
Sesuai janji othor nih say... Tiap weekend, othor bakalan kasih doble up...
Stay tune ya... Dan jgn lupa, ajakin tetangga, pacar, sohib, sodara buat ikutan baca novelnya othor yah... Biar viewer nya nambah...
Salam lope lope sekarung πππ
______________________________________
β Ini kenapa body gue suka banget nemplok kayak cicak ke dinding sih? Dari kemaren, tiap bangun tidur, selalu aja posisinya kek gini. β gerutu Andhara saat ia baru membuka matanya di pagi hari dan ia tertidur dengan memeluk tubuh kekar sang suami.
Dhara mengangkat tangan dan kakinya perlahan dari atas tubuh Julio sambil kepalanya mendongak melihat apakah si pemilik tubuh masih tidur, apa malah sudah menatapnya tajam karena sudah berani β beraninya memeluk tubuh indahnya tanpa permisi. Iyalah tanpa permisi. Orang tidur, mana ada yang menyadari kelakuannya.
β Huft! Untung doi nggak ke bangun. Bisa ramai dunia persilatan kalau doi sampai bangun. β lanjutnya.
β Cih, tidur aja bikin mata meleng kek gini. Gimana kalau bangun coba ? Cewek mana yang nggak keblinger. β lanjutnya berdecih.
Tak mau berlama β lama menunggu Julio terbangun, Andhara segera bangun dan memesat masuk ke kamar mandi.
Brak. Bunyi pintu kamar mandi di tutup dengan lumayan keras. Siapa lagi pelakunya jika bukan Andhara. Apapun yang ia lakukan, selalu berakhir dengan kekerasan.
β Dih, nih tangan kenapa susah banget di ajakin adegan slow motion sih. β gerutunya di dalam kamar mandi.
Sedangkan Julio yang memang sudah terbangun sedari tadi, menyunggingkan kedua sudut bibirnya kala istri ajaibnya sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia lalu membuka matanya, lalu melihat jam di dinding.
Oh, jam lima. Bisa β bisanya aku terlambat bangun. Padahal adzan subuh udah sedari tadi. Nggak sempat lari pagi lagi kalau kayak gini. Batin Julio.
β Selalu tertidur pulas semenjak ada istri yang menemani dan memeluk saat tidur. β gumamnya sambil sebuah senyuman terulas.
.
__ADS_1
.
.
β Nih baju pak dokter ikut nyempil di dalam hutan belantara punya gue, jadi ikutan bereinkarnasi jadi pohon rindang juga nggak ya ? β Bagus banget Andhara mengibaratkan tumpukan bajunya yang berantakan di dalam almarinya. Andhara terkekeh kecil.
β Kalau di almari pak dokter, tumpukannya mesti sesuai warna, lalu jaraknya juga perlu di ukur pakai penggaris biar nggak bersentuhan. Kayak laki β laki sama perempuan. Bukan muhrim. β lanjutnya masih sambil terkekeh pelan.
β Jadi malu gue semalam. Mana doi lihat daleman gue lagi. Dia aja dalemannya berjejer rapi kayak pelangi susunan warnanya. Nah, punya gue ? Yang ada gelap semua warnanya. Kayak malam hari. β ia menepuk jidatnya.
Ia lalu mengambil sebuah kemeja berwarna maroon dan celana panjang berwarna hitam berbahan drill bermodel Cropped. Ia ingin menjadi istri yang baik untuk Julio. Di mulai dari menyiapkan baju ganti seperti ini. Ia lalu menaruhnya di atas ranjang. Sedangkan si pemilik masih berada di dalam kamar mandi.
β Kalau sampai gue besok β besok salah nyusun baju β bajunya, kira β kira bakalan di hukum apaan sih ? Jadi penasaran. β lanjutnya masih bermonolog.
β Abang gantung kamu di pohon singkongnya emak. β Julio berjalan menuju ke tempat tidur sambil menggosok rambutnya yang basah hingga airnya nyiprat ke wajah Dhara.
Belum usai rasa terkejutnya karena suara bariton yang tiba β tiba menyahuti ucapannya. Kini ia kembali di kejutkan oleh pemandangan indah kala ia memutar badannya menghadap ke sumber suara bariton itu.
Ya Allah, ampuni Dhara, Ya Allah. Ada sampul majalah dewasa di kamar Dhara. Seru Dhara dalam hati. Tapi matanya malah membelalak tak berkedip.
β Abang ih ! Cepetan pakai baju ! β seru Andhara. β Rambutnya juga tuh, di keringin pakai handuk ! Entar iman Dhara luntur. Nggak kuat nahan cobaan ! β sungut Dhara.
Tapi Julio malah tertawa renyah sambil kembali mengacak rambutnya yang basah hingga mengenai wajah Dhara kembali.
Jika pada umumnya seorang gadis akan dengan segera menutup matanya rapat β rapat bahkan kalau perlu hingga di lem dan mengatakan porno aksi namun beda di mulut, beda juga di hati, beda dengan Dhara yang malah dengan terang β terangan mengatakan jika suaminya itu adalah cobaan dari Allah yang akan meruntuhkan imannya yang mungkin memang cetek.
β Otak kamu terlalu dewasa sepertinya ! β
Cetak. Julio menjitak kepala Andhara. β Bilangnya takut nggak nahan cobaan, tapi matanya justru membola. Bukannya tutup mata. β lanjutnya.
__ADS_1
β Aw. Sakit tahu. β seru Dhara. β Ngapain tutup mata ? Munafik namanya kalau pemandangan liat kayak gini malah tutup mata. Dhara juga manusia biasa yang harus mensyukuri pemberian dari Allah. β lanjutnya.
β Lagian, Dhara juga perempuan yang masih normal. Kalau di suguhin pemandangan hot kek gini, pasti ngiler lah ! β
β Kalau temen β temen tim kabupaten Dhara bilang nih, selain cobaan lihat pasar murah yang ngasih diskon gede β gedean yang bisa bikin dompet langsung menipis, ada yang lebih bikin iman ke goda . β
β Apa ? β
β Lihat dada sama perut kotak β kotak laki β laki, apalagi cuman pakai handuk kayak gini, terus rambutnya juga basah habis mandi. Dhara baru buktiin, kalau ternyata apa yang di bilang temen β temen benar adanya. Bukan dompet Dhara yang menipis. Tapi iman Dhara yang tiba β tiba tipis kayak kertas HVS 60 gram ! β Julio kembali tertawa mendengar ucapan Dhara yang polos sepolos kertas HVS.
β Dhara nggak janji ya, kalau tiap hari di suguhin pemandangan kayak gini, pak dokter bakalan aman dan terhindar dari terkaman Dhara. β akunya.
β Kok panggilannya berubah pak dokter lagi ? β Julio mengernyitkan dahinya. β Perasaan tadi kamu manggilnya abang. β
β Itu salah satu contoh khilafnya Dhara karena pemandangan pagi yang pak dokter kasih ke Dhara. β sungut Dhara.
Julio berjalan mendekat ke Dhara hingga jarak antara mereka terkikis sambil tersenyum miring. β Pak dokter mau ngapain ? β tanya Dhara sambil berjalan mundur.
β Katanya kamu pengen nerkam abang ? Terkam aja. Udah halal ini. Abang ikhlas kok. β goda Julio.
Dugh. Kaki belakang Dhara kepentok kursi yang ada di depan kaca riasnya dan membuatnya terhuyung. Dengan sigap, tangan Dhara mencari pegangan sebelum Julio sempat meraih tubuhnya yang limbung. Dan, astaga nagaβ¦. Dhara salah mencari pegangan. Justru hal ini akan membuat pikirannya semakin oleng.
Srruut⦠Handuk yang di pakai Julio untuk menutupi talas bogornya melorot ke lantai saat tangan Dhara melepasnya setelah memakainya untuk pegangan. Karena handuk itu mengendur setelah di tarik Dhara sebagai pegangan.
β Aaaaa !!!!! β
β Abang udah nodain mata suci Dhara nih !!! β kali ini Dhara memejamkan matanya dengan erat. Bukannya munafik, tapi ia lumayan geli dan belum seberani itu untuk memelototkan matanya memandangi benda pusaka milik suaminya. Ia takut kena sawan sepertinya.
Bersambung
__ADS_1