara di sini dulu. Boleh ya bang ?? “ rengeknya.


Julio menghela nafas kasar. “ Kita udah bahas ini tadi siang. Besok kita kembali ke ban_dung. “


“ Abang aja besok yang balik. Dhara lusa. Masih kangen sama emak. Dhara juga kangen sama temen – temen Dhara. Pengen pamitan juga sama mereka. Mereka tahunya kan Dhara di Ban_dung Cuma sementara. “ lirih Andhara sambil menahan sesak di dadanya.


Istriku kenapa jadi cengeng gini sih ah ! Aku lebih seneng kalau dia bar – bar kayak biasanya. Jadi nggak tega sama dia. Batin Julio. Ia tahu jika tak lama lagi, bendungan air mata istrinya akan jebol.


“ Sayang, aku nggak bisa kalau nggak ada kamu. Sehari aja berasa satu tahun. Gimana abang bisa kerja kalau galau mulu karena kangen sama kamu. “ rayu Julio.


“ Abang nggak usah ngereceh deh. Nggak pantes tahu! Kaku kayak papan. “ ledek Andhara.


“ Abang nggak ngereceh. Abang bicara serius ini. Abang nggak bisa kalau tidur nggak melukin kamu. “ Julio makin mengeratkan pelukannya.


“ Ck ! Abang bisa nggak sih berbagi. Toh berbaginya sama ibu mertua sendiri. Bukan sama laki – laki lain. “ gerutu Andhara.


“ Bang, Dhara kan bakalan selalu sama abang terus. Dhara bakalan jauh sama emak. Nggak Cuma sehari dua hari loh. Masak abang nggak bolehin Dhara di sini nambah dua hari aja. Setelah itu, Dhara sepenuhnya punya abang. “ Dhara mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


“ Ijinin Dhara dua hari sama emak sama temen – temen Dhara ya bang ?? “ pintanya dengan wajah sendunya.


“ Sayang, kamu tiap pagi masih mengalami morning sick juga. Kalau nggak ada abang, terus gimana ? “ Julio memang sedari tadi memikirkan hal ini. Makanya ia begitu berat melepas istrinya tinggal di sini.


“ Ada emak bang di sini. Emak juga udah pernah hamil. Pasti emak bisa bantuin Dhara. Dokter Lulu juga udah ngasih obat. “

__ADS_1


“ Tapi obatnya nggak begitu manjur, sayang. Masih manjuran keberadaan abang di dekat kamu. “ Julio masih enggan membiarkan Dhara jauh darinya. Karena memang selama mengalami morning sickness, hanya dalam pelukan dirinya saja rasa mual Andhara cepat hilang.


“ Nanti tinggalin aja baju abang satu yang udah habis abang pakai. Yang penting ada aroma tubuh abang, insyaallah Dhara bisa kok. “ kekeh Dhara sambil menatap suaminya lagi.


“ Dhara janji bakalan baik – baik aja sama dedek – dedek. “ lanjutnya.


Setelah saling berpandangan sesaat, Julio tiba – tiba menyingkap kemeja tidur milik Andhara ke atas. Lalu ia mengusap perlahan perut buncit sang istri.


“ Anak – anak ayah, kalau besok ayah nggak ada di dekat kalian, jangan pada nakal ya. Jangan bikin ibu susah. Jangan bikin ibu sakit. Oke ?? “ ucapnya berbicara sama calon anaknya yang masih ada di dalam perut Andhara.


“ Jadi boleh bang ? “ tanya Andhara memastikan pembicaraan suaminya dengan kedua calon anaknya. Ia begitu terlihat sangat bahagia.


Julio menghela nafas kasar, lalu kembali memandang sang istri. “ Asal ibunya anak – anak juga nggak nakal. Nggak bikin baper orang. “


“ Dih, abang. Masak iya Dhara mau baperin cowok sama perut buncit gini. Yang ada di kira Dhara cacingan. “ sahut Dhara sambil menoel hidung mancung suaminya.


“ Mereka ngeliatnya bukan cacingan. Tubuh kamu terlalu gemoy kalau di bilang cacingan. Bisa – bisa mereka melihat kamu tuh sek_sy. “ sahut Julio.


“ Abang kangen. “ bisik Julio di dekat telinga Andhara, tanpa menurunkan tangannya. “ Buat bekal abang dua hari ke depan. “ lanjutnya sambil mengecup pipi Andhara.


“ Ssshh … Ahh … Abhangh …. Awas, nanti kebablasanhh … “ protes Andhara tapi tidak singkron dengan apa yang ia rasakan.


“ Sebentar aja. “ jawab Julio dengan suara beratnya.


“ Abang… Dhara nggak mau di PHP … Berat tau bangghhh… “ seru Andhara tapi mulutnya masih mende_sah.


“ Sudah satu bulan abang puasa. Abang pengen. “ ucap Julio sambil terus memberikan sentuhan – sentuhan di area tubuh sensitif sang istri.


“ Tapi dokter Lulu bilang kita nggak boleh main – main dulu abhangh … Kasihan dedeknya. “ sahut Andhara.


“ Abang akan pelan – pelan. Abang pastikan dedek baik – baik aja. Mereka pasti bakalan seneng kalau di jengukin sama ayahnya. “ sahut Julio sambil melepas kemeja tidur Andhara berikut kacamata pengamannya.

__ADS_1


“ ABANG !!! “ pekik Andhara.


“ Ssstt !!! Jangan teriak – teriak. Kamar emak di sebelah. “ ujar Julio lalu membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.


Andhara yang semula diam karena keterkejutannya, kini mulai membalas perlakukan sang suami. Tak dapat di pungkiri jika iapun merindukan sentuhan sang suami.


Akhirnya, mereka melewati malam ini dengan penuh kehangatan. Julio benar – benar melakukannya dengan sangat lembut. Ia juga tidak ingin membuat calon anak kembarnya kenapa – napa.


Dengan nafas terengah, mereka berdua berbaring telentang sambil menetralkan detak jantung yang masih berkejar – kejaran. Malam panas yang sudah satu bulan ini tidak menghampiri kamar mereka.


“ Abang, doble D nggak pa – pa kan ? “ tanya Andhara sambil memegang perutnya.


“ Insyaallah mereka baik – baik saja. “ jawab Julio sambil memiringkan tubuhnya menhadap sang istri. “ Mau mandi sekarang ? Abang masakin air dulu. “ julio bangkit dari tidurannya.


Andhara menggeleng. “ Nggak usah masak air. Pakai air dingin aja. “ jawab Andhara. “ gendong tapinya. “ pintanya manja sambil merentangkan kedua tangannya ke Julio.


Julio tersenyum, lalu mengangkat tubuh polos sang istri dan di bawanya ke kamar mandi.


“ Sayang, sebentar lagi pendaftaran mahasiswa baru. Kamu mau kuliah di universitas apa ? “ tanya Julio saat mengendong Andhara.


Andhara menggeleng. “ Dhara mau kuliah besok aja kalau doble D udah lahir. “


“ Tapi itu harus menunggu tahun ajaran baru lagi. Lama. “ sahut Julio.


“ Nggak pa – pa. Dhara juga pengen nikmati jadi ibu baru dulu baru kuliah. “ jawab Andhara.


“ Makasih, sayang. Udah mau jadi istri abang. Udah mau jadi ibu untuk anak – anak abang. I Love you. “ Julio mengecup kening Andhara sebelum ia menurunkan Andhara di kamar mandi.


“ I love You too, abang ganteng. “ sahut Andhara sambil tersenyum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2